Esai

Mengapa

SW60Plus.com, 19 September 2026, 08:30 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 48x dilihat

EMILY duduk sendirian di salah salah satu sisi meja wawancara. Di seberangnya ada tiga eksekutif senior dan seorang direktur HR dengan setelan abu-abu yang begitu rapi, seolah jas itu pun ikut menentukan siapa yang diterima.


Beberapa bulan lagi Emily akan lulus kuliah. Nilainya A, ia mendapat beasiswa penuh dan prestasi akademiknya mengesankan. Kalau pekerjaan diberikan berdasarkan transkrip nilai, mungkin wawancara itu bisa selesai sebelum kopi mereka dingin.


Sayangnya, ada satu bagian CV yang sulit dipercantik dengan huruf tebal: pengalaman kerja Emily masih minim. Para pewawancara tahu ia pintar, tetapi belum tahu apakah kepintaran itu tetap bekerja ketika persoalan tidak lagi datang dengan pilihan jawaban A, B, C, atau D.


Direktur HR memandang Emily dan bertanya apa yang bisa ia bawa ke perusahaan. Lalu tekanannya dinaikkan: ada banyak kandidat lain yang juga sangat berkualitas. Jadi, apa yang Emily punya yang tidak mereka punya?
Nah, ini jenis pertanyaan yang membuat orang tiba-tiba ingin minum meskipun tidak haus. Emily bisa saja mengeluarkan paket jawaban klasik: pekerja keras, cepat belajar, senang bekerja dalam tim, dan menyukai tantangan.


Masalahnya, kandidat lain mungkin juga mengatakan hal yang sama. Mungkin dengan senyum yang sama.


Emily sebenarnya sudah mempersiapkan diri. Ia membaca situs perusahaan dan mempelajari organisasi itu sedalam mungkin. Tetapi kandidat lain juga mempunyai akses terhadap informasi yang kurang lebih sama.
Di situlah jebakannya: semakin Emily berusaha terdengar seperti kandidat ideal, semakin besar kemungkinan ia terdengar seperti semua kandidat ideal lainnya. Maka Emily mengambil risiko dengan berhenti berusaha terlihat mengesankan.
Sebelum menjelaskan apa yang bisa diberikannya kepada perusahaan, Emily mengatakan bahwa ia ingin terlebih dahulu menjelaskan alasan yang membuatnya bangun setiap pagi. Ia ingin membantu orang lain menjadi versi terbaik dari diri mereka. Itulah yang menginspirasinya.


Dari apa yang dipelajarinya tentang perusahaan tersebut, Emily merasa mereka percaya pada hal yang sama. Karena itulah ia ingin berada di sana.


Semua itu disampaikannya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik. Tetapi tiga puluh detik itu mengubah suasana ruangan. Kertas-kertas di meja berhenti dibolak-balik, dan para pewawancara mengangkat kepala.
Beberapa detik sebelumnya, mereka sedang membaca tentang seorang kandidat: nilai bagus, beasiswa penuh, minim pengalaman. Sekarang mereka mulai melihat seorang manusia—dan memahami apa yang menggerakkannya.


Emily tidak tiba-tiba mendapatkan pengalaman kerja lima tahun. Tidak ada sertifikat rahasia yang dikeluarkan dari tasnya, dan CV-nya tidak berubah satu huruf pun. Yang berubah adalah cara orang-orang di seberang meja membaca CV itu.
Kisah Emily ini diceritakan Simon Sinek, David Mead, dan Peter Docker dalam Find Your Why: A Practical Guide for Discovering Purpose for You and Your Team (2017). Kisah tersebut memperlihatkan penerapan gagasan Golden Circle yang sebelumnya dipopulerkan oleh Simon Sinek: WHY → HOW → WHAT.


Kita biasanya memperkenalkan diri dengan WHAT: apa pekerjaan kita, apa jabatan kita, apa yang pernah kita capai, dan apa yang bisa kita lakukan. Emily memulai dari tempat yang berbeda. Ia memulai dari WHY.

Kadang, kandidat terbaik kalah bukan karena kemampuan, tetapi karena kehilangan alasan terkuatnya.

Dalam penjelasan Sinek dan rekan-rekannya, WHAT lebih mudah diterima sebagai informasi rasional, sementara WHY berbicara kepada perasaan, keyakinan, dan intuisi yang ikut memengaruhi keputusan. Itulah sebabnya kadang kita belum mampu menjelaskan sesuatu panjang lebar, tetapi sudah merasa, “Orang ini rasanya tepat.”
Kita biasa menyebutnya gut feeling. Untung namanya begitu. Kalau disebut limbic-system feeling, mungkin dunia percintaan kehilangan cukup banyak romantismenya.


Tetapi ada bagian penting yang mudah terlewat: Emily tidak berhenti pada "WHY". Setelah mendapatkan perhatian mereka, ia menjelaskan keterampilan, kekuatan, dan prestasinya. Sebab tujuan bukan pengganti kemampuan.


WHY membuat orang ingin mendengarkan. Kompetensi memberi mereka alasan untuk terus percaya. Keduanya bekerja sama: yang satu menciptakan hubungan, yang lain membuktikan bahwa hubungan itu layak dipercaya.


Menurut Sinek, Mead, dan Docker, sejak itu suasana wawancara berubah. Yang tadinya terasa seperti interogasi, kini menjadi percakapan. Emily tidak lagi sekadar berusaha meyakinkan mereka bahwa ia cocok; setiap jawaban berikutnya semakin memperkuat hubungan yang sudah terbentuk.


Wawancara selesai, dan Emily meninggalkan gedung. Lalu dimulailah bagian yang bagi banyak orang terasa lebih melelahkan daripada wawancaranya sendiri: menunggu.
Pada fase ini otak biasanya mendadak berubah menjadi tim audit. Kenapa tadi dia mengangguk? Itu anggukan tertarik atau kasihan? Kenapa jawaban terbaik selalu muncul setelah pintu wawancara tertutup?
Tetapi Emily tidak punya banyak waktu untuk menyiksa dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sebelum sampai rumah, telepon genggamnya berdering. Direktur HR menelepon: pekerjaan itu miliknya.


Menariknya, Emily tidak memenangkan wawancara dengan menyembunyikan kekurangannya. Pengalamannya tetap minim, CV-nya tetap sama, dan ia tidak mendadak menjadi lebih pintar dalam tiga puluh detik.
Yang berubah adalah orang-orang di seberang meja akhirnya melihat sesuatu yang tidak tercetak di CV: mengapa Emily ingin berada di sana. Dan di titik itulah kisah Emily berhenti menjadi cerita tentang wawancara kerja.


Diam-diam, ia berubah menjadi cerita tentang kita. Sebab sepanjang hidup, kita pun sibuk memperbesar WHAT.
Gelar bertambah, jabatan naik, sertifikat menumpuk, bisnis membesar, dan penghasilan meningkat. Kita menjadi semakin fasih menjawab, “Apa pekerjaanmu?”
Tetapi belum tentu kita semakin fasih ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Mengapa kamu memilih menghabiskan hidupmu melakukan itu?” Barangkali karena WHAT mudah dikumpulkan, sedangkan WHY harus ditemukan.


Dan semakin lama kita bekerja, semakin mudah keduanya tertukar. Kita mulai mengira jabatan adalah identitas, kesibukan adalah tujuan, dan pencapaian adalah alasan. Padahal semuanya punya tanggal kedaluwarsa.


Suatu hari jabatan terakhir akan berakhir. Ruangan kita ditempati orang lain, kartu nama masuk laci, dan nama kita di struktur organisasi diganti nama baru—mungkin bahkan dengan font yang sama.
Email tetap masuk dan rapat tetap berlangsung. Organisasi tetap berjalan. Dunia, dengan sedikit kurang sopan, ternyata tidak berhenti hanya karena kita tidak lagi duduk di kursi itu.


Ketika semua WHAT itu perlahan dilepaskan, hidup seolah mengadakan satu wawancara terakhir. Tidak ada Direktur HR, tidak ada tiga eksekutif, dan tidak ada CV yang perlu dibuat mengesankan.


Yang tersisa hanyalah kita dan satu pertanyaan: “Untuk apa sebenarnya kamu menghabiskan hidupmu?” Kali ini, tidak ada jawaban yang bisa dipinjam dari profil LinkedIn, kartu nama, atau struktur organisasi.


Emily membutuhkan kurang dari tiga puluh detik untuk menjelaskan WHY-nya. Kita mungkin memiliki waktu tiga puluh tahun untuk menemukannya.
Pertanyaannya bukan apakah orang lain akan terkesan dengan jawabannya. Pertanyaannya: ketika waktunya tiba, apakah kita sendiri memilikinya?

Edhy Aruman

_JAM 6 TENG— Enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Sinek, S., Mead, D., & Docker, P. (2017). Find Your Why: A Practical Guide for Discovering Purpose for You and Your Team. Portfolio/Penguin.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000