Esai

Mbah Riyan Sang Muhaqqiq

SW60Plus.com, 21 Agustus 2026, 08:03 WIB
Wahyu Muryadi
Wahyu Muryadi
· 9x dilihat

PERLAHAN lelaki itu meletakkan cetoknya di sudut kota kecil bernama Kudus, Jawa Tengah, yang luput dari ingatan orang-orang Jakarta. Bau adukan semen menguap bersama keringat yang mengering di kaus oblongnya yang pudar. 

Di bawah terik mentari yang memanggang ubun-ubun, ia tampak ringkih. Bagi pria berperawakan ceking itu seolah hidup hanyalah sebaris kalimat pendek yang ditulis dengan buru-buru di atas kertas buram.

Para tetangga dan handai taulan memanggilnya Supriyanto, seorang kuli bangunan yang sesekali menghabiskan senja dengan memancing di tepi sungai. Semacam ritus rutin guna mencari ketenangan di antara riak air yang tak pernah menjanjikan apa-apa.

Namun ketika malam jatuh dan lampu teplok menyala, lelaki yang sama berubah menjadi sosok benderang dalam sunyi. Di atas meja kayu yang mulai lapuk, di kelilingi tumpukan lembaran kertas berdebu yang dibawa dari masa lalu, ia menjadi sosok bernama Ibnu Harjo Al-Jawi. 

Dunia akademik internasional mengenalnya sebagai Mbah Riyan, seorang muhaqqiq—pakar verifikasi manuskrip Islam klasik atau kerap disebut turats. Ketelitian Mbah Riyan sanggup membuat para profesor di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, menaruh hormat.

Pekan-pekan ini, nama Mbah Riyan mendadak riuh di ruang-ruang percakapan digital yang bising. Majelis Ulama Indonesia menganugerahinya MUI Award atas dedikasinya yang dahsyat dalam menyelamatkan teks-teks keagamaan yang terancam punah. 

Undangan resmi dikirimkan ke alamatnya di kabupaten santri yang kondang dengan pabrik rokok raksasa itu. Panitia dengan hormat meminta kehadirannya di atas panggung megah Jakarta. Sebuah seremoni yang disiapkan untuknya, menerima tepuk tangan dan plakat berlapis logam berkilau.

Anehnya sang kuli bangunan menolak hadir. Ia memilih bergeming di dalam rumah sederhananya, melanjutkan laku khumul—sebuah seni radikal untuk sengaja menyembunyikan diri dari gemerlap panggung dunia demi menjaga kemurnian sebuah amal.

Kita hidup di sebuah zaman ketika eksistensi diukur oleh seberapa sering wajah kita memantul di layar gawai. Orang-orang menjual kata-kata murah demi sepotong perhatian, memamerkan kesalehan layaknya komoditas di etalase toko, dan merengek mencari pengakuan publik. 

Di tengah pasar malam budaya yang riuh pameran ego ini, keputusan Mbah Riyan untuk absen adalah anomali yang menampar wajah kita semua. Ia seolah mengingatkan kita pada sebuah kebenaran sejati: bahwa ilmu dicari untuk menghidupkan jiwa. Bukan untuk mempercantik portofolio atau memperpanjang daftar pujian manusia.

Di balik penolakan yang sunyi itu, tersimpan arti penting dari tindakan mulia yang teramat jarang ditekuni banyak orang. Laku luhur yang dilakoninya hampir sepanjang malam itu dikenal dengan tradisi tahqiq. 

Tahqiq bukanlah sekadar aktivitas menyunting kata secara mekanis. Ia adalah kerja arkeologi mental, sebuah proses membandingkan varian naskah kuno yang ditulis ratusan tahun lalu. Ikhtiar ini mencari tahu di mana juru salin masa lalu salah meletakkan harakat, atau di mana lembaran naskah asli terkikis oleh rayap waktu. 

Ketika Mbah Riyan melahirkan edisi kritis dari kitab Fathul Mu'in—sebuah kitab hukum Islam tingkat tinggi yang menjadi menu wajib di pesantren-pesantren besar Nusantara—ia melakukannya dengan membandingkan tujuh naskah cetak berbeda dan satu manuskrip kuno.

Bayangkan ketekunan itu. Di sela-sela rasa pegal setelah seharian memanggul batu bata, jemarinya yang kasar dengan telaten menelusuri baris-baris huruf Arab gundul. Misi luhur ini untuk memastikan bahwa air ilmu yang mengalir sampai ke cawan santri-santri hari ini tetap jernih dan murni. 

Kerja sunyi seorang muhaqqiq adalah benteng pertahanan terakhir dari sebuah tradisi yang disebut sanad keilmuan. Dalam lanskap intelektual Islam, ilmu agama bukanlah pengetahuan spekulatif yang bebas ditafsirkan tanpa jangkar sejarah. Ia merupakan matarantai transmisi yang bersambung dari murid ke guru, generasi demi generasi, hingga bermuara pada otoritas tertinggi.

Jika teks-teks klasik yang dibaca di pesantren mengalami kesalahan redaksional akibat kekhilafan penyalin masa lalu, maka pemahaman keagamaan yang lahir di masa kini berisiko melenceng dari maksud asli sang pengarang. 

Di sinilah Mbah Riyan mengambil perannya yang sunyi namun vital. Lewat kitab-kitab hasil tahqiqnya yang diterbitkan oleh penerbit internasional seperti Maktabah At-Turmusy di Mesir, ia merajut kembali tali-tali silsilah intelektual Nusantara yang sempat rapuh dimakan waktu. Perannya sungguh penting: memastikan bahwa transmisi pemikiran hukum, akidah, dan spiritualitas tetap bertumpu pada fondasi yang absah.

Coba simak karya-karyanya. Semisal kitab Al-Taufiq al-Jaliy Bain al-Asy'ariy wa al-Hanbaliy—sebuah kitab teologi yang mendudukkan titik temu antara dua mazhab besar. Atau Tahqiq Is'af al-Muthaali' karya ulama legendaris Syekh Mahfudz at-Tarmasi. Hal ini membuktikan bahwa kepakarannya melampaui sekat-sekat formalitas akademik. 

Padahal tak ada gelar profesor di depan namanya. Ia tidak pula mengenakan jubah kebesaran seorang mufti. Kehormatannya tertanam di dalam setiap lembar naskah yang berhasil ia selamatkan, pada setiap kalimat yang kembali terbaca dengan benar oleh para penuntut ilmu.

Perhelatan yang digagas majelis kumpulan ormas-ormas Islam itu mungkin terasa sepi tanpa kehadiran sang  kampiun penguji naskah klasik yang biasa diajarkan di pesantren itu. 

Namun justru lantaran ketidakhadirannya itulah, penghargaan tersebut menemukan makna aslinya: bahwa ada hal-hal luhur di dunia ini terlalu mahal untuk dibeli dengan sepotong kehormatan seremonial. 

Mbah Riyan telah mengajarkan kita tentang sebuah sunyi yang bernyawa. Bahwa seorang alim sejati tetaplah matahari, kendati ia memilih terbenam di balik gubuk bambu dan tumpukan batu bata di pedalaman Kudus.

Nama Supriyanto boleh luput dari ingatan protokoler negara, tetapi lembar-lembar kitab yang ia bersihkan dari debu sejarah akan terus mengalirkan cahaya melintasi zaman. Karya-karyanya membimbing jemari para santri yang kelak akan meneruskan estafet menjaga peradaban.

Tapi di bawah kolong langit ini, si Mbah tetap bersikukuh memilih jalannya sendiri. Jalan keabadian yang dikerjakan dalam diam, jauh dari tepuk tangan membahana yang sejatinya fana.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000