Esai

Ramelan dan Kartun Perdjoeangan: Jendela Sejarah Lain (II)

SW60Plus.com, 16 Agustus 2026, 22:26 WIB

Tradisi Kartun

Terdapat 26 gambar kartun Ramelan yang saya tempatkan dalam buku ini, dari keseluruhan 83 gambar yang terdapat dalam Perdjuangan Republik Indonesia dalam Karikatur setebal 43 halaman, tapi berukuran 14 x 20 cm. Bentuk buku horisontal itu hampir setiap halamannya diisi dua kartun vertikal (kecuali 6 halaman, berisi 3-4 kartun, 1 horisontal), dengan teks yang saya perkirakan baru hadir sebagai pengingat setelah terkumpul dalam buku.

Adapun yang belum saya periksa, jika ada, seperti apakah bunyi narasinya ketika muncul secara aktual, saat peristiwa politik yang digambarkannya sedang atau baru saja berlangsung—tepatnya baru satu atau dua hari saja menjadi sejarah.

Mengikuti tradisi, kartun politis atau kartun tajuk rencana, tujuan utamanya adalah menghadirkan suatu opini. Namun lebih dari sekadar opini, yang dihadirkan kartunis tajuk rencana adalah satir yang kuat, karikatur, dan parodi untuk menyampaikan maksudnya sejelas mungkin. Pengartunan tajuk rencana bukanlah permainan bagi pemikir sambil jalan yang kehendaknya lemah. Pengartunan jenis ini berpihak dan tidak meminta maaf. Merujuk Amerika Serikat, pengartunan tajuk rencana mempunyai tradisi yang kaya dan panjang.

Kartun tajuk rencana adalah penghuni tetap halaman-halaman opini surat kabar, karena khalayak pembaca sangat tanggap, atas kemampuan kartun tajuk rencana menghadirkan argumen kompleks, menggunakan gambar dan kalimat singkat (Fairrington 2009, 23).

Berbeda dengan tradisi kartun Amerika Serikat, yang setidaknya sudah berlangsung dua abad, kartun tajuk rencana di Indonesia biasa memiliki sosok peran yang selalu muncul, seperti pernah dikenal Oom Pasikom gubahan GM Sudarta di Kompas dan si Keong gubahan Pramono di Sinar Harapan. Namun dalam kartun-kartun Ramelan, karena perpindahan dari media ke medianya cukup sering, sosok semacam itu tak ada.

Namun secara sporadis terdapat juga sosok di luar lakon politik, yang dalam berbagai kesempatan tampak sebagai saksi, yang kadang mempertanyakan—demikian pula sosok ayam dan kucing. Seperti terdapat pembedaan, antara yang terlibat (politik), dan yang tidak. Adapun anjing, yang terikat, menyiratkan ironi perubahan sosial pasca-kemerdekaan.

   

     
Tiga manusia, dua kucing, satu ayam, dan satu anjing: di luar lingkaran politik, dengan penanda ironi pada terikatnya anjing

 

Berikut adalah sejumlah perangkat dalam bentuk komunikasi kartun tajuk rencana: (1) tergolong komik satu panil yang menghadirkan peristiwa kunci tunggal; (2) menghadirkan artinya menggambarkan, bukan mengatakan; (3) ikon yang sudah dikenal, seperti peci untuk “Indonesia” dimanfaatkan sebagai metafor visual; (4) kartunis menerima risiko menyinggung seseorang, karena dalam kartun para penguasa dikecilkannya—ditampakkan bodoh serta diejek-ejek agar mendapat gambar lucu yang prima; (5) pada dasarnya satir diandalkan demi kejelasan maksud.

Dari komik satu panil yang bertahan 50 tahun sejak pertengahan abad ke-20, aliran baru pengartunan politis dari Inggris, yang memusatkan perhatian pada karikatur ganas, humor tak kentara, dan kecerdasan licik, mempengaruhi pengaturan Amerika Serikat. Membuatnya beralih dari gambaran ikonik, patriotik, dan sentimental dalam pengartunan politis sejak awal abad ini (ibid. h. 24-5).

Berbagai gejala dari seberang benua itu perlu saya tengok, karena kartun-kartun Ramelan jelas tidak terbentuk dari udara kosong—dan dalam kenyataannya, ketika dibandingkan memang dapat dipekerjakan untuk membuat kartun-kartun Ramelan berbicara lebih daripada apa yang digambarkannya.

 

Kartun Tanpa Basa-Basi

Apa yang segera kentara dari kartun-kartun Ramelan, dipandang dari masa tulisan ini dibuat, adalah kebebasan dan kemerdekaannya dalam melampaui basa-basi hipokrit, yang contohnya dominan semasa Orde Baru (kartun Koruptor—bisa pejabat siapa saja— menyapu bersih korupsi, padahal menjadi bagiannya). Dapat berlaku prinsip tidak perlu meminta maaf, karena menggagas perilaku politik para tokoh dari sudut pandang humor kritis, menjadi adab yang agaknya memang tidak dipertanyakan dalam jurnalisme Indonesia tahun-tahun pasca-kemerdekaan—yang terus berlanjut sampai akhir bulan madu Orde Baru dan Angkatan 1966.

Cara menggambarkan Hatta misalnya, yang sebagai satu dari dwitunggal proklamator secara historis berposisi penting, tanpa sungkan digambarkan sebagai perempuan—padahal unsur ejekannya tertuju kepada pihak Belanda, yang cara membujuknya dianggap nyaris tanpa reserve. Artinya posisi Hatta dalam kartun-kartun itu (ya, sampai empat kali) adalah superior, sebagai pihak yang teguh bertahan dalam rayuan (diplomasi).

Meski begitu, busana perempuan itu tentu berpeluang jadi masalah, dalam literasi yang lebih baik hari ini atas politik gender: bahwa kuasa falogosentrisme (bahasa, makna, dan pengetahuan tersusun demi privilese perspektif maskulin) bekerja dalam penggambaran Hatta sebagai perempuan tersebut. Mengapa harus perempuan yang dianggap bisa, layak, dan mungkin gampang dirayu? Apalagi jika dianggap dan terpuji karena bergeming (= tak bergerak) karena isi busana perempuan itu adalah Hatta (= laki-laki).

     
Busana Perempuan Hatta
Sampai empat kali Hatta dihadirkan berbusana perempuan, tetapi untuk menyerang usaha diplomasi lawan-lawannya: para diplomat Belanda yang bertugas mustahil (mission impossible) mempertahankan Hindia-Belanda.


Bahwa Hatta menjadi tumpuan bulan-bulanan, juga di kartun-kartun lain, menyadarkan peranan besarnya dalam episode awal republik tersebut, meski wilayah Indonesia yang tersahihkan cukup minimalis. Ditambahkan pula, bagaimana Irian atawa Papua sekarang, seolah terlupakan, dengan penggambaran sebagai (makanan?) kaleng yang terjatuh dari buntalan tanpa disadari.

Mungkinkah wilayah sebesar itu terlupakan? Saya tidak ingin berspekulasi, tetapi menengarai kondensasi Papua sebagai makanan dalam kaleng itu. Pertama, bahwa kaleng tersebut kemasan industri yang belum ada di Indonesia pra-1950; kedua, bahwa pada buntalan yang aus dan jebol tersebut ada jahitannya. Mungkinkah ini menunjuk kapasitas delegasi, atau bahkan republik itu sendiri?

Gambaran menarik lain adalah yang tidak digambarkan: Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Disebut secara khusus pun tidak—walau tentu saja bukan tidak ada. Jika buku kartun Ramelan ini dimulai dari perjanjian Renville (1948) dan berakhir sebelum tenggat 1 Januari 1950, peristiwa yang selama ini dianggap besar itu, tentunya adalah salah satu dari peristiwa-peristiwa militer seperti berikut:


Di sini militer tampak berarti

 

Sebaliknya yang tampak penting, bahkan monumental adalah membelotnya Amir Sjarifoeddin yang pernah menjadi perdana menteri, untuk bergabung dengan Musso dalam pemberontakan PKI pada 1948.

Namun apabila karikatur tentang Amir Sjarifoeddin dapat tertafsir sebagai tragika “orang besar” yang menjadi korban lalu-lintas ideologi; keraguan dramatik a la Hamlet bagaikan panggung yang terlalu besar, jika bukan terlalu bagus, bagi mereka yang disebut ‘tidak bertulang punggung’ atawa tidak berkepribadian (nasional).

Benarkah begitu? Sejauh berdasar tampak-kartun, mereka yang nama-namanya tertera di punggung itu terhukum sebagai berpredikat “orang kecil” dalam konotasi buruk.

Betapapun, pada kedua kasus ini, definisi bahwa kartun tidak (perlu) minta maaf sungguh cocok—sesuatu yang kelak kurang berkembang, dengan merebaknya kartun-kartun berkebijakan jangan sampai (perlu) minta maaf.

Sisi lain kartun Ramelan, bahwa melaluinya tertatap pemandangan zaman, dalam visi tertentu, bagi saya tiada kalah menarik dibandingkan isyu politiknya.

Pemandangan maksudnya tampak visual, yang terseleksi kehendak kartunis demi suatu tujuan (encoding = pemberian kode), tetapi penatap kartun dapat mengurai dan mendudukkan kehendak serta tujuan kartunis, dengan perangkat dan siasat penerimaannya sendiri (decoding = pemecahan kode)—sehingga tersaring pemandangan yang bukan lagi objek atau tanda, terbebas dari beban ideologis.

Di lain pihak, membaca ideologi itu sendiri bukannya tidak menarik, karena bukanlah kontestasi antara denotasi (arti ‘sebenarnya’) dan konotasi (arti tambahan) yang bermain di sini, melainkan lapisan-lapisan maknanya, sebagai bagian dari keterbacaan kartun.

Di Atas Gerbong Kereta Api
Peci dalam kewajaran dan keseharian pra-1950

 

Memandang peci yang dikenakan ‘ra’jat’ (rakyat) itu misalnya, terasa nian kehadirannya yang tampak denotatif, sebagai penutup kepala dari kehidupan sehari-hari sahaja. Namun arti konotatifnya sebagai penanda kebangsaan Indonesia, pada masa perdjoeangan, menjadi nyata ketika justru dilucuti dari kepala mereka yang dianggap tak pantas mengenakannya.


Republik Indonesia Terikat
Tidak perlu peci bagi raja-raja kecil, tutup kepala daerah silakan aja

Kemerdekaan kartun yang seperti itu, meskipun bebas dan bisa keras, sejauh menyangkut gubahan Ramelan, terhindar dari hamun maki walau sebagai humor berpotensi sarkas. Sebegitu jauh kreativitas dalam humornya, sampai taraf yang subtil, selalu relevan.

Masih soal peci, di kepala pemimpin tak harus selalu berarti sebagai penanda kebangsaan; sebaliknya, melalui rincian cara mengenakan peci, dalam kartun pemimpin itu dirakyatkan, demi kerangka suatu pesan terselubung: pemimpin yang baik itu kerakyatan.

    
Antara Kebangsaan dan Kerakyatan: Cara Mengenakan Peci
Natsir, Soekarno: penanda kebangsaan Hatta: penanda kerakyatan

Calon Babon: Prospek Riset

Dari buku Perdjuangan Republik Indonesia dalam Karikatur gubahan Ramelan masih banyak yang bisa dipelajari dan dinikmati. Kenyataan bahwa kartun-kartun ini termuat dalam Siasat, Mimbar Indonesia, Majalah Merdeka, Pedoman, Pemandangan, Merdeka, Waspada, membuat pemeriksaan atas haluan politiknya membuka peluang pertimbangan yang lebih luas.

Kajian multidisiplin antara sejarah politik, geopolitik, dan humor, dalam kerangka Cultural Studies, kiranya memadai untuk menghasilkan babon bagi penelitian-penelitian selanjutnya.


© 1952 RAMELAN / TINTAMAS
Sampul asli

© 1949 SUMITRO
Ramelan, kartunis

Masa lalu yang tidak terlalu jauh, tapi yang berkali-kali kembali kabur, ternyata bisa didekati dan ditengok dari jendela lain, seperti yang telah dengan serba sedikit dimungkinkan oleh buku kartun Ramelan ini.

 

Pondok Ranji,

Minggu 5 April 2026. 18:02.

 

Copyright gambar-gambar: © 1952 RAMELAN / TINTAMAS

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000