Esai

Bansos, MBG dan UBI (dan Blockchain)

SW60Plus.com, 30 Juli 2026, 08:33 WIB
Farid Gaban
Farid Gaban
· 62x dilihat

SEBUAH inovasi sistem jaminan sosial berkelanjutan diam-diam muncul dari komunitas di Bali dan potensial mengubah kebijakan nasional. Februari lalu, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memaparkan hasil penelitian evaluatif mereka terhadap sistem itu.
Sistem yang dimaksud adalah "Circles UBI". Diperkenalkan sejak tahun 2021 dan diujicobakan selama tahun 2023 lalu, sistem ini diharapkan menjadi embrio kebijakan universal basic income (UBI). Kita tahu, UBI salah satu topik diskusi hangat belakangan ini di kalangan ekonom dan pemangku kebijakan publik internasional. UBI dipandang merupakan cara efektif dan adil untuk mengatasi ketimpangan ekonomi dan kemiskinan.
"Bali cukup responsif menerima program Circles UBI yang ternyata memberikan sisi positif bagi masyarakatnya," kata Yanu Endar Prasetyo, peneliti BRIN, dalam berita di laman lembaga itu.
Circles UBI di Bali melibatkan 1.500 warga di Jembrana, Tabanan dan Denpasar. Cara kerja sistem ini sangat sederhana: setiap warga diberi sebuah aplikasi digital lewat ponsel mereka; setiap hari mereka memperoleh 24 poin Circles (alat tukar digital). Poin tadi bisa dipakai untuk membeli barang dan jasa kebutuhan pokok, diberikan kepada teman/kerabat yang membutuhkan atau disumbangkan untuk kemaslahatan sosial.
Menggunakan teknologi digital mutakhir blockchain, pertukaran poin dan transaksi jual-beli barang/jasa hanya bisa dilakukan di kalangan orang-orang yang saling percaya. Dengan cara itu, warga pengguna tak hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi juga memperkuat ikatan dan semangat gotong-royong dalam komunitas. Poin Circles berbeda dari mata uang kripto. Dia mengalir dipertukarkan berdasar kepercayaan, serta berdasarkan atas kesepakatan bersama; dari pengguna untuk pengguna.
Selama penelitian, 1,26 juta poin telah dipertukarkan dalam 29.000 transaksi pertukaran; membentuk 9.500 relasi saling percaya; dan melibatkan 1.400 lebih kios penyedia barang dan jasa.

Laporan awal tentang penggunaan sistem ini menunjukkan manfaat yang nyata: memperkuat ikatan komunitas dari beragam latar-belakang; meningkatkan semangat berbagi dan saling membantu; mendorong munculnya usaha-usaha mikro khususnya yang melayani kebutuhan dasar; mengurangi beban utang; memperkecil keterlibatan dalam judi online (karena tidak memakai uang tunai). 
Namun, yang paling penting, sistem itu meningkatkan rasa tiap pengguna bahwa mereka dipercaya. Kepercayaan adalah "mata uang" terpenting dalam kehidupan manusia.
Poin Circles diberikan tanpa syarat apapun. Konsep ini menyerupai konsep universal basic income (UBI): negara memberi setiap warga "gaji bulanan" dalam jumlah tertentu sesuai kebutuhan dasar (basic needs) tanpa syarat apapun.
Gagasan tentang UBI sudah ada sejak Abad Pertengahan, namun menjadi populer belakangan ini. Dalam situasi pandemi Covid-19, misalnya, banyak negara memberi warga “gaji bulanan” agar mereka bisa berdiam diri di rumah tanpa aktivitas apapun. Setelah Covid, banyak ekonom mengusulkan agar itu menjadi praktik standar: negara berkewajiban menggaji warga sedemikian rupa agar mereka tidak jatuh miskin karena alasan apapun.
Dalam konteks Indonesia, UBI mungkin alternatif yang tepat dari program karitatif dan parsial seperti ini bantuan tunai langsung, bantuan sosial dan bagi-bagi makan siang gratis; tema yang mengemukan dalam debat pemilihan presiden 2024 ini.
Beberapa promotor gagasan ini menyebut UBI sebagai "human rights", hak asasi warga negara, melekat dalam hak dasar tiap warga negara. Karena melekat dalam hak warga negara, itu tidak akan bisa diklaim sebagai "charity" oleh presiden/gubernur, atau oleh  para politisi yang memanfaatkan bantuan untuk menangguk suara kala pemilu.
UBI pada dasarnya adalah negative tax. Sebagian besar orang pasti akan membutuhkan uang lebih banyak dari kebutuhan dasar. Mereka akan bekerja dan berusaha untuk mendapat penghasilan lebih banyak. Bagi yang bekerja, negara akan menarik pajak dari mereka secara progresif. Tapi, apakah realistis diterapkan dalam skala nasional?
Iran adalah salah satu negara yang sudah menerapkannya sejak 2010. Tiap warga Iran mendapat gaji setara Rp 600 ribu per bulan, atau Rp 7,2 juta setahun. Keluarga berisi 5 anggota mendapat Rp 2.875.000 per bulan atau 34,5 juta per tahun berdasarkan nilai uang pada 2012.
Uang itu diberikan kepada setiap warga negara untuk menggantikan subsidi bahan bakar, listrik dan pangan yang diberikan negara sebelumnya untuk mengurangi ketimpangan dan kemiskinan.

UBI juga telah diujicobakan di beberapa negara bagian dan komunitas di Kanada dalam beberapa dasawarsa terakhir sejak 1970-an. Dalam salah satu eksperimen mutakhir, pada 2021, sebuah LSM Kanada bekerjasama dengan Universitas British Columbia membuat eksperimen memberikan uang setara Rp 86 juta tanpa ikatan apapun kepada sejumlah tuna wisma dan memantau mereka selama beberapa bulan. Hasil sementara eksperimen ini menunjukkan bahwa penerima memperoleh stabilitas keuangan lebih baik. Beberapa bahkan akhirnya bisa menyewa sendiri rumah/apartemen untuk jangka panjang yang membuat mereka terbebas dari hidup dalam rumah penampungan.
Pada 2016, sebuah survei di Kanada oleh Angus Reid menunjukkan, 67 persen responden mendukung income sebesar $30.000 per tahun kepada warga dewasa. Survei lain yang dilakukan Gallup International pada 2019 menunjukkan bahwa 75 persen responden di Kanada setuju UBI diberikan kepada warga yang kehilangan pekerjaan akibat maraknya teknologi artificial intelligence. Survei yang sama menunjukkan, 49 persen responden tidak keberatan dengan kenaikan pajak untuk menjamin terselenggaranya UBI.

UBI bagaimanapun bukan panasea. Bukan obat segala penyakit kemiskinan. Sebuah laporan bertajuk "Covering All the Basics: Reforms for a More Just Society" (2021), para ahli Kanada menyimpulkan bahwa UBI tidak bisa sendirian saja menyelesaikan masalah kemiskinan. Itu harus disertai langkah kebijakan publik yang meniadakan faktor kemiskinan struktural seperti ketimpangan dan kerusakan alam.
UBI dalam bentuk uang tunai langsung juga memiliki kelemahan. Uang itu bisa dibelanjakan bukan untuk kebutuhan dasar tapi untuk kemewahan atau aktivitas merusak seperti judi misalnya. Dalam konteks ini, eksperimen Circles Indonesia menjadi menarik: menggabungkan gagasan UBI dengan membangun ikatan kuat komunitas untuk saling membantu dan bekerjasama.
Para penggagas Circles mengatakan bahwa UBI adalah sebuah gerakan politik lintas-kultural paling menonjol di era modern. Gagasan ini disokong oleh sejumlah pemikir ekonomi dan politik seperti Thomas Paine, Martin Luther King Jr, Stephen Hawking, dan Milton Friedman. Di era sekarang, gagasan UBI disokong oleh pemikir seperti Yufal Harari, penulis buku Sapiens, dan dua tokoh teknologi digital Bill Gates serta Elon Musk. UBI yang semula dipandang sebagai proyek utopia yang akhirnya bisa diterapkan dan potensial membebaskan potensi kreatif yang mengendap dalam setiap diri manusia; merupakan kulminasi dari cita-cita kaum humanis selama berabad-abad.

Poin Circles dimiliki oleh pengguna, bukan oleh lembaga atau organisasi tersentral. UBI bisa diterapkan secara nasional, regional maupun lokal. Teknologi blockchain bisa mengubah perbincangan tentang UBI secara signifikan. Kini pertama kali dalam sejarah, sangat mudah untuk membuat aplikasi keuangan yang bisa secara universal diakses semua orang lewat internet.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000