Esai

Sial

SW60Plus.com, 17 Agustus 2026, 07:48 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 9x dilihat

ADA orang yang menunggu keberuntungan seperti menunggu seseorang mengetuk pintu rumah membawa kabar baik. Kita mengintip dari jendela berkali-kali, berharap kesempatan datang, tetapi malam tiba dan yang muncul cuma tagihan listrik.
Min Ji Yoo pernah berada di posisi itu. Di usia dua puluhan, ia bekerja di dunia penyiaran Korea—perusahaan besar, bertemu selebritas, pekerjaan yang dari luar terlihat seperti hidup yang sudah berhasil.
Dari dalam, rumah itu berbeda. Ia bekerja sampai larut, kadang tidak pulang berhari-hari, dan sering kehilangan akhir pekan.
Suatu hari kantor ramai membicarakan seorang aktor yang kabarnya dibayar seratus ribu dolar untuk satu episode. Yoo, produser muda yang bekerja di balik layar, mulai terganggu oleh satu pertanyaan: mengapa dua orang yang sama-sama bekerja keras bisa memperoleh hasil yang begitu berbeda?
Jawaban paling nyaman adalah: keberuntungan. Orang itu beruntung lahir rupawan, yang lain punya koneksi, keluarga kaya, sekolah bagus, atau kebetulan bertemu orang yang tepat.
Semua itu bisa benar. Tetapi Yoo menemukan sesuatu yang lebih tidak nyaman: keberuntungan mungkin membuka pintu, tetapi seseorang tetap harus siap melewatinya.
Masalahnya, pintu Yoo tidak kunjung terbuka.
Ia ingin membuat program televisi, tetapi kesempatan itu tidak diberikan kepadanya. Ia bisa saja menunggu atasannya menyadari potensinya—aktivitas yang cukup populer di kantor, tepat setelah mengeluh tentang rapat yang sebenarnya bisa menjadi email.
Yoo memilih sesuatu yang lain. Selama sekitar seminggu, ia bekerja hingga malam dan menggunakan waktu luangnya untuk membuat video parodi musik.
Ia mengunggahnya ke internet. Video itu mencapai satu juta penonton, bahkan menarik perhatian perusahaan penyiaran lain yang meminta izin menggunakan klipnya.
Lalu Yoo dipanggil atasannya.
Bukan untuk diberi penghargaan. Ia justru dimarahi karena karyanya digunakan kompetitor.
Yoo menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin membuat program televisi, maka ia mencari cara untuk melakukannya. Atasannya tampaknya kesal sekaligus terkesan.
Tak lama kemudian, Yoo mendapat kesempatan memproduksi acaranya sendiri.
Pintu itu akhirnya terbuka—setelah Yoo berhenti menunggu seseorang membukakannya.
Di sinilah keberuntungan menjadi paradoks.
Kita biasa berkata, “Beri saya kesempatan, nanti saya buktikan kemampuan saya.” Kehidupan sering membalik urutannya: “Buktikan dulu kemampuanmu, baru kesempatan tahu ke mana harus datang.”

Mungkin nasib tidak sedang buruk, Anda hanya terlalu lama menunggu kesempatan

Salah satu cara memahami serendipity adalah melihatnya bukan sebagai keberuntungan yang jatuh begitu saja, melainkan pertemuan antara kejadian tak terduga dan kesiapan seseorang mengenali nilainya. Sesuatu yang tidak direncanakan terjadi, tetapi pengalaman, pengetahuan, dan tindakan sebelumnya membuat seseorang mampu melihat peluang yang dilewatkan orang lain.
Dengan kata lain, kesempatan boleh mengetuk tanpa diundang, tetapi kita tetap harus membukakan pintu.
Yang menentukan adalah apakah kita mendengarnya—dan tahu apa yang harus dilakukan setelah membukanya.
Itulah yang terjadi pada Yoo. Satu juta penonton memang tidak ia rencanakan, tetapi video yang ditonton satu juta orang itu tidak pernah muncul secara kebetulan: ia membuatnya terlebih dahulu.
Keberuntungan datang belakangan. Gerakan datang lebih dulu.
Namun ada jebakan lain.
Kadang kita begitu ingin menemukan pintu baru sampai menganggap pintu yang jauh pasti menuju kehidupan lebih baik. Kita mencari keberuntungan di tempat lain, padahal bertahun-tahun hidup sudah meninggalkan petunjuk tentang kekuatan kita di rumah sendiri.
Scott terlambat menyadarinya.
Ia seorang eksekutif keuangan dengan pengalaman dua puluh tahun. Ketika kariernya terancam, ia keluar dan mengejar sesuatu yang dicintainya: olahraga.
Ia membuat aplikasi kesehatan. Gagal.
Ia mencoba pusat kebugaran. Gagal lagi.
Sebagian besar tabungannya terkuras. Masalah Scott bukan kurang berani atau kurang bekerja keras.
Ia meninggalkan ruangan tempat keunggulannya dibangun selama dua puluh tahun: keuangan.
Brian justru mengalami hampir kebalikannya.
Jika Scott memiliki pengalaman berharga tetapi meninggalkannya karena tampak biasa, Brian menerima pengalaman yang tampak tidak berharga—lalu belajar melihat sesuatu di dalamnya.
Masa kecil Brian jauh dari gambaran calon pengusaha sukses. Orang tuanya terobsesi dengan pacuan kuda dan ia bekerja di arena pacuan kuda swasta, mengantar minuman serta membantu orang-orang yang datang berjudi.
Banyak orang mungkin ingin cepat-cepat menutup pintu pada masa lalu seperti itu. Brian justru memperhatikan apa yang terjadi di dalamnya.
Ia belajar membaca manusia: apa yang mereka inginkan, apa yang mereka benci, dan bagaimana mereka mengambil keputusan. Kekurangan pendidikan formal memaksanya menjadi pengamat, dan kemampuan itu kemudian menjadi modal bisnisnya.
Scott mencari keberuntungan dengan meninggalkan apa yang sudah dimilikinya. Brian menemukannya dengan mengenali nilai dari apa yang telanjur diberikan kehidupan.
Kita sering sibuk mencari pintu baru sampai lupa memeriksa ruangan tempat kita sedang berdiri.
Maka The Psychology of Luck sebenarnya memberi tuntutan yang lebih berat daripada sekadar “berpikirlah positif.” Kenali apa yang sudah Anda miliki, bergerak sebelum mendapat jaminan, lalu siapkan diri untuk mengenali kesempatan ketika ia muncul.
Kita ingin pekerjaan baru tetapi tidak mengirim lamaran. Ingin bisnis tumbuh tetapi tidak menawarkan produk. Ingin dikenal tetapi tidak pernah menerbitkan karya.
Kita berdoa agar pintu terbuka. Kadang tangan kita bahkan belum menyentuh gagangnya.
Jadi mungkin pertanyaan tentang keberuntungan bukan, “Kapan giliran saya?”
Pertanyaannya lebih mengganggu: jika kesempatan yang selama ini Anda tunggu mengetuk malam ini, apakah orang yang membuka pintu sudah siap menerimanya?
Sebab keberuntungan bukan pintu yang tak pernah terbuka, melainkan pintu yang terbuka ketika kita belum siap melangkah masuk.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Yoo, M. J. (2024). The psychology of luck: Korean secrets for attracting wealth and success. Ebury Publishing.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000