Esai

Macklemore, Suara Hati Nurani Dunia untuk Gaza

SW60Plus.com, 22 September 2026, 18:36 WIB
Asro Kamal Rokan
Asro Kamal Rokan
· 272x dilihat

JERIT dan tangis anak-anak Gaza, Palestina, yang tidak berdaya di antara reruntuhan gedung dan desing peluru, telah  berubah menjadi jeritan massal di seluruh dunia, lintas generasi, dan budaya. Anak-anak dengan kakinya yang kecil, wajah ketakutan, berdarah, lari secepat mereka bisa. Ada yang sempat menoleh, ada yang didahului peluru.

Ibu dan ayah anak-anak itu sama saja. Berlari menghindari kematian yang ngilu. Namun, bom dan peluru tentara Israel  datang sesukanya, tanpa aba-aba, dan dapat menimpa siapa saja tanpa membedakan anak-anak, orang tua renta, juga ibu-ibu yang menyusui. Genosida terstruktur dan direncanakan.

Para pemimpin dunia—terutama sebagian besar pemimpin Timur Tengah—terkesan hipokrit, berpura-pura tidak tahu. Mereka lebih tunduk kepada Amerika Serikat yang dikendalikan Yahudi. Bukan pada hati nuraninya.

Hati nurani justru disuarakan para mahasiswa dan aktivis kemanusiaan di berbagai belahan dunia, termasuk di Jakarta. Di Columbia University, New York, ratusan mahasiswa mendirikan kemah dalam aksi "Gaza Solidarity Encampment" di halaman kampus, April 2024. Lebih dari 100 demonstran ditangkap kepolisian New York (NYPD).

Gerakan mahasiswa pro Palestina ini kemudian menjalar ke berbagai kampus terkemuka di Amerika Serikat, di antaranya New York University, Yale University, Harvard University  Massachusetts, juga University of California, Los Angeles ( UCLA).

Dukungan Macklemore

Gerakan mahasiswa pro-Palestina di Columbia University, New York, menginspirasi rapper terkemuka Amerika Serikat, Macklemore. Sebulan setelah pembubaran kemah mahasiswa Columbia University, Macklemore  mengumandangkan lagu berjudul Hind's Hall, menyuarakan dukungan pembebasan Palestina. Judul “Hind” mengambil nama Hind Rajab— seorang anak Palestina berusia enam tahun yang tewas di Gaza.

Bagaimana jika Anda berada di Gaza?

Bagaimana jika itu adalah anak-anak Anda?

Teriakan Macklemore bergema, tidak saja di konser-konser yang dihadiri ribuan penonton, tetapi juga merasuk ke hati nurani puluhan juta pengguna sosial media di seluruh dunia.

Kini, timbul persoalan baru dan berdampak luas—yang justru semakin menegaskan dukungan Macklemore untuk Palestina. 

Macklemore, tampil sebagai penyanyi pembuka konser Loop Tour  Ed Sheeran— penyanyi asal Inggris, penulis lagu, produser rekaman, dan aktor terkemuka saat ini— di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, 4-5 September 2026. Di hadapan puluhan ribu penonton, Macklemore membawakan lagu berjudul Hind's Hall, sambil berkali-kali meneriakkan," "Free Palestine..!!!, yang disambut gemuruh penonton, yang di antaranya mengibarkan bendera Palestina.

"Saya berdiri di stadion ini mengucapkan dua kata yang sangat berarti bagi saya: Bebaskan Palestina," teriak Macklemore penuh semangat.

Tidak sampai di situ. Pada hari kedua konser, Sabtu (5/9), Macklemore mempertegas dukungannya pada Palestina. " Kritik saya terhadap Israel, kritik terhadap apartheid, dan penolakan genosida, bukanlah kritik terhadap kalian, saudara-saudara Yahudi,” tegasnya seperti dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu, 19 Sep 2026.

Teriakan puluhan ribu penonton pun bergemuruh, “Bebaskan Palestina, Bebaskan Palestina...”

Persoalan baru muncul. Komunitas Yahudi, Israeli-American Council (IAC), melayangkan petisi mendesak  promotor pertunjukan, Messina Touring Group, mencoret Macklemore dari daftar penyanyi dalam tour Ed Sheeran, yang direncanakan berlangsung hingga 12 Desember 2026 di Meksiko. Alasan IAC, Macklemore membawa pesan kebencian dan anti semit—mantera yang selalu digunakan Yahudi membungkam lawan-lawan politik mereka di AS.

Tidak hanya itu. Tekanan juga datang dari Robert Kraft, pengusaha Yahudi, pemilik sejumlah stadion tempat konser. Sahabat Presiden Donald Trump dan PM Israel Netanyahu tersebut, menutup semua stadion apabila Macklemore tidak dicoret. Dan, pada 14 September, nama Macklemore pun dicoret.

Pencoretan Macklemore memicu protes lebih besar. Para musisi tenar yang ikut dalam tour ini, di antaranya Aaron Rowe, Finneas, Lukas Graham, dan band Beoga,  mendukung Macklemore. Mereka beramai-ramai mundur dari konser ini. Bagi mereka, suara kemanusiaan dan penderitaan di Gaza, tidak boleh dibungkam.

Kabar pencoretan ini pun meluas ke seluruh dunia melalui sosial media. Jutaan netizen marah. Mereka mendukung Macklemore. Jumlah pengikut  akun Instagram Macklemore meningkat drastis. Menurut Perusahaan analitik media sosial Social Blade, yang dikutip The Independent Inggris, Kamis (17/9),  Macklemore yang semula memiliki 7,9 juta pengikut pada 15 September, meningkat dalam dua hari menjadi 8,9 juta.

Akun Spotify Macklemore  juga meningkat lebih dari 56 ribu pengikut dalam satu hari. Angka pemutaran (streaming) musik Macklemore di Amerika pun meningkat tajam hingga 97%. 

Sebaliknya, pengikut sosial media Ed Sheeran— yang dikecam karena tidak bersikap terhadap pencoretan Macklemore—kehilangan pengikut sekitar 300 ribu  dari 47,3 juta pengikut, menjadi 47 juta, kehilangan dalam waktu cepat. Kemungkinan akan terus turun.

Penjualan tiket konser lanjutan Ed Sheeran di  Field, Philadelphia, 19 September 2026, setelah pencoretan Macklemore pun anjlok. Harga tiket termurah di pasar sekunder merosot tajam hingga hampir 50%,  turun dari US$100–US$126 menjadi kisaran US$51–US$75. Sekitar 54% calon penonton menjual kembali tiketnya sehari menjelang konser.

Ini berbeda dengan Macklemore. Harga konser Macklemore yang akan melakukan konser di Red Rocks, Colorado, 22 Oktober mendatang, melonjak drastis. Keith Pagello, pendiri perusahaan pelacak harga Tiket Data, mengatakan harga tiket termurah konser  melonjak 45% dalam tiga hari terakhir.  Harga tiket termurah menjadi sekitar Rp 2,7 juta dari sebelumnya sekitar Rp 1,9 juta.

Di Irlandia, stasiun radio Classic Hits Radio, menghentikan pemutaran lagu-lagu Ed Sheeran sejak Kamis, 17 September 2026. Ini atas desakan netizen Irlandia.

Tidak saja menyuarakan hati nurani dunia, Macklemore, bertindak nyata. Seluruh hasil tournya bersama Ed Sheeran sebesar Rp 17,7 milyar, didonasikannya untuk rakyat Palestina, melalui Palestine Children's Relief Fund, Heal Palestine, juga Medical Aid for Palestinians. Sumbangan ini, menurut selain mengurangi derita anak-anak Palestina, juga mengembalikan fokus publik kepada penderitaan rakyat Palestina.

Bagi Macklemore, tidak ada netralitas terhadap penindas. "Tidak ada posisi netral di antara penindas dan yang tertindas," tulisnya di akun sosialnya, yang dikutip BBC London, Selasa (15/9). Pernyataan ini menjawab pernyataan Ed Sheeran, yang mengaku bersikap netral terkait pencoretan Macklemore.

Belakangan, Ed Sheeran menyatakan permintaan maaf terkait pencoretan Macklemore. Menurutnya, krisis kemanusiaan di Gaza sudah menjadi bencana yang tidak dapat dibenarkan. Namun, dalam pernyataannya, dia menyinggung serangan yang dilakukan Hamas sebagai peristiwa yang mengerikan.

Suara Kebenaran dari Israel

Fakta pembantaian di Gaza, akhirnya muncul juga. Bukan dari luar tapi dari dalam Israel. Dua wartawan investigasi asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, mendokumentasikan peran pejabat pemerintah Israel dalam pembunuhan massal warga sipil Palestina yang dilakukan pasukan Israel selama perang Gaza.

Film dokumenter 80 menit ini berjudul NAZA— kependekan dari Nezek Agavi, bahasa Ibrani yang digunakan sebagai kode militer Israel tentang jumlah tewas warga sipil Palestina serta sejumlah kerusakan dalam sebuah serangan udara Israel di Palestina.

Film yang yang diproduksi The Guardian (Guardian News and Media dan JW Films ini, merekam secara diam-diam kesaksian rahasia dari 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel dari atap-atap gedung Tel Aviv.

Dari rekaman tersebut, diperoleh fakta bahwa tentara Israel menggunakan teknologi dan sistem target militer dalam operasinya di Palestina. Sistem ini mengabaikan keselamatan warga sipil.

Film NAZA ini mendapat sambutan hangat pada tayangan perdana di Festival Film Venesia 2026, Italia, 10 September 2026. Selesai ditayangkan, penonton berdiri dan bertepuk tangan selama 25 menit, rekor baru sambutan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam festival ini, film NAZA memenangkan penghargaan Special Jury Prize. 

Film ini juga membuka mata dunia terhadap kekejaman dan pembersihan etnis di Gaza. Selama ini, setiap tayangan video kekejaman tentara Israel di sosial media,  pemerintah dan kelompok Yahudi menudingnya sebagai hoaks dari rekayasa AI (artificial intelligence).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam sambutan positif Film NAZA di Festival Film Venesia. Sambutan itu, menurutnya, bentuk hasutan antisemitisme global. Dia akan mengajukan rancangan undang-undang untuk mencabut kewarganegaraan Israel para pembuat film dan serta mengajukan tuntutan pencemaran nama baik.

Genosida di Gaza, Palestina adalah fakta. Aktivis kemanusiaan di berbagai belahan dunia, terus menyuarakan protes dan kemarahan. Di kota-kota besar Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Spanyol, Portugal, Prancis, Italia, dan sejumlah negara, aktivis terus meneriakkan,”Free Palestine!!!" dengan berani, meski kerap mendapat gangguan. Ini adalah suara hati nurani warga dunia, perih dan ngilu.

Di Indonesia, sejumlah pesohor di antaranya Chiki Fawzi, Zaskia Adya Mecca, Wanda Hamidah, dan sejumlah wartawan, menjadi relawan kemanusiaan ke Gaza, bersama relawan dari berbagai negara dalam misi kemanusiaan armada kapal Global Sumud Flotilla, September 2025 lalu.

Di jagad maya, ratusan juta netizen mendengungkan kemarahan atas kekejaman tentara Israel di Palestina. Suara hati nurani tersebut seperti bola salju yang terus membesar, menggedor rasa kemanusiaan terdalam. Namun suara hati nurani rakyat itu tidak menggugah para pemimpin dunia yang memiliki pengaruh— terutama sebagian besar di kawasan Timur Tengah— dan PBB.

Suara rakyat dan suara elite politik menjadi dua hal berbeda, kesenjangan yang sangat jauh. Rakyat menjerit dengan hati nuraninya, elite politik berada di menara gading, menutup mata dan telinganya, menghina realitas, dan hipokrit. Mereka lebih mengutamakan kepentingan dirinya, daripada hati nuraninya. Mereka tunduk pada Amerika Serikat yang dikendalikan Israel.

Tapi yakinlah, kebenaran segera datang, ibarat air mengalir menemukan jalannya sendiri meski dibendung.

Dengarkan teriakan Macklemore dalam lirik lagunya berjudul Hind's Hall ini: 

Anda tidak dapat memutar balikkan kebenaran, orang-orang di sini bersatu

 Jangan pernah terkalahkan saat kebebasan sudah di depan mata.

Jakarta, 22 September 2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000