Esai

Menjaga Lisan dan Menghindari Kata Kata Kasar

SW60Plus.com, 20 September 2026, 19:55 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 182x dilihat

RAMAINYA netizen mengomentari video pendek  Presiden Prabowo pada HUT Partai Amanat Nasional (PAN)  mendorong saya menuliskan esso ini. D8alam perjalanan pulang dari Klaten mengiringi pementasan Dalang Milenial Unindra Herjuno Pramariza Fadhlansyah pada HUT RS Jiwa di Klaten menginspirasi  saya memberikan catatan perihal emosi dan kemarahan serta kata kata keras dan Kasar. Pada pementasan Sabtu malam, dipertunjukkan bagaimana Prabu Baladewa marah dan mengamuk, kepada orang yang dianggap mengancam keamanan Semar yang sedang Mbangun Kahyangan.

Saya awali dengan menuliskan begini : Ada sesuatu yang tidak terlihat, tetapi sering meninggalkan bekas yang panjang. Itulah kata-kata.

Sebuah kata keluar dari mulut hanya dalam hitungan detik. Namun, bagi orang yang mendengarnya, kata itu mungkin tersimpan dalam ingatan selama bertahun-tahun, atau menjadi catatan kehidupan.

Kata-kata dapat menghibur orang yang sedang bersedih. Kata-kata dapat membangkitkan semangat seseorang yang hampir menyerah. Tetapi kata-kata juga dapat membuat seseorang merasa direndahkan, dipermalukan, bahkan kehilangan kepercayaan dirinya.

Karena itu, persoalan kata-kata kasar sesungguhnya bukan sekadar masalah sopan atau tidak sopan dalam berbicara. 

Kata-kata kasar sering muncul ketika emosi bergerak lebih cepat daripada akal.

Dalam keadaan marah, kecewa, tersinggung, lisan terkadang menjadi saluran pelampiasan.
Kita dapat mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikatakan.
Tetapi ada orang yang memang sengaja berkata kasar dengan sadar.

Seseorang dapat menyesal telah berkata kasar dan dapat meminta maaf. Kita dapat menjelaskan bahwa kita sedang emosi. Tetapi bekas luka dari ucapan tersebut belum tentu langsung hilang. Tetapi jika sengaja diucapkan dengan sadar, maka dampaknya bisa buruk.

Kemampuan menahan kata-kata ketika emosi sedang tinggi merupakan salah satu bentuk kematangan seseorang.

Saya ingat apa yang ditulis Dale Carnegie berkenaan dengan pengalaman Abraham Lincoln.

Dale Carnegie, dalam bukunya How to Win Friends and Influence People, menggunakan kisah Lincoln untuk menjelaskan pentingnya tidak tergesa-gesa mengkritik dan mencela orang lain.

Salah satu contoh yang dikemukakannya adalah hubungan Lincoln dengan Jenderal George Gordon Meade setelah Pertempuran Gettysburg pada Juli 1863.

Lincoln sangat kecewa karena Meade tidak segera mengejar pasukan Jenderal Robert E. Lee yang mundur setelah kekalahan di Gettysburg.

Dalam keadaan sangat kecewa, Lincoln menulis surat kepada Meade. Isinya sangat tajam. Lincoln mempertanyakan mengapa Meade tidak menyerang Lee dan menyatakan bahwa kesempatan emas telah hilang.

Dalam surat tersebut Lincoln bahkan menulis bahwa ia sangat tertekan karena kesempatan itu terlewatkan.

Namun ada satu hal yang sangat menarik. Surat Presiden Amerika Serikat kala itu tidak pernah dikirim.

Library of Congress mencatat surat tersebut sebagai sebuah draft yang tidak pernah ditandatangani atau dikirim kepada Meade.

Mengapa?

Kita tentu tidak dapat mengetahui seluruh pertimbangan batin Lincoln. Tetapi peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat manusiawi. Yaitu  ketika emosi sedang memuncak, menuliskan kemarahan mungkin lebih baik daripada langsung mengirimkannya.

Lincoln dapat melampiaskan kemarahannya melalui surat itu. Tetapipun  ia kemudian memilih untuk menyimpannya.

Dalam pembacaan Dale Carnegie, tindakan tersebut menunjukkan bahwa seseorang dapat saja memiliki alasan kuat untuk mengkritik, tetapi kritik yang dilontarkan dalam keadaan emosional dapat menimbulkan persoalan baru dan merusak hubungan kerja. Carnegie menggunakan kisah ini untuk menekankan bahaya kritik dan kecenderungan manusia untuk bersikap defensif ketika diserang.

Di sinilah kita menemukan pelajaran penting yaitu tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan.

Dan tidak semua kemarahan harus dikirimkan kepada orang yang menjadi sasaran kemarahan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tidak mungkin menghindari kritik.

Orang tua perlu menegur anak. Guru perlu mengoreksi murid. Pimpinan perlu mengevaluasi bawahannya.
Suami dan istri perlu saling mengingatkan.
Seorang teman kadang perlu mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan.

Tetapi ada perbedaan besar antara kritik dan penghinaan.

Mengatakan  "Cara ini perlu diperbaiki."
Sungguh terasa berbeda dengan
"Kalian goblog dan memang tidak becus."

Mengatakan "Saya tidak setuju dengan pendapat Anda."
berbeda dengan:
"Pendapat Anda itu  bodoh."

Yang pertama membicarakan persoalan.
Yang kedua menyerang pribadi.

Di sinilah pentingnya kecerdasan dalam berkomunikasi.

Kita dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan.
Kita dapat menegur tanpa mempermalukan.
Kita dapat marah tanpa memaki.

Maknanya kita dapat bersikap tegas tanpa menggunakan kata-kata kasar.

Islam dan agama lainnya memberikan tuntunan yang sama mengenai memelihara lisan dan mengendalikan emosi.

Allah SWT berfirman 
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS Al-Isra:53 )

Perintahnya bukan sekadar berkata, tetapi berkata yang lebih baik.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuntunan tersebut sangat sederhana bahwasanya  jika perkataan kita tidak membawa kebaikan, diam dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

Kita dapat memaknai bahwa diam bukan berarti kalah.

Diam juga bukan berarti tidak mempunyai pendapat.
Bagi seseorang yang arif,  diam adalah cara seseorang mengendalikan dirinya sendiri.

Di zaman media sosial persoalan kata-kata kasar menjadi semakin penting diperhitungkanm

Dahulu, ucapan kasar mungkin hanya didengar oleh beberapa orang yang berada di sekitar kita.

Sekarang satu kalimat dapat ditulis di media sosial dan dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Lebih dari itu, tulisan dapat disalin, disimpan dan disebarluaskan.

Bagi yang awam, komentar mungkin hanya personal dampaknya. Tetapi manakala itu keluar dari lisan pemimpin, maka dampak dan implikasinya bisa lebih luas.

Rasanya, sebaiknya semakin tinggi jabatan kita, semakin bertambah hitungan usia kita, dapat  semakin terukur dalam berbicara.

Tidak semua persoalan harus dimenangkan dengan perdebatan.

Tidak semua perbedaan harus dibalas.

Tidak semua kritik harus dijawab.

Tidak semua provokasi harus ditanggapi.

Kita belajar bahwa ketenangan kadang lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah pertengkaran.

Kata-kata adalah cermin diri

Pada akhirnya, cara seseorang berbicara memperlihatkan banyak hal tentang dirinya.

Ajining diri seko ing lati. Harga diri seseorang tergantung dari apa yang keluar dari bibirnya.

Karena itu, menjaga lisan bukan hanya untuk menjaga perasaan orang lain.

Menjaga lisan juga berarti menjaga diri kita sendiri.

Sebab setiap kali kita mengucapkan kata-kata kasar, sesungguhnya kita sedang memperlihatkan kepada orang lain siapa dirinya.

Kisah Lincoln dan suratnya kepada Jenderal Meade memberikan satu pelajaran yang menarik, kadang-kadang yang paling bijaksana bukan menemukan kata-kata yang paling keras, melainkan mengetahui kapan kata-kata itu sebaiknya tidak dikirimkan.

Islam mengajarkan kita untuk berkata baik atau diam.

Dale Carnegie mengingatkan tentang bahaya kritik dan kecenderungan manusia untuk melawan ketika dirinya diserang.

Keduanya bertemu pada satu nilai yang sederhana,

" Belajarlah mengendalikan kata-kata sebelum emosi dan  kata-kata mengendalikan kita "

Kita dapat belajar sejarah dari pengalaman Lincoln, pemikiran Dale Carnegie, dan yang utama dari agama kita.

Minggu, 20 September.

Di atas kereta yang membawaku dari Klaten ke Jatinegara.

Bagikan:

Komentar 1

H
Hasto Kuncoro 22 September 2026, 05:49

Masya Allah tulisan pak Kabul kali saya anggap tausyiah paling tidak pendidikan karakter krn sarat dg nilai2 moral dan ahklaq..juga pilihan dosa dan neraka..ada pepatah mengatakan lidah itu bisa lebih tajam dari pisau, mengingatkan harus hati hati bicara dan senantiasa menjaga lisan kita, pilihan kata kasar belum tentu efektif memecahkan masalah, kita boleh bicara tegas kepada anak dan staff kita di tempat kerja, namun memilih kata kata tegas tapi tidak menyakiti itu jauh lebih penting Barakallah..

Tulis Komentar

0 / 2000