Esai

Hanya Karena Satu Gigitan Apel

SW60Plus.com, 08 September 2026, 09:20 WIB
Asro Kamal Rokan
Asro Kamal Rokan
· 28x dilihat

KISAH INI populer di kalangan pemerhati sosial, kelompok antikorupsi, sejarawan, dan dunia Islam. Kisahnya begini: Tsabit bin Zutho, yang hidup masa awal Bani Umayyah Abad ke-7 di Irak. Tsabit menemukan sebuah apel hanyut di sungai pinggiran kota Kufah. Pemuda yang sedang lapar ini, memungut apel tersebut dan memakannya. Baru satu gigitan, Tsabit tersadar. Ia merasa berdosa memakan apel tanpa izin pemiliknya.
 
Tsabit menyusuri pinggir aliran sungai mencari asal buah apel merah tersebut. Setiap bertemu orang, dia bertanya apakah orang tesebut pemilik kebun apel. Tidak ada yang mengaku. Tsabit terus berjalan cukup jauh hingga menemukan kebun apel. Daun dan dahannya menjulur ke sungai. 

Di kebun itu, Tsabit menemukan seseorang. Dia memohon maaf telah memakan apelnya. Orang tersebut menyatakan sebagai penjaga kebun, bukan pemiliknya. Rumah pemiliknya sangat jauh dari sini. Tsabit menemukan pemilik kebun setelah berjalan sekitar delapan kilometer.

Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam,Tsabit menjelaskan maksudnya kepada lelaki tua pemilik kebun apel. Pemilik kebun apel ini menilai Tsabit pemuda jujur. Namun dia tidak serta merta merelakan begitu saja apelnya dimakan, meski pun hanya satu gigitan. Dia memberi syarat. 

"Anak muda, syaratnya kau harus menikahi putriku. Dia buta, bisu, tuli, dan lumpuh. Jika kau setuju, aku akan merelakan sepotong apel yang telah kau makan,"kata lelaki tua tersebut.

Tsabit, lelaki tampan itu, merenung sejenak. Apabila ditolak, maka satu gigit apel itu menjadi makanan haram baginya, mengalir dalam tubuhnya. Tasbit tidak punya pilihan. Ia takut dosa, memakan yang haram. Akhirnya, ia menyetujui syarat tersebut. 

Setelah Isya, seperti yang diminta lelaki tua tadi, Tsabit kembali ke rumah pemilik apel itu. Pernikahan pun berlangsung. Dan, betapa terkejut Tsabit. Istri yang baru dinikahinya tidak seperti yang diceritakan pemilik apel yang kini ayah mertuanya. Istrinya selain cantik, juga tidak lumpuh, tidak buta, tidak bisu, dan juga tidak tuli. 


Penasaran, Tsabit menanyakan ihwal yang disebut mertuanya. Istrinya menjawab,''Demi Allah, ayahku berkata jujur. Aku buta karena tidak pernah melihat sesuatu yang dimurkai Allah. Aku bisu tidak pernah mengucapkan kalimat yang membuat Allah murka. Aku tuli karena tidak pernah mendengar kalimat, kecuali di dalamnya terdapat ridha Allah. Aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kaki ke tempat yang dimurkai Allah,"ujarnya lembut.


Dari pernikahan tersebut, lahirlah ulama besar Nu'man bin Tsabit, yang kemudian dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah, pelopor Mazhab Hanafi—imam besar dari empat mazhab, selain Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i, dan Mazhab Hambali. Imam Hanafi Lahir di kota Kufah, Irak, pada tahun 80 H atau 699 M. Wafat di Baghdad pada 150 H atau tahun 767 M. 

Kisah Tsabit ini ditulis Abu Al-Faraj Al-Isbahani dalam kitab Al-Aghani pada Abad ke-10 Masehi. Abu Al-Faraj Al-Isbahani dikenal sebagai penulis Arab, yang menulis buku ensiklopedia, sejarah, dan sastra. Buku karya Abu Al-Faraj menjadi sumber sejarah penting untuk mengetahui sejarah dan kesusastraan Arab klasik.

***

KEJUJURAN Tsabit ini menjelaskan bahwa satu gigitan apel pun— yang dianggap sepele oleh banyak orang—harus seizin pemiliknya. Tsabit tidak ingin segigit apel menyulitkannya saat perhitungan perbuatan baik dan buruk selama hidup di dunia. Segigit apel harus pertanggungjawaban kelak di Mahkamah Yang Maha Adil.

Kini, lihatlah tidak sedikit orang mengambil yang bukan haknya dalam jumlah sangat banyak. Kasus-kasus korupsi dengan nilai fantastis, terus terjadi dengan aktor-aktor baru. Tebas satu tumbuh seribu. Mereka merampas uang untuk makan rakyat, untuk pendidikan, bahkan ibadah haji. Padahal, hidup mereka lebih dari cukup, mendapatkan fasilitas rumah, kendaraan, dan berbagai tunjangan, tidak seperti Tsabit yang lapar memakan segigit apel yang ditemuinya.

Tsabit mencari dengan susah payah pemilik apel untuk minta izin. Maka, bayangkan berapa juta orang yang harus ditemui para koruptor itu untuk mendapatkan izin—yang belum tentu pula dapat bertemu dan izin diberikan—sebelum nyawa lepas dari badan. Setiap perbuatan buruk, kelak dihitung, sekecil apa pun. 

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000