Dari Redaksi

Buku Terakhir Atmadji Belum Terbit

SW60Plus.com, 14 Oktober 2026, 18:28 WIB
Albert Kuhon
Albert Kuhon
· 347x dilihat

SELASA 6 Oktober 2026 sekitar pukul 11 saya sedang menyirami tanaman. Bintaro masih dilanda kemarau panjang dan rumah saya yang berlokasi di Sektor 9 belum kebagian hujan. Tanaman kering jika tidak disirami tiap hari. Telepon masuk tidak saya dengar, karena saya tidak bawa HP sewaktu menyirami tanaman.


Sekitar pukul 11.15 masuk pesan lewat chat WhatsApp: “Saya dirawat di EMC Alam Sutera km (maksudnya kamar) 556 Kirana.” 
Pukul 11.30 saya telepon pengirimnya, tapi tidak diangkat. Lalu saya kirim jawaban melalui chat: “Sejak kapanb, Dji? Sorry. Tadi lg siram2 tanaman, Jadi gak bawa HP.”


Karena tidak ada respon, beberapa menit kemudian saya telepon lagi. Kami bercakap singkat, sekitar 1 menit. Atmadji bercerita bahwa dia Senin malam dibawa ke rumah sakit karena sesak nafas sewaktu menonton pertandingan sepakbola Indonesia melawan Thailand. “Pas gol kelima, nafas gue sesak.” 
Saya sendiri memang sangat padat. Senin 5 Oktober saya harus menjalani fisioterapi, Selasa sehabis siram tanaman saya banyak urusan lain. Rabu saya ke laboratorium di RS Bhayangkara dan sorenya harus konsultasi dengan dokter spesialis jantung di rumah sakit lain. Kamis 8 Oktober 2026 saya harus menjalani fisioterapi lagi. Saya belum sempat menengok Atmadji yang dirawat di RS EMC.
Jumat 9 Oktober 2026 saya berkirim pesan, minta maaf sambil memberitahu bahwa saya belum sempat bezuk karena kondisi belum memungkinkan.


Kawan lama
Memed atau Atmadji Sumarkidjo teman saya sejak awal dekade 1980-an. Waktu itu saya bekerja sebagai wartawan Harian Kompas, sedang Atmadji menjadi wartawan Harian Sore Sinar Harapan (belakangan menjadi Suara Pembaruan).


Usia kami hampir sama, Memed lebih tua satu tahun dibandingkan saya. Ketika saya mencanangkan serikat buruh di Kompas dan Agustus 1989 hijrah ke Grup Suara Pembaruan, hubungan saya dengan Memed makin dekat. 


Pemimpin Umum Harian Suara Pembaruan, Albert Hasibuan, menugasi saya dan Memed bersama beberapa rekan wartawan Suara Pembaruan, menerbitkan kembali koran pagi Jayakarta. Penerbitan kembali koran itu awal September 1989 hanya diawaki oleh sekitar 11 kerabat kerja. Persiapannya dilakukan secara singkat, dimulai sekitar tanggal 22 Agustus 1989.


Untungnya, saya bersama Memed dan fotografer Priyowibowo, pertengahan Agustus 1989 pergi menyelam bersama di sekitgar Pulau Untung Jawa dan beberapa pulau lain di Kepulauan Seribu. Kami sempat menelusuri lokasi tenggelamnya kapal Tiongkok kuno di sana dan menemukan sejumlah artefak di dasar lain.


Serangkaian laporan tentang penyelaman tersebut menjadi bahan terbitan perdana Harian Jayakarta setelah koran milik Kodam Jaya itu bergabung di Grup Suara Pembaruan. Memed adalah salah seorang wartawan Suara Pembaruan yang ditugasi ikut membidani penerbitan kembali Jayakarta. Selama sekitar sembilan bulan saya bahu-membahu bersama Memed di koran itu. Beberapa wartawan senior Suara Pembaruan yang juga ikut berperanan dalam penerbitan kembali Jayakarta antara lain Suryohadi, Laurens Samsoeri, Rina Ginting, Aco Manafe, dan Petrus Suryadi. 


Setelah penerbitan koran pagi itu mulai stabil, saya ditugasi membangun Biro Koresponden Suara Pembaruan di Washington DC. Pada masa itu, kebetulan Atmadji Sumarkidjo adalah Redaktur Pelaksana yang membawahi bidang pemberitaan luar negeri di Harian Suara Pembaruan. 

Penulis buku
Atmadji menjadi reporter koran sore Sinar Harapan (belakangan dibreidel dan terbit kembali sebagai Harian Suara Pembaruan) pada akhir dekade 1970-an. Ketika karirnya di Suara Pembaruan tidak bisa berkembang, dia hijrah ke bagian pembertaan di Stasiun Televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), mendampingi Yanto Soegiarto. Atmadji berkarier sebagai Deputy News Director di RCTI tahun 2000–2010.


Atmadji menjadi penulis atau editor sejumlah buku. Kebanyakan berkaitan dengan masalah kemiliteran. Di antaranya buku Mendung di Atas Istana Merdeka: Menyingkap Peran Biro Khusus PKI dalam Pemberontakan G-30-S (2000). 


Ia juga menulis biografi Jenderal M. Jusuf, mantan Panglima ABRI, berdasarkan kedekatannya dengan sang jenderal selama bertahun-tahun. Bukunya berjudul Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit (Kata Hasta Pustaka, 2006). 
Awalnya hubungan Atmadji dengan Jenderal M. Jusuf hanya sebagai wartawan dan narasumber. Belakangan berkembang menjadi persahabatan pribadi yang berlangsung sampai M. Jusuf wafat. Kedekatan itulah yang berkembang selama bertahun-tahun tersebut menjadi landasan penulisan biografi Jusuf.


Buku Himawan Soetanto Menjadi TNI (2009), ditulisnya bersama Daud Sinjal. Dia menjadi editor buku tentang Aristides Katoppo Quoting Him: 37 Years with Journalists (2014). Beberapa buku lainnya adalah Surjadi Soedirdja: Pengabdian Tanpa Henti (2016), Strategi Raya Menuju Satu Abad Indonesia Tahun 2045 (Gramedia, 2021) yang ditulis bersama Ian Montratama. Tulisan lainnya antara lain T.B. Silalahi Bercerita tentang Pengalamannya, juga Pers Nasional, Pilar Satu-satunya yang Konsisten Anti-Korupsi (Jurnal Visi Komunikasi, 2013) dan Komunikasi Politik pada Pemilihan Umum 2014 (2014) serta Mission Accomplished (kapal selam RI Tjandrasa). 


Sejak pertengahan tahun 2025, Atmadji menulis buku tentang masuknya Timor Timur sebagai wilayah Indonesia. Akhir tahun 2025, dia bercerita kepada saya bukunya sudah rampung. Tinggal menunggu penerbitan dan menunggu momentum yang tepat di akhir tahun. Buku itu tidak kunjung terbit. Setiap bulan sekali kami bertemu buat sekadar berbincang, Saya selalu mengingatkan dia tentang penerbitan buku itu, belakangan dia mengakui kesulitan dana buat menerbitkannya. Dan buku itu belum juga terbit sampai saat ini.


Dia juga pernah membantu Daud Sinyal, menghidupkan kembali Harian Sore Sinar Harapan. Atmadji tercatat sebagai Direktur Utama perusahaan penerbitan Kata Hasta Pustaka. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Atmadji diangkat sebagai Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Politik dan Media, dilantik oleh Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan 2 April 2015. Tahun 2017 dia tercatat sebagai salah seorang Tenaga Ahli Bidang Politik dan Media pada Kemenko Kemaritiman dan Investasi.


Perjalanan hidup
Wartawan senior Atmadji Sumarkidjo lahir 17 Februari 1952 di Jakarta. Dia masuk Sekolah Tinggi Publisistik (STP, sekarang menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) tahun 1973, seangkatan dengan istrinya Sri Kawuk. Saya cukup dekat dengan keduanya. Pasangan itu dikaruniai dua putra, yaitu Ardhiatma Mardhika dan Atmadhi Mahendra. 
Saya tidak mendengar kabar apa-apa tentang keluar Amadji. Belakangan saya dengar kabar, Atmaji dan Sri Kawuk berpisah. Dalam suatu kesempatan, Sri Kawuk pernah bercerita kepada saya bahwa dia sudah menikah lagi dengan seorang perwira Angkatan Laut.


Atmadji sekitar tahun 2001-2002 menikah lagi dengan Catharina Widyasrini dan tinggal di Bintaro Sektor 9. Tidak jauh dari rumah saya. Putri Widyasrini yang bernama Natasha (dan menantunya, Kiki Mengko) adalah mahasiswa saya di Universitas Pelita Harapan di Karawaci.


Selama sekitar dua tahun terakhir, saya-Daud Sinyal-Atmadji (tiga mantan wartawan Suara Pembaruan yang tinggal di Bintaro) menyelenggarakan pertemuan bulanan. Kami berkumpull sebulan sekali, sekadar buat ngopi sambil berbincang-bincang. Tuan rumah atau jurubayarnya bergantian.    
Pertemuan kami yang terakhir berlangsung 5 September 2026 di Bintaro. Kebeetulan waktu itu giliran saya yang jadi tuan rumah.

Tanpa sepengetahuan Atmadji, saya mengundang teman-teman lamanya yaitu Sutrimo Sumarlan (mantan wartawan TVRI yang pernah menjadi direktur jenderal di salah satu kementerian), Karim Paputungan (mantan Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka) dan Yanto Soegiarto (sejawat Atmadji di RCTI yang pernah menjadi wartawan Harian Merdeka dan pimpinan Berita Satu serta Majalah Globe Asia).
Tidak ada yang menyangka, pertemuan itu adalah reriungan kami terakhir bersama Atmadji Sumarkidjo. Saya sedang di Solo, karena Senin siang mendampingi klien bermediasi di Dinas Ketenagakerjaan Surakarta. Sorenya saya ditelepon oleh Widyasrini, diberitahu bahwa Atmadji Sumarkidjo alias Memed wafat Senin 12 Oktober 2026 sekitar pukul 13 WIB. 
Atmadji menyelesaikan perjalanan hidupnya, sebelum buku terakhirnya terbit.
Selamat jalan, Sobat!*
Bintaro, 13 Oktober 2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000