Esai

Ketika Polisi Perancis Berunjukrasa

SW60Plus.com, 16 September 2026, 20:20 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 134x dilihat
EMPAT orang berjubah hitam menggotong peti mati berisi bendera hitam bergambar polisi yang tinggal kerangka. Ribuan lainnya berbaris rapi, berunjuk rasa dengan bentangan spanduk tuntutan Aliansi. Di bagian depan, dua pria berjas saling bersulang champagne. Wajahnya ditutupi topeng Presiden Macron.

Peristiwa ini merupakan pemandangan tak lazim di Paris, Perancis, di penghujung musim panas, medio September barusan. Mereka yang biasanya berdiri sebagai pagar betis, kini melebur menjadi satu gelombang manusia yang menuntut agar didengar keluhannya.

Unjuk rasa aliansi polisi ini merujuk pada aksi demonstrasi nasional berskala besar. Digelar oleh ribuan petugas kepolisian Perancis yang tergabung dalam Alliance Police Nationale. Mereka merupakan satu serikat pekerja polisi terbesar di sana yang melakukan aksi jalanan di luar jam dinas--secara hukum tak dilarang.

Ribuan petugas kepolisian dan personel kementerian turun ke jalan. Mereka berjalan dari kawasan Champs-Élysées hingga ke depan gedung Parlemen (Assemblée Nationale) untuk menuntut beberapa hal krusial: kenaikan gaji dan revaluasi tunjangan risiko yang mandek dan tak pernah dinaikkan sejak 2019. 

Demonstrasi berjalan tertib. Mereka memprotes pemotongan anggaran, kondisi kantor yang beralih menjadi usang, mobil operasional yang rusak, serta kurangnya peralatan kerja yang memadai. Minimnya staf lapangan juga mereka keluhkan. Apalagi di tengah meningkatnya gelombang ancaman keamanan dan tugas harian yang semakin berat--dan mencemaskan.

Di luar Paris, serikat polisi lain seperti Un1té juga melakukan aksi perlambatan pelayanan pemeriksaan imigrasi di bandara Roissy-Charles-de-Gaulle dan stasiun kereta api. Tindakan ini semata-mata mereka dilakukan untuk mempertegas protes.

Aksi ini merupakan refleksi mendalam tentang harga sebuah pengabdian. Bagi mata yang memandang dari balik jendela kafe, kepulan asap protes berwarna merah dan biru yang membubung ke udara terasa mencekam. Di sanalah mereka, para penjaga ketertiban, melangkah dalam ritme serupa dengan para demonstran yang biasa mereka hadapi. 

Sirene biasanya melengking sebagai penanda bahaya atau panggilan darurat. Tapi kini berbunyi dalam nada protes yang serak dan monoton. Ada ironi yang getir menari-nari di udara: para penegak hukum kini harus mengangkat suara untuk menegakkan keadilan bagi diri mereka sendiri.

Dalam keheningan di sela-sela yel-yel yang diteriakkan, tersimpan sebuah perenungan yang sunyi. Di balik lencana logam yang mengkilap di bawah rintik hujan, bersemayam hati manusia yang didera kecemasan. Menjadi polisi di Perancis hari ini seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang ketegangan sosial yang tiada habisnya. 

Mereka adalah garis depan yang menyerap benturan dari setiap amarah publik, setiap krisis ekonomi, dan setiap gejolak politik. Namun, ketika malam luruh dan seragam dilepaskan, mereka kembali menjadi ayah, ibu, anak, dan warga negara biasa yang harus berhadapan dengan realitas yang sama: harga-harga yang melambung tinggi dan isi dompet yang kian menipis.

Tuntutan kenaikan gaji ini bukanlah sekadar angka-angka di atas kertas anggaran negara. Angka tersebut adalah simbol pengakuan yang tertunda. Jeritan dari mereka yang merasa tenaganya diperas habis-habisan dalam jam-jam lembur yang tak berujung. Sedangkan kesejahteraan mereka dikesampingkan. 

Bayangkan jika seorang polisi berdiri berjam-jam menjaga demonstrasi. Mereka menghadapi lemparan batu atau makian. Ada harga psikologis yang sangat mahal yang harus dibayar. Rasa aman yang mereka berikan kepada masyarakat seolah-olah dibeli dengan mengorbankan rasa aman dan kedamaian di dalam rumah tangga mereka sendiri.

Begitulah, di bawah langit Paris yang muram, sepucuk seragam bukan lagi sekadar pelindung. Melainkan beban yang kian menindih pundak. Hari itu, sebagaimana saya saksikan di layar kaca di kota sebelah, Chamonix, jalan-jalan berbatu yang biasanya dipenuhi derap langkah turis dan tawa penikmat kopi, mendadak dipadati barisan biru yang sunyi namun bergemuruh. 

Matahari menjelang musim gugur enggan menampakkan diri sepenuhnya. Suasana temaram langit di kota mode itu seolah ikut merenungkan dilema yang terpampang di jalanan. 

Dilema lantaran di satu sisi, mereka adalah simbol otoritas negara—tangan besi yang bertugas menjaga kedamaian kota. Namun di sisi lain, di balik lencana perak dan rompi antipeluru, bersemayam jiwa-jiwa manusia biasa.

Mereka adalah para ayah, ibu, anak, dan pasangan yang setiap malam pulang dengan rasa lelah yang menggelayut, menatap meja makan yang kian hari kian sunyi karena daya beli yang kian mengikis.

Demonstrasi ini menggelar paradoks yang begitu pekat. Menghadapi jalanan sebagai demonstran, mereka meniru langkah-langkah kaki yang biasanya mereka tertibkan. Ada rasa canggung yang berbaur dengan kepasrahan yang bulat.

Langkah kaki mereka lambat namun pasti, memotong urat nadi kota dari Place de la République hingga ke pusat-pusat kekuasaan. Suara peluit bertiup sahut-sahutan, memecah kesunyian. Berpadu dengan kepulan asap merah dan biru. Melambangkan amarah yang selama ini dipendam di balik kedisiplinan.

“Kami melindungi kalian, tapi siapa yang melindungi dapur kami?” Kalimat itu tertulis pada selembar kardus kaku yang diangkat oleh seorang petugas paruh baya. Wajahnya yang dihiasi garis-garis keriput menceritakan kisah tentang malam-malam panjang menjaga demonstrasi. Menghadapi lemparan batu, dan menyaksikan kerusuhan urban. 

Selama bertahun-tahun, inflasi telah bergerak seperti pencuri di malam hari. Merampas nilai dari setiap tetes keringat mereka. Kenaikan gaji yang mereka tuntut bukan sekadar meminta kemewahan. Melainkan jaminan agar martabat mereka tak ikut runtuh bersama runtuhnya nilai mata uang.

Peristiwa ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam: apa arti sebuah negara jika para penjaganya sendiri merasa tidak aman dalam menjaga kelangsungan hidup mereka? 

Seragam biru yang mereka kenakan seharusnya menjadi simbol otoritas dan perlindungan. Namun, dalam unjuk rasa ini, seragam itu menjelma menjadi kain berkabung yang meratapi hilangnya martabat profesi. Mereka tak sedang melawan hukum, tapi menuntut agar hukum juga melindungi hak mereka untuk hidup layak.

Langkah kaki ribuan polisi yang berderap di atas jalanan berbatu Paris menggandakan gaung kegelisahan yang mendalam. Mereka yang terbiasa memendam emosi demi profesionalisme, kini menumpahkannya ke aspal jalanan. 

Ada rasa lelah yang teramat sangat yang terpancar dari tatapan mata di balik tameng huru-hara yang sengaja diturunkan. Lelah karena terus-menerus dianggap sebagai musuh oleh sebagian masyarakat. Di saat yang sama, merasa dikhianati oleh sistem yang mereka pertahankan dengan pertaruhan nyawa.

Aksi yang berjalan masif ini membuat Menteri Dalam Negeri Perancis, Laurent Nuñez, langsung bergerak. Ia mengundang perwakilan serikat Alliance untuk berdiskusi di hari yang sama. Menteri Laurent memahami keresahan para petugas dan meminta waktu beberapa hari untuk merumuskan rencana anggaran baru.

Saat senja mulai turun membasuh kota, aksi protes itu perlahan-lahan mereda. Menyisakan bekas asap suar yang padam dan selebaran yang berserakan. Namun, pesan yang ditinggalkan tetap menggantung jelas di udara menjelang musim gugur yang sejuk.

Gelombang unjuk rasa ini adalah alarm keras bagi nurani pemerintah. Perancis, dengan segala keindahan budaya dan sejarah kebebasannya, sedang diingatkan bahwa pilar-pilar ketertiban tidak terbuat dari beton yang mati. Melainkan dari manusia-manusia bernyawa yang butuh dihargai.

Ketika para polisi itu menuju pos masing-masing dan mengenakan perlengkapannya, mereka kembali menjaga malam.  Mengawasi sudut-sudut kota yang rawan, namun dengan kesadaran baru yang membekas di dada: di balik ketegasan instruksi dan dinginnya lencana, ada hak mereka yang harus terus diperjuangkan.*
Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000