Dalam satu tarikan napas, jabatan dan nyawa presiden bisa lepas
TERJEMAHAN bebasnya: “Rengkuhlah hari ini sepenuhnya, jangan risaukan hari esok.”
Penggalan puisi Horace atau Quintus Horatius Flaccus (lahir 8 Desember 65 Sebelum Masehi, meninggal 27 November SM) tersebut mengingatkan pada tradisi kepemimpinan yang mewajibkan kita memaknai dan mengoptimalkan setiap momen dalam hidup, menghargai setiap helaan napas. Pola tindak ini juga diperkenalkan berabad-abad silam dalam tradisi Buddhisme, “Setiap momen bernilai.” Ajaran Islam menekankan, bahwa setiap tarikan dan hembusan napas adalah rahmat Allah.
Dalam konteks Indonesia hari-hari ini, ujaran Horace mengingatkan betapa pentingnya kualitas kepemimpinan para penyelenggara negara, kemampuan bertindak nyata melakukan eksekusi tepat waktu dan efektif, serta bahayanya menunda perubahan sambil berkhayal (dan mengumbar janji) bahwa hari esok akan lebih baik.
Sebagaimana disuarakan dalam demo-demo mahasiswa dan kegelisahan kelas menengah terdidik, belakangan ini makin banyak orang mengalami kesulitan ekonomi; kelas menengah mengalami tekanan (ancaman) PHK, dan sebagian sudah menurunkan pola konsumsi mereka, istilahnya menjalani frugal living. Akibat biaya hidup meningkat.
Kelas menengah Indonesia mengalami penyusutan struktural sejak 2019, bukan hanya dampak sementara akibat pandemi. Meskipun angka kemiskinan resmi turun dan pertumbuhan makro stabil, kualitas pertumbuhan ekonomi belum mampu memperluas dan memperkuat kelas menengah. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan ambisi jangka panjang Indonesia. (Sumber utama: data BPS yang diolah oleh Mandiri Institute (2025–2026); World Bank Indonesia Economic Prospects; IMF Working Paper tentang dinamika pendapatan Indonesia; serta analisis LPEM UI dan INDEF).
Kenyataan ini dibarengi dengan terbukanya sederet kasus korupsi pejabat publik, yang menggangsir uang negara, dan sungguh menyakiti masyarakat. Belum lagi beberapa program pemerintah yang tampak indah, menyedot porsi besar APBN, dilaksanakan secara “hantam kromo”, tanpa ada indikasi bahwa program-program tersebut bakal berhasil dan membuahkan manfaat bagi kehidupan rakyat.
Bukan berarti negara ini tidak memiliki potensi dan harapan. Tapi, telah terjadi jurang perbedaan yang makin dalam antara rencana-rencana baik (tertuang dalam Asta Cita dan Visi Indonesia Emas 2045) dan realitas hari ini, ketika pemerintahan memasuki tahun ketiga. IMF dan World Bank memperingatkan, tanpa penguatan kelas menengah, target Indonesia Emas 2045 (menjadi negara berpendapatan tinggi) sulit tercapai. Kelas menengah yang kuat dibutuhkan untuk tabungan, investasi, dan stabilitas sosial-politik.
“Carpe diem, quam minimum credula postero.” – Horace, The Odes of Horace.
Selain tekanan ekonomi, belakangan ini juga ada upaya pembungkaman kebebasan sipil, serta kegundahan sejumlah pemerintah daerah untuk memisahkan diri. Ancaman ini nyata, kata Prof. Djohermansyah Djohan, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri 2010-2014 dan Guru Besar Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Dalam forum FGD Institut Peradaban 30 September membahas dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo, Prof. Djohermansyah antara lain mengatakan, relasi pusat dan daerah memburuk, masuk dalam kategori low intensity conflict.
Carpe diem, dalam konteks ini, adalah melakukan tindakan-tindakan nyata sekarang, melakukan koreksi, pembenahan, di sejumlah bidang yang sangat krusial – tidak perlu lagi retorika. Tindakan nyata yang kredibel hari ini – sekali lagi, bukan pidato gagah-gagahan – akan menentukan legitimasi kepemimpinan penyelenggara negara esok hari.
Namun, sebelum bertindak nyata, apakah para penentu kebijakan punya nyali untuk mempertanyakan diri sendiri terkait beberapa urusan penting ini:
Problem struktural apa saja yang tertunda diatasi akibat terganjal oleh ketidaknyamanan politik selama ini?
Apakah pucuk pimpinan terbuka untuk diingatkan serta punya keberanian mengakui kesalahannya dan, jika diperlukan, bersedia mengganti haluan?
Kebijakan dan tindakan terukur apa saja yang perlu dilakukan hari ini untuk memperbaiki kehidupan rakyat? Perubahan struktural apa saja yang diperlukan?
Bagaimana repositioning Indonesia dalam situasi geopolitik sekarang?
Ada tiga gagasan penting dalam ujaran Horace “Carpe diem, quam minimum credula postero.” Carpe diem adalah soal peluang-peluang dan tanggung jawab hari ini untuk bertindak menghasilkan positive impact bagi kehidupan bersama.
