Esai

Akhir Tragis Pemburu Kekuasaan

SW60Plus.com, 09 September 2026, 11:40 WIB
Asro Kamal Rokan
Asro Kamal Rokan
· 31x dilihat

MACBETH dikenal sebagai prajurit yang berani, dihormati, jujur, setia pada negara, dan juga petarung yang hebat dalam peperangan. Namun Macbeth memiliki sisi lain: percaya pada tahyul dan peramal  nasib.

Seusai pertempuran, Macbeth bersama Banquo— sahabatnya sesama prajurit kerajaan— bertemu tiga penyihir di sebuah padang luas. Tiga penyihir tersebut meramalkan Machbeth akan menerima Thane of Cawdor. Setelah itu, menurut peramal, Machbeth akan menjadi Raja Skotlandia.

Dan, benar. Tidak begitu lama, Raja Duncan menganugerahi Macbeth gelar bangsawan yang sangat bergengsi itu karena keberaniannya menumpas pemberontakan domestik dan berhasil pula menyelamatkan Skotlandia dari invasi pasukan Norwegia.

Macbeth semakin yakin terhadap ramalan tiga penyihir  (The Three Witches) tersebut. Kepercayaannya pada ramalan, secara drastis mengubah Macbeth, yang semula sebagai pengabdi yang setia, penuh loyalitas, dan terhormat, menjadi sangat ambisius memburu tahta kekuasaan. Kini, dia berupaya menjadi raja.

Istrinya, Lady Macbeth memanfaatkan kepercayaan Macbeth pada ramalan suaminya akan menjadi raja. Lady Macbeth terus mendorongnya untuk mewujudkan ramalan tersebut menjadi kenyataan.

Macbeth senang atas dukungan istri tercintanya,  yang disebutnya sebagai mitra sempurna dan agung. Namun, tanpa disadarinya, Lady Macbeth memanipulasi rasa cinta tersebut dalam ambisi yang tersembunyi dengan mendesak Macbeth membunuh Raja Duncan.

Suatu hari, Raja Duncan— yang juga adalah saudara sepupu Machbeth—memberitahu akan berkunjung dan bermalam di kastel Mahchbeth. Raja Skotlandia yang bijaksana dan baik itu membawa sejumlah pengawalnya, seperti pada setiap kunjungannya. Raja Duncan sangat bangga pada Macbeth, yang setia dan loyal.

Persiapan menyambut Raja Duncan pun dilakukan. Tapi bukan untuk melayani tamu terhormat tersebut, melainkan untuk membunuhnya. Skenario dirancang Lady Macbeth. Kamar untuk Raja ditata rapi. Sejumlah pengawal raja disiapkan tempat tidur di pendopo.

Raja Duncan datang ke rumah sepupunya itu dengan gembira. Macbeth dan istrinya pun menyambut dengan bahagia. Setelah berbincang dan makan malam, Raja Duncan masuk ke kamar untuk tidur. Skenario pembunuhan pun dijalankan Lady Macbeth. Dia  memberi anggur dicampur obat bius untuk semua pengawal supaya mereka tertidur.

Merasa telah aman, Machbet dan istrinya masuk ke kamar Raja Duncan. Pisau belati yang telah disiapkan, dihunjamkan ke tubuh Raja Duncan. Raja yang malang itu tewas. Macbeth melihat tangannya berlumur darah. Ia ketakutan. Namun, Lady Macbeth — perancang pembunuhan— meyakinkan suaminya bahwa darah tersebut akan hilang.

"Sedikit air akan membersihkan kita dari perbuatan ini," kata Lady Machbet dengan dingin.

Pisau berlumur darah tersebut digenggam Lady Machbet dan kemudian diletakan dekat pengawal yang masih tidur.  Untuk melengkapi skenerio jahat itu, Macbeth membunuh semua pengawal. Tujuannya, ketika ada yang menanyakan tewasnya Raja Duncan, Machbeth akan mengatakan  bahwa ia terpaksa membunuh semua pengawal karena mereka membunuh Raja Duncan.

Setelah membunuh Raja Duncan dan pengawalnya, Macbeth gelisah dan ketakutan. Untuk menutup kejahatannya, dia membunuh beberapa lainnya, di antaranya Banquo, sahabatnya yang mengetahui tentang ramalan tiga penyihir.

Kecemasan mengubah Macbeth menjadi paranoid dan tiran. Ia membunuh orang-orang yang dicurigainya berniat buruk kepadanya. Macbeth senantiasa merasa keselamatannya terancam. Hidupnya menjadi tidak lagi nyaman.

Hari demi hari berjalan. Kegelisahan lelaki ambisius ini semakin parah. Kekuasaan sebagai raja—yang diinginkannya— tidak membuatnya tenang. Ketakutannya semakin tidak terkendali, apalagi darah Raja Duncan yang melumuri tangannya, tidak hilang juga meski sudah  berhari-hari dan berkali-kali dibasuh.

"Akankah seluruh air di samudra raya Neptunus mampu membasuh darah ini hingga bersih dari tanganku? Tidak..," kata Macbeth. Tidak hanya Macbeth, istrinya Lady Macbeth juga mengalami ketakutan sama.

Darah Raja Duncan, yang melumuri tangannya— simbolisasi rasa bersalah— itu juga tidak bisa hilang, bahkan terbawa dalam tidurnya. Ia mengigau sambil berjalan (sleepwalking) dengan terus menggosok tangannya dan berteriak, "Pergilah noda terkutuk! Enyahlah, kubilang! ... “

Rasa bersalah dan ketakutan itu, seperti bor menusuk dan berputar di hatinya, terus menerus. Lady Macbeth akhirnya gila. Sedangkan Macbeth, di tengah ketakutannya, menemui kembali tiga penyihir yang meramalkan dia akan menjadi Raja. Tiga penyihir itu menenangkan dan menyebutkan bahwa Macbeth akan terus hidup. Macbeth kembali percaya ramalan tersebut.

Melihat periku Macbeth yang aneh, menimbulkan kecurigaan  Jenderal Macduff, yang kemudian melakukan penyelidikan. Dari sini, diketahui bahwa Raja Duncan tewas di tangan Macbeth. Bersama Malcolm dan Donalbain—dua anak Duncan— serta sejumlah prajurit, Jenderal Macduff  menyerang kediaman Macbeth. Kepala Macbeth, penguasa paranoid, itu dipenggal.

***

KISAH tragis tersebut ditulis William Shakespeare, sastrawan, aktor, dan dramawan besar dunia asal Inggris, dalam naskah drama berjudul Macbeth.  Selain Macbeth, Shakespeare — yang lahir pada tahun 1564 dan meninggal dunia pada 23 April 1616 — juga menciptakan karya besar dan populer di seluruh dunia, di antaranya Romeo & Juliet dan Hamlet.

Shakespeare menulis naskah Macbeth sekitar tahun 1606, terinspirasi dari kisah Raja Duncan 1 (Donnchad mac Crínáin) yang memimpin Kerajaan Skotlandia (dahulu disebut Kerajaan Alba) pada tahun 1034-1040 M. Raja Duncan tewas di tangan sepupunya Macbeth. Bedanya, dalam versi drama Shakespeare, Duncan tewas karena pengkhianatan, sedangkan versi sejarah menyebutkan Duncan tewas dalam peperangan. Perbedaan lain, versi Shakespeare, Raja Duncan digambarkan sebagai raja berusia tua dan bijaksana. Versi sejarah mencatat, Raja Duncan masih muda dan gagal sebagai pemimpin yang baik.

Naskah drama Macbeth telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Sastrawan dan dramawan besar Indonesia, WS Rendra, menyadur naskah Macbeth ke dalam bahasa Indonesia dan memetaskannya bersama Bengkel Teater pada Juni 1976 di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Rendra berperan sebagai Macbeth dan Sitoresmi sebagai Lady Macbeth.

Dalam analisanya setelah pementasan, Syu'bah Asa— sastrawan, penerjemah, dan wartawan— menulis,”Macbeth, seperti umum dikenal, adalah cerita yang mengajarkan hukuman nurani yang diderita seorang penguasa negara (bersama istrinya) yang telah memperoleh dan mempertahankan kekuasaan pemerintahan dengan segala jalan khianat, penindasan, dan intrik”. (Majalah Tempo, 26 Juni 1976).

Drama Macbeth adalah kisah pengkhianatan pemburu kekuasaan— yang berlaku sepanjang masa, tidak saja pada abad ke-11, seperti kisah Macbeth. Perilaku pemburu kekuasaan, dengan skala berbeda, dapat menghalalkan segala cara, curang, manipulatif, koruptif, tanpa moral, etika, dan bahkan mengesampingkan ajaran agama, demi mengejar tujuannya.

Pemburu kekuasaan, awalnya berjuang atas nama rakyat. Setelah kekuasaan diraih, rakyat hanya sebagai penonton di baris belakang, bahkan tidak boleh protes. Kekuasaan dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, kemudian bergeser untuk kepentingan diri,  keluarga, kroni, penyokong, dan oligarki.

William Shakespeare menutup drama Macbeth dengan penyesalan, rasa bersalah, kecemasan, dan tragedi. Namun dalam keseharian dan nyata, Macbeth baru—para pemburu kekuasaan— bermunculan dalam berbagai skala dan kerusakan dalam yang ditimbulkannya. Mereka tidak menyesal, tidak memperlihatkan tanda bersalah, merasa tetap berkuasa, dan bahkan tampil di publik tanpa rasa malu.

Jakarta, September 2026.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000