Esai

Pemaafan

SW60Plus.com, 16 September 2026, 06:34 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 48x dilihat

ADA yang aneh tentang kesuksesan. Ia tidak hanya mengubah masa depan seseorang, tetapi kadang-kadang juga mengubah cara kita memandang masa lalunya. Orang yang kemarin dianggap terlalu ambisius, setelah berhasil bisa disebut visioner. 


Keputusan yang dahulu dinilai sembrono, setelah menghasilkan miliaran dolar, mendadak dikenang sebagai keberanian untuk mengambil risiko.


Kesuksesan seperti cermin yang aneh. Bukan wajah orang di depannya yang berubah, melainkan mata orang-orang yang memandangnya.


Jeffrey Pfeffer menangkap keganjilan itu dalam 7 Rules of Power. Aturan ketujuhnya terdengar hampir tidak pantas dipasang di ruang pelatihan kepemimpinan: Success Excuses (Almost) Everything—kesuksesan mengampuni hampir segalanya. Kata terpentingnya mungkin justru bukan success, melainkan "almost".


Pfeffer tentu tidak mengatakan bahwa sukses menghapus benar dan salah. Ia menunjukkan mekanisme yang lebih mengganggu: setelah seseorang berhasil, keberhasilan itu sendiri dapat mengubah cara orang menilai masa lalunya. Dua kekuatan bekerja di belakangnya: cumulative advantage dan motivated cognition.


Cumulative advantage berarti kemenangan menghasilkan modal untuk kemenangan berikutnya. Keberhasilan membawa uang, status, jaringan, perhatian media, dan akses. Semua itu bukan hanya memperbesar peluang seseorang untuk kembali menang, tetapi juga memperbesar kemampuannya untuk menentukan bagaimana dirinya dilihat.
Jack Dorsey memperlihatkan bagaimana mekanisme itu bekerja dalam narasi. Sejarah kelahiran Twitter sebenarnya melibatkan banyak orang: Evan Williams, Biz Stone, Noah Glass, Dorsey, Odeo, dan konflik internal yang tidak sederhana. Dorsey bahkan pernah kehilangan posisi CEO karena masalah dalam pengelolaan perusahaan.


Namun, setelah Twitter berkembang dan Dorsey kembali menjadi figur penting, posisi tawarnya pun berubah. Nick Bilton dalam Hatching Twitter menggambarkan bagaimana Dorsey secara aktif membangun identitas publik dan menegaskan perannya dalam kelahiran Twitter. Di sinilah cumulative advantage bekerja: status menghasilkan perhatian, perhatian menyediakan mikrofon, dan mikrofon membantu membentuk ingatan.


Semakin terkenal seseorang, semakin sering versi dirinya didengar. Semakin sering sebuah versi didengar, semakin mudah ia diingat. Kekuasaan ternyata bukan hanya kemampuan memengaruhi apa yang terjadi besok, tetapi juga cerita tentang kemarin yang paling banyak terdengar.


Gary Winnick memperlihatkan sisi berikutnya: kepentingan dapat mengubah penilaian. Global Crossing pernah menjadi simbol ledakan industri telekomunikasi sebelum bangkrut pada 2002. Sebelum keruntuhan itu, Winnick telah menjual saham pribadinya dalam jumlah besar, sementara banyak orang kemudian menanggung konsekuensi akibat kebangkrutan perusahaan tersebut.
Namun, Winnick masih memiliki kekayaan, jaringan, dan kemampuan untuk melakukan filantropi. Maka muncul pertanyaan yang tidak nyaman: bagaimana kita mempertahankan penilaian negatif terhadap seseorang ketika pada saat yang sama kita membutuhkan investasi, sumbangan, jaringan, atau akses darinya?

Mengapa kesalahan yang sama terlihat berbeda ketika dilakukan oleh mereka yang berhasil?

Di situlah motivated cognition bekerja. Kepentingan membuat manusia lebih mudah menemukan alasan untuk memaklumi sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai masalah. Kita merasa sedang menilai fakta secara objektif, padahal standar kita mungkin diam-diam telah bergeser. Manusia memang makhluk rasional—terutama setelah mengetahui kesimpulan mana yang paling nyaman.


Michael Milken membawa mekanisme itu satu langkah lebih jauh: sumber daya dapat membangun legitimasi baru. Setelah menjadi tokoh penting di pasar high-yield bonds, ia mengaku bersalah atas pelanggaran hukum sekuritas, membayar denda besar, dan menjalani hukuman penjara federal. Cerita seperti itu biasanya terdengar seperti akhir dari sebuah reputasi.


Namun, hidup tidak selalu berhenti ketika kredit penutup seharusnya muncul. Setelah keluar dari penjara, Milken mengarahkan sumber daya besar pada penelitian medis dan membangun Milken Institute, yang kemudian mempertemukan pemimpin bisnis, investor, akademisi, dan pejabat publik.
Kontribusi itu nyata. Namun, kontribusi ini juga menghasilkan jaringan dan legitimasi baru. Kekayaan memungkinkan filantropi, filantropi membuka hubungan, hubungan menghasilkan akses, dan akses memperkuat kembali status. Masa lalu tidak hilang; masa kini hanya semakin besar di sebelahnya.
Di sinilah tiga cerita tadi bertemu. Dorsey menunjukkan bagaimana sukses membantu membentuk narasi; Winnick menunjukkan bagaimana kepentingan memengaruhi penilaian; Milken menunjukkan bagaimana sumber daya membangun legitimasi. Narasi, penilaian, legitimasi. Begitulah keberhasilan perlahan mengubah cara masa lalu dibaca tanpa perlu menghapus satu baris pun dari sejarah.


Bagi manajer, bahayanya adalah mengira fenomena ini hanya terjadi pada miliuner. Padahal versi kecilnya hadir hampir setiap hari di ruang rapat.


Bayangkan dua manajer mengambil keputusan berisiko dengan proses berpikir yang sama. Yang pertama gagal lalu disebut ceroboh. Yang kedua berhasil lalu masuk presentasi perusahaan sebagai contoh bold leadership. Padahal kualitas keputusan awal mereka belum tentu berbeda. Kita hanya mengetahui akhirnya.


Karena itu, organisasi yang sehat tidak cukup bertanya, “Apa hasilnya?” Ia juga perlu bertanya, “Dengan informasi yang tersedia saat keputusan dibuat, apakah proses berpikirnya masuk akal?” Pertanyaan sederhana itu membedakan strategi dari keberuntungan, keberanian dari kecerobohan, dan kompetensi dari sekadar kemenangan.
Bagi seorang pemimpin, Pfeffer tidak memberi izin untuk menjadi tidak etis. Ia memberi peringatan agar kita tidak naif terhadap cara kekuasaan bekerja. Bangun reputasi, ceritakan kontribusi tanpa menghapus kontribusi orang lain, dan bangun jaringan sebelum membutuhkannya. Tetapi ketika akhirnya sukses datang, lakukan sesuatu yang lebih sulit: periksa kembali cara kita melihat diri sendiri.


Sebab semakin tinggi seseorang naik, semakin ramah cermin sosial memantulkan dirinya. Pujian bertambah, kesalahan memperoleh penjelasan, dan keputusan yang berhasil perlahan berubah menjadi bukti bahwa sejak awal kita memang hebat.
Mungkin di situlah ujian kekuasaan yang sebenarnya dimulai.


Bukan ketika dunia akhirnya melihat kita sebagai orang sukses, melainkan ketika kita masih sanggup melihat diri sendiri tanpa meminta cermin berbohong.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

DAFTAR PUSTAKA
Bilton, N. (2013). Hatching Twitter: A true story of money, power, friendship, and betrayal. Portfolio/Penguin.
Cohan, W. D. (2017, May 2). Michael Milken invented the modern junk bond, went to prison, and then became one of the most respected people on Wall Street. Business Insider.
Eisinger, J. (2017). The chickenshit club: Why the Justice Department fails to prosecute executives. Simon & Schuster.
Pfeffer, J. (2022). 7 rules of power: Surprisi

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000