Quam minimum credula — percaya sesedikit mungkin terhadap janji, asumsi, dan harapan yang masih dalam khayalan.
Postero — atau hari esok. Tidak ada yang bisa mengendalikan hari esok atau masa depan. Kecuali bertindak lebih bijak hari ini, dengan harapan punya dampak untuk esok hari.
Dalam hal ini Horace tidak sedang mendorong tindakan asal cepat, sembrono, ugal-ugalan, apalagi impulsif berdasarkan syahwat kekuasaan pribadi. Justru dia mengingatkan bagaimana mengelola urgensi tanpa terjebak dalam ilusi: bertindak desisif seraya menyadari ada ketidakpastian.
Ini soal kepemimpinan publik, pengembangan nilai kebangsaan, dan peradaban.
Pemerintah dapat menjanjikan transformasi ekonomi, perbaikan pendidikan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan sosial. Namun, bagi rakyat, keberhasilan pengelolaan negara tidak diukur dari janji-janji pemerintah, melainkan dari realitas konkret yang mereka hadapi sehari-hari: stabilitas harga pangan, akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, ketersediaan lapangan kerja, mutu pelayanan publik, serta sejauh mana pejabat publik dapat dimintai pertanggungjawaban atas keputusan dan tindakannya.
Kemajuan bangsa tidak diukur hanya pada pertumbuhan GDP, pembangunan infrastruktur atau kemajuan teknologi. Ukuran penting yang tidak dapat ditawar adalah kualitas kelembagaan dan martabat rakyatnya.
Transisi Indonesia menjadi lebih demokratis sejak 1998 mestinya meniscayakan perubahan institusional. Tapi, menurut penilaian dari sejumlah pihak belakangan ini, akuntabilitas penyelenggara negara, partisipasi sipil, dan kemerdekaan pendapat kondisinya sangat memprihatinkan.
Dari kata-kata Horace, bisa timbul pula pertanyaan pelik: Kalau melihat kelemahan-kelemahan pemerintah akibat kesembronoannya sendiri hari-hari ini, apakah kita dapat berasumsi akan ada perubahan fundamental besok?
Saat akuntabilitas memburuk, kepercayaan publik tergerus. Jika kritik konstruktif diabaikan dan dianggap melawan kehendak penguasa, institusi apa pun kehilangan peluang belajar. Jika reformasi tertunda demi melayani “kenyamanan politik” oligarki, konsekuensinya bisa fatal. Maka, penguatan pilar-pilar demokrasi sangat diperlukan, bukan malah dibuldoser oleh perilaku militeristik yang tidak pada tempatnya.
Sesungguhnya, tanggung jawab melakukan perubahan fundamental dalam sejumlah aspek penyelenggaraan negara tidak hanya di tangan penguasa, tapi juga parlemen, pemegang peran yudikatif, kalangan pemimpin bisnis, perguruan tinggi, media, dan masyarakat sipil.
Quam minimum credula postero – tak pantaslah melulu mengandalkan ada hari esok. Perubahan untuk menjadi lebih baik tidak ada waktu lebih pas kecuali mulai hari ini.
Selain tidak menyarankan bertindak gegabah, pemikiran Horace sesungguhnya juga menganjurkan sikap rendah hati, lebih bertanggungjawab menyikapi peluang hari ini seoptimal mungkin, mengingat hari ini hakikatnya kita semua impermanen, fana.
Kekuasaan (politik, ekonomi, keilmuan) dan para pemegangnya tidak ada jaminan masih dapat kesempatan hidup besok. Jabatan dan nyawa presiden juga bisa lepas dalam satu tarikan napas. Sic transit gloria mundi.
Ketika Buddha Gautama mengatakan, “Setiap tarikan nafasku melahirkan diriku yang baru”, ia tidak sedang bermetamorfosa. Ia menyatakan apa yang dia maksudkan. Buddha mengajarkan, hidup merupakan progresi konstan momen-momen yang berbeda dalam proses reinkarnasi, dari Anda sebelumnya menjadi Anda yang sekarang. Setiap saat Anda melakukan pilihan tindakan, bisa saja melahirkan rasa senang, bahagia, bisa juga mengakibatkan sedih, atau rasa cemas. Tapi pada tarikan nafas berikutnya, semua efek tersebut bisa berubah, bisa pula lenyap.
Betapa pentingnya mengoptimalkan setiap momen dan peluang yang dipinjamkan Tuhan kepada kita. Dalam tradisi Islam, antara lain diingatkan bahwa masa lalu mustahil kita setel ulang, itu terserah Allah Subhanahu wa ta’ala mau memberikan penilaian seperti apa. Masa depan juga belum (tentu) dapat kita jalani. Kita hanya punya pinjaman waktu sekarang.
Untuk Indonesia, tantangannya bukan memilih antara sekarang dan hari esok. Tapi bagaimana bertindak lebih efektif hari ini tanpa menggadaikan masa depan.
Mohamad Cholid is Member of Global Coach Group (www.globalcoachgroup.com)
Alumnus The International Academy for Leadership, Germany.
Book: https://play.google.com/store/books/series?id=Em2fHAAAABCMcM
(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar