Esai

78 Juta View, Luar Biasa

SW60Plus.com, 01 November 2026, 10:26 WIB
Ahmadie Thaha
Ahmadie Thaha
· 9x dilihat

SEBUAH fenomena YouTube yang satu ini mula-mula membuat saya mengangkat alis, kemudian mengernyitkan dahi, lalu tergoda untuk duduk selama hampir tiga jam di depan layar.

Seorang perempuan Indonesia bercerita tentang kematian, rumah tangga, hantu, dan pesugihan. Videonya, PULANG, ditonton 78 juta orang.

Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025) yang dianggap sebagai film layar lebar dengan penonton terbanyak hanya menjangkau 11 juta orang.

Sebelum lanjut, saya perlu memperkenalkan dulu siapa dia. Namanya Nadia Fairuz Omara lahir di Banda Aceh dan menempuh pendidikan hukum di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hingga lulus pada 2014.

Sebelum terjun ke YouTube, ia pernah bekerja sebagai tenaga penjualan di perusahaan kesehatan, kemudian memasuki dunia perbankan.

Pada 2019, ia memutuskan menjadi kreator konten dengan modal sangat sederhana: kamera telepon genggam, tumpukan barang sebagai penyangga kamera, dan laptop untuk menyunting video.

Ia memulai dengan mengangkat kisah-kisah misteri, sejarah, kasus kriminal, religi, dan cerita horor kiriman penonton yang kemudian ia populerkan melalui serial KHW (Kisah Horor Wawak).

Dari eksperimen sederhana itu, Nadia membangun kanal yang menjangkau jutaan pelanggan dan menjadi salah satu storyteller digital Indonesia yang paling dikenal.

Perjalanannya menarik karena ia mengawali bisnis media digital tanpa investasi peralatan besar. Ia terlebih dahulu membangun audiens, kemudian meningkatkan kualitas produksi seiring pertumbuhan kanalnya.

Yang membuat saya melongo, jumlah penonton videonya terbaru, PULANG  – KHW Part 400 yang berdurasi 2 jam 41 menit, mencapai 78 juta hanya dalam waktu sekitar sepekan.

Saya termasuk orang yang selama ini kurang tertarik menonton orang bercerita di YouTube. Waktu terasa terlalu berharga untuk dihabiskan mendengarkan seseorang menuturkan kisah berjam-jam.

Namun, angka puluhan juta itu membuat saya bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah kita sedang menyaksikan kelahiran bintang hiburan jenis baru? Ataukah industri storytelling menemukan tambang emas yang selama ini luput dari perhatian?

Pertanyaan itu perlu kita periksa dengan kepala dingin. Dunia digital penuh angka besar, tetapi angka besar juga membutuhkan pemeriksaan besar. Maka 78 juta: angka yang harus saya periksa.

Nadia mengunggah PULANG, 25 Oktober 2026. Sejumlah media Indonesia kemudian melaporkan lonjakan penayangannya. Medcom mencatat 24 juta views pada 28 Oktober.

Kemudian, detikPop melaporkan viewnya 40 juta pada 29 Oktober. tvOne memberitakan 44 juta pada tanggal yang sama. Pada 30 Oktober, makin banyak media yang menyebut angka sekitar 57 juta.

Data pelacak YouTube YouthVid bahkan mencatat 59,2 juta penayangan pada 30 Oktober. Sementara itu, vidIQ mencatat sekitar 71,97 juta pada 31 Oktober.

Angka terakhir inilah yang mendekati klaim 78 juta yang beredar, tetapi belum membenarkan angka persis tersebut.

Jadi, kesimpulan sementara saya: ledakan penayangan itu nyata. Saya sudah memverifikasi langsung pada penghitung YouTube, klaim 78 juta dalam sepekan itu betul.

Perbedaan angka antarsitus juga wajar terjadi karena waktu pengambilan data dan pembaruan statistik mereka tidak selalu serempak.

Dalam melihat view, kita perlu membedakan tiga hal: jumlah penayangan, jumlah penonton unik, dan jumlah orang yang menyelesaikan video.

Di YouTube, satu orang bisa menonton berkali-kali. Satu penayangan juga tidak berarti seseorang menyaksikan seluruh 161 menit.

YouTube menghitung penayangan menurut mekanisme platform mereka. Sedangkan data penonton unik dan durasi tonton terperinci berada dalam YouTube Analytics, yang hanya dimiliki sang kreator.

Kendati demikian, angka 59–72 juta dalam kurang dari sepekan sudah merupakan pencapaian luar biasa.

Bahkan, kanal Nadia sendiri memiliki sekitar 17,9 juta pelanggan. Menurut data vidIQ per 31 Oktober 2026, ia mencatat total penayangan sekitar 5,09 miliar. Sekali lagi, ini luar biasa.

-000-

Namun, saya perlu memberikan satu koreksi penting terhadap pesan viral yang menyebutnya sebagai pemegang rekor dunia.

Saya belum menemukan pengesahan Guinness World Records atau basis data global independen yang menetapkan PULANG sebagai video storytelling horor paling banyak ditonton sepanjang sejarah YouTube.

Kategori “storytelling horor berdurasi panjang” juga belum mempunyai klasifikasi resmi yang seragam. Karena itu, kita boleh menyebutnya fenomena global yang luar biasa, tetapi belum boleh mengumumkannya sebagai rekor dunia yang sudah terverifikasi.

Untuk mengukur posisi Nadia di tingkat dunia, kita perlu memakai ukuran yang tepat.

Guinness World Records mencatat Baby Shark sebagai video YouTube paling banyak ditonton secara keseluruhan, dengan 16,64 miliar views per 4 Februari 2026. Kategori itu tentu berbeda jauh dari video storytelling horor.

Masalahnya, YouTube tidak menyediakan tangga peringkat resmi khusus untuk video narasi horor berdurasi panjang.

Kita juga mesti membedakan video horor animasi, film pendek, kompilasi kisah seram, podcast, dan seorang narator yang membawakan satu cerita panjang di depan kamera.

Karena itu, saya kira paling aman, mengklaim PULANG sebagai pencetak salah satu ledakan penayangan paling fenomenal yang berhasil saya temukan dalam format storytelling horor panjang.

Saya belum bisa menetapkan peringkat nomor satu dunia. Untuk membuktikannya, kita membutuhkan perbandingan dengan seluruh video sejenis, termasuk kanal berbahasa Inggris, Hindi, Spanyol, Jepang, dan Korea.

-000-

Angka penonton PULANG itu hampir tiga kali lipat rekor video Nadia sebelumnya, WARUNG BU LELI – KHW PART 100, yang mencatat 24,88 juta views.

Artinya, episode ke-400 menghasilkan lompatan yang sangat besar bahkan menurut standar kanalnya sendiri. Inilah fenomena yang layak kita bedah.

Saya jadi bertanya, mengapa orang mau mendengarkan cerita selama 161 menit? Untuk menjawabnya, saya akhirnya harus mencoba memahami daya tarik ceritanya.

Kisah PULANG mengangkat kematian misterius Santi, seorang istri dan ibu yang semula diduga bunuh diri. Suaminya, Edo, tampak menjalani kehidupan keluarga yang normal. Namun, kejanggalan pada kematian Santi mengundang kecurigaan.

Nadia sebagai kreator membangun cerita melalui tiga sudut pandang: Rizki, Fajar, dan Dimas. Ketiganya menyumbangkan informasi yang berbeda.

Penonton pun harus merangkai sendiri kepingan peristiwa sampai menemukan hubungan antartokoh.

Struktur ini menjalankan prinsip multiple point of view. Penonton mengikuti beberapa saksi, bukan menerima seluruh informasi dari satu narator. Teknik itu menjaga rasa ingin tahu karena setiap tokoh membawa rahasia dan pengetahuan sendiri.

Cerita kemudian bergerak melalui beberapa lapisan. Penonton mula-mula mencurigai kematian Santi. Gangguan gaib yang menyertai Edo memperluas misteri.

Penyelidikan menemukan dugaan pemalsuan pemeriksaan jenazah. Kemudian, rahasia pesugihan membuka motif yang lebih gelap.

Pada bagian akhir, pengakuan Edo via surat yang ia tulis sebelum kematiannya mengungkap bahwa ia membunuh istrinya. Sementara itu Tata, anak mereka, menghadapi ancaman menjadi tumbal berikutnya.

Plot twist terkuat muncul ketika sosok yang semula tampak sebagai korban gangguan supranatural ternyata menyimpan tanggung jawab atas tragedi keluarga itu.

Penonton harus mengubah penilaian terhadap Edo. Kejutan berikutnya menaikkan taruhan emosional: keselamatan seorang anak.

Di sinilah suspense bekerja. Penonton tidak lagi sekadar bertanya siapa pembunuh Santi. Mereka ingin tahu apakah Tata akan selamat.

Misteri memancing rasa ingin tahu, sedangkan ancaman terhadap anak membangun ikatan emosional.

Psikolog George Loewenstein menjelaskan mekanisme rasa penasaran melalui teori jarak informasi (information-gap).

Manusia terdorong mencari informasi ketika mereka menyadari jarak antara apa yang sudah mereka ketahui dan apa yang ingin mereka ketahui.

Cerita Nadia memanfaatkan jarak itu berulang kali. Setiap jawaban dalam kisahnya membuka pertanyaan baru di alur berikut dari tuturan kisahnya.

Struktur tersebut menyerupai lorong dengan pintu-pintu berlapis. Penonton membuka satu pintu, kemudian menemukan pintu lain yang lebih mengerikan. Mereka terus berjalan karena cerita belum memberikan kepastian.

Durasi 161 menit justru memberi ruang bagi perkembangan karakter, pengumpulan petunjuk, dan peningkatan konflik. Format panjang memberi kesempatan kepada narator untuk mengembangkan suasana secara bertahap.

Tentu saja, durasi panjang sendiri tidak menjamin kualitas. Penulis harus menjaga ritme agar penonton tidak merasa berjalan di lorong yang sama berulang kali.

-000-

Sekarang kita sampai pada bagian yang mungkin paling mengejutkan.

Storytelling di YouTube telah berkembang menjadi model bisnis media yang serius. Kreator menjual perhatian, kepercayaan, dan waktu audiens. Mereka mengubah kemampuan bercerita menjadi aset ekonomi.

YouTube menyediakan beberapa jalur pendapatan. Pertama, iklan yang muncul sebelum, selama, atau sesudah video. Kedua, pendapatan dari pelanggan YouTube Premium.

Ketiga, dukungan penggemar melalui keanggotaan kanal, Super Thanks, dan fitur sejenis. Keempat, kerja sama sponsor dan promosi produk.

Menurut ketentuan resmi YouTube, kreator memperoleh 55 persen pendapatan bersih dari iklan pada halaman tontonan video publik.

Untuk fitur keanggotaan dan dukungan penggemar tertentu, pembagian pendapatan bersih mencapai 70 persen bagi kreator.

Durasi panjang mempunyai keuntungan komersial. YouTube mengizinkan kreator memasang iklan mid-roll pada video monetisasi berdurasi delapan menit atau lebih.

Sistem YouTube kemudian menentukan slot yang berpeluang menayangkan iklan. Penempatan pada jeda alami dan pergantian adegan dapat membantu menjaga pengalaman penonton. Namun, setiap slot tidak otomatis menghasilkan iklan.

78 juta views dalam sepekan? Nadia Omara membuat orang rela mendengarkan cerita horor selama hampir tiga jam. Apa rahasia di balik fenomena ini, dan benarkah ia memecahkan rekor dunia?

Bayangkan sebuah cerita berdurasi 161 menit. Kreator mempunyai ruang lebih luas untuk menempatkan jeda iklan dibandingkan video berdurasi sepuluh menit.

Jika penonton bertahan lama, mereka berpotensi menyaksikan beberapa iklan dalam satu sesi.

Pengiklan memperoleh kesempatan menjangkau audiens, YouTube memperoleh pendapatan, dan kreator memperoleh bagian sesuai ketentuan monetisasi.

Namun, tentu saja kita tidak boleh langsung mengalikan 78 juta views dengan tarif iklan tertentu lalu menyebut hasilnya sebagai penghasilan Nadia.

YouTube tidak membayar tarif tetap per satu juta penayangan. Pendapatan bergantung pada negara penonton, jenis iklan, jumlah tayangan iklan yang benar-benar terisi, durasi tonton, kelayakan konten, dan faktor pasar.

Lagi pula, kita tak akan pernah mengetahui secara persis pendapatan Nadia. Data RPM dan pendapatan aktual hanya dapat diperiksa melalui akunnya sebagai kreator.

Namun, skala bisnisnya dapat kita pahami. Bahkan jika sebagian kecil dari puluhan juta penayangan menghasilkan pendapatan iklan, satu video viral dapat memberi kontribusi ekonomi yang sangat besar.

Ini belum termasuk sponsor, penjualan produk, dan nilai promosi bagi keseluruhan kanal.

Kanal Nadia sendiri sudah memiliki fondasi bisnis yang kuat. Data vidIQ per 31 Oktober menunjukkan sekitar 17,9 juta pelanggan, 1.399 video, dan total 5,09 miliar views.

Dalam 28 hari terakhir, kanal itu mencatat sekitar 325 juta penayangan. Angka ini memperlihatkan bahwa PULANG tumbuh di atas ekosistem audiens yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.

Model bisnisnya juga tidak berhenti pada satu video. Kreator membangun serial, mengembangkan komunitas, menjaga jadwal publikasi, dan mengolah cerita menjadi berbagai format.

Satu kisah panjang buatannya dapat melahirkan potongan video pendek, teaser, diskusi, siaran langsung, bahkan produk turunan.

Di sinilah episode ke-400 karya Nadia mempunyai nilai strategis. Nomor itu menandai konsistensi produksi dan membangun rasa kebersamaan dengan penonton lama.

Penonton merasa mengikuti perjalanan sebuah serial. Mereka datang dengan ekspektasi, kemudian ikut menyebarkan episode istimewa kepada orang lain.

-000-

Bisnis ini mempunyai akar yang menarik. Sejak dahulu manusia menyukai dongeng. Di kampung-kampung, orang berkumpul mendengarkan kisah misteri, legenda, kepahlawanan, dan cerita tentang makhluk gaib.

Radio kemudian mengembangkan sandiwara yang nyaman untuk panteng didengar. Lalu televisi menghadirkan drama bersambung. YouTube kini mengembalikan tradisi mendongeng itu dengan teknologi distribusi global.

Perbedaannya terletak pada skala dan cara menghitung perhatian. Pendongeng kampung mengumpulkan puluhan orang. Pendongeng digital dapat mengumpulkan puluhan juta orang tanpa menyewa gedung pertunjukan.

Kamera, mikrofon, naskah, kemampuan vokal, dan algoritma distribusi menjadi modal utamanya.

Kreator juga dapat mengembangkan bisnis dari bahan cerita yang mereka peroleh. Mereka bisa mengumpulkan kisah dari audiens, meminta izin penggunaan cerita, melakukan penyuntingan, kemudian mengemasnya menjadi serial.

Model ini membuka peluang produksi yang relatif efisien. Namun, kreator tetap harus memperhatikan hak cipta, privasi, persetujuan narasumber, dan risiko pencemaran nama baik, terutama ketika cerita mengklaim kejadian nyata.

-000-

Fenomena Nadia Omara menyimpan pelajaran penting bagi industri kreatif kita.

Indonesia memiliki kekayaan cerita yang luar biasa. Kita punya ribuan legenda daerah, sejarah lokal, kisah pesantren, tradisi maritim, pengalaman perantauan, misteri arkeologi, hingga biografi tokoh masyarakat.

Kita memiliki bahan baku cerita yang berlimpah. Tantangannya terletak pada kemampuan mengolah bahan itu menjadi narasi yang menarik dan bertanggung jawab.

Universitas dapat mengembangkan laboratorium storytelling. Pesantren dapat mengemas sejarah ulama dan kisah peradaban Islam. Museum dapat membuat narasi sejarah yang lebih hidup.

Bahkan perpustakaan pun dapat mengubah koleksi manuskrip menjadi serial audio-visual. Media massa dapat mengembangkan dokumenter investigatif dengan teknik suspense tanpa mengorbankan akurasi.

Kreator juga perlu membangun standar kerja profesional. Mereka membutuhkan penulis riset, penyunting naskah, pemeriksa fakta, pengarah visual, dan pengelola hak kekayaan intelektual.

Semakin besar audiens, semakin besar pula tanggung jawab kreator terhadap informasi yang mereka sebarkan.

Sejarah, sains, filsafat, biografi, dan kisah kemanusiaan dapat menggunakan teknik suspense yang sama.

Misteri penemuan ilmiah, pergulatan seorang tokoh, atau perjalanan sebuah peradaban bisa membuat penonton bertahan selama berjam-jam.

Kita juga perlu mengingat bahwa cerita horor mempunyai daya tarik komersial yang besar, tetapi cerita berkualitas tidak harus selalu menjual ketakutan.

Yang peka justeru kalangan bisnis. Fenomena PULANG kabarnya mulai menarik perhatian industri perfilman. Pada 29 Oktober 2026, MD Pictures tercatat mendaftarkan judul film Pulang melalui situs Perizinan Film.

Kebetulan waktunya berdekatan dengan ledakan popularitas KHW Part 400 yang sejak diunggah pada 25 Oktober telah meraih lebih dari 44 juta penayangan dalam empat hari.

Publik pun menduga rumah produksi tersebut hendak mengadaptasi kisah Nadia ke layar lebar. Namun, Nadia segera meluruskan kabar itu.

Ia menegaskan bahwa dirinya, tim, maupun para narasumber belum pernah memberikan persetujuan atau menjalin kerja sama dengan pihak mana pun untuk mengadaptasi cerita tersebut.

Respons ini memperlihatkan satu persoalan penting dalam ekonomi kreator: popularitas sebuah cerita dapat segera mengundang minat industri, tetapi popularitas tidak otomatis memindahkan hak adaptasinya.

Menariknya, sebagian penonton justru meminta Nadia mempertahankan PULANG sebagai karya storytelling KHW. Mereka merasa cerita itu sudah mempunyai identitas dan pengalaman tersendiri ketika Nadia menuturkannya.

Sebagian mereka juga mengingatkan bahwa kisah tersebut menyangkut privasi dan aib keluarga, meskipun nama tokohnya telah disamarkan.

Di sini kita melihat bahwa nilai sebuah cerita tidak selalu terletak pada kemampuannya menjadi film. Suara narator, intonasi, jeda, imajinasi penonton, dan hubungan emosional antara pendongeng dengan audiens juga merupakan bagian dari daya tariknya.

Hollywood mungkin bisa membeli hak adaptasi sebuah cerita, tetapi belum tentu bisa membeli chemistry yang telah dibangun seorang pendongeng dengan puluhan juta pendengarnya.

-000-

Pada akhirnya, fenomena PULANG mengajarkan satu hal: perhatian manusia merupakan komoditas ekonomi yang sangat berharga.

Siapa pun yang mampu mengelolanya melalui cerita yang kuat memiliki peluang membangun bisnis media yang besar.

Saya yang semula merasa tak punya waktu mendengarkan orang bercerita selama hampir tiga jam, akhirnya justru menghabiskan waktu untuk membedah mengapa jutaan orang bersedia melakukannya.

Rupanya, tukang cerita zaman digital sudah mengubah ruang tamu menjadi bioskop, telinga menjadi layar, dan rasa penasaran menjadi mesin ekonomi.

Barangkali inilah ironi zaman kita. Orang semakin jarang membaca buku tebal, tetapi bersedia mendengarkan cerita selama hampir tiga jam.

Kita tahu dunia berubah, tapi kebutuhan manusia terhadap cerita tetap bertahan. Bahkan, sekarang cerita bisa menjadi industri miliaran rupiah.

Dan seorang pendongeng yang piawai dapat membuat jutaan orang lupa bahwa mereka sedang menonton jam terus bergerak.

Cak AT - Ahmadie Thaha

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 1/11/2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000