Cerita
SUATU hari seorang psikolog bernama Elizabeth Loftus memperlihatkan rekaman kecelakaan mobil kepada sekelompok orang. Setelah video selesai, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana.
Kepada kelompok pertama ia bertanya, "Menurut Anda, seberapa cepat kedua mobil itu ketika menabrak?" Kepada kelompok kedua ia bertanya, "Menurut Anda, seberapa cepat kedua mobil itu ketika menghantam?" Bedanya hanya satu kata. Namun kelompok kedua memperkirakan kecepatan mobil jauh lebih tinggi. Beberapa bahkan yakin melihat pecahan kaca yang sebenarnya tidak pernah ada.
Eksperimen itu mengubah cara para psikolog memandang ingatan. Loftus menunjukkan bahwa ingatan manusia tidak bekerja seperti kamera yang merekam kenyataan apa adanya. Ingatan lebih menyerupai seorang penulis yang diam-diam menyunting cerita setiap kali kita membukanya kembali.
Barangkali itulah sebabnya memenangkan perdebatan jauh lebih sulit daripada memenangkan pertandingan catur. Dalam catur, langkah yang salah dapat dibuktikan. Dalam kehidupan, fakta yang sama sering kali melahirkan cerita yang berbeda.
Saya pernah berpikir bahwa semakin banyak data yang kita miliki, semakin mudah pula kita saling memahami. Ternyata yang sering terjadi justru sebaliknya. Di media sosial, data melahirkan data baru, tautan dibalas dengan tautan, dan setiap orang pulang dengan keyakinan yang lebih kuat daripada ketika datang.
Kurt Gray, psikolog dari University of North Carolina, menghabiskan bertahun-tahun meneliti mengapa manusia begitu sulit mengubah pandangan moralnya. Dalam Outraged, ia menunjukkan bahwa manusia jauh lebih mudah tersentuh oleh kisah tentang seseorang yang terluka daripada oleh daftar fakta yang paling lengkap sekalipun. Kita berubah bukan ketika mengetahui lebih banyak, tetapi ketika mulai merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Robert McKee menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Menurutnya, data hanya memberi tahu apa yang terjadi, sedangkan cerita membantu kita memahami bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi. Fakta memenuhi kepala, tetapi cerita menemukan jalan menuju hati.
Dunia pernah melihat perbedaan itu dengan sangat jelas. Selama berbulan-bulan orang membaca statistik tentang jutaan pengungsi Suriah. Angka-angka itu memenuhi laporan berita, tetapi tidak banyak mengubah sikap publik.
Lalu sebuah foto muncul.
Seorang balita bernama Alan Kurdi terbaring tak bernyawa di tepi pantai Turki. Dalam hitungan jam, foto itu mengelilingi dunia. Orang-orang yang sebelumnya hanya melihat jutaan pengungsi, mendadak melihat seorang anak. Statistik yang semula terasa jauh tiba-tiba memiliki wajah.
Mungkin itulah kekuatan sebuah cerita. Ia tidak menambah fakta baru. Ia hanya membuat kita berhenti melihat manusia sebagai angka.
Psikologi menyebut pengalaman itu sebagai narrative transportation. Ketika larut dalam sebuah kisah, kita berhenti menjadi penonton. Untuk beberapa saat, kita meminjam mata orang lain untuk melihat dunia.
Kalau dipikir-pikir, hampir semua pelajaran penting dalam hidup memang diwariskan melalui cerita. Orang tua mengajarkan kejujuran lewat kisah, guru mengenalkan keberanian melalui tokoh-tokoh yang menginspirasi, dan kitab-kitab suci lebih banyak berbicara melalui narasi daripada definisi.
Saya benar-benar memahami semua itu ketika seorang teman kehilangan ayahnya. Banyak orang datang dengan nasihat yang bijaksana. Ada yang mengutip ayat, ada yang mengatakan bahwa waktu akan menyembuhkan, dan ada yang mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Tuhan.
Tak satu pun mampu mengurangi kesedihannya.
Sampai suatu malam ia mulai bercerita.
Ia mengenang ayahnya yang selalu bangun lebih pagi untuk membuat kopi. Ia bercerita tentang pesan singkat yang hampir setiap hari berbunyi, "Hati-hati di jalan." Ia bahkan tertawa ketika mengingat ayahnya selalu memeriksa pintu rumah dua kali sebelum tidur.
Saat itulah saya merasa kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah saya kenal.
Bukan karena saya memperoleh informasi baru.
Melainkan karena, untuk beberapa menit, saya hidup di dalam ceritanya.
Mungkin itulah yang selama ini kita pahami keliru. Kita mengira manusia berubah karena menemukan fakta yang lebih baik. Padahal yang sesungguhnya mengubah manusia adalah saat mereka menemukan diri mereka sendiri di dalam cerita orang lain.
Statistik menghitung manusia. Ceritalah yang mengembalikan kemanusiaannya.
Terimakasih telah berbagi ilmu, sehat selalu