Bima, Hotman Paris, Wartawan dan Kearifan.
POLEMIK muncul menanggapi jawaban Hotman Paris Hutapea kepada wartawan. Jawaban Hotman yang memancing tanggapan dari sejumlah organisasi kewartawanan, mengingatkan kita bahwa ruang publik tidak hanya membutuhkan keberanian berbicara, tetapi juga kebijaksanaan dalam memilih kata. Saya ingin menjadikan polemik peristiwa itu untuk merenungkan perihal kearifan berbicara.
Ketika saya mengikuti pendidikan penyiaran dan jurnalistik untuk menjadi penyiar radio sekaligus reporter, ada instruktur yang mengajarkan teknik berbicara dan yang lain mengingatkan mengenai etika atau adab berbicara. Mereka mengatakan bahwa suara yang bagus dan retorika yang memikat penting, tetapi keduanya akan kehilangan makna apabila tidak disertai kebijaksanaan. Pada masa itulah saya mulai mengenal pemikiran Francis Bacon. Kalimatnya yang sederhana, "Discretion of speech is more than eloquence," terus saya ingat hingga hari ini. Kebijaksanaan dalam berbicara lebih bernilai daripada sekadar kefasihan berbicara.
Beberapa tahun kemudian ketika mengikuti kursus kepemimpinan, saya juga membaca buku klasik karya Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People. Salah satu kalimatnya yang saya ingat adalah , "Any fool can criticize, condemn, and complain, but it takes character and self-control to be understanding." Siapa pun dapat mengkritik, menyalahkan, atau mengeluh, tetapi dibutuhkan karakter dan pengendalian diri untuk bersikap penuh pengertian.
Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia penyiaran, jurnalistik, dan mengajar serta mempraktekan komunikasi publik termasuk dalam lingkungan birokrasi, saya semakin memahami bahwa kedua pemikir besar itu sesungguhnya berbicara tentang hal yang sama, bahwanya kualitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kepiawaian menyusun kata-kata, melainkan oleh kematangan karakter orang yang mengucapkannya.
Diskursus di media akhir akhir ini, membawa pikiran saya pada wayang yang mengajarkan nilai kearifan. Dalam hal berbicara pikiran saya melayang kepada tokoh Werkudara atau Bima. Di antara para Pandawa, Bima adalah ksatria yang besar raganya, paling kuat dan sakti mandraguna. Tubuhnya yang tegap diiringi keberaniannya yang tak tertandingi, dan kesaktian yang tiada tandingannya. Ia berbicara lugas, sehingga seringkali berkesan keras. Ia tidak pandai berbasa-basi, pun tidak pernah menggunakan krama inggil atau bahasa halus. Dalam bahasa kampung saya, Bima adalah sosok yang Blaka Suta. Apa yang dipikirkan dengan baik, itu yang diucapkan tanpa basa basi. Akan tetapi, dalam lakon wayang apapun, kelugasannya tidak pernah berubah menjadi penghinaan. Bima tidak menyembunyikan pendapatnya, tetapi juga tidak memanfaatkan lisannya untuk mempermalukan orang lain. Baginya berbicara atau menjawab pertanyaan adalah keberanian mengatakan yang benar, bukan keberanian menyampaikan kebohongan, dan sengaja melukai perasaan orang lain. Ia menjawab ketika disapa, menjelaskan ketika ditanya, dan berbeda pendapat tanpa harus menghilangkan penghormatan kepada lawan bicaranya. *
Ini pelajaran sangat relevan bagi kehidupan modern. Seseorang mungkin memiliki kekuasaan, ketenaran, kekayaan, atau pengaruh besar. Namun semakin besar pengaruh yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga lisan dan sepak terjangnya. .
Dalam masyarakat dan kehidupan demokratis, wartawan menjalankan profesinya dengan bertanya. Narasumber memiliki hak untuk menjawab, menolak menjawab, atau mengakhiri wawancara. Semua itu merupakan bagian dari kebebasan yang dijamin dalam masyarakat yang terbuka. Namun baikpun wartawan maupun narasumber dapat berkaca dari Bima, menggunakan kata kata Francis Bacon dan Dale Carnegie sebagai salah satu acuan.
Bagi narasumber, menghormati orang yang bertanya bukan berarti menyetujui pertanyaannya, melainkan menghormati profesi dan kemanusiaan orang yang mengajukannya. Pun bagi wartawan yang bertanya, juga berlaku kaidah claritiy dan brevity, juga tentu menghormati narasumber manakala tidak bersedia menjawab.
Barangkali itulah pelajaran yang patut kita renungkan di tengah wacana di ruang publik yang semakin riuh. Kita memerlukan lebih banyak pribadi, termasuk pejabat, tokoh masyarakat, ahli hukum, atau pembela perkara, dan wartawan, yang mampu mengendalikan kata-katanya. Ini sesuai pula dengan ajaran akhlak dan adab dari agama kita. *
Keterampilan berbicara memerlukan kedalaman ilmu sebagai modal intelektual, tetapi yg tidak kalah penting adalah etika...
Terimakasih Ibu Dr. OOM NUROCHMAH. It ia really good and interesting comment