Esai

Ramelan dan Kartun Perdjoeangan: Jendela Sejarah Lain (I)

SW60Plus.com, 16 Agustus 2026, 22:25 WIB

Buku kartun tajuk rencana atawa kartun politis ini, membawa senyum sekaligus pandangan kritis, terhadap masa lalu RI, ketika masih berbentuk RIS. Masa kritis republik yang masih menyisakan jejak pada masa kini.

Dari Masa Lalu ke Pengetahuan Baru

Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tokoh pers Indonesia, masih ditulis keliru sebagai Rosiham Anwar dalam buku kartun Ramelan (1911-1989), Perdjuangan Republik Indonesia dalam Karikatur (Djakarta: Tintamas, 1952)—seolah masih kurang terkenal. Maka saya konsolasi keadaan itu dengan menyalin pengantarnya secara lengkap; bukan sekadar karena isinya perlu, melainkan juga karena nilainya sebagai dokumentasi. Itu yang membuat ejaan lama dipertahankan, sehingga gaya bahasa dan nuansa masanya terhadirkan.

Ukuran buku 14 x 20, horisontal, setengah halaman koran.

 

Sekedar Pengantar

 

                 Tjara memperdjuangkan tjita-tjita kemerdekaan bisa beraneka-warna. Ada jang dengan alat sendjata, ada jang dengan pena, ada jang dengan mulut, ada pula jang dengan penseel. Saudara Ramelan boleh dimasukkan dalam golongan belakang ini.

                Adalah tatkala Djakarta sudah diduduki penuh oleh Belanda, sehabis agressi militer ke-I, ketika orang-orang Republik bertahan dan dalam keadaan sulit melandjutkan perdjuangan kemerdekaan, dan kami segolongan wartawan jang berhimpun dalam Mingguan “Siasat” masih mengichtiarkan terusnja penerbitan madjallah itu, supaja suara orang-orang Republik dapat diperdengarkan terus, adalah dizaman itu maka pada suatu hari saudara Ramelan datang menggabungkan diri pada kami, terdorong oleh kejakinan jang sama, dan kemudian setiap minggu melukiskan gambar carricatuurnja.

                    Tulisan serta komentar jang berkolom-kolom pandjangnja tidaklah selalu dapat menjampaikan maksud jang dikandung, betapapun tadjam otak sipengarang dan betapa djuga lintjahnja gajabahasanja, tetapi sebuah gambar carricatuur kadang-kadang begitu besar effectnja, sehingga lebih bisa dipahami dan mendjadi buah tutur chalajak ramai, baik dari kawan, maupun dari lawan. Terhadap Belanda sebagai telah terbukti dalam pengalaman bukan tidak djarang gambar2 carricatuur saudara Ramelan merupakan sendjata tadjam, jang mampu menjingkapkan selubung kepalsuan pendirian serta akal muslihat mereka.

                   Seperti kata peribahasa Perantjis “Le ridicule tue”‘, bahwa jang menggelikan itu sering bisa mematikan, demikian pula boleh diartikan fungsi gambar2 carricatuur didalam perdjuangan kita menghadapi Belanda. Saudara Ramelan djanganlah hendak disamakan lekas2 dengan seorang David Low dinegeri Inggeris, jang ditakuti serta disegani oleh pemimpin2 negara, para tjendekiawan dan segala lapisan masjarakat. Tetapi bagaimanapun djuga, saudara Ramelan dengan tjaranja sendiri telah memberikan sumbangsihnja jang berharga kepada perdjuangan kemerdekaan kita.

                 Lihatlah sadja gambar2 carricatuur jang dikumpulkan dalam buku ini. Gambar2 ini berasal dari berbagai madjallah serta harian, oleh karena memang saudara Ramelan membantu berbagai penerbitan jang diwaktu itu semuanja membawakan suara Republik.

                Adapun madjallah serta harian itu adalah: Siasat, Mimbar Indonesia, Madjallah Merdeka, Pedoman, Pemandangan,

Merdeka, Waspada dan gambar2 jang dikumpulkan dalam buku

in melingkupi periode antara “Renville” sampai dengan penjerahan kedaulatan.

                  Maka kalau Tuan membalik balik lagi lembaran buku ini, memperhatikan gambarnja satu per satu, semoga tertjetuslah kembali api kenangan akan zaman perdjuangan bangsa jang penuh riwajat duka dan derita itu.

                   Kita sudah hidup sekarang dalam zaman ketika orang-orang tjenderung mendjadi lekas lupa, maka barangkali gambar2

saudara Ramelan ini dapat menghidupkan kembali didepan mata

semangat kita djalan jang sudah kita tempuh. Serta mendjadikan

pula kita sadar kemudiannja, betapa masih djauh djalan jang

wadjib ditempuh, betapa apa jang kita perdjuangkan guna

bangsa dan negara masih belum terlaksana djuga.

 

Djakarta, 17 Djanuari, 1952.

 

Rosihan Anwar

 

Saya salin kembali sejumlah pernyataan sebagai bahan perbincangan, kali ini dengan ejaan kiwari, dan huruf tebal dari saya:

 

supaya suara orang-orang Republik

dapat diperdengarkan terus

 

saudara Ramelan datang menggabungkan diri pada kami,

terdorong oleh keyakinan yang sama

sebuah gambar karikatur kadang-kadang begitu besar efeknya,

sehingga lebih bisa dipahami dan menjadi buah tutur khalayak ramai,

baik dari kawan, maupun dari lawan

 

Terhadap Belanda, sebagai telah terbukti dalam pengalaman, bukan tidak jarang gambar-gambar karikatur saudara Ramelan merupakan senjata tajam, yang mampu menyingkapkan selubung kepalsuan pendirian serta akal muslihat mereka.

 

yang menggelikan itu sering bisa mematikan, demikian pula boleh diartikan fungsi gambar2 carricatuur didalam perdjuangan kita menghadapi Belanda

 

Maka kalau Tuan membalik-balik lagi lembaran buku ini, memperhatikan gambarnya satu per satu, semoga tercetuslah kembali api kenangan akan zaman perjuangan bangsa yang penuh riwayat duka dan derita itu.

 

Kita sudah hidup sekarang dalam zaman ketika orang-orang cenderung menjadi lekas lupa, maka barangkali gambar2 saudara Ramelan ini dapat menghidupkan kembali di depan mata semangat kita, jalan yang sudah kita tempuh. Serta menjadikan pula kita sadar kemudiannya, betapa masih jauh jalan yang wajib ditempuh, betapa apa yang kita perjuangkan guna bangsa dan negara masih belum terlaksana juga

                 Alih-alih menggali informasi tematik, tulisan Rosihan itu mengharukan juga—apalagi dibanding masa saya tulis catatan ini, ketika Indonesia, jika tidak teratasi, sedang menuju puncak keamburadulan. Orang lekas lupa. Ya. Walaupun lebih besar kemungkinan orang tidak tahu. Bukan karena tiada informasi, tetapi karena di masa media sosial ini lapis-lapis informasi baru terus bertumpuk tanpa henti dengan frekuensi tinggi, menutupi informasi apapun sebelumnya. Tumpukan informasi, yang tanpa sekadar refleksi, tiada akan pernah terproses menjadi pengetahuan.

                  Kondisi ini terimbangi gagasan agar laju kemajuan diperlambat, untuk menghindari ekses yang jauh dari diperlukan, karena tingkat kefatalan yang terhadapnya tidak dapat berlaku toleransi, yang berlangsung dalam berbagai wahana: kebocoran reaktor nuklir meski untuk tujuan damai; tingkat bunuh diri tanpa depresi; termasuk kompensasi binti pengingkaran, atas kemajuan berkecepatan peluru itu, dalam representasi fanatisme buta.

Kemajuan di sini bukanlah meningkatnya derajat peradaban, yang terandaikan mencapai peringkat kemanusiaan lebih tinggi, melainkan kemajuan dalam arti pragmatis-ekonomis atas nama efisiensi modernitas, tanpa kesepakatan etis yang seperti direlakan menjadi masalah nanti.

Dengan begitu menengok ke belakang menjadi perlu, lebih dari sekadar demi kenangan bagi Rosihan, yang mengalami masa perjuangan kemerdekaan RI, dan pergolakan politik yang berlangsung sesudahnya—makanan kartun-kartun Ramelan—melainkan bagi siapapun yang akan menerimanya sebagai pengetahuan baru.

Sejarah yang diproses melalui pandangan kritis kartunis politis, tidak akan sama dengan sejarah versi “buku putih” rejim mana pun—yang masing-masingnya berusaha “meluruskan sejarah” demi kepentingannya sendiri. Membaca kembali masa lalu menjadi penting, bagi penentuan kebijakan masa depan.

 

Kartun Tajuk Rencana RIS: Kronologis & Historis

Memang tepat buku kartun Ramelan itu diberi judul Perdjuangan Republik Indonesia dalam Karikatur, karena dengan mengikutinya secara kronologis, dapat diikuti sejarah perjuangan republik itu dari sudut pandang seorang kartunis.

Tentu perlu diingatkan kembali di sini, salah kaprah (= salah dianggap benar) pengertian karikatur, yang sebetulnya berlaku untuk kartun kepala atau wajah, atau boleh juga sosok seseorang, di Indonesia berlaku untuk pengertian kartun tajuk rencana (editorial cartoon) atau kartun politis (political cartoon), seolah-olah kalau disebut kartun doang hanyalah lucu.

Sebaliknya, jika sekadar bermain canda saja niatnya, justru itulah yang mesti disebut gag cartoon, atau gag saja, karena kalau cartoon saja mestinya political. Begitulah saya pun akan menyebut karikatur sebagai karikatur jika memang karikatur, dan tidak akan menyebut kartun-kartun politis ini sebagai karikatur—seperti juga menyebut Ramelan sebagai kartunis, bukan karikaturis.

Adapun penyusunan sejarah perjuangan Indonesia, agar diakui dunia sebagai republik yang sah, dalam bentuk kartun ini menarik, karena seperti disebut Rosihan berasal dari berbagai sumber media. Jika bukan karena Ramelan adalah seorang freelancer merdeka, mungkin pula memang berpindah-pindah tempat kerja, sebab buka tutupnya media akibat masalah finansial atau situasi politik lumayan lazim, bahkan sampai hari ini.

Meski berasal dari berbagai media, penyusunan kronologis membuat pembacaan sejarah mengasyikkan seperti membaca komik hiburan. Jarak waktu membuat kegentingan tidak segawat pada masanya, tetapi juga membuat rasa gentingnya mesti diraba-raba. Dengan jarak itu pun tetap mencengangkan, jika disadari betapa segala canda kartun ini sungguh menertawai persoalan serius, tanpa boleh menganggapnya sepele: perjalanan republik.

Secara garis besar telah dipahami, bagaimana Belanda tidak menerima begitu saja Proklamasi 1945, dan dengan berbagai cara—diplomatik maupun militeristik—berusaha memainkan kartu-kartu pemecahbelahan kesatuan republik. Tampak gampang untuk bertahan karena tinggal menolak, dalam kenyataannya tidak, karena pancingan bentuk negara federal oleh Belanda menarik sejumlah peminat anak negeri.

Di lain pihak, alasan-alasan ideologis di antara sesama anak negeri yang berakibat konflik, bersenjata maupun tidak, menjadi beban pekerjaan dalam negeri lain yang serius, karena betapapun pengakuan internasional tetap penting. Sedangkan negara-negara adikuasa, seusai Perang Dunia II berusaha menancapkan pengaruh masing-masing, yang mesti dilayani dan ditepis secara diplomatis.

Kelicinan diplomasi Belanda, yang sebetulnya sudah terpojok oleh semangat kemerdekaan di tanah kolonial seluruh dunia, terasa membebani dengan seretnya pengakuan kedaulatan republik secara internasional, dengan perundingan yang diulur-ulur, meski akhirnya diakui juga. Jadi buku kartun ini seperti ikhtisar sejarah diplomatik dari masa pra-pengakuan kedaulatan pada 1948 sampai mendapat pengakuan resmi, apapun bentuknya, sebelum tenggat 1 Januari 1950.

Dapat dikatakan kartun-kartun Ramelan ini memberi gambaran maupun wawasan memadai, sebagai kilasan sejarah, yang sungguh akan sampurno jika tanggal pemuatan dan nama media tertera di bawah setiap gambar.

Saya tidak akan memeriksa kartun ini dari segi historis maupun politis, seperti mempersoalkan keberpihakannya; melainkan bagaimana kartun-kartun Ramelan ini hadir sebagai gambar, dalam pandangan saya yang tidak berasal dari masa itu, dan berpengetahuan terbatas atas sisi historisnya, pada masa penulisan catatan ini di tahun 2026. Dengan ketersediaan ruang dan waktu, maka hanya sebagian kecil dari gubahan Ramelan terseboet terbincangkan di sini.

 

Pamer Dulu, Baru Diobrolin: 26 Kartun


Van Mook dan Kurungan Ayam
Perumpamaan RI sebagai ayam, yang (akan) dijebak perjanjian-perjanjian menjadi gambar menarik, karena tidak biasanya kurungan ayam seperti itu menjadi bagian kehidupan sosok Kaukasia.


Hatta Menjadi Perempuan
Usaha diplomasi Belanda yang jungkir balik, untuk mendapatkan apapun sebisanya dari republik, tapi tidak menggoyahkan Hatta, diandaikan sebagai rayuan gombal sia-sia. Seragam militer Van Mook mungkin maksudnya ancaman terselubung.


Nama
Kibul negara federasi Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda ternyata mengena bagi mereka yang membayangkan dirinya berpeluang menjadi penguasa di kampung masing-masing. Namun saya terhenyak oleh penyematan nama yang dapat menjadi hukuman sosial historis, selama tidak ada yang membuatnya relatif.


Manusia yang Mencari: Tragedi Ironis
Alih-alih lucu, kartun ini menghadirkan kembali tragedi Amir Sjarifoeddin, yang jiwanya mencari kemantapan hidup dalam agama-agama maupun ideologi sekuler; yang dalam konsekuensinya terlibat pemberontakan dan dihukum mati. Perhatikan cara rakyat memandang “intelektualisme”. Juga topeng-topeng itu: jika yang dikira keyakinan padanya hanyalah topeng, risiko kematiannya menjadi ironis.

Ke Djokdja
Pengungsian pendukung Republik dari Jakarta ke Yogya selalu dikenang dengan romantik, tetapi bagi yang tetap tinggal mengalami usaha sapu bersih Van Mook—Abdulkadir.


Robot
Masyumi disebut sebagai partai besar dan robot pembasmi bukan hanya Partai Komunis Indonesia (PKI), tapi segenap golongan “kiri”.


Hatta Jadi Perempuan Lagi
Setelah Van Mook dianggap gagal sebagai negosiator, Belanda lebih suka berhubungan langsung dengan Hatta, dan mengundangnya ke Den Haag, walau Hatta tetap lebih percaya kepada Komisi Tiga Negara (Australia, Belgia, Amerika Serikat) yang dibentuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka yang dikecewakan Van Mook masih berharap dipedulikan Belanda.


Maut di Ujung Politik
Disebutkan Hatta menyelesaikan kekacauan akibat pemberontakan PKI. Di antara nama-nama yang bergelimpangan tidak ada Tan Malaka.

Para Pemimpin di Bangka
Tiga kartun ini berangkai. Pendudukan Djogdja ternyata justru bermasalah bagi diplomasi Belanda, sementara perlawanan gerilya menyebar ke mana-mana. Para pemimpin diasingkan ke Muntok di Pulau Bangka. Namun tempat peristirahatan di Menumbing, yang tidak diubah-ubah, tidaklah sekumuh seperti dalam gambar ini.


Hamlet yang Peragu
Para pendamba negara federal ini, yang untuk khalayak ramai dicap “pengkhianat” republik atau penjilat Belanda, dalam kartun ini masih diberi harga tinggi, dalam perbandingannya dengan peran Hamlet dari drama klasik Shakespeare, yang selalu menjadi contoh soal dalam wacana psikologi, tentang orang yang sulit mengambil keputusan—seolah-olah pilihan antara RI dan RIS itu berat sekali.


Militer Republik
Meski sudah disebutkan betapa perang gerilya itu “mendahsyatkan”, inilah satu-satunya tempat sosok militer tergambar—yang menunjukkan situasi perimbangan politis antara sipil-militer saat itu.


Stereotip fakir India
Kartun yang memainkan stereotip fakir menyihir ular dengan alat tiup ini dahulu kala dominan sebagai metafor maupun dimaksud nyata, yang sudah memudar hari ini.

Lain diplomasi, lain militer
Para diplomat masih bisa berbasa-basi di luar meja perundingan, tetapi anggota militer wajib berkewaspadaan tinggi, karena pelanggaran gencatan senjata sama lazimnya dalam gencatan senjata di mana pun jua. Maka kebebasan wartawan sempat bermaksud dibatasi pula.


Kanal bagi Perahu Diplomasi
Terkesan lebih efisien, perjuangan kemerdekaan melalui diplomasi bukannya gampang karena tak kunjung sampai. Mengharapkan keberhasilan dari perpecahan republik sendiri, diplomasi Belanda mengulur waktu sepanjang mungkin, Bagai kanal mulus tetapi tanpa ujung di gambar ini.


Diplomat sebagai Koki ?
“Licin” adalah kata kunci dalam perjuangan diplomasi yang tentu menjengkelkan pihak militer, karena perjanjian yang mengikat, jika tidak diwaspadai, dapat berakibat fatal.


Bejibun
Penggambaran ini beracuan lokal, karena merupakan pemandangan sehari-hari di Jakarta, bahkan sampai tembus ke abad 21, sebelum akhirnya terbereskan semasa Ignasius Jonan menjabat Direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI) maupun Menteri Perhubungan sekitar tahun 2009-2016.


Andong Mengandong
Setelah perahu dan kereta api, giliran andong menjadi metafor kendaraan diplomasi menuju pengakuan kedaulatan republik, yang dimaksudkan tak perlu bikin frustrasi jika pasti akan sampai juga—apalagi sudah melakukan proklamasi kemerdekaan pada 1945. Pengaruh falsafah hidup Djokdja (alon-alon waton kelakon / pelan-pelan asal tercapai) kepada kaum republiken yang mengungsi ke sana.


Tersila Merdeka, Bayar Utangnya
Berpikir realistis, bahwa kelahiran republik tak bisa dibatalkan lagi, pemerintah Hindia-Belanda menyerahkan berkas utang yang mesti dibayar republik baru ini, termasuk utang ‘beaya penjajahan’ yang besar: pemikiran ekonomi dalam stereotip yang “Belanda sekali”.


Irian atawa Papua
Mengejar pengakuan kedaulatan demi pengakuan itu sendiri, membuat keutuhan republik belang-bonteng di sana-sini—termasuk perbincangan tentang Papua saat itu, yang belum terungkap dengan jelas. Tahun 1952, di bawah kartun Ramelan ini tertulis: “Soal inilah yang kemudian di masa-masa datang menjadi soal pelik dan ruwet terus”.


Imbal Pamrih
Pengakuan kedaulatan, meski hanya sebagai RIS, membuat yang merasa berjasa menghantarkannya berduyun-duyun minta imbalan atas pamrih mereka tersebut. Menarik sekali cara penggambaran keberagamannya, dari berdasi kupu-kupu sampai bersarung—yang dengan suatu tafsir tertentu juga bermakna mengakarnya mental korup di mana-mana sepagi terbentuknya republik yang masih terbata-bata itu.


Tiada Uang Jabatan pun Jadi
Kaya maupun miskin perlu uang. Ini pun isyu balas jasa—yang rupanya menggejala tanpa romantika apapun bahwa republik akhirnya diakui. Situasi ekonomi menuntut perhatian lebih jauh, setelah eforia kemerdekaan berlalu.Perhatikan peran ayam dan kucing sebagai bagian dari rakyat, dan bagaimana kali ini pemandang kartun didudukkan pada sudut pandang anak kecil.


“Rumah Baru”
Jika revolusi adalah perubahan besar-besaran yang terjadi dengan cepat, orang-orang yang kehilangan pegangan nilai merasa wajar bersikap liar dan membenarkan tindakan apapun yang menguntungkan dirinya.


Republik Utang
Riwayat kelahiran RI, yang sempat terpojok menjadi RIS, dengan segenap strategi demi pengakuan internasionalnya, terpaksa menerima status berutangnya pula, yang sebelumnya membebani Hindia Belanda. Betapa dalamnya jurang di atas awan itu, tempat jembatan RIS yang rapuh menuju kemakmuran.

 

Copyright gambar-gambar: © 1952 RAMELAN / TINTAMAS

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000