Esai

5 Menit Saja

SW60Plus.com, 19 Juli 2026, 15:25 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 41x dilihat

Kenapa satu kekalahan bisa membuat seseorang menyerah, sementara puluhan kemenangan belum tentu membuat orang lain merasa berhasil?


Ada dua jenis manusia yang mudah ditemukan.

Yang pertama kalah sekali lalu menghilang.

Yang kedua menang terus, tetapi wajahnya tetap seperti habis dimarahi bos.

Kelihatannya berbeda.

Padahal masalahnya sama.

Yang satu kekurangan kemenangan.

Yang satu lagi adalah kekurangan rasa cukup.

Dan Sullivan menyebut keadaan itu sebagai The GAP.

Kita sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.

Akibatnya, lupa menghargai apa yang sudah dimiliki.

Kebalikannya adalah The GAIN.

Bukan tentang berjalan lebih cepat.

Tetapi sesekali berhenti untuk melihat seberapa jauh kita sudah berjalan.

Ada sebuah tim sepak bola wanita dari Principia College yang membuktikannya. Ironisnya, sebagian besar pemainnya bahkan belum pernah bermain sepak bola sebelumnya.

Mereka bukan tim unggulan. Kalau dibuat film, mungkin penonton akan mengira ini kisah tentang bagaimana cara kalah dengan elegan.

Musim itu dimulai dengan cara yang menyakitkan. 

Mereka kalah.

Berkali-kali.

Beberapa kali bahkan dihajar dengan skor yang membuat papan angka terlihat seolah sedang menghina.

Kadang telaknya sampai perjalanan pulang terasa lebih panjang daripada pertandingannya.

Tidak ada yang bercanda di dalam bus.

Sang pelatih melihat satu masalah yang lebih besar daripada kemampuan menggiring bola. Bukan soal teknik, tetapi soal apa yang terjadi di kepala para pemain setelah kalah.

Karena itu, ia membuat aturan yang terdengar aneh. Setelah pertandingan selesai, semua pemain diberi waktu tepat lima menit untuk bersedih.

Silakan kecewa. Silakan mengeluh, menangis, atau merasa menjadi tim paling sial di planet ini. 

Tetapi hanya lima menit.

Setelah itu, selesai.

Pelatih tidak melarang emosi negatif. Ia hanya memberi batas waktu, karena kesedihan juga perlu tahu kapan harus pulang.

Karena pelatih itu tahu satu hal.

Kesedihan yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi identitas.

Begitu alarm berbunyi, sesi berikutnya dimulai. Selama sepuluh menit, setiap pemain harus menyebutkan apa saja yang berjalan baik selama pertandingan.

Tidak boleh membahas skor. Yang dicari hanyalah kemajuan, sekecil apa pun bentuknya.

Mungkin operan mereka lebih rapi. Mungkin stamina mereka lebih kuat, atau mungkin hari itu mereka cuma kebobolan lima gol, padahal minggu lalu delapan.

Kalau dipikir-pikir, itu juga perkembangan. Memang belum layak dirayakan dengan konvoi, tetapi tetap lebih baik daripada kemarin.

Setelah itu, semua pemain wajib memuji rekan setimnya. Pujian itu harus spesifik, bukan sekadar, "Kamu hebat," yang biasanya terdengar seperti ucapan selamat dari MC acara.

Pelan-pelan mereka belajar melihat sesuatu yang sering tertutup oleh rasa kecewa. Ternyata, bahkan di dalam kekalahan pun selalu ada kemajuan yang bisa ditemukan.

Begitu sesi selesai, pertandingan dianggap berakhir. Tidak boleh dibahas lagi, karena besok masih ada latihan yang membutuhkan energi lebih daripada penyesalan.

Hasilnya mengejutkan. Pada paruh pertama musim mereka kalah dalam semua pertandingan, tetapi pada paruh kedua mereka memenangkan semuanya hingga akhirnya menjadi juara nasional Divisi II NCAA.

Mereka tidak berubah menjadi pemain paling berbakat dalam semalam. Mereka masih kalah.

Bedanya, kekalahan tidak lagi menjadi alamat rumah mereka.

Ternyata, kebiasaan tinggal terlalu lama dalam kekalahan bukan hanya terjadi di lapangan sepak bola. Ada orang yang sudah menang berkali-kali dalam hidup, tetapi tetap merasa kalah. Salah satunya adalah Edward.

Berbeda dengan tim Principia yang sering kalah, Edward justru hampir selalu menang.

Pada usia awal 40-an, Edward sudah memiliki kekayaan sekitar 2,5 juta dolar.

Jumlah yang bagi kebanyakan orang sudah cukup untuk berhenti mengkhawatirkan uang.

Namun, Edward justru berkata, "Kalau aset saya mencapai lima juta dolar, saya baru akan merasa aman."

Ketika angka lima juta dolar akhirnya tercapai, seharusnya kisah ini berakhir dengan bahagia.

Sayangnya, yang berubah hanya saldonya. Kecemasannya tetap sama.

Rupanya rasa aman memang tidak bisa ditransfer lewat rekening.

Tidak lama kemudian, lima juta dolar terasa kurang.

Kali ini targetnya sepuluh juta.

Kalau hidup ini permainan, Edward sebenarnya sudah menang telak. Masalahnya, wasit di kepalanya tidak pernah mau meniup peluit penutup.

Ia tetap cemas. Ia tetap takut kehilangan semuanya, sampai akhirnya menarik seluruh investasinya karena merasa dunia akan segera runtuh.

Ironisnya, setelah ia keluar dari pasar, nilai investasi justru melonjak tajam. Edward kehilangan bukan karena kurang pintar, tetapi karena rasa takut berbicara lebih keras daripada akal sehat.

Di sinilah jebakan The GAP bekerja. Garis finis selalu bergerak menjauh setiap kali kita mendekatinya.

Kita berkata, "Kalau rumah sudah lunas, saya akan bahagia."

Setelah lunas, tiba-tiba rumah tetangga terlihat lebih luas.

Rumputnya juga tampak lebih hijau, padahal mungkin pupuknya sama.

Target bukan musuh.

Menjadikannya ukuran harga diri, itulah masalahnya.

Padahal, hidup terasa lebih adil ketika kita sesekali menoleh ke belakang.

Baru kita sadar, ternyata perjalanan kita sudah sejauh ini.

Tim sepak bola itu belajar merayakan kemajuan kecil.

Edward lupa melakukannya.

Yang satu sering kalah, tetapi akhirnya menjadi juara.

Yang satu sering menang, tetapi tidak pernah merasa berhasil.

Mungkin kebahagiaan memang bukan hadiah yang menunggu di ujung perjalanan.

Mungkin ia sudah menemani kita sejak langkah pertama, tetapi kita terlalu sibuk berlari untuk menyadarinya.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Hidup lebih sering ditentukan oleh siapa yang masih sempat menoleh ke belakang.

Sebab sering kali yang kurang bukan keberhasilan. Yang kurang hanyalah rasa cukup.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000