Feature

Undangan Ngobrol di Sore Hari

SW60Plus.com, 09 September 2026, 12:53 WIB
Budiman Tanuredjo
Budiman Tanuredjo
· 55x dilihat

SEBUAH pesan WhatsApp masuk dari Putri Permatasari, Head of Media Relations Departement Astra. Isinya undangan sederhana. Ngobrol santai dengan “Pak Boy dan Mbak Windy” di Menara Astra, Senin, 7 September 2026. Saya diundang bersama sejumlah pemimpin redaksi.

Saya membalas pesan itu dengan sedikit mengingatkan Putri. “Saya sudah pensiun.”
Jawabannya pendek. “Nggak masalah. Lain kali diundang sebagai SW60Plus ya.”

Percakapan berhenti di situ. Hanya beberapa baris WhatsApp. Tetapi justru percakapan kecil semacam itulah yang kadang bercerita lebih banyak tentang sebuah perusahaan daripada sederet kalimat dalam laporan tahunan.  Boleh jadi itu perkara kecil. Namun bagi saya, ada sesuatu yang menarik di sana: relasi rupanya tidak selalu berakhir ketika jabatan berakhir.


Kini, saya diminta Wahyu Muryadi, Ketua Umum Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI),  untuk mengelola SW60Plus.com dan menjadi Pemimpin Redaksi SW60Plus.com. Istilah pemimpin redaksi mungkin juga tidak pas karena portal SW60Plus adalah portal sukarela. Sebuah portal berita dimana  sejumlah mantan pemimpin redaksi dan jurnalis senior yang telah berusia di atas 60 tahun untuk terus berkarya. Mahkota seorang wartawan adalah karya jurnalistik.


Ketika Jabatan Berganti

Barulah pada sore itu saya mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ada rotasi di lingkungan Astra. Boy Kelana Subroto, yang selama ini banyak berhubungan dengan wartawan, mendapat tanggung jawab baru sebagai Chief of Corporate Affairs Astra. Windy Riswanto menjadi Head of Corporate Communication. Ada pula Boy Gemino Kalauserang sebagai Executive in Charge Chief of Group Legal, bersama Ahmad Muhibudin sebagai Head of Media Relations Division Astra.


Rotasi jabatan tentu perkara biasa dalam sebuah perusahaan besar. Orang datang dan pergi. Posisi berganti. Struktur organisasi diperbarui. Yang menarik bagi saya bukan rotasinya. Melainkan cara perubahan itu dikomunikasikan.


Astra sebenarnya cukup mengirimkan keterangan pers. Beberapa paragraf mengenai perubahan organisasi, dilengkapi nama dan jabatan baru. Selesai. Informasinya sampai. Tetapi yang dipilih justru pertemuan. Bertatap muka. Ngobrol. Minum dan makan bersama. Dengan kehangatan. Tidak ada peristiwa besar sore itu. Tidak ada pula pidato yang perlu diberi judul besar. Justru karena itulah saya mengingatnya. Dan pertemuan itu dilakukan secara berseri dalam grup-grup kecil.


Relasi yang Tidak Ikut Pensiun
Dalam dunia yang sangat bertumpu pada jabatan, kita kadang baru mengetahui bentuk sebuah hubungan setelah jabatan itu hilang.  Apakah orang masih mengingat nama kita ketika tidak ada lagi jabatan yang mengikuti di belakangnya?

Karena itu, jawaban Putri—“Nggak masalah”—terasa sederhana, tetapi punya arti lain bagi saya. Astra rupanya tidak sepenuhnya memandang wartawan dari kursi yang sedang didudukinya. Setidaknya dari pengalaman saya, hubungan yang dibangun bertahun-tahun tidak serta-merta diputus ketika seseorang tak lagi mempunyai posisi apapun. Ada memori institusional di sana. Ada persahabatan. Barangkali juga ada sesuatu yang lebih dalam: budaya perusahaan.

Acara buka puasa Astra: adalah ajang reuni untuk para wartawan, misalnya.


Budaya yang Tak Tertulis
Edgar Schein, seorang pemikir penting tentang budaya organisasi, membedakan budaya perusahaan dalam beberapa lapisan. Ada yang tampak di permukaan—ritual, simbol, cara berpakaian, tata ruang, atau cara orang berkomunikasi. Di bawahnya ada nilai-nilai yang dinyatakan perusahaan. Dan paling dalam adalah asumsi yang sudah begitu diterima sehingga orang menjalankannya hampir tanpa perlu diperintahkan.
Justru lapisan terakhir itulah yang paling menentukan. Budaya perusahaan bukan terutama slogan yang ditempelkan di dinding kantor. Ia terlihat dari apa yang dilakukan orang ketika tidak ada aturan yang memerintahkannya.


Saya kemudian teringat William Soeryadjaya, pendiri Astra. Tahun depan Astra memasuki usia 70 tahun. Perusahaan sebesar itu tentu telah melewati pergantian generasi, perubahan kepemimpinan, krisis ekonomi, perubahan teknologi, dan transformasi bisnis. Orang-orangnya berganti. Tetapi sebuah perusahaan bisa bertahan jauh melampaui usia pendirinya apabila nilai-nilai tertentu berhasil berubah dari ajaran menjadi kebiasaan. Dalam bahasa Schein, nilai itu akhirnya menjadi semacam asumsi bersama: beginilah seharusnya kita bersikap.


Saya belum terlalu lama mengenal lingkungan Astra dibandingkan sejumlah wartawan senior lainnya. Tetapi dari beberapa kali berinteraksi, saya menangkap satu kebiasaan yang terus muncul: hubungan dengan wartawan tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai transaksi komunikasi. Ada upaya merawat relasi.


Tentu wartawan tetap harus kritis terhadap Astra. Kedekatan tidak boleh menghilangkan jarak profesional. Perusahaan mempunyai kepentingan; pers mempunyai tugasnya sendiri. Persahabatan tidak boleh berubah menjadi konflik kepentingan. Tetapi profesionalisme tidak pula mengharuskan hubungan antarmanusia menjadi dingin.


Secangkir Kopi dan Ingatan
Sore itu akhirnya berlalu seperti pertemuan lain. Orang mengobrol. Bertukar kabar. Bertemu kembali dengan kawan lama. Ada yang masih memimpin redaksi. Ada yang mungkin segera berganti posisi. 


Pada akhirnya semua jabatan memang mempunyai tanggal kedaluwarsa.
Direktur berganti. Head of Media Relations berganti. Chief of Corporate Affairs pun suatu hari akan berganti. Yang lebih panjang usianya adalah cara sebuah institusi memperlakukan manusia ketika jabatan mereka sudah berubah.


Mungkin itulah sebabnya saya pulang dari Menara Astra sore itu bukan terutama dengan ingatan tentang siapa menggantikan siapa. Saya justru mengingat satu pesan WhatsApp pendek: “Nggak masalah.”


Dua kata yang sangat biasa. Tetapi kadang budaya sebuah perusahaan memang tidak perlu dijelaskan melalui seminar panjang atau buku tebal tentang corporate values.
Ia bisa terlihat dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: siapa yang masih kita undang ketika ia sudah tidak lagi mempunyai jabatan. (bdm)

Tags: Astra Rotasi
Bagikan:

Komentar 1

S
Syahdanur 09 September 2026, 13:25

Mungkin hanya Astra yg memiliki budaya korporasi spti itu. Saya belum melihat di perusahaan besar lainnya, yg melihat hanya dasar kepentingab

Tulis Komentar

0 / 2000