Esai

Romo AI di Antara Kita

SW60Plus.com, 16 September 2026, 20:19 WIB
Mpu Jaya Prema
Mpu Jaya Prema
· 46x dilihat

Di LERENG Gunung Lawu bulan masih terlalu indah untuk ditatap setelah malam tiba. Baru kemarin purnama yang ketiga dalam hitungan tahun Saka versi Nusantara. Di sebuah pendopo yang  sederhana duduk melingkar puluhan orang. Kebanyakan anak-anak muda.  Mereka datang dari berbagai desa, tapi umumnya masih warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Khususnya dari Kecamatan Ngargoyoso dan Kecamatan Karangpandan. Lebih khusus lagi mereka adalah umat Hindu etnis Jawa.


Saya berada di tengah mereka. Hampir rutin setiap tahun kejadian ini berlangsung di setiap Purnama Ketiga, yang jatuhnya antara akhir Agustus sampai awal September. Saya rajin berkunjung ke Kabupaten Karanganyar di setiap ada ritual di Pura Sapta Pandita Kepasekan yang berada di Dusun Pasekan, Desa Keprabon, Kecamatan Karangpandan. Pura cukup besar itu berada di jalan lintasan menuju obyak wisata Tawangmangu.

Biasanya, selama seminggu di pura itu, ada satu malam saya “diculik” oleh anak-anak muda warga Kemoning diajak ke pura mereka yang sederhana di lereng Lawu yang terhampar indah tanaman teh. Istilahnya “temu wirasa” atau istilah mereka yang lebih sederhana “guyonan” membahas masalah yang mereka hadapi keseharian, khususnya di bidang agama. Mereka memang datang ke Pura Kepasekan pada puncak acara, namun di pura ini – juga di setiap ritual di pura yang ada di Bali – jarang ada pertemuan yang secara khusus membahas masalah-masalah keagamaan.


 “Saya kok mulai jarang menerima pertanyaan lewat WhatsApp lagi. Tahun-tahun lalu masih ramai, sekarang mulai sepi. Ada kesibukan ya? Saya lihat daerah ini memang semakin ramai. Candi Cetho semakin banyak pengunjungnya, juga Candi Sukuh setelah dipugar banyak didatangi turis,” kata pembuka saya setelah basa-basi menyampaikan salam dan mendoakan kesehatan.


Seorang pemuda langsung merespon. “Kami tak ingin lagi merepotkan Romo Mpu. Hanya hal penting saja kami tanyakan ke Romo. Yang receh-receh sudah ada Romo AI,” katanya.


“Siapa Romo AI? Kok pakai inisial, tak boleh disebut nama aslinya?” tanya saya, yang memang tak tahu saat itu.
Pemuda itu tertawa. Setelah memperbaiki cara duduknya sesaat dia bilang: “Romo AI itu sudah sangat terkenal. Artificial Intelligencealias kecerdasan buatan, ah, masak Romo kuper?”


Sadar akan masalahnya saya tertawa. Yang lain pada ikut tertawa, lalu bertepuk tangan. “Sampeyan betul. Romo AI sudah amat terkenal. Dan banyak pula ada Romo AI. Romo bisa menjawab pertanyaan dalam hitungan detik, bahkan lebih cepat dari jika jawaban itu diketik. Luar biasa. Kalau bertanya ke saya atau pendeta yang lain, atau mungkin pula bertanya ke ustadz bagi tetangga kita umat muslim, jawaban bisa lama. Belum lagi kalau hape sang pendeta jadul, hahaha….”


Pertemuan pun jadi cair. Dan itu yang saya suka, saya tak mau memposisikan diri sebagai pendeta yang berceramah. Saya ingin sebagai orang tua yang mengayomi sehingga anak-anak muda itu tak takut mengatakan apa masalah yang dihadapi.
Sudah lama saya mendengar bagaimana mudahnya mendapat penjelasan dan jawaban lewat mesin AI untuk setiap persoalan. Apa pun bisa ditanyakan dan apa pun bisa dijawab oleh AI. Dalam hitungan detik pula. Tak cuma pertanyaan, tapi kalian juga bisa membuat lagu atau film pendek lewat AI. Lihat saja di media sosial betapa banyaknya lagu-lagu buatan AI yang bertujuan merendahkan seseorang, termasuk presiden yang kita jaga kehormatannya.

Betapa banyak foto editan yang memalukan orang. Poster, banner, dan meme yang jorok pun bertebaran di media sosial. Termasuk belakangan ini konten kritik sosial dengan mengeksploitasi anak-anak kecil yang masih di bawah 5 tahun. Semuanya hasil karya AI yang bisa kita kerjakan dengan main perintah saja.


Jadi, masih perlukah kaum ulama, ustadz, guru, pendeta untuk kita jadikan tempat bertanya soal agama? Pertanyaan ini pernah saya  baca di sebuah media, seolah-olah itu pernyataan tanda menyerah. Hal apa pun bisa ditanyakan lewat AI dan jawabannya super cepat dan bisa dipercaya. Diberi sebuah contoh pertanyaan berkaitan dengan ajaran Islam: “Bolehkah dalam Islam bunuh diri itu? Hidup ini sangat berat seperti tak bisa diatasi.” Dalam hitungan detik jawaban muncul: “Dalam Islam bunuh diri itu haram.  Dalilnya QS An-Nisa 29.”


Entah yang bertanya puas atau tidak, penjelasan selanjutnya sangatlah formal. Pada reriungan di lereng Gunung Lawu itu saya mengajak langsung anak-anak muda itu untuk bertanya kepada Meta AI. Saya ketik pertanyaan di hape: “Bisa dijelaskan apa itu Karma Phala?” Meta AI langsung menjawab: “Itu ajaran dalam Hindu Bali, artinya buah dari perbuatan. Intinya apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai.”


Jawaban formal ini lumayan apalagi ditambah penjelasan yang sangat panjang ketika diminta untuk diuraikan. Tidak demikian halnya jika pertanyaan mengarah kepada budaya agama. Saya ketik pertanyaan: “Apa itu yang disebut daksina dalam ritual Hindu Bali?” Jawaban Meta AI: “Pengantar resmi ke Ida Sang Hyang Widhi Wasa.” Semakin kita minta rincian jawaban maka semakin ngawur penjelasannya. Ini berarti “mesin penjawab” dalam AI itu sangatlah beragam sumbernya. Jawaban inti ““Pengantar resmi ke Ida Sang Hyang Widhi Wasa” rupanya terjemahan bebas dari maksud “sarana terpenting dalam sesajen ritual Hindu di Bali.”
 
Bagaimana AI Bekerja
Barangkali perlu dijelaskan dulu bagaimana AI itu bekerja. Mesin AI dilatih dengan membaca miliaran halaman teks dari internet, buku, artikel, kode, dan data lainnya yang disebut proses training. Di dalam model ada jaringan saraf tiruan (neural network) yang sangat besar, terdiri dari miliaran parameter (angka-angka yang disesuaikan selama training). Setiap pertanyaan yang diajukan, AI tidak “mencari jawaban” seperti di Google. Ia mengubah pertanyaan menjadi angka (token), lalu memprediksi urutan kata/token berikutnya yang paling mungkin, berdasarkan pola yang sudah dipelajari. Proses ini disebut inference. Jawaban bisa muncul dalam hitungan detik, bahkan lebih cepat dari orang mengetik.


Modal dasar perusahaan AI adalah sumber informasinya. Dan “mesin sumber” itu bisa berbeda di setiap perusahaan AI. Karena itu jawaban oleh AI tidak peris sama antara satu AI dan lain AI, bahkan bisa berbeda. Contoh, kalau kalian bertanya siapa itu Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, ada AI menjawab mantan wartawan bernama I Putu Setia dan ada jawaban mantan wartawan bernama I Gusti Ngurah Putu Setia. Keduanya salah, mungkin sumber yang dipegang salah dan rancu dengan nama I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang memang membuang nama depannya.


Perusahaan AI yang besar seperti Meta dan Grok (dari kelompok X) punya mesin yang mengakses internet real-time yang kabarnya sangat besar sehingga kesalahan kecil bisa langsung diperbaiki. Ini juga menjelaskan kenapa peristiwa yang baru terjadi beberapa jam sudah bisa dijawab oleh mereka. Grok juga “rendah hati”, misalnya, jika pertanyaan menyangkut kesehatan dan obat, selalu diselipkan kata: “saya bukan dokter, tolong cari informasi tambahan….” Atau kalau sumber yang dia punya berbeda datanya dan tak jelas mana yang benar dan salah, dia sebutkan: “ada info lain mohon dibandingkan….” Cuma saja, karena ini menyangkut dunia bisnis, Grok menjadi aplikasi yang berbayar.


Jadi, mari kita hati-hati dan cermat menggunakan AI dan selalu bersikap kritis. Tak semua jawaban AI yang super cepat itu bisa dipercaya seratus persen. Di sini pun berlaku dunia dagang: mau murah atau gratisan kok minta yang terbaik, bayar dong.
Lalu, apakah para ulama, ustadz, pendeta akan menganggur tak pernah diminta memberikan ceramah agama oleh umat? Apakah semua umat sudah cukup dipuaskan oleh teknologi di dalam hape yang bisa dibawa ke mana-mana ini? Barangkali benar kemajuan AI ini ada pengaruhnya, namun itu sangatlah kecil. Perkembangan dan pergerakan agama adalah pergerakan orang, sesama makhluk Tuhan, apalagi jika seagama. Masjid, pura, gereja, wihara, klenteng didirikan bukan hanya untuk memuja Tuhan saja. Kalau cuma memuja Tuhan, umat Hindu, Muslim, Katolik, Budha bisa di rumah masing-masing. Tempat ibadah itu adalah juga sarana sosialisasi, silaturahmi, saling mengenal. Untuk apa umat Hindu dari Bali bebondong-bondong setiap tahun ke Pura Kepasekan di Karanganyar ini jika tanpa niat silaturahim bersama saudaranya yang jauh dan saling mengenal satu sama lain?


Umat Muslim yang bertanya pada Kiai di pesantren, apakah bunuh diri itu dilarang agama, tentu tak cuma berharap Kiai akan menjawab: jelas dilarang. Dia berharap Sang Kiai akan memeluknya, mengelusnya, meminta apa yang mengganjal dalam hatinya, dan bagaimana menyembuhkan luka hatinya itu. Umat Hindu yang bertanya pada pendeta, apakah daksina wajib dibuat untuk bersembahyang ke Hyang Widhi, Tuhan Yang Esa, pendeta tak cukup bilang: “tak wajib Nak”. Tapi pendeta akan memberi penjelasan, sarana-sarana seperti itu adalah wujud bhakti dan sesuaikan dengan kemampuan, kalau tak bisa membuat dan bahannya tak bisa dibeli, persembahkah hati yang tulus.


Betapa pun majunya AI kita tak akan kehilangan orang tua yang bijak yang selalu mampu menasehati hidup kita, selama kita diberi mulut untuk berbicara dan telinga untuk mendengarkannya. Rahayu.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000