Esai

Salah kamar

SW60Plus.com, 21 September 2026, 07:57 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 37x dilihat

JAUH sebelum dikenal sebagai konsultan manajemen dan penulis buku tentang kerja tim, Patrick Lencioni pernah menjadi pekerja muda yang bingung dengan pekerjaannya. Ia bekerja di sebuah bank dan mengenal perasaan yang mungkin akrab bagi banyak orang: Minggu sore belum selesai, tetapi Senin sudah terasa mengetuk pintu.
Ia menyebut perasaan itu Sunday Blues, kegelisahan yang muncul ketika akhir pekan mulai habis dan hari kerja sudah dekat. Bukan karena ia tidak mampu bekerja, melainkan karena membayangkan kembali harus ke kantor saja sudah menguras semangatnya.


Lencioni kemudian pindah ke dunia periklanan. Kariernya bahkan dimulai dengan menangani klien seperti petting zoo, tetapi anehnya ia jauh lebih bahagia. Rupanya mengurusi tempat orang datang untuk mengelus kambing bisa terasa lebih menyenangkan daripada duduk rapi di balik meja kantor.


Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa masalahnya sederhana: sebelumnya ia berada di tempat yang salah. Temukan pekerjaan yang disukai, masuklah ke rumah yang tepat, lalu hidup akan baik-baik saja.


Bertahun-tahun kemudian, keyakinan itu diuji. Lencioni mendirikan perusahaan konsultasinya sendiri, bekerja dengan orang-orang yang disukainya, mengerjakan sesuatu yang dipercayainya, dan membangun organisasi sesuai dengan nilai-nilainya.
Seharusnya, ia sudah sampai di rumah yang tepat. Namun, pada waktu-waktu tertentu, ia tetap mudah tersinggung.
Ia menyebut kondisi itu the crankies: semacam suasana ketika semua orang di kantor tampaknya baik-baik saja, tetapi entah mengapa kita berharap mereka berbicara sedikit lebih jauh dari meja kita. Dari situlah muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik: jika rumahnya sudah tepat, mengapa ia masih merasa berada di kamar yang salah?


Lencioni dan timnya kemudian berhenti memandang pekerjaan sebagai satu paket besar. Mereka membedah aktivitas sehari-hari dan menemukan bahwa ada pekerjaan yang membuat seseorang merasa hidup, ada yang bisa dilakukan dengan baik tetapi tidak memberi banyak energi, dan ada yang baru dikerjakan sebentar saja sudah membuatnya ingin mencari jalan keluar.


Pengamatan itu kemudian berkembang menjadi The 6 Types of Working Genius. Lencioni (2022) melihat bahwa hampir setiap pekerjaan membutuhkan enam jenis kontribusi: mempertanyakan apa yang kurang, menciptakan kemungkinan, menilai ide, menggerakkan orang, membantu pelaksanaan, dan memastikan pekerjaan benar-benar selesai.


Ia menamainya Wonder, Invention, Discernment, Galvanizing, Enablement, dan Tenacity. Namun, temuan yang lebih mengusik bukanlah bahwa manusia bekerja dengan cara berbeda, melainkan bahwa kita bisa sangat pandai mengerjakan sesuatu yang diam-diam menguras kita.
Di situlah perangkapnya. Kompetensi sering terlihat dari luar, sementara energi hanya dirasakan oleh orang yang menjalankannya.
Bayangkan seseorang yang sangat pandai membuat laporan. Karena pandai, ia diberi laporan lagi; karena berhasil, ia dipercaya mengerjakan laporan yang lebih sulit; lalu karena semakin ahli, organisasi memberinya penghargaan paling klasik untuk pekerja kompeten: lebih banyak pekerjaan yang sama.


Semua orang melihat prestasinya, tetapi tidak banyak yang melihat energinya. Lama-lama ia pun percaya bahwa kamar itu memang tempatnya, padahal mungkin ia hanya menjadi sangat terampil bertahan di sana.

Bagaimana kalau Anda sebenarnya tidak salah memilih rumah—hanya terlalu lama tinggal di kamar yang salah?

Itulah mengapa Lencioni membedakan Working Genius, pekerjaan yang secara alami memberi energi; Working Competency, pekerjaan yang mampu kita lakukan tetapi tidak terlalu menghidupkan; dan Working Frustration, pekerjaan yang cenderung menguras energi. Perbedaan ini penting karena kita terlalu sering menentukan kecocokan hanya dengan satu pertanyaan: “Apakah saya mampu?”


Pertanyaan yang mungkin lebih penting adalah: “Apa yang terjadi pada energi saya saat mengerjakannya?” Sebab mampu melakukan sesuatu dengan baik tidak selalu berarti kita hidup ketika melakukannya.
Namun, mengenali Working Genius bukan berarti setiap mendapat tugas membosankan kita boleh memasang tulisan “bukan kamar saya” di pintu. Semua rumah punya bagian yang tetap harus dibersihkan, dan semua pekerjaan memiliki tugas yang harus diselesaikan meskipun tidak membuat mata berbinar.


Yang berubah adalah cara kita menempatkan diri dan memahami orang lain. Pekerjaan yang menguras saya mungkin justru membuat Anda hidup; sesuatu yang membuat saya menunda sampai kopi ketiga mungkin justru membuat Anda lupa melihat jam.


Di situlah gagasan ini berhenti menjadi sekadar cara memahami diri dan mulai menjadi cara memahami tim. Kita tidak perlu membuat semua orang nyaman di kamar yang sama; kita perlu mengetahui di kamar mana masing-masing orang dapat memberikan kontribusi terbaik.


Sekarang lihat kalender kerja Anda minggu lalu. Dari rapat, laporan, ide, keputusan, bantuan, dan tenggat itu, mana yang membuat Anda pulang dengan lelah tetapi puas—dan mana yang membuat Anda lelah sekaligus kehilangan sedikit dari diri sendiri?
Mungkin kita tidak selalu membutuhkan pekerjaan baru. Kadang-kadang kita hanya perlu berhenti menganggap bahwa sesuatu adalah tempat kita hanya karena kita sudah lama berada di sana.


Sebab ada yang lebih berbahaya daripada gagal di tempat yang salah: berhasil begitu lama di sana, sampai kita lupa rasanya pulang.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Lencioni, P. M. (2022). The 6 types of working genius: A better way to understand your gifts, your frustrations, and your team. Matt Holt.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000