Jawa Setelah Dua Abad Berubah
BAYANGKAN dua orang sedang memandang Jawa pada abad ke-19. Yang pertama adalah Franz Wilhelm Junghuhn. Ia mendaki gunung, mengukur ketinggian, mencatat suhu, mengamati tumbuhan, dan memetakan bentang alam.
Baginya, Jawa adalah laboratorium raksasa: gunung, hutan, sungai, lembah, tanah, dan iklim yang saling berhubungan.
Yang kedua adalah Raden Saleh. Ia tidak terutama melukis gunung atau menyusun peta. Ia melukis manusia: wajah, kekuasaan, kekerasan, kehormatan, dan luka sejarah.
Dalam lukisannya berjudul "Penangkapan Pangeran Diponegoro", Jawa hadir bukan sebagai lanskap yang diam, melainkan sebagai masyarakat yang sedang diperebutkan.
Junghuhn membantu kita melihat tubuh Jawa. Raden Saleh mengingatkan bahwa tubuh itu dihuni manusia yang memiliki kehendak, kepentingan, ingatan, dan konflik.
Dua cara pandang tersebut penting karena Jawa tidak pernah hanya berupa tanah yang subur.
Jawa juga merupakan ruang sosial yang terus berubah. Gunungnya berhubungan dengan pertanian. Sungainya berhubungan dengan permukiman. Jalan berhubungan dengan perdagangan. Kekuasaan berhubungan dengan tanah. Dan perubahan teknologi akhirnya berhubungan dengan cara manusia bekerja, berpindah, bahkan membayangkan masa depan.
Pertanyaannya kemudian: bagaimana semua perubahan itu ditulis?
Jawa dalam Sebuah Buku
Dua abad lalu, seorang penguasa kolonial Inggris berusaha menyusun gambaran besar mengenai pulau ini. Thomas Stamford Raffles menerbitkan The History of Java pada 1817.
Buku tersebut merupakan salah satu karya paling ambisius dan paling berpengaruh dalam menjadikan Jawa sebagai objek pengetahuan sejarah bagi pembaca Eropa.
Raffles tidak hanya menulis tentang raja dan peperangan. Ia membahas geografi, penduduk, pembagian sosial, pertanian, petani, perdagangan, industri, pemerintahan, agama, bahasa, kesenian, kesusastraan, dan watak intelektual maupun moral masyarakat.
Dengan kata lain, ia berusaha menyusun semacam potret menyeluruh tentang Jawa pada zamannya.
Buku itu menarik justru karena ambisinya. Raffles tampaknya memahami bahwa untuk menguasai suatu wilayah, orang tidak cukup mengetahui nama rajanya.
Ia juga perlu mengetahui siapa yang mengolah tanah, bagaimana hasil bumi bergerak, bagaimana masyarakat disusun, keyakinan apa yang mereka anut, bahasa apa yang mereka gunakan, serta bagaimana hubungan antara penguasa dan rakyat berlangsung.
Pengetahuan, dalam konteks kolonial, tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kekuasaan. Peta dapat membantu pelayaran. Data penduduk dapat membantu administrasi. Pengetahuan tentang tanah dapat membantu pengaturan pajak. Pemahaman tentang struktur sosial dapat membantu pemerintah membaca potensi perlawanan.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. The History of Java bukanlah Jawa itu sendiri. Ia bicara tentang Jawa yang telah dipilih, disusun, diterjemahkan, dan ditafsirkan melalui sudut pandang seorang pejabat kolonial.
Setiap peta memiliki bagian yang ditampilkan dan bagian yang disembunyikan. Setiap buku sejarah memiliki pusat perhatian dan wilayah yang dibiarkan berada di pinggir. Bahkan karya yang sangat kaya data pun tetap membawa keterbatasan sumber, bahasa, kategori, dan kepentingan penulisnya.
Raffles juga tidak bekerja sendirian. Ia bergantung pada laporan, naskah, pejabat lokal, penerjemah, dan para perantara pengetahuan.
Keterbatasan penguasaan bahasa serta kerumitan tradisi historiografi Jawa membuatnya tidak selalu mampu menilai perbedaan antara berbagai versi sejarah secara memadai.
Kajian Wayan Jarrah Sastrawan, misalnya, menunjukkan bahwa keterbatasan Raffles dalam memahami tradisi historiografi lokal ikut memengaruhi cara ia merekonstruksi masa lalu Jawa.
Karena itu, Raffles penting untuk dibaca, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai hakim terakhir tentang Jawa. Ia adalah sumber. Ia bukan pengadilan.
Seandainya Ibnu Khaldun Membaca Raffles
Di titik inilah kita dapat membayangkan sebuah pertemuan yang tak pernah terjadi.
Bayangkan Ibnu Khaldun datang ke Yogyakarta, duduk di sebuah ruang perpustakaan, lalu membuka The History of Java. Ia membaca uraian tentang penduduk, kerajaan, perdagangan, pertanian, agama, dan adat-istiadat. Sesekali ia mengangguk. Sesekali ia mengerutkan kening.
Ibnu Khaldun tentu tidak mungkin benar-benar bertemu Raffles di Yogyakarta. Pertemuan di sini hanyalah eksperimen imajinatif untuk menguji cara kita membaca sejarah.
Sebagai pemikir sejarah, Ibnu Khaldun tidak puas dengan sekadar mengumpulkan berita. Ia ingin mengetahui apakah suatu berita masuk akal jika diuji dengan keadaan sosial, ekonomi, politik, geografis, dan kemampuan manusia yang nyata.
Ia membedakan antara laporan yang terdengar mengagumkan dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kitabnya al-Muqaddimah, ia mengkritik penerimaan begitu saja terhadap berita-berita yang tidak masuk akal.
Misalnya, ia memustahilkan laporan tentang jumlah pasukan yang terlalu besar untuk ditopang oleh kondisi masyarakat dan kemampuan logistik pada zamannya.
Kritiknya terhadap al-Mas‘udi bukan berarti seluruh karya al-Mas‘udi ia anggap keliru, melainkan menunjukkan pentingnya menguji berita dengan kemungkinan material dan sosialnya.
Maka, seandainya Ibn Khaldun membaca Raffles, mungkin ia akan bertanya: “Baiklah, Anda telah mencatat banyak hal tentang Jawa. Tetapi apa yang menyebabkan semua itu terjadi?”
Mengapa suatu kerajaan dapat bertahan, lalu melemah? Mengapa suatu kelompok memperoleh kekuasaan, sementara kelompok lain kehilangan tanah, pekerjaan, atau pengaruh?
Mengapa petani tetap mengolah tanah, tetapi tidak selalu menikmati hasilnya? Mengapa perdagangan berkembang di satu tempat dan surut di tempat lain?
Mengapa masyarakat menerima perubahan tertentu, tetapi menolak perubahan yang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggeser sejarah dari katalog menuju penjelasan. Sejarah tidak cukup berkata bahwa sesuatu pernah terjadi.
Bagi Ibnu Khaldun, sejarah harus berusaha menerangkan mengapa ia terjadi, melalui mekanisme apa, dengan akibat bagi siapa, dan dengan biaya yang ditanggung oleh siapa.
Di sinilah Raffles dan Ibn Khaldun dapat ditempatkan dalam hubungan yang produktif. Raffles membantu menyediakan bahan dan gambaran. Ibnu Khaldun mengingatkan agar gambaran itu tidak berhenti sebagai inventaris.
Raffles membantu kita melihat Jawa sebagai wilayah yang dapat dipahami. Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa sejarah harus melampaui pengumpulan berita menuju penjelasan tentang mekanisme perubahan.
Dari Potret Menjadi Perbandingan
Jika The History of Java kita jadikan salah satu titik awal, maka pertanyaan berikutnya bukan sekadar: apakah Jawa sekarang masih sama dengan Jawa yang digambarkan Raffles?
Pertanyaan itu terlalu sederhana. Tidak ada masyarakat yang benar-benar “masih sama” setelah dua abad. Mereka pasti berubah.
Yang lebih penting ialah, dalam hal apa Jawa berubah, bagaimana perubahan itu berlangsung, dan hubungan apa yang ikut bergeser di balik perubahan tersebut?
Pada awal abad ke-19, Jawa merupakan masyarakat yang sebagian besar bertumpu pada pertanian, meskipun perdagangan, kerajinan, pelayaran, dan jaringan kota telah memainkan peran penting. Struktur sosialnya dibentuk oleh hubungan antara desa, tanah, kerajaan, pejabat, pedagang, pemuka agama, dan kekuatan kolonial.
Hari ini, Jawa adalah ruang yang jauh lebih padat, urban, terhubung, dan terdigitalisasi. Sawah berdampingan dengan kawasan industri. Desa berhubungan langsung dengan pasar nasional dan global.
Sekarang anak muda belajar dan bekerja melalui telepon pintar. Komuter melintasi kabupaten setiap hari. Pendidikan, migrasi, media sosial, dan ekonomi platform mengubah cara orang memperoleh penghasilan serta membangun identitas.
Dahulu, perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain dapat memakan waktu berhari-hari. Kini, seseorang dapat bekerja di satu kota, tinggal di kota lain, bertransaksi dengan perusahaan di luar negeri, dan mengonsumsi kebudayaan dari berbagai benua dalam waktu yang sama.
Tetapi perubahan itu tidak berarti seluruh masa lalu lenyap. Banyak struktur lama justru bertahan dalam bentuk baru.
Hubungan patronase dapat berganti wajah menjadi jaringan politik modern. Ketimpangan penguasaan tanah dapat muncul kembali dalam bentuk ketimpangan akses terhadap perumahan dan ruang kota.
Gotong royong kini masih dapat bertahan, tapi juga dapat digantikan oleh layanan berbayar. Ikatan komunal dapat menguat dalam satu keadaan, namun melemah ketika mobilitas ekonomi dan kompetisi politik meningkat.
Karena itu, membandingkan Jawa dahulu dan sekarang tidak cukup dengan menyusun dua daftar: dulu begini, sekarang begitu. Kita perlu membandingkan kategori-kategori yang digunakan untuk memahami masyarakat.
Jika Raffles berbicara tentang petani, bangsawan, rakyat, pejabat, dan pedagang, kita perlu bertanya: siapa padanan sosial mereka hari ini?
Seperti Ibnu Khaldun, kita mesti bertanya: Apakah petani masih menjadi pusat kehidupan ekonomi? Bagaimana posisi buruh pabrik, pekerja informal, pengemudi layanan daring, pekerja migran, kelas menengah terdidik, dan penghuni kawasan pinggiran?
Jika dahulu tanah merupakan pusat produksi dan kekuasaan, apa kedudukannya sekarang ketika nilai ekonomi juga ditentukan oleh kawasan industri, jaringan logistik, data, properti, dan akses digital?
Jika dahulu sungai, musim, dan kesuburan tanah sangat menentukan kehidupan, bagaimana kedudukannya sekarang ketika air tanah dikuras, daerah resapan ditutup, sungai tercemar, dan kota terus meluas?
Dengan demikian, perubahan Jawa bukan sekadar perpindahan dari tradisional menuju modern. Perubahan itu merupakan pergeseran hubungan antara manusia, ruang, waktu, kekuasaan, teknologi, kebudayaan, dan alam.
Kemajuan yang Mengubah Daya Dukung
Ada satu perubahan yang sangat penting, tapi sering luput ketika sejarah hanya ditulis melalui pergantian penguasa atau perkembangan teknologi.
Pada masyarakat agraris, kehidupan manusia sangat bergantung pada kemampuan alam menyediakan air, tanah subur, hutan, ikan, dan musim yang relatif dapat diperkirakan.
Tentu masyarakat masa lalu juga merusak lingkungan. Mereka menebang hutan, membuka lahan, mengubah aliran air, dan mengeksploitasi sumber daya. Namun, skala, kecepatan, serta jangkauan perubahan hari ini jauh lebih besar.
Dalam masyarakat modern, alam semakin sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus menyesuaikan diri dengan pertumbuhan ekonomi. Sungai diarahkan agar mengikuti kebutuhan kota.
Saat ini, sawah secara masif diubah menjadi kawasan industri. Pesisir ditimbun untuk properti. Bukit dipotong untuk jalan dan permukiman. Air tanah dipompa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, hotel, gedung, dan industri.
Kita menyebutnya pembangunan. Kadang memang pembangunan. Tetapi kadang yang terjadi hanyalah pemindahan biaya. Keuntungan dinikmati sekarang, sementara kerusakan dibayar oleh masyarakat pada masa depan.
Banjir bukan hanya peristiwa alam. Ia dapat menjadi hasil dari keputusan tata ruang, hilangnya daerah resapan, buruknya sistem drainase, dan ketimpangan pengelolaan wilayah.
Kemacetan bukan sekadar akibat terlalu banyak kendaraan. Ia juga merupakan akibat dari pemusatan pekerjaan, perumahan yang jauh dari pusat kegiatan, dan tata kota yang membuat waktu manusia habis di jalan.
Krisis air bukan semata-mata karena hujan berkurang. Ia juga dapat berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan, eksploitasi air tanah, pencemaran, dan ketidakadilan distribusi.
Dengan cara pandang seperti ini, sejarah lingkungan tidak boleh ditempatkan sebagai tambahan dekoratif. Ia harus menjadi bagian dari sejarah sosial dan ekonomi.
Sejarah sebuah kota, misalnya, tidak lengkap jika hanya menceritakan wali kota, gedung, jalan raya, dan investasi. Ia juga harus menceritakan sungai yang ditutup, sawah yang hilang, kampung yang tergusur, sumber air yang mengering, serta kelompok masyarakat yang menanggung dampaknya.
Jawa yang berubah bukan hanya Jawa yang semakin kaya infrastruktur. Ia juga Jawa yang sedang bernegosiasi dengan batas-batas ekologisnya sendiri.
Siapa yang Berhak Menjadi Tokoh Sejarah?
Raffles banyak membantu kita melihat struktur besar Jawa. Namun, jika kita ingin menulis sejarah Jawa setelah dua abad perubahan, pusat perhatian kita perlu diperluas.
Sejarah tidak boleh hanya menjadi panggung tempat raja, pejabat, kolonialis, jenderal, dan elite ekonomi bergantian tampil. Mereka penting, tetapi mereka bukan satu-satunya pelaku sejarah.
Ada petani yang mempertahankan sawah di tengah tekanan konversi lahan. Ada buruh yang mengubah desa menjadi kawasan industri melalui tenaga dan waktunya. Ada perempuan yang menopang ekonomi keluarga melalui kerja domestik sekaligus kerja berupah.
Tak cuma itu. Ada nelayan yang menghadapi perubahan garis pantai dan ekosistem laut. Ada guru yang menjaga bahasa, pengetahuan, dan harapan di tengah perubahan sosial. Ada pedagang kecil yang bertahan di antara pasar tradisional, minimarket, dan platform digital.
Ada pula anak muda yang tidak lagi membayangkan masa depan hanya melalui pekerjaan tetap di kantor. Mereka berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, membangun usaha kecil melalui media sosial, menjadi pekerja lepas, atau hidup dalam ketidakpastian ekonomi yang oleh bahasa pemasaran disebut “fleksibilitas”.
Sejarah Jawa juga perlu memberi tempat kepada mereka yang biasanya hanya muncul sebagai angka: penduduk miskin, pekerja migran, penghuni bantaran sungai, warga kampung kota, kelompok yang kehilangan tanah, dan masyarakat yang terpaksa berpindah karena proyek pembangunan.
Mereka bukan latar belakang. Mereka adalah pelaku. Karena itu, sejarah Jawa yang baru perlu menggabungkan sejarah politik dengan sejarah sosial, ekonomi, agraria, budaya, demografi, lingkungan, teknologi, dan kehidupan sehari-hari.
Arsip negara tetap penting. Tapi ia harus dibaca bersama surat pribadi, catatan desa, peta, foto, surat kabar, kesaksian lisan, ingatan keluarga, data kependudukan, dan pengalaman masyarakat.
Ingatan lisan memang tidak selalu bebas dari kekeliruan. Arsip resmi pun tidak selalu bebas dari kepentingan. Keduanya harus diuji, dibandingkan, dan ditempatkan dalam konteks.
Di sinilah pelajaran Ibnu Khaldun kembali berguna. Berita perlu diperiksa, bukan sekadar dipercayai karena telah dicetak atau disimpan dalam lemari arsip.
Menulis Masa Depan, Bukan Meramalnya
Dua abad setelah Raffles, Jawa telah berubah begitu jauh sehingga buku The History of Java tersebut tak mungkin lagi menjadi potret yang memadai. Namun, justru karena itulah ia berguna. Ia memberi kita titik pembanding untuk mengukur jarak sejarah.
Pertanyaannya sekarang: Jawa seperti apa yang sedang kita bentuk? Jawa mungkin akan menjadi semakin urban, semakin terkoneksi, semakin bergantung pada teknologi, dan semakin terintegrasi dengan ekonomi global.
Tetapi arah tersebut tidak otomatis menjamin kehidupan yang lebih baik bagi semua orang.
Kepadatan penduduk dapat menghasilkan produktivitas, tetapi juga memperbesar tekanan terhadap air, pangan, perumahan, transportasi, dan ruang terbuka.
Digitalisasi dapat membuka peluang, tetapi juga memperluas pekerjaan yang tidak pasti. Industrialisasi dapat menciptakan lapangan kerja, tetapi sekaligus menimbulkan pencemaran dan ketimpangan jika tidak dikendalikan.
Pembangunan infrastruktur dapat mempercepat mobilitas, tetapi juga dapat memindahkan masyarakat yang tidak memiliki daya tawar.
Karena itu, sejarah tidak seharusnya dipakai untuk mengatakan bahwa perubahan pasti membawa kemajuan.
Sejarah justru perlu membantu kita membedakan antara perubahan yang memperluas kemampuan hidup dan perubahan yang hanya memperbesar akumulasi kekayaan bagi sebagian kecil kelompok.
Masa depan Jawa juga tidak harus berarti semua hal semakin terpusat di Jawa.
Jika tekanan ekologis, kepadatan, dan ketimpangan terus meningkat, pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di luar Jawa dapat menjadi bagian penting dari strategi nasional.
Namun, perpindahan pusat pertumbuhan bukan sekadar urusan memindahkan gedung dan kantor. Ia harus disertai pemerataan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kesempatan kerja, dan kualitas tata kelola.
Dengan demikian, menulis sejarah Jawa bukan hanya pekerjaan untuk mengetahui dari mana kita datang. Ia juga merupakan cara untuk menguji ke mana kita sedang diarahkan.
Sejarah tidak dapat meramalkan masa depan secara pasti. Tetapi sejarah dapat memperlihatkan pola, mengungkap konsekuensi, membongkar ilusi, dan mengingatkan bahwa setiap keputusan memiliki pemenang serta pihak yang membayar ongkosnya.
Jawa sebagai Sejarah yang Terus Bergerak
Mungkin inilah saatnya kita membaca kembali Jawa dengan dua mata sekaligus.
Dengan mata Junghuhn, kita melihat bentang alam, daya dukung ekologis, hubungan antara gunung, hutan, air, tanah, dan manusia.
Dengan mata Raden Saleh, kita melihat kekuasaan, konflik, kehormatan, penaklukan, perlawanan, dan pengalaman manusia yang tidak pernah netral.
Dengan ketelitian Raffles, kita mengumpulkan data dan menyusun gambaran yang luas. Dengan kewaspadaan Ibnu Khaldun, kita menguji berita, menimbang kemungkinan, dan mencari mekanisme perubahan di balik fakta.
Dari sana, kita dapat menulis sejarah Jawa bukan sebagai museum yang memajang benda-benda masa lalu, melainkan sebagai sistem kehidupan yang terus bergerak.
Jawa bukan hanya pulau yang berubah. Jawa adalah hubungan-hubungan yang berubah: hubungan manusia dengan tanah, desa dengan kota, rakyat dengan kekuasaan, tradisi dengan teknologi, pertumbuhan dengan lingkungan, dan masa kini dengan masa depan.
Dua abad setelah Raffles, tugas kita bukan sekadar membuat edisi baru dari buku lama. Tugas kita adalah menyusun pertanyaan baru tentang Jawa.
Apa yang berubah? Mengapa perubahan itu terjadi? Siapa yang menggerakkannya? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang menanggung kerugian?
Apa yang hilang? Apa yang lahir? Dan, yang paling penting, Jawa macam apa yang masih layak diwariskan kepada generasi berikutnya?
Sejarah yang baik tidak membuat kita mabuk nostalgia. Ia juga tidak menyuruh kita bersujud kepada masa depan hanya karena masa depan datang dengan jaringan 5G, gedung tinggi, dan istilah-istilah berbahasa Inggris.
Sejarah yang baik membuat kita lebih sulit ditipu oleh kemajuan yang hanya tampak dari kejauhan.
Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 14/9/2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar