Mesin 'Naza' di Gaza
KARYA seni macam apa lagi yang mesti kita buat untuk menghadirkan keadilan bagi bangsa Palestina?
Pertanyaan itu terasa berat setiap kali sebuah film tentang Gaza diputar. Kali ini, kita mendapat kabar bahwa film dokumenter Naza besutan Yuval Abraham dan Rachel Szor sedang diputar di arena Festival Film Venice 2026
Penghargaan standing ovation selama 24,5 menit atasnya di Venice menunjukkan bahwa Naza menembus ruang publik. Hanya saja, tepuk tangan bukan putusan pengadilan. Nilai karya terletak pada percakapan dan tindakan yang mungkin mengikutinya.
Sudah banyak yang membuat film, dokumenter, lukisan, puisi, dan musik tentang penderitaan Palestina. Namun, setelah layar ditutup, bom tetap jatuh. Dunia menggelar rapat, mengeluarkan pernyataan, lalu meneruskan agenda.
Lalu, apa gunanya karya seni? Pertanyaan ini bukan sinisme terhadap seni. Ia muncul karena kita mungkin berharap terlalu banyak kepadanya.
Kita ingin film menghadirkan keadilan dan puisi menghentikan perang. Padahal, film tidak bisa menggantikan pengadilan, dokumenter tidak menggantikan tekanan diplomatik, dan kesaksian tidak otomatis melahirkan pertanggungjawaban.
Kita perlu menata ulang harapan itu, bukan meremehkan seni. Keadilan membutuhkan banyak pintu. Seni dapat menjadi salah satu pintu yang membawa fakta, ingatan, dan keberanian ke ruang-ruang yang sebelumnya tertutup.
Di situlah film Naza menarik perhatian. Ia tak sekadar mengulang gambar penderitaan Gaza. Ia berusaha membongkar sistem yang memungkinkan pembunuhan massal berlangsung sebagai prosedur.
Dalam jumpa pers, kedua sutradara menjelaskan bahwa mereka mewawancarai 24 tentara dan pejabat intelijen Israel yang terlibat dalam sistem pengawasan dan operasi pembunuhan di Gaza.
Posisi narasumber jelas kredibel. Mereka pernah bekerja di dalam mesin tersebut. Mereka menjelaskan bagaimana sistem dirancang, target ditentukan, kemungkinan korban sipil dihitung, dan keputusan mematikan bergerak dari ruang komando menuju rumah-rumah manusia.
Naza tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa yang mati?” Film ini mengajukan pertanyaan yang lebih mengganggu: bagaimana sebuah sistem membuat pembunuhan terhadap manusia dapat direncanakan, dihitung, dan dijalankan?
Kekejaman modern tidak selalu hadir sebagai ledakan kegilaan. Ia dapat bekerja melalui data, algoritma, daftar sasaran, prosedur persetujuan, pembagian tugas, dan bahasa teknis. Kekerasan lalu terdengar seperti pekerjaan administratif.
Istilah Ibrani naza yang berarti “kerusakan tambahan” memperlihatkan proses itu. Ketika manusia disebut kerusakan tambahan, perhatian bergeser dari kehidupan yang hilang kepada kalkulasi operasi. Bahasa dipakai untuk membantu menormalisasi kekejaman.
Pilihan sinematik film ini memperkuat kegelisahan tersebut. Ia dibuat secara rahasia, dengan wawancara pada malam hari di atas atap-atap Tel Aviv. Para narasumber tampil anonim. Wajah dan suara mereka diubah secara digital untuk melindungi identitas.
Para pembuat film menegaskan bahwa perubahan itu hanya menyamarkan penampilan dan suara, bukan menciptakan tokoh atau kesaksian fiktif. Keterbatasan visual itu menghadirkan kekuatan etis.
Penonton mendengar kesaksian orang-orang yang mengaku mengetahui dan menjalankan sistem pembunuhan. Tapi mereka tidak melihat wajah asli para saksi. Perhatian diarahkan kepada sistem dan korban, bukan kepada drama pribadi para narasumber.
Film ini juga memperlihatkan masyarakat yang memungkinkan sistem tersebut terus berjalan. Para sutradara memilih latar Tel Aviv, tempat sebagian pejabat dan perwira hidup dan bekerja.
Di satu sisi, penonton mendengar kesaksian tentang pembunuhan di Gaza. Di sisi lain, kehidupan kota terus berlangsung.
Gaza tidak memiliki kemewahan untuk hidup normal, sementara sebagian orang di tempat lain dapat bekerja, makan malam, dan tidur meskipun ikut berada dalam sistem yang menghasilkan penderitaan.
Sutradara hendak menegaskan, Gaza menjadi luka yang tak boleh ditutup oleh tirai kehidupan normal.
Keistimewaan Naza terletak pada pertemuan jurnalisme investigatif dan sinema. Banyak informasi dalam film ini, menurut para pembuatnya, sebelumnya sudah muncul dalam investigasi The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call.
Jurnalis Palestina di Gaza sebelumnya juga telah mendokumentasikan penderitaan dan kehancuran dengan keberanian luar biasa. Namun film ini tidak mengklaim bahwa kebenaran baru muncul ketika kamera sinema datang.
Jurnalisme bekerja melalui verifikasi, penelusuran sumber, pemeriksaan kesaksian, dan pengungkapan fakta. Sinema bekerja melalui gambar, suara, ritme, ruang, dan kontras yang membantu penonton memahami hubungan antarfakta.
Jurnalisme menyusun bukti; sinema dapat memperlihatkan arsitektur moral dari bukti tersebut. Namun, “merasakan” tidak boleh menggantikan “membuktikan”. Kekuatan Naza justru terletak pada pertemuan keduanya.
Dalam jumpa pers usai penayangan di Venice, seorang wartawan bertanya apakah film semacam ini masih berdampak, mengingat begitu banyak karya tentang Palestina telah dibuat sementara kekerasan tetap berlangsung.
Kita sudah membuat film demi film tentang Gaza. Mengapa kekerasan tetap berlangsung? Mungkin karena kita menuntut seni melakukan pekerjaan yang bukan miliknya. Namun, itu tidak berarti seni tak berdampak.
Wartawan dan kita bertanya, bukankah dunia sudah tahu? Bukankah gambar-gambar itu telah memenuhi layar, media sosial, festival, dan ruang diskusi?
Dalam jawabannya, para pembuat film mengingatkan bahwa kebenaran tentang kejahatan di Gaza sudah hadir melalui kerja jurnalis, dokumentasi korban, dan berbagai penyelidikan.
Film mereka berusaha membuat penyangkalan semakin sulit, terutama dengan menghadirkan kesaksian dari orang-orang yang berada di dalam sistem.
Di sinilah fungsi seni dapat dipahami secara realistis. Seni tidak selalu menghentikan kekerasan; kadang-kadang ia mempersempit ruang bagi kebohongan.
Seni tidak selalu menghadirkan keadilan; kadang-kadang ia menjaga agar tuntutan keadilan tidak kehilangan wajah, suara, dan ingatan.
Tanggung jawab kemudian berpindah kepada penonton, masyarakat, dan lembaga yang memiliki kekuasaan.
Organisasi masyarakat sipil perlu mengubah perhatian menjadi advokasi; jurnalis melanjutkan investigasi; akademisi menguji bukti; pengacara menempuh jalur hukum; dan warga menuntut kebijakan yang sesuai dengan hukum internasional.
Karena itu, pertanyaan kita mungkin bukan lagi, “Film macam apa yang harus dibuat agar Palestina segera mendapatkan keadilan?”
Pertanyaan yang lebih tepat ialah, “Karya macam apa yang dapat membantu dunia memahami, mengingat, dan menindak kenyataan yang menghalangi keadilan?”
Kita dapat membuat film yang mendokumentasikan korban, membongkar sistem, merekam perjuangan hukum, menghidupkan kembali sejarah Palestina, atau memperlihatkan kehidupan sehari-hari di tengah pendudukan. Setiap bentuk memiliki fungsi berbeda.
Kita juga perlu memberi ruang lebih besar kepada pembuat film Palestina sendiri. Mereka bukan sekadar objek penderitaan, melainkan pencipta, penafsir, pengarsip, dan pemilik pengalaman sejarahnya.
Palestina perlu hadir di layar bukan hanya sebagai reruntuhan, tetapi sebagai masyarakat yang berpikir, mencintai, mencipta, dan membayangkan masa depan.
Karya seni yang baik tidak mengubah korban menjadi dekorasi kesedihan. Ia mengembalikan kemanusiaan yang dirampas kekerasan dan menolak membiarkan seseorang menjadi sekadar angka atau “kerusakan tambahan”.
Setiap angka menyimpan nama, keluarga, impian, dan masa depan. Tapi tentu saja, ingatan saja tidak cukup. Bangsa Palestina membutuhkan kebebasan, keselamatan, hak menentukan nasib sendiri, pemulihan, dan keadilan.
Mereka membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar konsumsi emosional atas penderitaan. Film tidak boleh menjadi tempat kita menumpahkan rasa bersalah, lalu merasa telah menyelesaikan kewajiban moral.
Namun, karena keadilan belum hadir, kita tidak boleh berhenti membuat karya. Kita hanya perlu berhenti menuntut karya melakukan pekerjaan yang bukan miliknya.
Film mungkin tidak dapat menghentikan bom hari ini. Tetapi ia dapat menghalangi kebohongan agar tidak menjadi sejarah resmi. Ia dapat menyimpan kesaksian ketika para saksi dibungkam dan memperlihatkan hubungan antara keputusan di ruang komando dan kematian di sebuah rumah.
Film dapat membuat penonton memahami bahwa kehancuran Gaza bukan sekadar tragedi tanpa pelaku, melainkan kenyataan yang dapat ditelusuri, diperiksa, dan dimintai pertanggungjawaban.
Seni bukan palu pengadilan. Ia lebih menyerupai lampu yang diarahkan ke ruang gelap tempat kekuasaan bekerja. Lampu itu tidak menjatuhkan hukuman.
Namun, tanpa cahaya, kita mungkin tidak tahu bagaimana kejahatan berlangsung, siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban, dan mengapa kita tidak boleh membiarkannya berulang.
Maka, karya seni tentang Palestina tetap perlu lahir. Bukan karena satu film dapat menghadirkan keadilan, melainkan karena keadilan membutuhkan ingatan, kesaksian, pengetahuan, dan keberanian untuk menolak penyangkalan.
Ketika sejarah kelak menanyakan apa yang kita lakukan saat Gaza dihancurkan, semoga kita memiliki keberanian untuk menunjukkan bahwa kita tidak ikut membiarkan kebenaran mati.
Cak AT - Ahmadie
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 13/9/2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar