Sempurna
EMMA punya kehidupan yang mungkin membuat banyak orang iri. Ia cantik, mahasiswa honors, mengambil dua jurusan—finance dan psychology—serta menjadi pengurus salah satu sorority bergengsi di kampusnya.
Kalau kehidupan bisa dinilai seperti CV, Emma mestinya cukup percaya diri. Prestasi ada, pergaulan ada, organisasi bergengsi ada, dan penampilan pun tidak menjadi persoalan.
Tetapi Emma tetap bisa merasa hidup orang lain lebih menarik. Cukup membuka media sosial, melihat beberapa foto, lalu muncul perasaan kecil yang mengganggu: “Kok hidup mereka lebih enak, ya?”
Ketika musim panas tiba, misalnya, teman-temannya mengunggah foto dengan pakaian renang, tubuh bagus, wajah bahagia, dan berbagai kegiatan menyenangkan. Emma melihat mereka dan mulai berpikir, “Aku ingin seperti mereka.”
Padahal sangat mungkin, pada saat yang sama, seseorang sedang membuka Instagram, melihat Emma, lalu berpikir persis sama. “Aku ingin seperti dia.”
Kita mungkin pernah menjadi Emma.
Malam-malam sebelum tidur, niat awalnya cuma melihat ponsel sebentar. Kata “sebentar” di media sosial memang mempunyai pengertian waktu yang cukup longgar.
Lima menit kemudian, kita tahu teman SMA sedang liburan. Sepuluh menit kemudian kita tahu teman kuliah mendapat promosi, seseorang menikah, seseorang membeli rumah, dan orang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kita ajak bicara ternyata sedang menikmati matahari terbenam di tempat yang namanya saja kita harus Google dulu.
Lalu tanpa diminta, otak mulai melakukan audit kehidupan.
Saya sudah sampai mana?
Aneh, sebab sebelum membuka ponsel tadi sebenarnya hidup kita baik-baik saja. Tidak ada musibah yang terjadi dalam sepuluh menit terakhir, tidak ada yang hilang, dan tidak ada keputusan hidup yang tiba-tiba berubah.
Kita hanya melihat kehidupan orang lain.
Tetapi sekarang pekerjaan sendiri terasa kurang hebat. Rumah terasa kurang besar, penghasilan terasa kurang banyak, pasangan kurang romantis, liburan kurang jauh, bahkan akhir pekan yang tadinya menyenangkan mendadak terlihat kurang produktif.
Belum lagi kalau muncul orang yang pukul lima pagi sudah berlari sepuluh kilometer. Kita yang baru berhasil membuka mata mendapat ucapan dari layar: “Morning run. Grateful.”
Terima kasih. Pagi-pagi sudah diingatkan bahwa hidup kita kurang disiplin.
Emma rupanya memahami jebakan ini dengan sangat baik. Ia mengatakan bahwa orang membagikan versi terbaik dirinya, sementara kita sering membandingkannya dengan versi terburuk diri kita sendiri.
Kalimat itu sederhana, tetapi di situlah persoalannya.
Kita tahu semuanya tentang kehidupan sendiri. Kita tahu target yang gagal, saldo rekening, cicilan, hubungan yang sedang renggang, berat badan yang naik, keputusan bodoh tahun lalu, sampai kecemasan yang bahkan tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Tentang orang di Instagram?
Kita mungkin hanya tahu 17 detik.
Tujuh belas detik itulah yang kita adu dengan 24 jam kehidupan kita sendiri. Kita membandingkan satu potongan terbaik milik orang lain dengan seluruh isi kehidupan kita—termasuk bagian yang berantakan.
Tentu saja kita kalah.
Donna Freitas menemukan pola serupa ketika meneliti kehidupan mahasiswa dan media sosial. Dalam surveinya, 73 persen responden yang menjawab pertanyaan terkait mengatakan mereka berusaha selalu terlihat positif atau bahagia pada unggahan yang melekat pada nama asli mereka.
Bayangkan jika banyak orang melakukan hal yang sama. Yang sedang sedih tetap mengunggah ulang tahun, yang sedang cemas memasang foto liburan, yang pekerjaannya sedang berantakan masih sempat tersenyum ketika makan malam bersama keluarga.
Tidak ada yang palsu di sana. Senyumnya mungkin sungguhan, liburannya benar-benar terjadi, promosinya nyata, dan keluarganya memang bahagia malam itu.
Hanya saja, yang benar belum tentu lengkap.
Kita melihat seseorang mendapat promosi, tetapi tidak melihat lima penolakan sebelumnya. Kita melihat pasangan tersenyum di Bali, tetapi tidak tahu apakah setengah jam sebelumnya mereka bertengkar gara-gara charger tertinggal di hotel.
Kita melihat teman membeli rumah, tetapi tidak melihat angka cicilan yang akan menemaninya lebih lama daripada sebagian teman sekolah. Kita melihat seseorang menerima penghargaan, tetapi tidak melihat malam ketika ia pulang dan bertanya apakah semua usahanya ada gunanya.
Media sosial tidak perlu berbohong untuk membuat kita salah paham. Ia cukup tidak menceritakan semuanya.
Freitas menyebut keadaan ini “the happiness effect.” Ketika orang merasa perlu selalu terlihat bahagia, kita akhirnya melihat kumpulan kebahagiaan yang sudah dipilih, lalu membandingkannya dengan kehidupan sendiri yang datang lengkap—bahagia, sedih, berhasil, gagal, percaya diri, takut, semuanya.
Emma sebenarnya tahu semua itu. Ia sadar orang memilih apa yang ingin mereka tampilkan, tetapi pengetahuan tersebut ternyata tidak otomatis membuatnya berhenti membandingkan diri.
Mungkin kita juga begitu.
Kita tahu foto bisa dipilih dan wajah bisa diedit. Kita tahu kesuksesan bisa dikemas dan kehidupan seseorang tidak mungkin selalu seindah feed-nya.
Tetapi tetap saja kadang kena.
Terutama ketika hidup sedang tidak berjalan sesuai rencana. Pada saat seperti itu, satu foto keberhasilan orang lain bisa terasa seperti pengumuman diam-diam tentang kegagalan kita.
Padahal orang yang sedang kita iri mungkin sedang melakukan hal yang sama. Ia melihat seseorang yang lebih kaya, orang yang lebih kaya melihat seseorang yang lebih terkenal, sementara orang terkenal itu mungkin sedang melihat keluarga sederhana yang makan bersama tanpa kamera dan berpikir, “Enak ya hidupnya.”
Putarannya tidak pernah selesai. Akan selalu ada seseorang yang tampak lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, lebih romantis, lebih produktif, lebih bahagia, atau sekadar lebih fotogenik ketika memegang secangkir kopi.
Mungkin itu sebabnya mengejar kesempurnaan begitu melelahkan. Garis finisnya selalu berpindah mengikuti siapa yang terakhir kita lihat.
Dan kalau dipikir-pikir, kehidupan sempurna di media sosial mungkin memang hanya berlangsung beberapa detik. Kamera diarahkan, meja dirapikan, perut sedikit ditahan, semua tersenyum, lalu seseorang berkata, “Yang tadi bagus. Upload itu.”
Setelah kamera diturunkan, kehidupan kembali menjadi kehidupan. Ada piring kotor, pekerjaan yang belum selesai, cicilan, hubungan yang perlu diperbaiki, orang tua yang semakin tua, mimpi yang belum tercapai, dan pagi ketika kita bangun tanpa merasa hebat sama sekali.
Anehnya, bagian-bagian itu jarang mendapat likes. Padahal justru di sanalah sebagian besar kehidupan berlangsung.
Dan mungkin Emma meninggalkan satu pertanyaan yang lebih penting daripada semua foto sempurna itu. Bagaimana kalau orang yang hidupnya sedang kita inginkan ternyata sedang melihat hidup orang lain dan merasa dirinya juga belum cukup?
Bisa jadi malam ini orang yang kita anggap sudah memiliki segalanya sedang berbaring di tempat tidurnya. Ia membuka ponsel, menggulir beberapa foto, terdiam sebentar, lalu mengucapkan kalimat yang sangat kita kenal:
“Kok hidup orang lain enak, ya?”
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Freitas, D. (2017). The happiness effect: How social media is driving a generation to appear perfect at any cost. Oxford University Press.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar