Esai

Kompeten

SW60Plus.com, 09 September 2026, 07:28 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 5x dilihat

Ketika Keinginan Terlihat Hebat Justru Membuat Kita Terlihat Kurang Meyakinkan_

Joe punya hampir semua tanda yang biasa kita baca sebagai kesuksesan. Pada usia 39 tahun, ia sudah menjadi eksekutif, memiliki rumah pantai mahal, keluarga, karier cemerlang, serta masa muda sebagai atlet kampus dan pemimpin organisasi.
Tetapi ketika psikolog dan executive coach Larina Kase bertemu dengannya, Joe tampak seperti orang yang sedang mempertahankan sesuatu. Matanya mudah teralihkan, tubuhnya tegang, dan ia berusaha keras terlihat ramah, profesional, serta terkendali.

Kisah Joe, seperti kisah Vince dan Jules dalam tulisan ini, diceritakan Kase dalam The Confident Leader (Kase, 2008).
Joe takut suatu hari orang-orang mengetahui bahwa ia tidak sehebat yang mereka kira. Maka ia melakukan hal yang tampaknya paling masuk akal: bekerja lebih keras, mempersiapkan rapat secara berlebihan, merencanakan apa yang akan dikatakan, dan terus mengawasi bagaimana dirinya terlihat.

Padahal Joe secara alami hangat, humoris, karismatik, dan pandai membuat orang merasa diperhatikan. Semakin keras ia mencoba terlihat meyakinkan, semakin tenggelam kualitas terbaik itu di balik dirinya yang terlalu terkendali (Kase, 2008).
Inilah jebakan orang kompeten: terlalu sibuk membuktikan kompetensi sampai kompetensi itu sendiri sulit terlihat. Kase (2008) menggambarkan pola semacam ini sebagai overcompensation: kita menutupi sesuatu yang ditakuti dengan mempertontonkan kebalikannya secara berlebihan.

Vince melakukannya dengan cara berbeda. Ia seorang engineer yang menjadi marketing executive di perusahaan farmasi dan gemar menggunakan jargon, kata-kata rumit, referensi sejarah, serta trivia dalam percakapan (Kase, 2008).

Berbicara dengan Vince kadang seperti membuka ensiklopedia yang kebetulan memakai dasi. Namun, di balik pertunjukan intelektual itu ada kecemasan sederhana: sejumlah koleganya berasal dari Harvard Business School dan Wharton, sedangkan ia tidak memiliki MBA dan pengalaman marketingnya lebih terbatas.

Vince menggunakan kecerdasannya untuk menutupi ketakutannya akan dianggap kurang pintar. Ironisnya, semakin ia berusaha terdengar cerdas, semakin sulit orang memahami dirinya.

Apa yang dilakukan Joe dan Vince bukanlah sesuatu yang asing. Leary dan Kowalski (1990) menjelaskan bahwa manusia melakukan _impression management_: kita berusaha membentuk kesan tertentu di hadapan orang lain. Masalah dimulai ketika pertanyaan _“Bagaimana saya terlihat?”_ mengambil lebih banyak ruang daripada _“Apa yang dibutuhkan situasi ini?”_
Dorongan itu bisa semakin kuat ketika keberhasilan pun belum membuat seseorang yakin pada kemampuannya sendiri. Clance dan Imes (1978) menunjukkan bahwa orang berprestasi dapat tetap takut suatu hari orang lain menemukan bahwa dirinya tidak sekompeten yang terlihat. Tinjauan sistematis Bravata et al. (2020) kemudian menunjukkan bahwa impostor phenomenon ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dan berkaitan dengan berbagai konsekuensi psikologis serta pekerjaan.
Karena itu, keberhasilan tidak selalu mengakhiri kebutuhan untuk membuktikan diri. Kadang ia justru menaikkan taruhannya: semakin tinggi posisi seseorang, semakin menakutkan kemungkinan bahwa suatu hari ia akan “ketahuan”.

Lalu, Kase (2008) menceritakan Jules, seorang marketing specialist yang ingin memiliki executive presence lebih kuat. Alih-alih menyuruhnya meniru pemimpin yang lebih dominan atau karismatik, Kase mengajaknya untuk menemukan kualitas yang memang sudah dimilikinya.
Dari proses itu muncul tiga kata: _Strategic. Smart. Social. Jules tidak membutuhkan kepribadian baru; ia hanya perlu membuat kekuatan yang sudah dimilikinya lebih terlihat.

Dalam rapat, Jules sebelumnya terbiasa langsung memberikan kesimpulan sehingga orang lain tidak melihat proses berpikir strategis di belakangnya. Ia mulai memberi sedikit ruang untuk menjelaskan pemikirannya, dan menurut Kase (2008), perkembangan executive presence tersebut turut berkontribusi pada kemajuannya hingga menjadi wakil presiden.
Perbedaan ketiganya tipis, tetapi menentukan. Joe menambahkan kontrol, Vince menambahkan kompleksitas, sedangkan Jules mengurangi jarak antara dirinya dan apa yang dilihat orang lain.
Maka, solusinya bukan menurunkan standar atau berhenti mempersiapkan diri. Yang perlu dikurangi adalah kebutuhan untuk menggunakan kompetensi sebagai pertunjukan guna membuktikan harga diri.
Cobalah memperhatikan apa yang kita lakukan secara berlebihan saat merasa terancam. Mungkin terlalu banyak menjelaskan, sulit berkata “saya tidak tahu”, mempersiapkan sesuatu jauh melampaui kebutuhan, memakai istilah rumit ketika bahasa sederhana cukup, atau enggan meminta bantuan karena takut terlihat tidak mampu.

Lalu ubah satu pertanyaan sebelum rapat, presentasi, atau percakapan penting. Bukan “Bagaimana agar mereka terkesan kepada saya?”, tetapi “Apa yang dibutuhkan situasi ini dari saya?”

Kase (2008) membawa Joe kembali ke hal-hal sederhana: berbicara lebih spontan, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan memasuki beberapa situasi tanpa persiapan berlebihan. Ketika ia berhenti mengontrol setiap kesan yang ingin diciptakan, kualitas yang selama ini ingin ia buktikan justru mulai terlihat dengan sendirinya.

Mungkin itu sebabnya jebakan orang kompeten begitu sulit dikenali. Ketakutan tidak selalu datang dengan tangan gemetar; kadang ia datang paling pagi ke kantor, membawa presentasi paling rapi, mengetahui semua jawaban, lalu kita memberinya nama yang terhormat: standar tinggi, profesionalisme, perfeksionisme, atau ambisi.

Maka sebelum rapat atau keputusan besar berikutnya, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa lagi yang harus saya lakukan agar mereka yakin pada saya?” Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: “Apa yang akan berhenti saya lakukan jika saya sudah yakin bahwa saya memang cukup kompeten?”

Sebab mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak cara untuk terlihat hebat. Mungkin orang lain hanya perlu kesempatan melihat siapa kita setelah kita berhenti terlalu keras berusaha meyakinkan mereka.


DAFTAR PUSTAKA
Bravata, D. M., Watts, S. A., Keefer, A. L., Madhusudhan, D. K., Taylor, K. T., Clark, D. M., Nelson, R. S., Cokley, K. O., & Hagg, H. K. (2020). Prevalence, predictors, and treatment of impostor syndrome: A systematic review. _Journal of General Internal Medicine_, 35(4), 1252–1275. https://doi.org/10.1007/s11606-019-05364-1


Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The imposter phenomenon in high-achieving women: Dynamics and therapeutic intervention. _Psychotherapy: Theory, Research & Practice_, 15(3), 241–247. https://doi.org/10.1037/h0086006

Kase, L. (2008). _The confident leader: How the most successful people go from effective to exceptiona_. McGraw-Hill.
Leary, M. R., & Kowalski, M. R. (1990). Impression management: A literature review and two-component model. _Psychological Bulletin,_ 107(1), 34–47. https://doi.org/10.1037/0033-2909.107.1.34


Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000