Hoki
PERNAH melihat seseorang sukses lalu mendengar komentar, “Ah, dia mah hoki”? Kita melihat ia bertemu orang yang tepat, mendapat kesempatan besar, atau berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Jim Collins dan Morten Hansen penasaran dengan pertanyaan yang sama. Ketika meneliti perusahaan-perusahaan yang mampu tumbuh luar biasa di tengah dunia yang tidak pasti, mereka bertanya: apakah perusahaan yang paling sukses memang lebih beruntung?
Mereka kemudian menelusuri berbagai kejadian yang tidak direncanakan. Ada peluang yang datang tiba-tiba, perubahan teknologi, pergeseran pasar, sampai musibah yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.
Hasilnya mengejutkan.
Perusahaan yang jauh lebih berhasil ternyata tidak selalu lebih hoki.
Mereka juga mengalami kesialan. Mereka juga diterpa krisis, kejutan, dan perubahan yang tidak pernah mereka pesan.
Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan setelah keberuntungan atau kesialan itu datang.
Collins dan Hansen menyebutnya Return on Luck. Sederhananya: bukan seberapa banyak hoki yang kita dapat, tetapi seberapa banyak hasil yang mampu kita ciptakan darinya.
Di sinilah paradoksnya:
Hoki adalah kebetulan. Hasilnya bukan.
Kita sering melihat pintu yang terbuka, tetapi tidak melihat apa yang terjadi setelah seseorang melewatinya.
Kesempatan mungkin datang secara kebetulan. Tetapi mengenalinya membutuhkan kepekaan. Mengubahnya menjadi sesuatu membutuhkan kesiapan. Dan mempertahankan hasilnya membutuhkan disiplin.
Itulah sebabnya keberuntungan yang sama bisa menghasilkan cerita yang berbeda.
Seseorang mendapat kesempatan besar lalu menganggapnya hadiah. Orang lain mendapat kesempatan serupa lalu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan dengan kesempatan ini?”
Yang pertama menikmati keberuntungan.
Yang kedua mengolahnya.
Menariknya, Collins dan Hansen menemukan bahwa gagasan yang sama berlaku pada kesialan. Dua organisasi bisa sama-sama dihantam keadaan buruk, tetapi respons mereka dapat menghasilkan masa depan yang berbeda.
Yang satu sibuk bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada kita?” Yang lain akhirnya sampai pada pertanyaan yang lebih berguna: “Dengan keadaan seperti ini, apa yang masih bisa kita lakukan?”
Kejadiannya tidak mereka pilih.
Responsnya masih bisa mereka pilih.
Karena itu, pelajaran Return on Luck bukanlah bahwa kita dapat mengendalikan kehidupan. Justru sebaliknya. Dunia penuh ketidakpastian, kekacauan, peluang, dan kejadian buruk yang tidak meminta izin sebelum datang.
Tugas kita bukan mengendalikan semuanya.
Tugas kita adalah menjadi siap.
Siapkan kemampuan sebelum kesempatan datang. Bangun relasi sebelum kita membutuhkannya. Jaga disiplin ketika keadaan sedang baik. Belajar ketika keadaan buruk. Dan ketika sebuah pintu tiba-tiba terbuka, jangan hanya berdiri di depannya sambil berkata, “Wah, hoki.”
Bukan Soal Mendapat Keberuntungan, tetapi Mengolahnya
Keberuntungan membuka pintu. Kesiapan menentukan apa yang terjadi sesudahnya
Masuklah.
Sebab kesempatan besar jarang mengirim undangan kalender bertuliskan: “Besok pukul 09.00, peluang yang akan mengubah hidup Anda akan tiba.” Sering kali kita baru menyadari sebuah peristiwa adalah keberuntungan setelah bertahun-tahun melihat ke belakang.
Karena itu, mungkin pertanyaan “Kapan hoki saya datang?” bukan pertanyaan terbaik.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kalau hoki datang besok, apakah saya sudah siap?”
Pertanyaan itu berlaku untuk bisnis, karier, maupun kehidupan. Kita tidak bisa memilih semua orang yang akan kita temui, semua perubahan yang akan terjadi, atau semua pintu yang akan terbuka.
Tetapi kita bisa mempersiapkan siapa diri kita ketika semua itu terjadi.
Dan mungkin itulah mengapa dua orang bisa mendapat kesempatan yang hampir sama tetapi berakhir di tempat yang sangat berbeda. Dari luar kita melihat keberuntungan; dari dekat, sering kali ada kesiapan yang sudah dibangun jauh sebelum keberuntungan datang.
Jadi ketika seseorang berhasil, jangan terlalu cepat berkata, “Dia cuma hoki.” Kita mungkin melihat pintunya terbuka, tetapi tidak melihat berapa lama ia mempersiapkan diri agar mampu melangkah masuk.
Dan ketika keberuntungan belum datang kepada kita, jangan hanya menunggunya.
Bersiaplah.
Sebab mungkin pertanyaan yang paling menghantui bukan, “Mengapa saya belum beruntung?”
Melainkan:
“Berapa banyak pintu yang sebenarnya pernah terbuka untuk saya, tetapi saya tidak mengenalinya karena belum siap?”
“Hoki membuka pintu; kesiapan menentukan seberapa jauh kita melangkah.”
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
DAFTAR PUSTAKA
Collins, J., & Hansen, M. T. (2011). Great by choice: Uncertainty, chaos, and luck—Why some thrive despite them all. HarperBusiness.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar