Ceroboh
"Kok bisa ya? Orang itu jelas-jelas salah, tapi malah makin banyak yang suka."
Kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas di kepala kita. Ada tokoh publik yang salah bicara saat wawancara, pembicara yang terpeleset saat naik panggung, atau atasan yang keliru mengambil keputusan.
Logikanya sederhana: orang yang berbuat salah seharusnya kehilangan kepercayaan. Anehnya, dalam beberapa kasus, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka tetap dihormati, bahkan kadang-kadang semakin disukai.
Kalau Anda mengira ini sekadar ulah netizen yang gampang lupa, psikologi punya penjelasan yang jauh lebih menarik. Para psikolog menyebutnya Pratfall Effect, yaitu kecenderungan kita untuk lebih menyukai seseorang yang sangat kompeten ketika ia melakukan kesalahan kecil.
Bukan karena kita menikmati kegagalannya, melainkan karena kesalahan itu membuatnya terlihat lebih manusiawi.
Dalam bukunya 59 Seconds, Richard Wiseman membuka pembahasan dengan kisah Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Pada tahun 1961, Kennedy menyetujui invasi Teluk Babi di Kuba, sebuah operasi militer yang berakhir sebagai kegagalan besar. Banyak pihak memperkirakan karier politiknya akan terpukul karena keputusan tersebut terbukti keliru.
Namun, yang terjadi justru mengejutkan. Wiseman menceritakan bahwa setelah peristiwa itu, tingkat kesukaan masyarakat terhadap Kennedy justru meningkat. Penyebabnya bukan karena publik memaklumi kegagalan, melainkan karena mereka melihat sesuatu yang jauh lebih penting. Kennedy tidak sibuk mencari kambing hitam, tidak menyalahkan bawahannya, dan tidak berusaha mencuci tangan. Ia berdiri di depan publik dan mengakui bahwa keputusan itu merupakan tanggung jawabnya.
Dalam sekejap, citranya berubah dari sosok yang nyaris sempurna menjadi pemimpin yang berani mengakui kekeliruannya.
Barangkali kita memang lebih mudah memaafkan orang yang berani mengakui kesalahan daripada orang yang sibuk mencari alasan. Bukan karena salah itu baik, melainkan karena kejujuran membuat seseorang lebih dipercaya.
Mungkin memang begitu cara otak kita bekerja. Kita mengagumi orang yang hebat, tetapi merasa lebih dekat dengan orang yang pernah salah. Kesempurnaan menciptakan jarak, sedangkan sedikit ketidaksempurnaan membuat kita merasa berada di level yang sama.
Coba ingat dosen favorit, atasan yang kita hormati, atau senior yang kita kagumi. Ketika mereka sesekali keliru mengucapkan istilah, salah mengeja kata di slide presentasi, atau lupa membawa spidol ke ruang rapat, rasa hormat kita tetap tidak hilang. Yang muncul justru senyum kecil yang berkata dalam hati, "Syukurlah, ternyata beliau juga manusia."
Tentu saja, satu kisah politik belum cukup untuk membuktikan sebuah teori. Elliot Aronson, psikolog dari Universitas California, kemudian menguji gagasan tersebut melalui eksperimen yang kini menjadi salah satu penelitian klasik dalam psikologi sosial. Ia meminta para partisipan mendengarkan rekaman seorang mahasiswa yang sedang mengikuti kuis pengetahuan umum.
Pada versi pertama, mahasiswa itu tampil nyaris sempurna. Ia menjawab lebih dari sembilan puluh persen pertanyaan dengan benar, berbicara dengan tenang, dan menceritakan prestasinya tanpa terdengar sombong. Pokoknya, tipe mahasiswa yang membuat peserta lain diam-diam berharap soal berikutnya lebih sulit. Di akhir wawancara, tiba-tiba terdengar suara tumpahan secangkir kopi mengenai jas barunya.
Tidak ada drama. Tidak ada musik yang tiba-tiba terasa sendu. Hanya satu kecerobohan kecil yang mungkin pernah dialami siapa saja. Anehnya, justru setelah mendengar insiden itu, para partisipan mengatakan bahwa mahasiswa tersebut menjadi lebih disukai. Nilai kompetensinya tidak turun sedikit pun, tetapi kesan angkuhnya ikut luntur. Tiba-tiba ia tidak lagi terlihat seperti manusia yang selalu benar. Ia tetap pintar, tetapi juga bisa ceroboh seperti kita.
Mengapa Orang Hebat Justru Makin Disukai Saat Berbuat Salah?
Rasanya seperti melihat dosen killer tiba-tiba salah mengeja kata "psikologi". Ilmunya tidak berkurang sedikit pun. Yang berubah hanyalah jarak di antara kita.
Aronson kemudian membuat versi kedua dari eksperimen tersebut. Kali ini, mahasiswa yang diwawancarai bukanlah sosok yang mengagumkan. Ia hanya mampu menjawab sekitar tiga puluh persen dari pertanyaan dengan benar.
Prestasinya biasa saja, bahkan cenderung mengecewakan. Di akhir rekaman, ia melakukan kesalahan yang sama persis: secangkir kopi tumpah mengenai jasnya.
Kalau teori "orang suka melihat orang berbuat salah" benar, mahasiswa ini seharusnya juga jadi lebih disukai. Nyatanya, hasil penelitian menunjukkan hal yang berlawanan.
Tingkat kesukaannya justru merosot tajam. Alih-alih mengundang simpati, kecerobohan itu memperkuat kesan bahwa ia memang kurang kompeten.
Dari sinilah lahir pelajaran paling penting tentang Pratfall Effect. Kesalahan kecil tidak secara otomatis membuat seseorang lebih menarik. Kesalahan hanya menjadi "pemanis" ketika orang tersebut sudah lebih dulu membuktikan bahwa ia memang mampu. Dengan kata lain, reputasi dibangun oleh kompetensi, sedangkan kecerobohan kecil hanya membuat kompetensi itu terasa lebih manusiawi.
Fenomena ini sebenarnya mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seorang chef hotel bintang lima sedikit kegosongan saat memanggang steak, pelanggan mungkin menyebutnya smoky flavor atau bahkan menganggapnya sebagai bagian dari karakter masakan. Namun, kalau saya yang menggosongkan mi instan, jangan harap ada yang memuji kreativitas. Kemungkinan besar orang hanya bertanya, "Mas, tadi kompornya lupa dimatikan, ya?" Kesalahan yang sama ternyata menghasilkan penilaian yang berbeda. Yang membedakannya bukan kesalahannya, melainkan reputasi orang yang melakukannya.
Richard Wiseman kemudian penasaran, apakah efek ini hanya hidup di laboratorium atau benar-benar muncul dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjawabnya, ia mengadakan demonstrasi blender di sebuah pusat perbelanjaan. Dua demonstran diberi tugas yang sama: membuat jus buah di depan para pengunjung. Bedanya, yang satu tampil sempurna, sedangkan yang lain mengalami insiden kecil yang sama sekali tidak direncanakan.
Sara mendapat giliran pertama. Ia memasukkan buah dengan tenang, memasang tutup blender dengan benar, menyalakannya tanpa hambatan, lalu menuangkan jus ke dalam gelas dengan rapi. Penonton bertepuk tangan. Semuanya berjalan seperti iklan peralatan dapur di televisi: bersih, rapi, dan nyaris tanpa cela.
Kemudian giliran Emma. Baru beberapa detik setelah blender menyala, tutupnya terlepas. Jus muncrat ke mana-mana hingga membasahi pakaian dan wajahnya.
Kalau itu terjadi pada kita, mungkin pilihan yang muncul hanya dua: pura-pura tidak mengenal siapa pun di ruangan itu, atau langsung mengajukan mutasi ke cabang lain.
Namun Emma hanya tersenyum, membersihkan seperlunya, lalu melanjutkan demonstrasi hingga selesai.
Ketika para penonton diwawancarai, hampir semuanya sepakat bahwa Sara lebih profesional. Akan tetapi, saat ditanya siapa yang paling mereka sukai, mayoritas justru memilih Emma. Alasannya sederhana.
Sara membuat orang bertepuk tangan.
Emma membuat orang tersenyum.
Dan dalam hubungan antarmanusia, senyum sering kali lebih dekat daripada tepuk tangan.
Kalau dipikir-pikir, kita memang sering seperti itu. Kita kagum kepada atlet yang selalu menang, tetapi kita tersenyum ketika melihat cuplikan ia terpeleset saat latihan. Kita menghormati dosen yang ilmunya luar biasa, tetapi justru semakin menyukainya ketika ia salah menulis rumus lalu tertawa sambil menghapusnya. Kesalahan kecil tidak menghapus kehebatan mereka. Justru kesalahan itulah yang mengingatkan kita bahwa mereka masih manusia.
Menariknya, efek ini tidak berhenti pada kecerobohan yang tidak disengaja. Penelitian Edward Jones dan Eric Gordon menunjukkan bahwa seseorang yang berani mengakui kelemahannya sejak awal percakapan justru dinilai lebih jujur dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan orang yang baru mengakuinya belakangan. Keterbukaan memberi kesan bahwa seseorang cukup percaya diri untuk tidak bersembunyi di balik citra yang serba sempurna. Ternyata, kejujuran sering kali lebih memikat daripada pencitraan.
Lalu mengapa kita tetap mati-matian berusaha terlihat sempurna? Salah satu jawabannya datang dari penelitian Thomas Gilovich dan rekan-rekannya tentang Spotlight Effect. Mereka menemukan bahwa manusia cenderung melebih-lebihkan perhatian orang lain terhadap kesalahan yang kita buat. Dalam salah satu eksperimennya, peserta yang dipaksa mengenakan kaus bergambar penyanyi Barry Manilow memperkirakan sekitar separuh orang di ruangan pasti akan memperhatikan kaus tersebut. Kenyataannya, hanya sekitar dua dari sepuluh orang yang benar-benar menyadarinya.
Temuan itu mengandung pelajaran yang menenangkan. Kita sering merasa sedang menjadi pemeran utama dalam kehidupan orang lain. Padahal kenyataannya, kebanyakan orang sedang sibuk menjadi pemeran utama dalam kehidupannya sendiri. Mereka lebih sibuk memikirkan pekerjaan yang belum selesai, cicilan yang jatuh tempo, atau mengingat apakah gas di rumah sudah dimatikan, daripada mengingat kita tadi salah mengucapkan satu kata saat presentasi.
Tentu saja, semua ini bukan berarti kita boleh sengaja membuat kesalahan demi terlihat menarik. Jangan pula sengaja menumpahkan kopi saat wawancara kerja dengan harapan pewawancara langsung jatuh hati. Pratfall Effect bukan resep untuk menjadi ceroboh. Ia hanya mengingatkan bahwa kesempurnaan bukan syarat mutlak untuk mendapatkan kepercayaan.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menyembunyikan kekurangan. Padahal, yang membuat orang menjauh bukanlah satu kesalahan kecil, melainkan sikap kita setelah kesalahan itu terjadi.
Di sinilah paradoksnya. Kita menghabiskan banyak tenaga untuk terlihat sempurna, padahal yang membuat orang percaya bukanlah kesempurnaan itu sendiri. Yang membuat mereka percaya adalah keberanian untuk mengakui ketika kesempurnaan itu retak.
Kita memang mengagumi orang yang sempurna. Namun, kita mempercayai orang yang manusiawi.
Dan dalam hubungan antarmanusia, kepercayaan hampir selalu lebih berharga daripada kekaguman.
Kalau suatu hari Anda melakukan kesalahan kecil, apa yang akan Anda lakukan? Menutupinya... atau cukup tersenyum, mengakuinya, lalu melangkah lagi?
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar