Better, Not Bitter
PERNAHKAH Anda berharap bisa mengulang satu hari dalam hidup? Bukan untuk membeli Bitcoin lebih awal, tetapi untuk memperbaiki satu kejadian yang sampai sekarang masih terasa menyakitkan.
Mungkin hari ketika Anda mengatakan sesuatu yang salah, melewatkan sebuah kesempatan, atau terlambat menyadari betapa berharganya seseorang. Kalau bisa kembali, rasanya kita hanya ingin mengubah satu hal kecil.
Sayangnya, hidup tidak punya tombol undo. Agak keterlaluan memang, mengingat aplikasi gratis saja punya.
Richie dan Natalie Norton mungkin pernah sangat menginginkan tombol itu. Putra mereka, Gavin, meninggal karena pertusis atau batuk rejan ketika usianya baru 76 hari.
Kehilangan itu terasa semakin berat karena sebelumnya adik laki-laki Natalie juga meninggal mendadak dalam tidurnya pada usia 21 tahun. Namanya juga Gavin, sehingga Richie dan Natalie memberikan nama yang sama kepada putra mereka untuk mengenangnya.
Bayangkan kehilangan dua orang yang Anda cintai dengan nama yang sama. Ada kesedihan yang bisa diceritakan, tetapi ada juga kesedihan yang membuat semua kalimat penghiburan terasa terlalu kecil.
Richie dan Natalie kemudian membuat sebuah pilihan: better, not bitter. Mereka tidak bisa mengubah apa yang terjadi, tetapi mereka masih bisa memilih akan menjadi manusia seperti apa setelahnya.
Kalimatnya pendek. Ujian praktiknya ternyata panjang.
Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Skenario
Tahun-tahun berikutnya tidak selalu lebih mudah. Mereka merawat tiga anak asuh yang ingin mereka adopsi, tetapi anak-anak itu akhirnya kembali kepada ibu biologis mereka.
Natalie kemudian mengalami stroke hingga sempat kehilangan kemampuan berbicara dan ingatannya sebelum pulih. Putra mereka, Lincoln, juga pernah ditabrak pengemudi yang terdistraksi dan nyaris meninggal.
Kalau hidup adalah guru, keluarga Norton mungkin berhak bertanya, “Bu, soal ujiannya memang harus sebanyak ini?” Sayangnya, kehidupan tidak pernah membagikan kisi-kisi.
Dalam keadaan seperti itu, sangat manusiawi kalau kita bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada saya?” Kita berharap sebuah penjelasan akan membuat rasa sakit lebih mudah diterima.
Masalahnya, tidak semua “mengapa” mempunyai jawaban. Dan kalaupun ada, jawabannya belum tentu mengubah apa yang sudah terjadi.
Mungkin ada pertanyaan yang lebih berguna:
“Setelah ini terjadi, apa yang masih bisa saya lakukan?”
Dan Sullivan dan Benjamin Hardy menjelaskan pola serupa melalui konsep GAP dan GAIN. Namanya terdengar seperti materi yang membutuhkan PowerPoint 47 slide, padahal idenya sederhana.
GAP terjadi ketika kita terus membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan yang menurut kita “seharusnya” terjadi. Seharusnya karier sudah lebih tinggi, rumah sudah lunas, bisnis sudah besar, atau hidup sudah lebih tenang.
Lalu kita membuka Instagram dan melihat teman sedang liburan di Jepang. Lima menit sebelumnya hidup baik-baik saja, sekarang mendadak terasa seperti proyek yang terlambat tiga tahun.
GAIN adalah kebalikannya. Kita berhenti melihat seberapa jauh kita dari kehidupan ideal, lalu menoleh ke belakang untuk melihat seberapa jauh kita sudah berjalan.
Dulu takut berbicara di depan orang, sekarang berani memimpin rapat. Dulu bisnis punya dua pelanggan, sekarang dua puluh; memang belum dua ribu, tetapi dua puluh tetap bukan dua.
GAIN bukan berarti mengatakan semua kejadian buruk sebenarnya baik. Hal buruk tetaplah buruk, tetapi kita tidak harus menyerahkan seluruh hidup kita kepadanya.
Lalu, Apa yang Terjadi pada Keluarga Norton?
Inilah bagian yang menurut saya paling menarik. Better, not bitter ternyata tidak membuat badai berhenti datang, tetapi perlahan mengubah cara mereka menjalani hidup.
Setelah berbagai kehilangan itu, keluarga Norton semakin sengaja menyediakan waktu untuk hidup bersama. Seusai kehilangan tiga anak asuh dan stroke Natalie pada 2016, mereka bahkan menjalani perjalanan sekitar enam bulan dari New York menuju berbagai wilayah Amerika Utara sebelum kembali ke Hawaii—sebuah periode yang Richie gambarkan sebagai masa penyembuhan keluarga.
Richie dan Natalie kemudian membangun pekerjaan yang memungkinkan mereka bepergian bersama keluarga selama berbulan-bulan. Waktu, kebebasan, keluarga, dan pengalaman hidup menjadi bagian penting dari cara mereka mendefinisikan keberhasilan.
Artinya, mereka tidak sekadar bangkit dari tragedi. Mereka mengubah tragedi menjadi pengingat untuk berhenti menunda kehidupan.
Bahkan Gavin tetap hadir dalam cara Richie menjalani hidup. Richie membuat 76-Day Challenge, terinspirasi dari 76 hari kehidupan putranya, untuk mendorong orang melakukan sesuatu yang selama ini mereka tunda.
Ada sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan di sana. Gavin hanya hidup 76 hari, tetapi 76 hari itu mengubah cara ayahnya menggunakan tahun-tahun yang tersisa.
Kita sering menunda hidup dengan alasan yang terdengar masuk akal. Nanti setelah jabatan naik, nanti setelah cicilan selesai, nanti setelah anak besar, nanti setelah bisnis stabil.
Masalahnya, kata “nanti” punya kebiasaan buruk. Ia selalu terlihat tersedia sampai suatu hari ternyata tidak.
Mungkin kita tidak perlu mengalami tragedi seperti keluarga Norton untuk menyadari bahwa waktu terbatas. Kita cukup berhenti sebentar dan bertanya: kalau hidup memang sesingkat itu, apa yang sedang saya tunda?
Mungkin menelepon orang tua. Memulai usaha, menulis buku, meminta maaf, mengajak anak pergi, atau sekadar pulang sedikit lebih cepat dan makan malam tanpa sibuk melihat layar.
Tidak terdengar heroik memang. Tetapi kehidupan yang bermakna sering dibangun dari hal-hal kecil yang tidak pernah masuk LinkedIn.
Mungkin tragedi terbesar bukan hanya ketika sesuatu yang buruk terjadi kepada kita. Tragedi yang lebih sunyi adalah ketika sesuatu yang buruk terjadi satu hari, lalu kita membiarkannya mengambil tiga puluh tahun berikutnya.
Seseorang mungkin menyakiti kita selama beberapa menit. Tetapi orang itu kemudian tinggal di kepala kita bertahun-tahun—dan lebih menyebalkan lagi, tanpa pernah membayar sewa.
Richie tidak bisa mendapatkan kembali 76 hari bersama Gavin. Ia juga tidak bisa menghapus semua badai yang datang setelahnya.
Tetapi keluarga Norton menunjukkan sesuatu yang jauh lebih realistis daripada kalimat “semuanya akan baik-baik saja”. Tidak semuanya harus kembali baik agar kita bisa kembali menjalani hidup dengan baik.
Kita memang tidak memiliki tombol undo. Masa lalu tidak bisa diedit, dihapus, lalu disimpan ulang.
Tetapi kita masih memiliki hari ini. Dan mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi, “Mengapa semua ini terjadi kepada saya?”
Melainkan:
“Karena saya masih di sini, kehidupan seperti apa yang sekarang ingin saya jalani?”
Luka boleh menjadi bagian dari cerita kita. Orang yang pergi pun tidak harus kita lupakan agar kita bisa terus berjalan.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari better, not bitter. Bukan melupakan apa yang hilang, tetapi menghormatinya dengan tidak menyia-nyiakan apa yang masih ada.
Gavin mendapatkan 76 hari.
Kita tidak tahu berapa hari yang kita dapatkan.
Jadi, jangan hanya menghitung hari.
Buat hari-hari itu berarti.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar