Penjilat, Lidah yang Mematikan Kebenaran
WACANA mengenai penjilat yang sempat muncul di WhatsApp Group SW60Plus dan forum lain mengingatkan saya pada kisah menarik dalam dunia pewayangan tentang Antareja.
Antareja dikenal sebagai putra Bima yang memiliki kesaktian pada lidahnya. Ibunya adalah Dewi Nagagini, seorang dewi dari bangsa ular (Naga). Bima bertemu dan menikah dengan Dewi Nagagini ketika para Pandawa menyelamatkan diri dari peristiwa kebakaran rumah lilin (Pralaya Jatugraha) dan masuk ke dalam bumi.
Kakek Antareja adalah Sang Hyang Antaboga, raja bangsa ular yang menguasai lapisan bumi ketujuh (Saptabumi). Dari kakeknya inilah Antareja mewarisi kemampuan hidup di dalam bumi serta kulit sisik pelindung (Titis Mustika Bumi) yang membuatnya kebal terhadap segala senjata. Lidahnya pun sangat berbisa. Siapa yang dijilat, termasuk bekas telapak kakinya, bisa mati hangus terbakar. Jilatannya sungguh berbahaya.
Jika lidah Antareja dapat mematikan seseorang, penjilat dalam kehidupan nyata mungkin tidak membunuh manusia, tetapi lidahnya dapat membunuh kejujuran, membunuh keberanian untuk berkata benar, bahkan membutakan orang yang sedang memiliki kekuasaan.
Berbagai bahasa memiliki istilah sendiri untuk menggambarkan perilaku menjilat. Dalam bahasa Inggris kita mengenal sycophant, yes-man, bootlicker, dan brown-noser.
Kenyataan linguistik ini setidaknya menunjukkan bahwa perilaku mencari keuntungan melalui pujian, kepatuhan semu, dan pendekatan kepada orang yang berkuasa merupakan fenomena sosial yang cukup luas sehingga memperoleh berbagai label dalam masyarakat.
Ada juga istilah lain mengenai perilaku menjilat, yaitu ingratiation. Artinya adalah upaya membuat diri disukai atau disenangi oleh orang lain, terutama orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh, dengan tujuan memperoleh penerimaan, perlakuan baik, atau keuntungan tertentu.
Perilaku menjilat ini juga menjadi tema penelitian oleh peneliti luar negeri.
Kita dapat menemukan penelitian yang baru dipresentasikan pada 17 Juli 2026 dalam Academy of Management Proceedings dari Ni Lu & Riguang Gao, “A Silver Tongue Isn’t Always Enough: The Conditional Effect of Upward Ingratiation on Promotability.”
Mereka mendefinisikan upward ingratiation sebagai perilaku berupa flattery, conformity, dan other-enhancement yang ditujukan untuk mendapatkan favor dari atasan. Penelitian tersebut menghubungkan upward ingratiation dengan promotability, yaitu kemungkinan memperoleh promosi.
Ia merupakan salah satu wajah perilaku manusia yang dapat muncul dalam berbagai lingkungan masyarakat di mana pun. Yang juga menarik, secara psikologis, ada saja orang yang berkuasa yang senang dipuji-puji, yang sesungguhnya merupakan perilaku penjilat.
Psikolog sosial Roos Vonk dari Leiden University meneliti mengapa flattery bisa berhasil. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang yang menerima pujian cenderung memberikan kredibilitas lebih besar dan lebih menyukai orang yang memujinya dibandingkan pengamat atau pengkritik dari luar lingkungannya.
Tetapi penjilatan tidak akan tumbuh subur kalau tidak ada pihak yang senang menerimanya. Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Penjilat membutuhkan orang yang senang dijilat. Dan orang yang senang dijilat akan memberi ruang kepada penjilat.
Keduanya kemudian membentuk hubungan yang saling menguntungkan untuk sementara waktu. Bahasa Jawa mengibaratkannya tumbu oleh tutup. Yang satu senang memperoleh pujian. Yang lain memperoleh keuntungan.
Masalahnya, hubungan seperti ini dapat menghasilkan sesuatu yang sangat berbahaya berupa hilangnya kebenaran.
Penelitian yang dimuat di SAGE Journals oleh Sun Hyun Park, James D. Westphal, dan Ithai Stern berjudul Set Up for a Fall: The Insidious Effects of Flattery and Opinion Conformity toward Corporate Leaders sangat relevan untuk dikemukakan.
Mereka menemukan bahwa pujian berlebihan dan sikap selalu membenarkan pendapat pemimpin dapat meningkatkan rasa percaya diri pemimpin secara berlebihan (overconfidence). Akibatnya, keputusan strategis dapat menjadi bias dan pemimpin justru lebih sulit melakukan perubahan ketika kinerja organisasi memburuk.
Di sinilah pujian yang berlebihan dapat berubah menjadi racun sebab kekuasaan memiliki satu kelemahan. Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, semakin sedikit orang yang berani mengatakan kepadanya bahwa ia salah. Apalagi jika si penguasa memang suka disanjung dan dipuji. Maka, yang hadir bukan pujian objektif, tetapi flattery atau ingratiation.
Bayangkan sebuah organisasi atau lingkaran kekuasaan yang dipenuhi penjilat. Orang yang jujur mulai diam. Orang yang kritis mulai takut. Orang yang berbeda pendapat mulai disingkirkan. Sebaliknya, orang yang pandai memuji memperoleh tempat yang baik.
Akhirnya terjadi perubahan nilai.
Bukan lagi, “Siapa yang benar?”
Tetapi, “Siapa yang paling dekat dengan pimpinan?”
Bukan lagi, “Apa yang terbaik bagi organisasi?”
Tetapi, “Apa yang paling menyenangkan bagi orang yang berkuasa?”
Kalau kondisi seperti ini dibiarkan, organisasi perlahan kehilangan budaya sehatnya. Keputusan tidak lagi dibuat berdasarkan data, argumentasi, dan kepentingan bersama, melainkan berdasarkan kedekatan dan kenyamanan.
Di sinilah kisah Antareja menjadi menarik sebagai metafora.
Dalam dunia pewayangan, lidah Antareja mempunyai kekuatan yang luar biasa. Tetapi lidah saktinya digunakan untuk mematikan musuh negara Amarta.
Dalam kehidupan modern, para penjilat menggunakan lidahnya bukan untuk membunuh musuh negara, tetapi membunuh karakter penguasa yang pada saatnya dapat membunuh kejernihan berpikir sehingga tidak dapat melahirkan kebajikan, kebijakan, dan kebijaksanaan.
Karena itu, orang bijak memberikan nasihat:
Pertama, jangan menjadi penjilat. Jangan menjual prinsip demi kedudukan. Jangan mengubah kebenaran demi keuntungan. Jangan mengatakan “ya” ketika hati dan akal kita mengatakan “tidak”.
Kedua, jangan menjadi orang yang senang dijilat. Karena orang yang terlalu menyukai pujian akan mudah kehilangan kemampuan untuk membedakan antara penghormatan dan manipulasi.
Antareja mengajarkan kita sebuah simbol tentang kekuatan lidah. Kehidupan mengajarkan kita bahwa lidah manusia juga dapat menjadi sangat berbahaya. Bukan karena kesaktiannya. Tetapi karena kata-kata dapat memengaruhi pikiran, keputusan, hubungan, bahkan nasib seseorang. (mkb)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar