Cerita tentang Wanita dari Seorang Dokter
SEJAK esainya berjudul "Sudahkah Pendidikan Dokter Memanusiakan Dokter?" dimuat Jawa Pos 24 Juni lalu yang kemudian kliping-nya diposting di beranda Facebook-nya, saya lantas mencoba mencermati postingan 'Hisnindarsyah Dokter' lainnya di platform itu. Kenapa ? Sebab, sentuhan humanismenya mengetuk pintu hati saya, untuk kemudian menyelinapkan sesuatu yang boleh jadi : perspektif kedalaman kehidupan.
Salah satu alinea pada esainya itu demikian, “Dokter yang baik adalah mereka yang tetap mampu melihat manusia di balik penyakitnya. Mereka yang tetap memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan, ketulusan agar tetap peduli, dan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. Ilmu bisa diajarkan, tetapi ketulusan dan empati adalah kualitas yang harus ditanamkan.”
Dari membaca dan mengamati postingan yang lain, saya berharap siapa tahu akan menemukan hal-hal menarik sebagai bahan tulisan 1-2 karya saya nantinya. Syukur-syukur lebih dari itu.
Selama ini saya menganggap profesi dokter identik dengan pribadi berpembawaan pendiam dan cenderung introvert. Apalagi manakala profesi itu dibarengi dengan predikat militer. Bisa dibayangkan. Setidaknya demikianlah anggapan saya. Saya yakini bahwa postingan-postingan di Facebook adalah jiwa nampak dari pemilik akun.
Ternyata identifikasi sebagaimana saya sebut di atas, tidak berlaku bagi Kolonel (L) Dr.dr.Hisnindarsyah sebagaimana saya tengok dari beranda Facebook-nya. Kesimpulan saya, sosok ini humoris sekaligus humanis. Dari sekian postingannya, ada diceritakan tentang tiga peristiwa yang berhubungan dengan wanita.
Yang pertama, diposting 31 Mei 2026 : Jangan berdebat dengan wanita saat dia marah. Tunggu saat dia tenang. Dan jangan berdebat dengan wanita saat dia tenang. Nanti dia marah.
Apelo...apelo ...Met bobo gaes ...
Lantas postingan tanggal 2 Juni 2026 begini: Katanya, sebagian perempuan seperti bunga.
Makin tua, makin layu ... Faktanya, sebagian dari perempuan adalah
pohon beringin. Makin tua, makin angker...
Tolongggg...
Saya duga dua kisah di atas adalah saduran. Namun lepas dari itu, sosok dokter militer ini pribadi menyegarkan.
Sedangkan cerita ke-3 yang diposting 22 Juni 2026 realitas yang bersentuhan dengan dirinya, sarat humanisme yang berpijak pada komitmen di mana dia bersikap : Saat itu, aku berdiri mengantre di satu minimarket. Sebetulnya hanya ingin mampir ke toilet, karena kebelet dan tidak pake pampers, eh... Namun gengsi kalau tidak beli sesuatu. Teh kotak, silver queen, ice cream dan koyo dong, jadi target utama.
Berikutnya, aku mengantre di depan kasir. Bersiap untuk membayar. Di depanku, berdiri membelakangi seorang wanita muda. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya.
Usianya kuterka : 30-an.
Langsing? Sepertinya.
Eh, tepatnya kurus, mungkin itu --maaf-- istilah yang tepat.
Berkacamata, bersandal swallow.
Bajunya dirangkapi sweater.
Berapa mbak, tanyanya.
Dua puluh dua ribu, jawab mbak kasir.
Lalu dia mengeluarkan dompet kecil yang lebih layak disebut tempat kartu tol.
Lalu pelan-pelan dia mulai menghitung lembaran lusuh 1000-an, 2000-an, 5000-an -- beberapa lembar. Tidak tampak lembaran sepuluh ribu, apalagi dua puluh ribu.
Limpul atau cepekceng? Waow jangan harap.
Nampak dia berpikir keras. Lalu dia mempersilakan aku maju dulu ke kasir. Lalu aku perhatikan apa yang dibelinya di meja kasir : permen mainan anak bergambar sapi lucu warna pink . Tercekat sebentar. Aku teringat my princess. Anak gadisku saat ini, yang dulu saat kecil, gemar permen seperti itu.
Tanpa berkata apapun, aku membayar yang aku beli. Dan juga kubayar apa yang wanita muda itu beli. Tanpa berkata pada wanita itu. Lalu aku pergi ke mobil melanjutkan perjalananku.
Lantas kumerenung. Dua puluh dua ribu? Membayar pun mesti berhitung dulu.
Sedangkan ada orang menggarong triliunan, memeras miliaran, tanpa berhitung, tanpa peduli.
Betapa banyak orang menderita karena perilaku serakah dan rakus.
Semoga kita sedang tidak bahagia di atas derita sesama warga.
Ya Alloh, Konoha...
Sehabis membaca postingan 'Hisnindarsyah Dokter' ini saya teringat quote yang terselip di antara sekian quote lainnya yang saya tidak tahu siapa penulisnya. Yang jelas dikirim oleh Husnul Abdi dan dimuat di portal berita Liputan 6.com. pada 2 Januari 2023.
"Tinggalkan sesuatu untuk seseorang, tetapi jangan tinggalkan seseorang untuk sesuatu." (*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar