Subversi Cinta Maulid Diba'i
Klik untuk lihat penuh
SEJARAH yang paling jujur barangkali tidak ditulis dalam bab-bab tebal maklumat sebuah imperium. Melainkan ditorehkan di pinggir halaman sebuah kitab yang rapuh. Di sana, di garis batas antara teks yang agung dan pembaca yang cemas, kata-kata menemukan rahimnya yang kedua.
Mari kita tengok peristiwa menarik pada abad ke-15. Di sebuah sudut kota Zabid di Yaman yang dikepung gurun dan sunyi, seorang lelaki bernama Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad ad-Diba’i asy-Syaibani duduk meraut kalamnya.
Dunia di luar sana, mungkin sedang bising oleh naik-turunnya dinasti. Gaduh akibat gesekan pedang kaum Mamluk, atau debu kafilah dagang yang melintas menuju Laut Merah. Namun, di atas lembaran kertasnya, ad-Diba’i sedang mengubah cara jutaan manusia di belahan bumi lain—termasuk di surau-surau beratap rumbia di Jawa—mengingat masa lalu mereka. Ia sedang melipat waktu.
Puisi adalah ikhtiar untuk menyatakan yang tak tersampaikan. Sebuah jembatan rapuh di atas jurang ingatan yang tak tertembus. Peran penting ad-Diba’i dalam tradisi perayaan maulid terletak tepat di titik itu. Ia bukan sekadar seorang sejarawan atau ahli hadis yang mengumpulkan fakta-fakta kering tentang masa lalu sang Nabi. Ia adalah seorang penyair batin.
Sebelum ad-Diba’i jauh-jauh hari menyusun teks yang kelak kita kenal sebagai Maulid Diba’i, kisah tentang Nabi Muhammad sering kali hadir dalam dua ekstrem yang berjarak.
Di satu sisi, ia adalah teks teologis yang beku. Penuh dengan rantai sanad yang rumit dan doktrin yang dijaga ketat oleh para fukaha. Tapi, di sisi lain, merupakan kisah heroisme perang yang menakutkan. Baris-baris kronik tentang penaklukan yang membuat sosoknya terasa seperti jenderal yang tak tersentuh di puncak bukit batu.
Ad-Diba’i datang dan meruntuhkan jarak itu. Melalui prosa liris dan bait-bait nazam yang berayun bagai perahu di air tenang, ia membawa sang Nabi turun dari langit teologi yang tinggi dan dari medan perang yang berdebu. Lalu menempatkannya di ruang tamu kita yang intim. Ia mengubah sejarah menjadi biografi rasa.
Perhatikan cara dia menyusun teksnya. Teks ad-Diba’i tidak dimulai dengan ketukan palu hakim atau proklamasi kekuasaan. Ia dimulai dengan gema, dengan al-hamdu, sebuah pujian yang universal sebelum meluncur ke dalam detail yang sangat visual dan sensual tentang penciptaan cahaya, rahim seorang ibu, dan malam ketika kosmos menahan napas.
Peran ad-Diba’i menjadi sangat krusial dalam perayaan maulid karena ia menyediakan sebuah "skenario teatrikal bagi jiwa". Melalui teksnya, perayaan itu bukan lagi sekadar mendengarkan ceramah moral dari seorang penceramah yang berdiri di mimbar yang lebih tinggi dari jemaah. Tapi menjadi sebuah peristiwa partisipatif dan ritus kolektif, tatkala batas antara masa lalu dan masa kini, antara yang suci dan yang profan, melebur seketika.
Zabid, kota kelahiran ad-Diba’i, adalah kota para sufi dan sarjana. Di sana, ilmu hadis dipelajari dengan ketat. Namun ia selalu dibasahi oleh air mata kerinduan esoteris. Di tanah kelahirannya, Ad-Diba’i merupakan seorang muhaqqiq, penelaah hadis yang diakui kemampuannya.
Kontribusi terbesarnya bagi perayaan maulid justru terjadi ketika ia memutuskan bahwa kebenaran sejarah tentang Rasulullah Muhammad SAW tidak cukup hanya diverifikasi lewat kesahihan jalur periwayatan (sanad), tapi harus dialami lewat getaran dada (syauq). Ia memadukan ketelitian seorang akademisi dengan kelembutan seorang mistikus yang paham betul rasa sepi manusia.
Struktur narasi maulid, di tangan ad-Diba’i, diubah menjadi simfoni yang memiliki dinamika emosional. Ada saatnya teks itu menuntut pembacanya untuk duduk merunduk, menyimak dengan khidmat rangkaian kalimat prosa yang ritmis. Namun, ada momen yang paling dramatis dalam perayaan itu. Momen yang dipicu oleh instruksi tekstual dan kultural dari karya ad-Diba’i: Asyraqal atau Mahallul Qiyam.
Maka ketika bait "Asyraqal badru 'alaina..." dikumandangkan, seluruh ruangan berdiri. Di sinilah letak kejeniusan budaya dari warisan ad-Diba’i. Berdiri bukan sekadar sikap fisik, tapi ia adalah sebuah metafora kedatangan.
Manusia-manusia yang hidup ratusan tahun setelah Sang Nabi pilihan wafat, tiba-tiba merasa bahwa sosok yang mereka puji itu baru saja melangkah masuk melewati pintu surau. Berbaur di antara saf-saf yang rapat, mencium bau minyak wangi murahan yang dipakai jemaah, dan mendengarkan keluh kesah batin mereka.
Ad-Diba’i berhasil menciptakan sebuah ruang sakral yang elastis. Berupa mesin waktu spiritual, manakala setiap orang bisa menjadi saksi mata dari fajar kelahiran Sang Baginda Rasulullah di Mekkah.
Bagi masyarakat di Nusantara, peran teks ad-Diba’i ini menjadi semacam oase kebudayaan. Ketika Islam datang ke tanah Jawa atau Sumatra, ia tidak datang ke sebuah ruang hampa. Ia bertemu dengan masyarakat yang karib dengan tembang, dengan ritme gamelan, dan upacara-upacara komunal yang merayakan transisi kehidupan.
Kitab Maulid Diba’i meluncur masuk ke dalam struktur mental ini dengan sangat mulus. Istilah diba’an kemudian lahir bukan lagi sekadar sebagai aktivitas membaca sebuah kitab asal Yaman. Melainkan telah menjelma menjadi sebuah kata kerja kebudayaan asli Indonesia yang melintasi sekat-sekat kelas.
Di sinilah kita melihat aspek lain dari kitab maulid ini mengobati masyarakat yang sering gelisah melihat agama mengeras menjadi dogma yang kering. Pada titik ini sering kali terlupakan bahwa manusia memiliki tubuh yang lelah, mata yang bisa menangis, dan kerinduan yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika fikih.
Ad-Diba’i, lewat kitab maulidnya, menyelamatkan agama dari kekeringan itu. Ia memberikan tubuh pada iman. Ia membiarkan iman diekspresikan lewat ketukan rebana, lewat ayunan tubuh yang berzikir, dan lewat vokal yang meliuk-liuk mencari nada tertinggi demi mengekspresikan rasa cinta yang meluap.
Tanpa ad-Diba’i dan para penyusun maulid sezamannya, perayaan Maulid Nabi mungkin hanya akan menjadi peringatan historis yang dingin, serupa hari ulang tahun seorang tokoh besar politik yang diperingati dengan upacara bendera dan pidato-pidato formal yang membosankan.
Tapi ktab ini bukannya tanpa kritik. Bukan dari ruang apresiasi sastra, melainkan kritik dari panggung teologi yang ketat dan ruang sidang historiografi yang dingin.
Bagi para pengkritiknya—terutama dari kalangan puritan dan ahli hadis kontemporer—kitab yang puitis ini dianggap menyimpan bahaya laten yang bisa menggelincirkan akidah umat jika dibaca tanpa nalar kritis.
Gugatan pertama yang paling mendasar adalah mengenai konsep ghuluw, atau sikap berlebih-lebihan dalam memuji seorang makhluk. Di sini batas antara kemanusiaan sang Nabi dan ketuhanan Allah menjadi kabur.
Di awal kitab, Abdurrahman ad-Diba’i menuliskan sebaris kalimat kontroversial. Ia menyatakan bahwa Allah menciptakan cahaya Muhammad dari cahaya-Nya sendiri sebelum alam semesta ini ada.
Penggambaran teks ini, yang berakar pada kosmologi Nur Muhammad SAW, digugat keras karena dianggap meniru teologi luar yang mendewakan para utusan Tuhan. Para kritikus beranggapan, memposisikan Nabi Muhammad sebagai poros asal-usul penciptaan kosmos adalah bentuk pengagungan yang melampaui batas tauhid yang murni.
Badai kritik juga datang dari sudut pandang akurasi sejarah. Sebagai karya yang menceritakan biografi (sirah) kenabian, Maulid Diba’i dinilai terlalu longgar dalam menyaring sumber dan sanad. Ia dikritik karena mencampurkan riwayat yang sahih dengan hadis-hadis yang lemah (dhaif) bahkan palsu (maudhu’) demi menjaga keindahan rima dan dramatisasi cerita.
Struktur syairnya dipenuhi narasi magis yang bombastis seputar malam kelahiran Nabi, seperti penggambaran bumi yang berguncang riang, hewan-hewan padang pasir yang mendadak fasih berbicara bahasa Arab, hingga para bidadari langit yang turun membawa piala berisi cahaya.
Para kritikus sejarah menilai bahwa mengekspresikan penghormatan kepada Nabi seharusnya bersandar pada fakta-fakta sejarah yang valid dan ilmiah. Bukan pada fiksi puitis atau sajak yang bisa mengaburkan kebenaran historis di mata masyarakat awam.
Kritik tajam juga menyasar langsung pada praktik ritual paling puncak dari pembacaan kitab ini, yaitu Mahallul Qiyam tadi. Momen ketika seluruh jemaah berdiri tegak mengumandangkan bait "Ya Nabi salam 'alaika, Ya Rasul salam 'alaika".
Gerakan fisik ini digugat bukan sekadar sebagai tindakan bid'ah yang tidak memiliki preseden dalam generasi awal Islam, melainkan karena keyakinan metafisik yang menyertainya.
Tapi bagi banyak komunitas tradisional, ada asumsi kultural yang kuat terpaku dalam keyakinan mereka. Bahwa saat jemaah berdiri, roh atau kehadiran spiritual sang Nabi benar-benar mewujud di tengah ruangan untuk menyambut salam mereka.
Berbeda dengan pendapat para penentangnya. Keyakinan seperti ini dianggap sebagai kekeliruan fatal yang tidak memiliki dalil sahih. Sekaligus merupakan bentuk penghormatan fisik yang salah alamat kepada sosok yang telah wafat.
Perdebatan ini mencerminkan benturan abadi antara dua cara pandang. Yakni antara kelompok kritikus yang menuntut agama dijalankan dengan rasionalitas teks yang kaku versus kelompok pencinta maulid yang memandang teks ad-Diba’i sebagai puisi cinta. Bagi mereka, bahasa hiperbola dan metafora ekstrem adalah hal yang sah demi mengungkapkan kerinduan yang tak bertepi.
Sejatinya ad-Diba’i ingin memastikan bahwa perayaan maulid adalah sebuah perayaan cinta yang subversif. Tersebab di tengah dunia yang dikuasai oleh hierarki—orang kaya duduk di depan dan orang miskin di belakang—tradisi diba’an meruntuhkan itu semua. Di atas selembar tikar pandan yang sama, di hadapan piring-piring berisi pisang rebus dan kopi tubruk, semua orang memiliki hak suara yang sama untuk memanggil Nabi mereka.Tak ada konduktor tunggal; semua orang adalah paduan suara.
Pada akhirnya apa yang ditinggalkan Abdurrahman ad-Diba’i di pinggir sejarah dunia merupakan sebuah kesadaran hakiki. Bahwa keindahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kebenaran.
Teks maulidnya mengingatkan kita bahwa jalan menuju yang ilahi tidak harus selalu ditempuh dengan dahi yang berkerut karena beban teologis yang berat. Tapi bisa dilewati dengan hati yang lapang, dendang kepasrahan, dan pengakuan jujur bahwa kita adalah makhluk kecil yang selalu rindu untuk pulang ke rumah kasih sayang yang sejati.
Begitulah, ketika suara diba’an sayup-sayup terdengar dari sebuah langgar tua, kita tahu bahwa lelaki dari kota Zabid itu belum benar-benar wafat. Ia masih terus menuliskan syair-syair cintanya kepada Rasulullah di dalam dada kita.*
Mari kita tengok peristiwa menarik pada abad ke-15. Di sebuah sudut kota Zabid di Yaman yang dikepung gurun dan sunyi, seorang lelaki bernama Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad ad-Diba’i asy-Syaibani duduk meraut kalamnya.
Dunia di luar sana, mungkin sedang bising oleh naik-turunnya dinasti. Gaduh akibat gesekan pedang kaum Mamluk, atau debu kafilah dagang yang melintas menuju Laut Merah. Namun, di atas lembaran kertasnya, ad-Diba’i sedang mengubah cara jutaan manusia di belahan bumi lain—termasuk di surau-surau beratap rumbia di Jawa—mengingat masa lalu mereka. Ia sedang melipat waktu.
Puisi adalah ikhtiar untuk menyatakan yang tak tersampaikan. Sebuah jembatan rapuh di atas jurang ingatan yang tak tertembus. Peran penting ad-Diba’i dalam tradisi perayaan maulid terletak tepat di titik itu. Ia bukan sekadar seorang sejarawan atau ahli hadis yang mengumpulkan fakta-fakta kering tentang masa lalu sang Nabi. Ia adalah seorang penyair batin.
Sebelum ad-Diba’i jauh-jauh hari menyusun teks yang kelak kita kenal sebagai Maulid Diba’i, kisah tentang Nabi Muhammad sering kali hadir dalam dua ekstrem yang berjarak.
Di satu sisi, ia adalah teks teologis yang beku. Penuh dengan rantai sanad yang rumit dan doktrin yang dijaga ketat oleh para fukaha. Tapi, di sisi lain, merupakan kisah heroisme perang yang menakutkan. Baris-baris kronik tentang penaklukan yang membuat sosoknya terasa seperti jenderal yang tak tersentuh di puncak bukit batu.
Ad-Diba’i datang dan meruntuhkan jarak itu. Melalui prosa liris dan bait-bait nazam yang berayun bagai perahu di air tenang, ia membawa sang Nabi turun dari langit teologi yang tinggi dan dari medan perang yang berdebu. Lalu menempatkannya di ruang tamu kita yang intim. Ia mengubah sejarah menjadi biografi rasa.
Perhatikan cara dia menyusun teksnya. Teks ad-Diba’i tidak dimulai dengan ketukan palu hakim atau proklamasi kekuasaan. Ia dimulai dengan gema, dengan al-hamdu, sebuah pujian yang universal sebelum meluncur ke dalam detail yang sangat visual dan sensual tentang penciptaan cahaya, rahim seorang ibu, dan malam ketika kosmos menahan napas.
Peran ad-Diba’i menjadi sangat krusial dalam perayaan maulid karena ia menyediakan sebuah "skenario teatrikal bagi jiwa". Melalui teksnya, perayaan itu bukan lagi sekadar mendengarkan ceramah moral dari seorang penceramah yang berdiri di mimbar yang lebih tinggi dari jemaah. Tapi menjadi sebuah peristiwa partisipatif dan ritus kolektif, tatkala batas antara masa lalu dan masa kini, antara yang suci dan yang profan, melebur seketika.
Zabid, kota kelahiran ad-Diba’i, adalah kota para sufi dan sarjana. Di sana, ilmu hadis dipelajari dengan ketat. Namun ia selalu dibasahi oleh air mata kerinduan esoteris. Di tanah kelahirannya, Ad-Diba’i merupakan seorang muhaqqiq, penelaah hadis yang diakui kemampuannya.
Kontribusi terbesarnya bagi perayaan maulid justru terjadi ketika ia memutuskan bahwa kebenaran sejarah tentang Rasulullah Muhammad SAW tidak cukup hanya diverifikasi lewat kesahihan jalur periwayatan (sanad), tapi harus dialami lewat getaran dada (syauq). Ia memadukan ketelitian seorang akademisi dengan kelembutan seorang mistikus yang paham betul rasa sepi manusia.
Struktur narasi maulid, di tangan ad-Diba’i, diubah menjadi simfoni yang memiliki dinamika emosional. Ada saatnya teks itu menuntut pembacanya untuk duduk merunduk, menyimak dengan khidmat rangkaian kalimat prosa yang ritmis. Namun, ada momen yang paling dramatis dalam perayaan itu. Momen yang dipicu oleh instruksi tekstual dan kultural dari karya ad-Diba’i: Asyraqal atau Mahallul Qiyam.
Maka ketika bait "Asyraqal badru 'alaina..." dikumandangkan, seluruh ruangan berdiri. Di sinilah letak kejeniusan budaya dari warisan ad-Diba’i. Berdiri bukan sekadar sikap fisik, tapi ia adalah sebuah metafora kedatangan.
Manusia-manusia yang hidup ratusan tahun setelah Sang Nabi pilihan wafat, tiba-tiba merasa bahwa sosok yang mereka puji itu baru saja melangkah masuk melewati pintu surau. Berbaur di antara saf-saf yang rapat, mencium bau minyak wangi murahan yang dipakai jemaah, dan mendengarkan keluh kesah batin mereka.
Ad-Diba’i berhasil menciptakan sebuah ruang sakral yang elastis. Berupa mesin waktu spiritual, manakala setiap orang bisa menjadi saksi mata dari fajar kelahiran Sang Baginda Rasulullah di Mekkah.
Bagi masyarakat di Nusantara, peran teks ad-Diba’i ini menjadi semacam oase kebudayaan. Ketika Islam datang ke tanah Jawa atau Sumatra, ia tidak datang ke sebuah ruang hampa. Ia bertemu dengan masyarakat yang karib dengan tembang, dengan ritme gamelan, dan upacara-upacara komunal yang merayakan transisi kehidupan.
Kitab Maulid Diba’i meluncur masuk ke dalam struktur mental ini dengan sangat mulus. Istilah diba’an kemudian lahir bukan lagi sekadar sebagai aktivitas membaca sebuah kitab asal Yaman. Melainkan telah menjelma menjadi sebuah kata kerja kebudayaan asli Indonesia yang melintasi sekat-sekat kelas.
Di sinilah kita melihat aspek lain dari kitab maulid ini mengobati masyarakat yang sering gelisah melihat agama mengeras menjadi dogma yang kering. Pada titik ini sering kali terlupakan bahwa manusia memiliki tubuh yang lelah, mata yang bisa menangis, dan kerinduan yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika fikih.
Ad-Diba’i, lewat kitab maulidnya, menyelamatkan agama dari kekeringan itu. Ia memberikan tubuh pada iman. Ia membiarkan iman diekspresikan lewat ketukan rebana, lewat ayunan tubuh yang berzikir, dan lewat vokal yang meliuk-liuk mencari nada tertinggi demi mengekspresikan rasa cinta yang meluap.
Tanpa ad-Diba’i dan para penyusun maulid sezamannya, perayaan Maulid Nabi mungkin hanya akan menjadi peringatan historis yang dingin, serupa hari ulang tahun seorang tokoh besar politik yang diperingati dengan upacara bendera dan pidato-pidato formal yang membosankan.
Tapi ktab ini bukannya tanpa kritik. Bukan dari ruang apresiasi sastra, melainkan kritik dari panggung teologi yang ketat dan ruang sidang historiografi yang dingin.
Bagi para pengkritiknya—terutama dari kalangan puritan dan ahli hadis kontemporer—kitab yang puitis ini dianggap menyimpan bahaya laten yang bisa menggelincirkan akidah umat jika dibaca tanpa nalar kritis.
Gugatan pertama yang paling mendasar adalah mengenai konsep ghuluw, atau sikap berlebih-lebihan dalam memuji seorang makhluk. Di sini batas antara kemanusiaan sang Nabi dan ketuhanan Allah menjadi kabur.
Di awal kitab, Abdurrahman ad-Diba’i menuliskan sebaris kalimat kontroversial. Ia menyatakan bahwa Allah menciptakan cahaya Muhammad dari cahaya-Nya sendiri sebelum alam semesta ini ada.
Penggambaran teks ini, yang berakar pada kosmologi Nur Muhammad SAW, digugat keras karena dianggap meniru teologi luar yang mendewakan para utusan Tuhan. Para kritikus beranggapan, memposisikan Nabi Muhammad sebagai poros asal-usul penciptaan kosmos adalah bentuk pengagungan yang melampaui batas tauhid yang murni.
Badai kritik juga datang dari sudut pandang akurasi sejarah. Sebagai karya yang menceritakan biografi (sirah) kenabian, Maulid Diba’i dinilai terlalu longgar dalam menyaring sumber dan sanad. Ia dikritik karena mencampurkan riwayat yang sahih dengan hadis-hadis yang lemah (dhaif) bahkan palsu (maudhu’) demi menjaga keindahan rima dan dramatisasi cerita.
Struktur syairnya dipenuhi narasi magis yang bombastis seputar malam kelahiran Nabi, seperti penggambaran bumi yang berguncang riang, hewan-hewan padang pasir yang mendadak fasih berbicara bahasa Arab, hingga para bidadari langit yang turun membawa piala berisi cahaya.
Para kritikus sejarah menilai bahwa mengekspresikan penghormatan kepada Nabi seharusnya bersandar pada fakta-fakta sejarah yang valid dan ilmiah. Bukan pada fiksi puitis atau sajak yang bisa mengaburkan kebenaran historis di mata masyarakat awam.
Kritik tajam juga menyasar langsung pada praktik ritual paling puncak dari pembacaan kitab ini, yaitu Mahallul Qiyam tadi. Momen ketika seluruh jemaah berdiri tegak mengumandangkan bait "Ya Nabi salam 'alaika, Ya Rasul salam 'alaika".
Gerakan fisik ini digugat bukan sekadar sebagai tindakan bid'ah yang tidak memiliki preseden dalam generasi awal Islam, melainkan karena keyakinan metafisik yang menyertainya.
Tapi bagi banyak komunitas tradisional, ada asumsi kultural yang kuat terpaku dalam keyakinan mereka. Bahwa saat jemaah berdiri, roh atau kehadiran spiritual sang Nabi benar-benar mewujud di tengah ruangan untuk menyambut salam mereka.
Berbeda dengan pendapat para penentangnya. Keyakinan seperti ini dianggap sebagai kekeliruan fatal yang tidak memiliki dalil sahih. Sekaligus merupakan bentuk penghormatan fisik yang salah alamat kepada sosok yang telah wafat.
Perdebatan ini mencerminkan benturan abadi antara dua cara pandang. Yakni antara kelompok kritikus yang menuntut agama dijalankan dengan rasionalitas teks yang kaku versus kelompok pencinta maulid yang memandang teks ad-Diba’i sebagai puisi cinta. Bagi mereka, bahasa hiperbola dan metafora ekstrem adalah hal yang sah demi mengungkapkan kerinduan yang tak bertepi.
Sejatinya ad-Diba’i ingin memastikan bahwa perayaan maulid adalah sebuah perayaan cinta yang subversif. Tersebab di tengah dunia yang dikuasai oleh hierarki—orang kaya duduk di depan dan orang miskin di belakang—tradisi diba’an meruntuhkan itu semua. Di atas selembar tikar pandan yang sama, di hadapan piring-piring berisi pisang rebus dan kopi tubruk, semua orang memiliki hak suara yang sama untuk memanggil Nabi mereka.Tak ada konduktor tunggal; semua orang adalah paduan suara.
Pada akhirnya apa yang ditinggalkan Abdurrahman ad-Diba’i di pinggir sejarah dunia merupakan sebuah kesadaran hakiki. Bahwa keindahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kebenaran.
Teks maulidnya mengingatkan kita bahwa jalan menuju yang ilahi tidak harus selalu ditempuh dengan dahi yang berkerut karena beban teologis yang berat. Tapi bisa dilewati dengan hati yang lapang, dendang kepasrahan, dan pengakuan jujur bahwa kita adalah makhluk kecil yang selalu rindu untuk pulang ke rumah kasih sayang yang sejati.
Begitulah, ketika suara diba’an sayup-sayup terdengar dari sebuah langgar tua, kita tahu bahwa lelaki dari kota Zabid itu belum benar-benar wafat. Ia masih terus menuliskan syair-syair cintanya kepada Rasulullah di dalam dada kita.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar