Esai

Bangkrut

SW60Plus.com, 13 Juli 2026, 10:19 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 47x dilihat

ADA orang yang butuh 20 tahun untuk menjadi bos. Ada juga yang baru tiga minggu menikmati jabatan itu, lalu kantornya tutup.
Kalau ini terjadi pada Anda, mungkin status LinkedIn Anda langsung berubah menjadi Open to Work. Kalau sedang hemat kuota, cukup ubah ekspresi wajah.
Itulah yang dialami Lindsey Pollak pada musim semi 2001. Ia baru saja mendapat promosi pertama sebagai manajer di sebuah perusahaan rintisan internet bernama WorkingWoman.com. Rasanya pasti seperti menang lotre. Sayangnya, lotre itu tidak bertahan lama.
Sebagai bos baru, Pollak melakukan kesalahan yang hampir sama dengan yang dilakukan oleh semua pemimpin pemula. Ia merekrut seorang lulusan baru bernama Alex, tetapi hampir semua pekerjaan penting tetap ia kerjakan sendiri. Alex hanya kebagian tugas administratif, sementara Pollak pulang paling malam dan mulai percaya bahwa menjadi bos memang identik dengan kurang tidur.
Lucunya, semakin keras ia bekerja, semakin sedikit pekerjaannya yang selesai. Ia merasa menjadi orang paling bertanggung jawab di kantor, padahal diam-diam ia menjadi penghambat terbesar bagi timnya sendiri.
Ada penyakit yang sering menyerang bos baru. Namanya bukan flu, melainkan ilusi kendali. Kita merasa semua pekerjaan akan berantakan kalau tidak melewati tangan kita sendiri. Masalahnya, dunia tidak pernah dirancang untuk ditopang oleh sepasang tangan.
Kita merasa semua pekerjaan akan rusak kalau tidak melewati tangan kita sendiri. Kita percaya hasil terbaik hanya akan muncul jika semuanya berada di tangan kita. 
Masalahnya, tangan kita cuma dua. Deadline biasanya lebih banyak.
Lalu datanglah hari yang tidak pernah masuk dalam rencananya. Gelembung bisnis dot-com pecah, dan perusahaan tempatnya bekerja ikut bangkrut. Baru tiga minggu menjadi manajer, jabatan itu sudah resmi menjadi kenangan.
Namun, justru pada hari terakhir itulah terjadi percakapan yang mengubah hidupnya.
Saat mengembalikan laptop kantor, atasannya tidak memasukkannya ke gudang inventaris. Ia malah menyerahkan kembali laptop itu kepada Pollak sambil berkata, “Simpan saja. Gunakan untuk memulai bisnismu sendiri”
"Simpan saja. Gunakan untuk memulai bisnismu sendiri."
Laptop itu bukan sekadar perangkat kerja. Ia adalah izin tidak resmi untuk memulai hidup baru. Tanpa pilihan lain, Pollak memutuskan untuk mencoba saran itu. Dari laptop itulah perlahan lahir bisnis konsultasi yang kemudian membuat namanya dikenal.

Kadang kehilangan pekerjaan justru menjadi promosi terbesar dalam kehidupan seseorang.

Kalau dipikir-pikir, kegagalan perusahaan itu mungkin adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Seandainya perusahaan tetap berjalan normal, mungkin Pollak akan tetap menjadi manajer yang sibuk mengoreksi pekerjaan bawahannya sampai larut malam.
Di sinilah paradoks kepemimpinan mulai terlihat. Banyak orang mengira promosi adalah hadiah atas kemampuan bekerja mandiri. Padahal, begitu menjadi pemimpin, kemampuan yang paling dibutuhkan justru adalah berhenti mengerjakan semuanya sendiri.
Peter Drucker pernah mengatakan bahwa efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan benar, sedangkan kepemimpinan adalah melakukan hal yang benar. Salah satu hal yang benar adalah mempercayai orang lain. Sulit memang. Apalagi kalau kita diam-diam merasa hasil kerja kita selalu yang paling bagus.
Berbagai penelitian tentang empowering leadership menunjukkan pola yang serupa. Tim yang dipercaya justru bekerja lebih kreatif, lebih berkomitmen, dan lebih bertanggung jawab. Rupanya, manusia berkembang bukan karena terus diawasi. Manusia berkembang karena dipercaya.
Ironisnya, banyak bos baru justru terjebak dalam perangkap yang sama. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka layak untuk dipromosikan. Akibatnya, semua pekerjaan ditarik kembali ke meja masing-masing. Mereka sibuk menjadi karyawan terbaik, padahal tugasnya sudah berubah menjadi pencetak karyawan terbaik.
Masalahnya, mereka lupa bahwa sekarang tugasnya bukan lagi menjadi karyawan terbaik. Tugasnya adalah melahirkan orang-orang hebat berikutnya.
Padahal ukuran seorang pemimpin bukan seberapa sibuk dirinya. Ukurannya adalah seberapa mandiri orang-orang yang dipimpinnya ketika ia tidak ada.
Lindsey Pollak akhirnya belajar bahwa menjadi bos bukan soal memiliki jawaban atas semua persoalan. Menjadi bos adalah keberanian untuk mengakui bahwa orang lain juga bisa menemukan jawaban yang bahkan lebih baik.
Mungkin memang begitu cara hidup dan bekerja. Kadang promosi terbaik datang dengan surat pemutusan hubungan kerja.
Jabatan membuat orang mendengar Anda. Kepercayaanlah yang membuat mereka tetap mengikuti Anda.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000