Ingat Pendidikan di Hari Sumpah Pemuda
HARI ini adalah Hari Sumpah Pemuda. Hampir lewat begitu saja. Ketimbang ikut memperingatinya, saya lebih terfokus bahwa pada apa yang akan terjadi hari ini. Sejak pagi layar televisi menayangkan persiapan alat negara mengantisipasi demo besar-besaran yang rencananya digelar oleh para pemuda dan mahasiswa di berbagai sudut kota Jakarta.
Yang terbayang pada hari- ini bukan kesepakatan dan ikrar luar biasa para pemuda pada Kongres Pemuda tahun 1928 itu: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Tapi apa dampak demo itu nanti. Mudah-mudahan tidak seperti demo berdampak kerusuhan yang terjadi di beberapa kota di negara Eropa seperti Perancis, Italia, Spanyol, Albania dan beberapa lagi. Bulan-bulan ini memang dunia sedang rada kacau. Wajar kalau masyarakat kita mengharap aksi pemuda dan mahasiswa akan berpengaruh pada kondisi negara yang, menurut saya, juga tidak baik-baik saja. Selain soal kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan perdagangan yang menekan kehidupan, salah satu tuntutan mahasiswa adalah perbaikan pendidikan.
Pemuda adalah hasil pendidikan. Ada adagium yang sering kita dengar: “Menghancurkan suatu bangsa tidak perlu pakai bom atom”. Cukup hanya dengan menurunkan kualitas pendidikan dan membiarkan penipuan dalam pendidikan. Ngerinya, contohnya sudah terjadi di sini: penipuan dalam menguji para mahasiswa oleh guru besar. Termasuk di dalamnya, pemberian gelar kesarjanaan kepada yang tidak berhak.
Dengan demikian, jangan heran bila banyak dampaknya ditemukan dalam kehidupan kita. Dari hasil pendidikan seperti itu, ada pasien meninggal di tangan dokter medis. Jembatan, bendungan dan bangunan rubuh di tangan insinyur . Uang pun hilang di tangan ahli ekonomi dan akuntan begituan. Keadilan dibelokkan , bahkan kemanusiaan, sirna di tangan hakim seperti itu. Sangat memprihatinkan. Dan sayangnya, selama ini belum ada pihak-pihak yang tersentuh atau berani mempersoalkannya. Mengharapkan wakil-wakil kita untuk melek, wow..jauh panggang dari api.
Membaca laporan media setahun terakhir ini, kita mengurut dada. Berbagai kejahatan terjadi. Banyak perbuatan bangsa kita yang tidak berakhlak. Melanggar lalin, membeli ijazah palsu, penerima pungutan liar, menyuap, korupsi, menebang hutan lindung, menyiram air keras kepada sesama manusia, merusak sekolah karena tidak lulus ujian, dan seterusnya.
Di sisi lain, banyak video beredar di media sosial menggambarkan kebodohan para pelajar kita. Ada yang tidak tahu aritmetika dasar, ada yang ngawur logikanya. Kita yang kebetulan menonton akan tertawa kecut, melihatnya sebagai lelucon yang tidak lucu.
Baru pada hari Sumpah Pemuda inilah , kita bisa berharap semua perhatian akan menyorot pada berbagai masalah akut tadi.
Mungkin kita terbiasa dengan ungkapan “kamu masih terlalu muda”, sebuah ungkapan yang justru akan memicu apatisme generasi muda untuk ikut memikirkan bangsa ini ke depan. Tapi kini sudah waktunya representasi generasi muda di setiap aspek pengambilan keputusan harus difahami sebagai kebutuhan mutlak dalam pembangunan nasional. Oleh karena itu pemuda harus disiapkan untuk berpartisipasi mengatasi persoalan saat ini serta ikut merencanakan pembangunan di masa mendatang. Bukan dalam konteks partisipasi formalitas saja, tetapi juga partisipasi yang nyata. Mudah-mudahan sorotan pada “masalah pendidikan” akan membuka mata kita semua.
Pendidikan tidak hanya mampu membuat dan meningkatkan status diri dalam masyarakat, melek huruf dan membuat mereka lebih produktif tetapi juga dapat membangun sikap dan perilaku positif dalam peran masyarakat. Sikap dan perilaku untuk baik secara etika dan benar secara aturan.
“Akhlak” adalah jargon agama untuk “budi pekerti”, seperti yang kita pelajari di sekolah doeloe. Istilah ilmiahnya adalah “moral” atau “etika”. Faktor ini tak kalah pentingnya dari matematika, sains dan teknologi. Inilah tantangan kita sekarang: menaikkan kualitas generasi dengan memperbarui sistem pendidikan.
Alhamdulillah, demo pemuda dan mahasiswa hari ini masih berlangsung, baik-baik saja….
Tangerang Selatan, 28 Oktober 2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar