Ketika Ambisi menjadi Ambisius dan Mengalahkan Kebijaksanaan
SABTU, 15 Agustus 2026, saya berkesempatan menyertai Ki Herjuno Pramariza Fadhlansyah, dalang milenial Universitas Indraprasta PGRI, tampil di Studio TVRI Yogyakarta. Kali ini Prama mementaskan kisah Boma Narakasura atau Sitijo dalam lakon Wahyu Topeng Waja.
Dalang milenial itu mengawali pakeliran dengan adegan di negara Dwarawati, ketika Boma menyatakan keinginannya menjadi senapati atau panglima perang Pandawa dalam Perang Bharatayudha. Keinginan itu disampaikan kepada Sri Betara Kresnayang adalah ayahnya. Namun persoalannya adalah para Pandawa telah menetapkan Gatotkaca sebagai senapati.
Sebagaimana dipentaskan Prama, Boma tidak menerima keputusan tersebut karena ia merasa mampu dan pantas menjadi Senopati atau penglima Perang barisan Pandawa. Ayahnya, Batara Kresna, meminta Pandawa membatalkan keputusan itu dan memilih dirinya sebagai senapati. Boma percaya Pandawa akan membatalkan keputusannya, karena Kresna adalah penasihat
Panda yang sangat disegani. Kresna tidak bersedia memenuhi keinginan anaknya. Kresna memahami bahwa keputusan mengenai kepemimpinan Pandawa tidak boleh dipaksakan hanya karena hubungan darah. Ia adalah ayah Boma, tetapi juga sahabat dan penasihat Pandawa. Karena itu, ia memilih menjaga obyektivitas.
Boma kecewa. Kekecewaan itu berkembang menjadi kemarahan. Ia kemudian mencari jalan lain, termasuk berusaha mendapatkan Topeng Waja, yang dalam kisah tersebut berkaitan dengan wahyu kesenapatian yang akan diberikan kepada Gatotkaca.
Salahkah keinginan Boma? Menyimak pendapat pakar dan hasil penelitian, sesungguhnya ambisi ternyata tidak selalu buruk. Penelitian Charles A. O'Reilly dan Jeffrey Pfeffer yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences tahun 2025 menyebut ambisi sebagai “a double-edged sword”, pedang bermata dua.
Menurut mereka, ambisi dapat berkaitan dengan keberhasilan karier. Namun, ambisi dapat menjelma menjadi ambisius dan melahirkan orientasi yang berbeda. Sebagai pedang bermata dua, ada ambisi yang bersifat intrinsik, yaitu dorongan untuk menghadapi tantangan, belajar, berkembang, dan meningkatkan kemampuan. Ada pula ambisi ekstrinsik, yang lebih berorientasi pada kekuasaan, status, pengakuan dan kekayaan.
Keduanya dapat membawa seseorang kepada keberhasilan. Tetapi temuan penelitian O’Relly dan Pfefer, menunjukkan bahwa ambisi ekstrinsik lebih mungkin berkaitan dengan perilaku tidak etis. Dalam penelitian tersebut, ambisi ekstrinsik antara lain berkaitan dengan kecenderungan menggunakan politik organisasi, melebih-lebihkan kualifikasi, dan kesediaan mengambil jalan pintas yang tidak etis demi mencapai tujuan.
Menurut Cambridge Dictionary, ambition adalah “a strong wish to achieve something” yaitu keinginan kuat untuk mencapai sesuatu. Mengenai ambisius, Cambridge mendefinisikannya sebagai “having a strong wish to be successful, powerful, or rich” yaitu memiliki keinginan kuat untuk berhasil, berkuasa, atau menjadi kaya.
Temuan ini menarik jika kita gunakan untuk membaca Boma dalam lakon wayang kulit Wahyu Topeng Waja.
Keinginan Boma menjadi senapati pada awalnya merupakan dorongan untuk menunjukkan kemampuan. Tetapi ketika Gatotkaca telah dipilih dan Boma tidak dapat menerima keputusan itu, orientasinya mulai bergeser. Yang dipertahankan bukan lagi sekadar keinginan untuk berprestasi, melainkan keinginan memperoleh posisi, pemngakuan dan kekuasaan. Ambisi telah menjadi ambisius.
Pertanyaannya, jika dalam wayang figur ambisius dinisbatkan pada Boma Narakasura, bagaimana kasunyatan dalam kehidupan nyata.
Orang yang ambisius biasanya sulit menerima ketika dirinya tidak dipilih. Ia merasa dirinya paling layak dan mulai membandingkan dirinya dengan orang yang memperoleh jabatan.
Ketika gagal, ia tidak bertanya, “Apa yang harus saya perbaiki?” tetapi justru, “Mengapa bukan saya?” Manakala pada akhirnya ia berhasil memperoleh yang diinginkanya, orang itu sulit menerima kritik, cenderung mencari pembenaran, dan dapat menggunakan kedekatan, pengaruh, atau hubungan pribadi untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Jika cara berpikir seperti ini berkembang, batas antara usaha yang wajar dan tindakan yang tidak etis menjadi semakin tipis. Penelitian O'Reilly dan Pfeffer memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar dugaan. Dalam tiga studi terhadap orang dewasa yang memiliki pengalaman kerja, mereka menemukan hubungan antara ambisi dan keberhasilan karier, tetapi juga menunjukkan bahwa ambisi ekstrinsik berkaitan dengan kecenderungan melakukan tindakan yang tidak etis untuk mencapai keberhasilan.
Kisah Boma Narakasura yang dipentaskan Pramariza Fadhlansyah mengingatkan kita bahwa jangan menjadi ambisius memperoleh jabatan dan berusaha merebutnya, namun berusahalah sebaik mungkin manakala suatu kali kita mendapat kesempatan mendapatkan amanah melalui jabatan yang diberikan, atas dasar kepercayaan.
Pertanyaannya, apakah sifat Boma menjelma pada diri kita, dan mereka yang mendapatkan kekuasaan ?
Jangan jangan banyaknya kasus korupsi para pejabat yang akhirnya menggunakan rompi tahanan, lantaran mereka telah memiliki sifat ambisius Boma Narakasura demi memperoleh jabatan dan kekuasaan.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar