Kursi
MENDAPATKAN jabatan adalah kabar baik. Menjalankan pekerjaannya adalah cerita yang berbeda. Banyak orang mengejar kursi tertinggi tanpa benar-benar memahami pekerjaan yang menantinya.
Enam bulan setelah menjadi CEO Golden Gate Security, Shay Davis mulai merasakan tekanan. Perusahaannya tumbuh, tetapi kinerjanya tertinggal dari Del Mar Alarm, pesaing regional yang dipimpin oleh Liam Alcott.
Dengan pengalaman selama dua puluh tahun, Shay bukan orang yang malas. Persoalannya justru terletak pada pekerjaan yang ia pilih. Ia menyukai pemasaran, negosiasi, klien besar, dan kesepakatan bisnis.
Sebaliknya, ia menghindari rapat yang melelahkan dan konflik antarekskutif. Percakapan yang sulit juga sering terasa seperti urusan orang lain. Ia berhasil mendapatkan jabatan, tetapi belum sepenuhnya menerima pekerjaannya.
Di situlah paradoks kepemimpinan muncul. Semakin tinggi jabatan, semakin sedikit pekerjaan yang boleh dipilih berdasarkan kesukaan. Pemimpin dibutuhkan untuk mengerjakan hal-hal yang paling dibutuhkan oleh organisasi.
Liam membantu Shay melihat persoalan tersebut secara lebih jernih. Ia meminta Shay memetakan aktivitas berdasarkan kesukaan dan kepentingannya. Hasilnya membuat egonya sedikit tersedak: pekerjaan favoritnya tidak selalu yang paling penting.
Kesibukan ternyata tidak otomatis berarti kepemimpinan. Shay menghabiskan energi untuk aktivitas yang membuatnya merasa produktif. Padahal, kesibukan mudah terlihat; tanggung jawab jauh lebih sulit disamarkan.
Liam memahami jebakan tersebut karena pernah mengalaminya sendiri. Sembilan tahun sebelumnya, ia memimpin Damus di London. Saat itu, ia merasa lebih unggul daripada pesaingnya dan mengabaikan pekerjaan kepemimpinan.
Kemudian, Bamboo Solutions muncul sebagai pesaing yang lebih kecil. Dalam dua setengah tahun, Bamboo merebut hampir separuh pelanggan Damus. Sepertiga teknisi terbaik Damus juga berpindah, dan Liam akhirnya kehilangan kursinya.
Pengalaman pahit itu mengubah cara Liam memandang jabatan. CEO bukan orang yang bebas memilih pekerjaan yang paling menyenangkan. CEO adalah orang yang bersedia mengerjakan pekerjaan yang paling dibutuhkan oleh organisasi.
Dalam kerangka Patrick Lencioni, Shay terjebak dalam reward-centered leadership. Pemimpin seperti ini melihat jabatan sebagai hadiah atas keberhasilan di masa lalu. Akibatnya, pekerjaan yang tidak menyenangkan mudah dianggap sebagai urusan orang lain.
Sebaliknya, responsibility-centered leadership memandang jabatan sebagai tanggung jawab. Pemimpin menerima pekerjaan penting, termasuk yang membosankan dan tidak nyaman. Ternyata, tidak semua pekerjaan penting cocok untuk diunggah ke LinkedIn.
Dalam kerangka Lencioni, ada lima pekerjaan yang sering dihindari oleh para pemimpin. Pertama, membangun tim kepemimpinan yang solid. Kedua, mengelola bawahan secara langsung dan konsisten.
Ketiga, melakukan percakapan sulit ketika masalah tidak bisa dibiarkan. Keempat, memimpin rapat agar keputusan dapat benar-benar dihasilkan. Kelima, berkomunikasi secara konsisten dengan seluruh organisasi.
Tidak ada yang terdengar glamor dari pekerjaan tersebut. Namun, justru pekerjaan sehari-hari itulah yang menjaga organisasi tetap berjalan. Kepemimpinan sering bermasalah bukan karena strategi yang buruk, melainkan karena pekerjaan dasarnya dihindari.
Lihat bagaimana Shay memperlakukan rapat. Ia menganggap rapat itu membuang waktu, sementara Liam menganggapnya sebagai pekerjaan yang penting. Rapat menjadi tempat untuk menyatukan informasi, memperjelas keputusan, dan menyelesaikan perbedaan.
Kita Mengejar Kursinya, Tetapi Sering Menghindari Pekerjaannya
Masalah serupa muncul dalam pengelolaan orang. Shay mengetahui bahwa Jackie sangat kompeten, tetapi perilakunya membuat tim frustrasi. Ia sudah mengetahui masalah tersebut, tetapi tidak benar-benar menyelesaikannya.
Bagi Liam, memperbaiki perilaku eksekutif adalah tugas CEO. Itu bukan babysitting, melainkan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan. Kadang, pekerjaan paling dewasa memang terasa seperti mengurus orang dewasa.
Lalu muncul ironi yang lebih besar. Setelah belajar tentang tanggung jawab, Shay justru merancang akuisisi terhadap perusahaan Liam. Ia mendatangkan investor dan mengejutkan Liam dengan tawaran untuk membeli Del Mar Alarm.
Orang yang baru belajar tentang tanggung jawab hampir saja memakai kursinya untuk memperbesar kekuasaan. Di titik itu, Shay tidak hanya menghadapi pesaing. Ia sedang berhadapan dengan motifnya sendiri.
Kemudian, muncul pertanyaan sederhana dari konsultan Amy Stirling. “Mengapa kamu ingin menjadi CEO?” Shay terdiam karena jawabannya ternyata tidak pernah benar-benar jelas.
Selama ini, ia menganggap CEO sebagai hadiah atas perjuangannya dalam karier. Ia mengejar kursinya lebih lama daripada memikirkan pekerjaan yang menyertainya. Pertanyaan sederhana itu akhirnya membongkar persoalan yang lebih mendalam.
Percakapan dengan istrinya, Dani, memperjelas kesadaran tersebut. Dani pernah memilih tetap mengajar daripada mengejar jabatan kepala sekolah. Ia menyukai pekerjaan mengajar, bukan seluruh administrasi yang menyertai jabatan tersebut.
Shay akhirnya memahami sesuatu yang sederhana. Tidak semua orang harus mengejar kursi tertinggi. Yang penting adalah menemukan pekerjaan yang dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam penggabungan perusahaan, Shay kemudian membuat keputusan yang mengejutkan. Ia bersedia agar Liam menjadi CEO dan kembali ke pemasaran serta strategi. Dari luar, keputusan itu tampak seperti kehilangan jabatan.
Bagi Shay, justru itulah awal perubahan. Beberapa waktu kemudian, ia mengaku bahwa keputusan tersebut membuatnya lebih bahagia. Ia juga mulai memahami arti memimpin dengan lebih serius.
Kisah Shay bukan ajakan menghindari jabatan tinggi. Ini juga bukan argumen bahwa ambisi itu buruk. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan lebih mengganggu.
Apakah kita menginginkan kursinya atau bersedia menjalankan pekerjaannya? Pertanyaan itu layak diajukan sebelum menerima promosi berikutnya. Bahkan sebelum memperbarui profil LinkedIn.
Coba periksa kalender sebelum menyalahkan tim. Lihat pekerjaan yang paling sering ditunda, dihindari, atau dilempar kepada orang lain. Perhatikan pula konflik yang terus dibiarkan tanpa penyelesaian.
Jika semuanya menunjuk pada pekerjaan penting yang tidak nyaman, berhentilah sebentar. Mungkin masalahnya bukan pada tim, tetapi pada cara kita menggunakan kursi. Bisa jadi kita menikmati haknya, tetapi menghindari tagihannya.
Sebab kursi kepemimpinan bukan sekadar tempat untuk duduk lebih tinggi. Ia adalah tempat seseorang menerima tanggung jawab yang tidak selalu menyenangkan. Dan tanggung jawab itu tidak bisa selamanya didelegasikan.
Kursi kepemimpinan bukan hadiah atas seberapa tinggi kita naik. Ia adalah tagihan atas seberapa besar tanggung jawab yang kita bersedia tanggung.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Lencioni, P. M. (2020). The motive: Why so many leaders abdicate their most important responsibilities. Wiley
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar