Raja yang Hilang di 'Perang Gowa'
SETIAP rumah punya cerita. Rumah Andi Makmur Makka, di pinggir pantai Makassar Sulawesi Selatan, misalnya. Bertingkat, terbuat dari kayu keras, antik, penuh kenangan lama, dan terasa seperti sebuah arsip yang memilih tinggal di rumah pribadi.
Ketika saya berkunjung ke sana, Daeng Makka bukan hanya menerima tamu. Dari rumahnya ia mengajak saya berkeliling kota. Satu makam ditunjukkannya, “Ini makam si raja.” Lalu makam lain. “Ini pula.” Kota Makassar seolah menyimpan sejarah di bawah tanahnya.
Yang menarik, puluhan makam raja itu tidak semuanya hadir dengan papan nama dan keterangan seperti museum modern. Sebagian nyaris menjadi anonim. Justru mereka yang terlibat dalam perang melawan kolonialisme lebih mudah dikenali dalam ingatan.
Ada ironi kecil di sana. Sebuah bangsa besar bisa mempunyai begitu banyak makam, tapi belum tentu mempunyai cukup banyak cerita tentang orang yang dimakamkan di dalamnya. Setiap nisan menandai nama kematian, tapi sejarah mereka masih narasi yang tertunda.
Barangkali karena itu saya membaca Perang Gowa 1905–1906 karya A. Makmur Makka dengan rasa ingin tahu yang agak berbeda. Buku ini terbit pada 2026, setebal 175 halaman, dicetak oleh penerbit indie Satria Publisher. Peluncurannya dilaksanakan dengan sederhana di Jakarta.
Dari keterangan penulisnya sendiri, buku novel sejarah itu berkisah tentang “ghaibnya” Raja Gowa, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang. Raja bergelar Sultan Husain Tuminanga ri Bundu’na ini dituturkan hilang di tengah perang melawan Hindia Belanda.
Di sinilah saya merasa judul Perang Gowa agak terlalu besar untuk dikisahkan hanya dalam sekian halaman. Perang Gowa tentu bukan peristiwa kecil. Ia mencakup gerakan militer, politik kerajaan, perlawanan rakyat, strategi kolonial, intrik pejabat, pengkhianatan, dan pergulatan kekuasaan.
Sementara Makmur Makka tidak sedang menyusun ensiklopedia perang. Ia mengambil secuil peristiwa itu, lalu memperbesarnya menjadi dunia cerita: seorang raja yang lenyap, orang-orang yang mencarinya, perang yang terus berkobar, serta kisah cinta yang bergerak di sela-sela dentuman senjata.
Justru “secuil” itulah yang membuatnya berpotensi menjadi karya yang kuat. Sejarah sering terlalu luas untuk ditelan sekaligus. Novel seharusnya tidak perlu menjadi buku pelajaran yang diberi dialog. Ia cukup mengambil satu pintu kecil sebagai fokus, lalu membiarkan pembaca masuk ke rumah sejarah.
-000-
Makmur Makka sendiri bukan orang baru dalam urusan menghidupkan masa lalu. Lahir di Parepare pada 13 Februari 1945, ia belajar Hubungan Internasional di UGM. Kemudian, seperti banyak tokoh asal Makassar, ia melanjutkan studi di luar negeri. Ia memilih Ohio University, Amerika Serikat.
Sejak muda di Yogya, ia aktif dalam pers mahasiswa. Ia pernah memimpin pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di Harian KAMI, dan kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Republika pada 1997–2000. Sebelumnya ia juga menjadi staf ahli Menristek/Kepala BPPT.
Ia bahkan memiliki hubungan yang panjang dengan dunia arsip. Kedekatannya dengan B.J. Habibie di kantor Ristek/BPPT, membuat banyak arsip Presiden ketiga RI ini berhasil dikumpulkannya, dan kemudian diserahkannya ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
ANRI mencatat inventaris arsip Makmur Makka yang tersimpan itu mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual dan 15 lembar arsip foto. Sebagian sudah ditulisnya menjadi sejumlah karya buku monumental. Tapi, masih banyak lagi yang belum sempat digarapnya, termasuk puluhan rekaman video Habibie.
Ia tercatat menulis banyak buku biografi Habibie. Dan karena itu, pada 2018 ia memperoleh penghargaan MURI sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak, dengan 95 judul. Dalam dunia kepenulisan, namanya memang lebih sering dikenal lewat karya-karya tentang B.J. Habibie.
Tapi sisi sastrawannya, ia juga punya deretan karya panjang. Bentuknya puisi, cerpen, prosa liris, dan novel sejarah. Di antaranya Ungu, Manifes, Tanah Air, Buah Cherry Ladang Gandum, Ibu, Sajak-Sajak Malioboro, Secawan Matahari, dan buku novel sejarah yang lain, Rumpa’na Bone.
Novel Rumpa’na Bone berkisah tentang runtuhnya Kerajaan Bone, terbit pada 2015 dan mengambil latar serangan Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905. Karya imajinatif ini memuat fakta sejarah runtuhnya Kerajaan Bone, budaya siri’, upacara kerajaan, dan tradisi ritual bissu.
-000-
Maka Perang Gowa bisa kita baca sebagai kelanjutan minat Makmur Makka pada sejarah kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Kalau Rumpa’na Bone membawa pembaca ke keruntuhan Bone, novel terbaru ini membawa kita ke salah satu episode paling getir dari Gowa.
Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan seluruh kekuatan hendak menutup babak kedaulatan kerajaan dengan senjata. Dan sejarahnya memang menarik, karena yang mereka hadapi pasukan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang yang tak pernah benar-benar takluk.
Raja yang memerintah Gowa antara 1895–1906 itu melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada 1905. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia akhirnya meninggal di Bundukma, dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Tapi dalam novel, ia disebut hanya ghaib.
Karena itu, kata “ghaib” di novel perlu ditempatkan pada wilayah sastra, bukan buru-buru diperlakukan sebagai kesimpulan sejarah. Di sinilah novel sejarah menjadi menarik sekaligus berbahaya. Ia boleh mengisi ruang yang tak tercatat, tapi pembaca perlu tahu mana fakta, tafsir, dan imajinasi.
Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis, penyair, esais, dan salah seorang narasumber dalam diskusi buku tersebut di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan hal itu. Menurut Ahmadun, novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur buatan pengarang.
Bersama Anhar Gonggong, pembicara yang lain, ia menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah. Subjektivitas dan imajinasi tetap mempunyai tempat di dalamnya. Tapi fakta sejarah yang menjadi kerangkanya tetap menuntut tanggung jawab.
Ahmadun bahkan melihat kekuatan sekaligus kelemahan struktural novel ini. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan Bunga Rossi, menjadi semacam “penjaga” alur. Mereka bertemu di arena pacuan kuda, jatuh cinta, lalu hubungan mereka bersinggungan dengan konflik politik dan perang.
Tapi ketika Makmur Makka mengalihkan cerita ke Benteng Rotterdam dan tokoh-tokoh Belanda seperti J.B. van Heutsz, alur novel terasa tiba-tiba terputus. Ahmadun mengusulkan agar kedua jalur itu dibuat sebagai alur ganda yang saling berkelindan.
Saya kira kritik sastra itu penting. Sebab novel sejarah tak cukup hanya memiliki bahan sejarah yang menarik. Ia juga harus mempunyai mesin cerita yang bekerja. Pembaca tak boleh merasa sedang berpindah dari satu artikel sejarah ke artikel sejarah berikutnya hanya karena subjudul berganti.
Sebagai kritikus sastra, Ahmadun juga menyoroti banyaknya subjudul yang pendek-pendek. Secara naratif, perang menjadi seperti dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil. Secara grafis, menurutnya, pergantian subjudul itu juga kurang nyaman bagi pembaca muda.
Tapi, saya mencatat sesuatu yang lebih penting dari soal teknis itu. Pilihan Makmur Makka untuk mempertemukan arsip kolonial dengan ingatan rakyat dalam format novel romantis menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan, sekaligus memberi pelajaran yang mudah dipahami awam.
Dalam pengantarnya, ia menyebut arsip Belanda merupakan sumber yang kaya detail —nama tempat, tanggal, pertempuran, jumlah korban. Tapi, baginya, catatan-catatan para sejarawan Belanda cenderung membawa perspektif pihak yang menang.
Sebaliknya, tradisi lisan masyarakat lokal menyimpan cerita tentang kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri, dan raja yang hilang. Maka, Makmur Makka memilih jalan penulisan dengan “menafsir, bukan menyalin”. Fakta dari pihak Belanda boleh benar, tapi tafsir atasnya berada di kita.
Itu pilihan yang masuk akal untuk sebuah novel sejarah. Arsip kolonial ibarat kamera yang dipasang pihak yang sedang memenangkan perang. Ia bisa sangat tajam, bahkan sampai mencatat berapa butir peluru yang ditembakkan. Tapi kamera tidak selalu merekam apa yang dirasakan orang yang ditembak.
Di sini ada konteks sejarah yang menarik. Tahun 1905–1906 memang berdekatan dengan ujung peperangan yang melelahkan di wilayah Aceh, jauh dari Pulau Selebes. Perang Aceh secara umum berlangsung tiga dekade, antara 1873–1904, meski perlawanan terhadap Belanda belum serta-merta padam setelah 1904.
Jadi Perang Gowa bukan “bersamaan” dalam arti satu periode perang yang sama persis, tapi terjadi segera sesudah Belanda menyatakan perang Aceh selesai. Sementara di tanah Jawa, tepatnya di Batavia, pada 17 Juni 1905, pemerintah Hindia Belanda memberi pengakuan resmi ke ormas Jamiat Kheir.
Ini kisah Raja yang hilang di balik “Perang Gowa”. Novel Andi Makmur Makka ini sebenarnya bukan tentang seluruh Perang Gowa, melainkan secuil sejarah tentang seorang raja yang lenyap di tengah perang.
Perkumpulan itu kemudian berkembang sebagai ormas Islam pertama yang resmi. Jadi, ketika di satu ujung Hindia Belanda orang sedang mendirikan sekolah dan membangun jaringan pendidikan, di ujung lain Kerajaan Gowa sedang berhadapan dengan ekspedisi militer kolonial.
Sejarah rupanya tidak pernah berjalan dalam satu lorong. Pada kalender yang sama, ada perang, sekolah, perdagangan, surat kabar, dakwah, dan percintaan. Maka, ketika kita melihat peta Nusantara dalam perspektif yang lebih luas, tahun 1905 bukan sekadar angka di sampul sebuah novel.
Saya juga ingin meluruskan satu hal yang mudah menimbulkan salah paham. Kurang tepat jika raja-raja Gowa secara umum disebut keturunan Arab hanya karena mereka menggunakan gelar “Sultan” atau memiliki nama seperti Husain, Abdul Kadir, Abdul Jalil, dan sebagainya.
Silsilah kerajaan Gowa mempunyai akar lokal yang panjang. Penelitian tentang islamisasi Makassar memang menunjukkan adanya peran penting keturunan Arab, termasuk hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan.
Salah satu penelitian menyebut Sayyid Ba’alawy menikah dengan putri Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Itu menunjukkan adanya persilangan genealogis, bukan berarti seluruh dinasti Gowa berasal dari Arab.
Bahkan nama “Husain” pada gelar Sultan Husain sebaiknya tidak dijadikan bukti otomatis tentang asal-usul Arab. Nama dan gelar Islam adalah satu hal; garis keturunan adalah hal lain. Sejarah tidak boleh dibuat sesederhana buku daftar nama.
Yang paling menarik dari Perang Gowa, bagi saya, justru bukan apakah pembaca akan menghafal siapa van Heutsz, van Dallen, Idenburg, atau siapa yang memegang benteng tertentu.
Yang penting adalah apakah pembaca menjadi ingin bertanya: siapa raja itu, mengapa ia melawan, ke mana ia pergi, mengapa kisahnya menjadi kabur, dan mengapa sebuah bangsa masih mengingat seseorang yang tubuhnya sudah lama menjadi tanah?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada hafalan tanggal. Karena itu saya tertarik pada usul yang muncul dalam diskusi di DD: 31 potongan cerita dalam novel ini jangan berhenti sebagai 31 potongan di dalam buku. Jadikan 31 film pendek. Sebarkan melalui media sosial.
Ini bukan berarti buku harus menyerah kepada video. Justru sebaliknya: video bisa menjadi pintu masuk menuju buku. Anak muda yang tak mau membuka 175 halaman mungkin bersedia menonton tujuh menit tentang seorang raja yang menghilang. Setelah itu, rasa ingin tahu akan membawanya mencari bukunya.
Kita terlalu sering mengeluhkan generasi muda yang malas membaca, seolah-olah mereka harus dipaksa masuk ke perpustakaan untuk mencintai sejarah. Padahal persoalannya mungkin bukan semata-mata kemalasan. Cara sejarah disajikan juga menentukan.
Perang Gowa memuat banyak bahan. Ada perang, raja, pengkhianatan, cinta, perjalanan, pengejaran, benteng, perempuan yang menunggu, prajurit yang setia, dan seorang penguasa yang menghilang di tengah kekacauan. Secara sinematik, itu bahan yang kaya dan berlimpah.
Maka kelemahan judulnya sekaligus bisa menjadi peluang. “Perang Gowa” terdengar seperti buku sejarah yang hendak menjelaskan seluruh perang. Padahal kekuatan novel ini terletak pada satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana: ke mana perginya sang raja?
Sejarah kadang bekerja seperti makam tua. Dari luar kita hanya melihat batu. Tapi kalau kita mau membuka ceritanya, di dalamnya ada manusia: keberanian, ketakutan, cinta, pengkhianatan, dan harapan.
Makmur Makka telah membuka salah satu makam itu. Ahmadun Herfanda dan Anhar Gonggong mengingatkan agar batu nisannya jangan sampai lebih besar dari kisah manusia yang dikuburkannya.
Mungkin itulah cara terbaik membaca Perang Gowa. Kita membacanya bukan sebagai kitab lengkap tentang sebuah perang, melainkan sebagai sebuah pintu kecil menuju sejarah yang jauh lebih luas.
Dan mungkin pula, jika 31 pintu kecil itu kelak berubah menjadi 31 film pendek, generasi yang enggan membaca buku akhirnya akan masuk melalui layar.
Setelah itu barangkali mereka menemukan sesuatu yang selama ini kita kira sudah hilang: bukan hanya seorang raja, tapi ingatan tentang siapa kita.
Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 12/9/2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar