Kebanggaan Semu Prabowo
MESKI pernah menyatakan khawatir bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030, Presiden Prabowo Subianto belakangan ini bersemangat memprediksi Indonesia akan menjadi "one of the great powers in the world" secara ekonomi, lebih besar dari Prancis dan Inggris.
"Semua pakar dunia meramalkan Indonesia menjadi ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada 2050," kata Presiden Prabowo dengan bangga. "Masa depan kita cerah."
Ukuran ekonomi yang dimaksud Presiden Prabowo adalah GDP (Gross Domestic Product) Prediksi itu akan terealisasi, bahkan mungkin lebih cepat dari harapan Presiden Prabowo sendiri.
Pada akhir Pemerintahan Jokowi saja, yakni tahun 2024, Indonesia sudah ada di peringkat ke-7 dalam GDP (purcasing power parity) dunia, lebih tinggi dari Prancis dan Inggris.
Data di bawah ini bisa memberikan gambaran.
Top 10 Largest Economies by GDP (PPP) in 2026
China - $44.3 trillion
United States - $32.4 trillion
India - $18.9 trillion
Russia - $7.5 trillion
Japan - $7.3 trillion
Germany - $6.4 trillion
Indonesia - $5.5 trillion
Brazil - $5.2 trillion
France - $4.7 trillion
United Kingdom - $4.7 trillion
Artinya, tanpa gembar-gembor, Pemerintahan Jokowi sudah mencapai prediksi itu.
Kenapa tidak gembar-gembor? Saya menduga karena Pak Jokowi dan para menterinya sendiri tidak menganggap peringkat itu merupakan capaian pemerintah.
Mereka tahu bahwa GDP Indonesia tinggi karena jumlah penduduknya yang besar, bukan pertama-tama karena upaya pemerintah.
Peringkat-peringkat teratas GDP memang cenderung dihuni oleh negeri-negeri berenduduk besar: China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brazil.
Jika GDP itu dibagi jumlah penduduk (GDP per capita), peringkat Indonesia pada akhir pemerintahan Jokowi ada di anak tangga ke-115. Seratus besar pun tidak masuk.
Apa yang mau dibanggakan? Lebih dari itu, GDP bukan ukuran terpenting dari sukses pembangunan sebuah negara. Indonesia tidak akan cerah hanya karena GDP-nya tinggi (yang bahkan sekarang pun sudah tercapai).
Terlebih jika itu semua menyembunyikan indikator-indikator lain yang tak kalah esensial: ketimpangan ekonomi-sosial yang tinggi, kerusakan alam, kerusakan sosial, hukum, politik dan tata negara.
Sering membangga-banggakan "kebesaran" Indonesia yang bahkan bukan oleh prestasinya sendiri, Presiden Prabowo justru cenderung menyembunyikan apa yang seharusnya seharusnya diperbaiki. Kebanggaan Presiden Prabowo adalah kebanggaan yang semu.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar