Mimpi-mimpi Rachmat Gobel
PERJUMPAAN terakhir saya dengan Rachmat Gobel terbilang sepintas saja di tengah acara peluncuran buku 'Praksis Pancasila, Pengalaman Ideologi di Perusahaan Gobel' hampir dua tahun lalu. Saya diundang oleh penulis bukunya, Nasihin Masha, mengikuti peluncuran di Aula FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Selebihnya saya hanya mengikuti jejak langkah Rachmat Gobel dari jauh karena kesempatan bertemu dengan tokoh pengusaha asal Gorontalo ini sangat jarang. Meski demikian, beberapa souvernir yang saya terima masih ada yang saya simpan; utamanya peralatan elektronik produksi Panasonic.
Sejak lama saya memang menaruh perhatian pada jejak langkah keluarga Gobel, sejak Thayyeb Mohammad Gobel, ayah Rachmat, berjaya menancapkan tonggak industri elektronika nasional. Melalui usaha patungan dengan Matsushita Jepang, Gobel memproduksi radio merk Cawang lebih 50 tahun lalu. Harganya relatif murah. Ayah saya baru mampu membei radio pada tahun 1970, ya radio portable merk Cawang itu.
Di kemudian hari sebagai wartawan di Jakarta saya sempat satu-dua kali mengikuti kegiatan TM Gobel sebagai tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kesan saya, dia politisi yang tidak banyak bicara, apalagi mengumbar janji, namun lebih mendahulukan kerja nyata. Tokoh ini menaruh perhatian besar pada upaya membantu masyarakat mengatasi kesulitan hidupnya.
Saya memperoleh kesan yang sama pada Rachmat Gobel. Meski jarang bertemu, apalagi mewawancarainya, saya mudah mengikuti jejak langkahnya dari publikasi buku maupun kegiatan dan kerja-kerja politiknya. Saya sering mengutip dan memuat berita kegiatan Rachmat di media online yang saya asuh dengan mengutip dari laman resmi Partai Nasdem.
Saking seringnya, Nasihin Masha sempat bertanya: “Pak Banjar ikut Nasdem ya,” tulisnya melalui WA. Saya jawab saja, “Ah nggak, saya tertarik kegiatan Rachmat saja, kebetulan banyak dimuat laman Nasdem.” Ternyata banyak naskah berita itu ditulis Nasihin. Maka suatu kali Nasihin kirim saya naskah mengenai kegiatan Rachmat, “Ini Pak, siapa tahu cocok.”
Kerja politik Rachmat terlihat nyata bedanya dari para politisi umumnya. Ia sering terjun ke lapangan sekaligus menyalurkan gagasan untuk mengubah potensi yang ada menjadi kegiatan produktif yang menyejahterakan masyarakat.
Ia terlihat sangat gundah melihat daerah asalnya, Gorontalo, menjadi provinsi yang masih tergolong miskin. Ia ingin menciptakan lompatan dan percepatan pembangunan. Caranya bukan sekadar bantuan sosial, tetapi membangun basis ekonomi rakyat dari desa.“Mari kita bersama-sama memakmurkan petani dan memakmurkan masyarakat dimulai dari desa,” katanya suatu kali.
Apa yang Rachmat lakukan tidak sekadar mengajak petani menanam kacang, kakao, pisang, kopi, kedelai atau bambu. Ia memikirkan bibit → produksi → koperasi → gudang → pengolahan → industri → pemasaran → agrowisata. Dengan demikian nilai tambah tidak berhenti di tingkat pedagang atau tengkulak.
Ia menggagas Desa Agrowisata Kacang di Tilihuwa dan menyiapkan Desa Agrowisata Pisang di Toydito. Rencananya bahkan berkembang menjadi sedikitnya 10 desa binaan dengan komoditas berbeda—kedelai, kopi, bambu, cokelat dan lainnya.
Rachmat juga melihat petani, nelayan dan UMKM sebagai “pemodal” kecil yang jika dihimpun melalui koperasi dapat menjadi kekuatan besar. Koperasi baginya bukan sekadar lembaga simpan-pinjam, tetapi alat pemerataan ekonomi dan kekuatan rakyat menghadapi pasar.
Visinya sangat jauh. Ia berupaya mengangkat produk lokal menjadi produk bernilai tambah dan berkelas dunia. Ia tidak ingin Gorontalo hanya menjual komoditas mentah. Pisang, kakao, kacang tanah, kedelai, kopi dan bambu harus mempunyai identitas, kualitas, pengolahan dan pasar. Karena itu ia berbicara tentang produk premium, ekspor, pengolahan pascapanen, UMKM dan agrowisata.
Saya pikir Rachmat tahu apa yang seharusnya dilakukan sebagai pemimpin. Ia bukan tipe tokoh yang berupaya menarik hati warga hanya untuk kepentingan meraih suara, kemudian mengabaikan mereka. Rachmat berbeda. Ia menyerap nilai-nilai yang melekat dalam keluarga Gobel yang mereka terapkan baik di tengah masyarakat, lingkungan usaha mapun aktivitas politiknya.
Di lingkungan perusahaan Gobel Group memandang pekerja tidak semata sebagai buruh dan alat produksi. Para pekerja adalah manusia yang harus dimanusiakan. Rachmat memegang filosofi Gobel Group dalam memandang para buruh, dengan “memanusiakan manusia dan bukan mempekerjakan manusia.”
Banyak mimpi-mimpi Rachmat Gobel yang membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk mewujudkannya, bahkan setelah kepergiannya meninggalkan kita semua. Mimpi-mimpi Rachmat pada hakekatnya adalah mimpi sebagian besar rakyat, terutama mereka yang tertinggal, terpinggirkan dan termarjinalisasi dalam derap pembangunan. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar