Esai

Falsafah Tanah dan Keserakahan

SW60Plus.com, 17 September 2026, 12:07 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 70x dilihat

ADA yang cemas ketika tanah diukur dengan angka. Padahal, sebelum menjadi kapling, sebelum diberi nomor sertifikat, dan sebelum menjadi sengketa yang riuh di ruang pengadilan, tanah adalah sebuah pelukan yang sunyi.

Mari kita renungkan peristiwa yang menimpa seorang pejabat agraria yang tertangkap tangan oleh operasi KPK baru-baru ini. Sejatinya hal itu bukan cerita tentang hukum yang menang atau birokrasi yang kalah. Ia adalah fragmen tua tentang manusia yang mencoba menjinakkan yang tak berbatas.

Begitulah kelakuan manusia. Berbekal sebilah pena dan selembar wewenang, manusia moderen yang digdaya merasa bisa menguasai bumi. Ia  mengotakkannya menjadi sekian meter persegi, lalu mengubahnya menjadi pundi-pundi rupiah di bawah meja.

Tetapi, bisakah tanah benar-benar dimiliki?

Dalam mitologi Yunani kuno, ada kisah tentang Antaios. Ia raksasa putra Poseidon dan Gaia, sang Ibu Bumi. Antaios tak terkalahkan selama kakinya tetap menyentuh tanah. Kekuatannya abadi karena ia terus menyusu pada rahim bumi. Namun Heracles tahu rahasianya. Ia mengangkat Antaios tinggi-tinggi ke udara, memutus hubungannya dengan tanah, lalu mencekiknya hingga tewas.

Korupsi agraria --dan perbuatan culas di sektor pertanahan-- adalah replika tragedi itu. Ketika birokrasi memandang tanah sebagai komoditas abstrak, mereka sedang mengangkat manusia dari bumi, memutus tali pusar spiritualnya.

Padahal bagi seorang petani di Pegunungan Kendeng atau di pelosok sawah di Jawa yang kian menyempit, tanah bukanlah komoditas. Ia adalah ibu. Dari sana ketela tumbuh, air diserap, dan ke sana pula doa-doa panen dialamatkan. Ada hubungan yang bersifat liris: persetubuhan batin antara cangkul dan bongkahan tanah yang basah.

Hubungan itu diputus oleh keserakahan birokrasi. Tanah direduksi hanya menjadi komoditas abstrak yang bisa ditransaksikan demi komisi. Ketika perbuatan lancung itu terjadi, manusia sebenarnya sedang teralienasi. Ia terasing dari asal-usulnya sendiri. 

Sang pejabat yang menerima suap itu barangkali salah sangka. Ia mengira sedang menggenggam kekayaan. Padahal, ia hanya sedang menimbun ilusi. Ia lupa bahwa di atas tanah yang ia kaplingkan dengan curang, ada air mata yang merembes ke dalam tanah--menjadi saksi yang tak bersuara.

Kekuasaan selalu punya cara untuk mendesakralisasi alam. Ia mengubah hutan menjadi konsesi, dan mengubah ladang menjadi kawasan industri. Namun, sejarah selalu punya cara yang ironis untuk mengingatkan kita. Bahwa kekuasaan setinggi apa pun, dan kekayaan sebanyak apa pun yang dikeruk dari balik meja kuasa, akhirnya akan patah di hadapan waktu.

Tanah adalah juru sita yang paling sabar. Ia tidak tergesa-gesa. Ia menunggu kita di ujung jalan. Di dalam liang yang gelap, berukuran standar dua kali satu meter, tanah menerima siapa saja tanpa syarat. Ia tak meminta sertifikat kepemilikan. Ia tak memeriksa pangkat seseorang.

Di sana, semua manusia diperlakukan sama. Tubuh seorang menteri, jasad calo tanah, atau jenasah tuna wisma, akan melebur dalam hakikat yang sama: kembali menjadi zat hara. Sama-sama kembali menjadi debu yang sunyi.

Apa yang kita butuhkan pasca prahara skandal dengan tangkapan duit seratusan milyar pemecah rekor komisi anti-rasuah itu?

Mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar perbaikan sistem digital. Bukan pakta integritas yang ditandatangani dengan seremoni yang mahal.

Kita hanya butuh jeda. Butuh rehat sejenak, lalu kembali mendengarkan bumi yang perlahan-lahan menua dan terluka akibat keserakahan manusia.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000