Epos Sejarah dan Bayang-bayang Kekuasaan
SEJARAH mungkin hanya sepotong rupa dari kecemasan kita akan malam. Kita berdiri di sebuah beranda tua di pinggiran kota yang berdebu, menatap gerimis yang jatuh satu-satu di atas permukaan parit yang hitam. Tiba-tiba dada kita dirayapi perasaan ganjil: apakah setelah kita tiada, semua wewangian dan ciuman yang pernah singgah di kening akan lenyap begitu saja seperti asap rokok yang buyar ditiup angin?
Kita adalah juga seonggok daging dan tulang yang rapuh. Sesosok manusia yang tahu betul bahwa di dalam raga, waktu sedang menyalakan sumbu peledak menuju pembusukan. Ketakutan akan menjadi tiada—hilang dari ingatan dunia—itulah yang melahirkan dorongan neurotik untuk mencatat. Kita pun lantas menggoreskan huruf pada batu belah, memahat deretan relief pada dinding candi, atau mengetik beribu-ribu gigabita kata di atas pelat digital.
Sadar atau tidak, disengaja atau tidak, kita pun menamai laku itu sebagai "sejarah." Sebuah ikhtiar yang keras kepala, jika bukan malah menyedihkan, untuk memahat nama pada dinding waktu yang maha luas. Laku ini dimaksudkan agar ketika raga telah menyatu dengan --atau menjadi bagian dari--humus yang pekat, jejak kita tak lumat begitu saja.
Namun, di sinilah ironi itu bermula. Apa yang terjadi jika catatan yang terserak itu dikumpulkan oleh lembaga resmi, dibundel dengan sampul tebal, dan diberi cap sebagai "kebenaran tunggal." Maka, ia kerap kali berhenti tak lagi menjadi ruang yang hangat bagi manusia. Sejarah berubah menjadi koridor museum yang beku, sunyi, dan berbau formalin.
Mari kita ingat tatkala dulu berada di dalam ruang kelas yang pengap. Sejarah sering kali disajikan sebagai deretan angka tahun yang mati. Daftar nama para jenderal dengan tatapan mata yang kaku dalam pasfoto hitam-putih. Serta kronologi ekspansi wilayah yang sarat glorifikasi. Kita dipaksa menghafal kapan sebuah benteng diruntuhkan. Tanggal berapa pakta gencatan senjata diteken di atas meja.
Tetapi, buku-buku teks itu punya keterbatasan—yang mungkin disengaja. Kitab itu jarang mengajak kita untuk mencium bau keringat dan anyir darah para serdadu rendahan yang gemetar ketakutan di dalam parit-parit pertahanan. Kita jarang diajak mendengar detak jantung seorang ibu tua yang cemas menunggu anaknya pulang dari medan laga—pemuda yang namanya bahkan tak pernah masuk catatan kaki halaman penutup buku sejarah.
Sejarawan E.H. Carr, yang kerap memandang masa lalu dengan mata skeptis namun tajam, pernah menulis dalam What is History? Ada sebuah kalimat yang patut kita renungkan kembali: "Fakta-fakta sejarah tidak pernah sampai kepada kita secara murni, karena mereka tidak ada dalam bentuk murni; mereka selalu tercermin melalui pikiran si pencatat."
Sejarah sesungguhnya bukanlah masa lalu dalam wujudnya yang utuh. Sejarah adalah apa yang kita pilih untuk kita ingat hari ini—sebentuk kurasi politik. Di dalam setiap kurasi, selalu ada yang sengaja dibuang. Selalu ada yang disembunyikan di bawah karpet ruang tamu peradaban agar lantai tampak bersih mengkilat.
Di titik inilah, sejarah bersetubuh dengan kekuasaan. Dan kekuasaan, kita tahu dari sekian abad drama manusia, memiliki watak yang sangat pencemburu. Kekuasaan tak menyukai keberagaman tafsir. Ia selalu menginginkan satu narasi tunggal yang patuh dan membungkuk di hadapannya.
Kita tentu ingat cara imperium besar di masa lalu memperlakukan ingatan kolektif. Para firaun di Mesir kuno punya tradisi menghapus nama raja-raja pendahulu mereka dari prasasti batu. Apalagi jika sang pendahulu dianggap menyimpang. Seolah-olah dengan memahat rata nama itu dari permukaan batu, mereka bisa menghapus eksistensi manusia dari bawah kolong langit.
Ingat Niccolò Machiavelli? Dalam traktat politiknya yang termasyhur, The Prince, mengingatkan bahwa penguasa yang efektif harus tahu bagaimana mengendalikan tidak hanya wilayah geografis, tetapi juga persepsi publik. Kekuasaan membutuhkan mitos agar tampak suci. Sejarah sering kali dipaksa menjadi rahim yang melahirkan mitos-mitos itu dengan paksaan bidan yang kejam.
Kekuasaan juga memiliki bakat alami untuk mengubah manusia menjadi statistik. Tiga ratus orang gugur dalam kerusuhan. Seribu orang ditangkap tanpa pengadilan. Sepuluh ribu orang mengungsi ke tenda-tenda plastik. Angka-angka itu bersih, dingin, dan efisien untuk laporan birokrasi.
Namun ada kenyataan perih yang disembunyikan. Setiap satu angka di sana adalah sebuah semesta yang hancur berantakan. Satu orang yang gugur adalah seorang ayah yang kehilangan kesempatan mendongengkan kisah kancil untuk anaknya yang balita. Satu orang yang ditangkap adalah seorang kekasih yang tak pernah lagi bisa menggenggam jemari pasangannya.
Kekuasaan, dengan sihirnya yang memukau, mampu mengubah kekejaman menjadi "keperluan historis." Atas nama kemajuan ekonomi, benteng-benteng beton dibangun di atas tanah adat yang dirampas. Atas nama stabilitas nasional, suara-suara yang berbeda dibungkam di sudut-sudut interogasi yang gelap.
Dan sejarah yang ditulis oleh para pemenang bertindak sebagai imam agung yang merestui semua pengorbanan itu di atas altar takdir sejarah.
Tetapi, apakah kekuasaan itu benar-benar sekokoh pilar-pilar beton yang mereka tancapkan ke bumi? Coba kita temukan jawabnya pada Clifford Geertz. Ketika membedah struktur masyarakat di Bali melalui pendekatan jurnalisme antropologis yang kaya, ia memperkenalkan konsep theatre state—negara teater. Kekuasaan, bagi Geertz, sering kali bekerja seperti sebuah pertunjukan seni yang kolosal.
Perhatikan ada apa di balik mahkota yang berkilau, jubah sutera yang menjuntai tipis, dan parade militer dengan derap sepatu yang serempak. Semuanya bagian dari dekorasi panggung yang dirancang untuk menciptakan ilusi keagungan. Seorang penguasa hanya berkuasa selama rakyatnya sepakat untuk menjadi penonton yang patuh dan bersedia mempercayai sandiwara itu.
Kekuasaan adalah seutas benang tak terlihat yang ditenun dari kombinasi rasa takut dan harapan yang tipis. Ketika penonton mulai jemu, atau ketika rasa takut itu mendadak menguap dan digantikan tawa sinis di pinggir jalan, maka panggung teater itu akan runtuh seketika oleh bobot kebohongannya sendiri.
Waktu adalah penakluk yang paling sabar di alam semesta. Ia tidak memerlukan meriam gembong atau tank baja untuk meruntuhkan sebuah dinasti yang lalim. Ia hanya perlu berdetak dengan konstan. Ia mengirimkan rayap untuk menggerogoti arsip-arsip negara yang dirahasiakan. Ia meniupkan angin malam untuk mengikis relief batu nisan.
Apa yang tersisa bagi kita yang hari ini berdiri di tepian sungai waktu yang keruh ini? Mungkin kita perlu belajar melihat sejarah bukan dari jendela menara gading istana. Tapi dari gang-gang sempit pemukiman kumuh yang becek setelah hujan. George Katsiaficas dalam karyanya tentang gerakan sosial subversif sering mengingatkan kita tentang adanya kekuatan laten dari orang-orang biasa yang bergerak di luar kalkulasi elite.
Ada sejarah yang ditulis bukan dengan tinta emas di atas kertas wangi. Melainkan dengan air mata yang diseka diam-diam di dapur yang dingin. Ada sejarah tentang para pembangkang politik yang terus merawat kewarasan di dalam sel penjara yang gelap dan lembap dengan cara saling merapal bait-bait puisi lewat ketukan di dinding beton. Mereka tak memiliki detasemen tentara. Tak punya stasiun televisi swasta, dan tak punya anggaran belanja negara. Tetapi mereka punya sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh korporasi atau kekuasaan: kemerdekaan jiwa.
Membaca sejarah adalah membaca dengan rasa melankoli sekaligus skeptisisme yang sehat. Kita dipaksa untuk tidak mudah percaya pada pidato-pidato resmi yang berapi-api di televisi. Kita harus selalu mencari di mana letak jeda yang ganjil. Dimana letak sunyi yang disembunyikan. Dan siapa sebetulnya yang sedang menangis tersedu di balik gemuruh tepuk tangan penonton di gedung parlemen.
Di atas segala ambisi gila manusia untuk menguasai bumi, ada hukum alam yang mutlak dan tak terdamaikan. Bahwa kita semua hanyalah peziarah yang singgah sebentar untuk meneguk segelas air. Mahkota emas akan berkarat. Pedang kekuasaan akan tumpul dan somplak. Bendera-bendera kemenangan kelak akan lapuk menjadi kain pel di dapur sejarah.
Yang tertinggal hanyalah sepotong kisah sunyi. Kisah tentang bagaimana kita pernah mencoba menjadi manusia yang adil di tengah dunia yang sering kali bengis dan bebal ini. Dan sejarah, seperti biasa, akan terus melanjutkan perjalanannya yang pelan, berat, dan misterius. Tanpa peduli sedikit pun apakah kita siap atau tidak untuk dilupakan zaman.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar