Dari Redaksi

Intelektualitas di Usia Senja

SW60Plus.com, 03 Mei 2026, 23:19 WIB
Suryadi
Suryadi
· 123x dilihat

Ketika Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) diluncurkan oleh para pendirinya—antara lain Wahyu Muryadi, Kemal Gani, dan Budiman Tanuredjo—di Jakarta, 17 April 2026, saya berkata kepada seorang teman, “Ini langkah yang patut didukung.” Bukan tanpa catatan, tetapi sebagai ikhtiar awal yang penting. Sebuah organisasi memang harus dimulai dari sejumlah kecil orang, lalu berkembang. Peluncuran malam itu, yang dihadiri sekitar seratus wartawan senior dari 300-an tamu yang hadir menunjukkan semangat itu: para sepuh yang tetap berenergi.

Setidaknya ada dua hal penting yang perlu menjadi perhatian SWSI. Pertama, bagaimana menggali dan mengasah kadar intelektual para anggotanya—mereka yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa. Kedua, kesejahteraan para anggotanya. Tanpa kondisi hidup yang layak, sulit berharap mereka tetap produktif secara intelektual. Jika kesehatan terganggu dan ekonomi tidak mendukung, maka potensi intelektual itu tidak akan berkembang.

Pada saat yang sama, negara tengah berbicara tentang visi “Indonesia Emas 2045”. Dalam konteks ini, kontribusi pemikiran dari wartawan senior menjadi relevan. Pengalaman panjang mereka adalah aset bangsa. Penggunaan kata “Serikat” dalam SWSI, sebagaimana disampaikan Wahyu Muryadi, merujuk pada tradisi organisasi wartawan sebelumnya. Namun, lebih dari itu, SWSI diharapkan menjadi wadah bagi wartawan senior untuk menyumbangkan pemikiran berdasarkan pengalaman mereka. Seperti dikatakan Budiman Tanuredjo, mengutip Jakob Oetama, “Wartawan itu suatu panggilan.” Saya menambahkan, wartawan bukan hanya profesi, tetapi panggilan jiwa—yang harus tercermin dalam kejujuran antara kata dan perbuatan.

Kejujuran inilah yang menjadi dasar jurnalisme. Wartawan bertanggung jawab kepada masyarakat, bahkan dalam konteks bangsa Indonesia yang religius, juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini bukan tanggung jawab ringan.

Kadar Intelektual dan Kejujuran

Intelektualitas dalam jurnalisme tidak dapat dipisahkan dari kejujuran. Ia adalah konsistensi antara nilai, norma, dan tindakan. Istilah “satunya kata dengan perbuatan” kini sering disebut sebagai integritas moral. Setiap wartawan harus memiliki itu.

Nilai kejujuran tidak pernah berubah, meskipun zaman berganti. Wartawan senior yang tergabung dalam SWSI memiliki tanggung jawab untuk terus mengasah kemampuan intelektualnya. Mereka tidak boleh statis. Pengalaman panjang harus dituangkan dalam karya, baik tulisan maupun buku. Seperti kata Jakob Oetama, “Buku adalah mahkota jurnalis.” Teladan dari tokoh seperti Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar menunjukkan bagaimana wartawan tidak hanya mengkritik ke luar, tetapi juga melakukan otokritik. Mereka menulis dengan keberanian, bahkan di tengah tekanan kekuasaan.

SWSI harus menjadi ruang untuk itu: ruang berbagi pengalaman, memperkuat intelektualitas, dan mewariskan nilai kepada generasi muda. Ini bukan sekadar estafet profesi, tetapi estafet nilai—terutama kejujuran. Dalam praktiknya, wartawan harus memahami nilai berita: aktualitas, kedekatan, dampak, prominensi, konflik, human interest, dan kredibilitas. Namun semua itu harus dilandasi kejujuran. Kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Kedekatan dengan narasumber tidak boleh melahirkan bias. Konflik harus disajikan untuk memperkaya perspektif, bukan sekadar sensasi.

Wartawan juga harus mampu memahami dampak berita terhadap masyarakat. Produk jurnalistik bukan sekadar informasi, tetapi bisa memengaruhi cara berpikir dan bertindak publik. Karena itu, tanggung jawabnya besar.

Komitmen utama wartawan adalah pada kebenaran dan pada masyarakat. Ini ditegaskan pula oleh Luwi Iswara (2005). Dalam perspektif religius, setiap karya jurnalistik juga berada dalam pengawasan moral yang lebih tinggi. Karena itu, integritas bukan pilihan, melainkan keharusan.

SWSI, Anggota, dan Tanggung Jawab Sosial

Hal kedua yang tak kalah penting adalah kesejahteraan anggota. SWSI harus menjadi wadah gotong royong bagi wartawan senior yang secara ekonomi belum beruntung. Banyak di antara mereka yang tetap ingin berkontribusi, tetapi terbatas oleh kondisi hidup.

Jika persoalan ini dapat ditangani dengan baik, SWSI akan memberi manfaat nyata: para wartawan senior tetap produktif, berbagi pengalaman, dan berkontribusi bagi masyarakat. Seperti disampaikan Wahyu Muryadi, selama ini sudah ada upaya sukarela membantu anggota yang sakit atau kesulitan ekonomi. Ke depan, hal ini perlu dikelola secara lebih sistematis. Model gotong royong yang produktif—misalnya koperasi—dapat menjadi solusi. Bukan sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan anggota. Dengan demikian, seluruh energi kolektif dapat terwadahi. Kemajuan teknologi komunikasi juga bisa dimanfaatkan. Wartawan senior kini memiliki akses informasi yang luas. Namun, teknologi juga membawa risiko, terutama jika digunakan tanpa kendali. Di sinilah peran intelektual wartawan senior menjadi penting: mengkritisi, memberi perspektif, dan menjaga arah.

Jumlah wartawan senior di Indonesia tidak kecil. Jika diasumsikan setiap provinsi memiliki sekitar 40 orang, maka totalnya bisa mencapai 1.500 orang. Ini angka yang signifikan dan membutuhkan perhatian serius. Dalam konteks ini, SWSI tidak boleh mengulang pola lama yang bergantung pada inisiatif individu. Harus ada sistem yang memungkinkan organisasi bekerja secara kolektif dan berkelanjutan.

Tantangan dan Harapan

Ke depan, tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Selain faktor ekonomi, ada juga tantangan politik dan budaya. Dalam masyarakat yang masih memiliki kecenderungan feodal, independensi wartawan sering diuji. Belum lagi godaan teknologi digital yang dapat membuat orang kehilangan arah. Mochtar Lubis pernah menggambarkan “Manusia Indonesia” dengan sejumlah ciri, salah satunya memiliki bakat artistik. Namun, kita tidak boleh berhenti di sana. Wartawan harus terus mengembangkan kapasitas intelektual dan moralnya. Jumlah wartawan senior akan terus bertambah seiring waktu. Regenerasi adalah keniscayaan. Karena itu, SWSI memiliki peran strategis: menjadi jembatan antara pengalaman masa lalu dan tantangan masa depan. Dalam dunia yang serba cepat, terbuka, dan lintas budaya, nilai kejujuran menjadi semakin penting. Tanpa itu, jurnalisme kehilangan maknanya. SWSI hadir bukan sekadar organisasi, tetapi sebagai harapan. Harapan untuk menjaga nilai, mengasah intelektualitas, dan memperkuat solidaritas. Seperti kata Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Dalam konteks ini, harapan itu adalah semangat untuk terus berkontribusi, meski usia telah lanjut.

Selamat berjuang, SWSI.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000