Cuma Butuh "Dua Jangan"
PADA 30 Juli lalu berlangsung penutupan acara institusi kerja sama berbagai negara, di Sibolga, Sumatera Utara.
Sebagai dokter yang tulisannya tersebar di media cetak mainstream, portal berita, maupun media sosial --di mana pada even itu sahabat saya yang juga doktor ilmu manajemen sebagai salah satu peserta-- lantas menulis semacam self reminder di beranda Facebook-nya. Begini.
"Dua Jangan" yang perlu dijaga komitmennya. Pertama, jangan menunda apapun. Segera selesaikan, karena banyak hal yang menunggu giliran. Kedua, jangan mempersulit orang. Apalagi jika menyangkut hak dan kehidupannya.
Karena jalan akan terbuka dengan membuka kemudahan bagi orang lain: Beautiful Karma.
Setelah membaca postingan itu, sejenak saya merenung. Esensi kalimat ini rasanya pernah melintas di lubuk hati saya. Hanya, kalimat-kalimat yang dipostingnya terasa lebih tajam. Dan cenderung menguak lebih dalam maknanya. Lantas abstraksi saya melayang-layang mencoba mengelaborasi terminologi dari kredo itu.
Mungkin begini. Sebagian besar keribetan hidup itu karena ulah kita sendiri. Sumbernya hanya dua: 'menunda' dan 'mempersulit orang lain'.
Menunda itu mirip utang. Awalnya kecil, lama-lama jadi besar, lama-lama gak terasa molor mengangsurnya.
Dalam konteks kehidupan rumah-tangga misalnya, salah satu pasangan mau minta maaf tertunda terus lantaran gengsi. Akibatnya suasana rumah jadi dingin berhari-hari. Masih sekitar intern rumah tangga -- mau memuji anak, ditunda. Giliran ada waktu, anak sudah tidak butuh lagi asupan psikologi. Jiwa anak meronta cenderung kering.
Di kantor, mau membalas email: nantilah. Akhirnya satu tim ikut tertahan pekerjaannya.
Bahkan niat baik seperti sedekah juga sering ditunda dengan alasan menunggu gajian. Padahal kemampuan finansial masih tercukupi.
Marcus Aurelius, kaisar sekaligus filsuf Stoik, pernah mengingatkan: Jangan menunda lagi. Kerjakan yang bisa dikerjakan hari ini. Karena kita tidak pernah tahu, apakah besok masih ada kesempatan yang sama.
Dan ini yang sering bikin jengkel. Pada institusi pelayanan umum, ada petugas yang mempersulit pengurusan berkas, padahal bisa dimudahkan.
Prinsipnya sederhana: manakala memudahkan orang lain, maka urusan kita juga akan dimudahkan. Ini bukan mitos. Ini hukum sebab akibat.
Al-Farabi di Al-Madinah Al-Fadhilah pernah bilang : Masyarakat ideal itu yang semua orang gerak tanpa menunda, demi kebaikan bersama.
Lantas seorang wartawan yang penyair mengajak, jika kurang yakin mari mencoba bereksperimen, lakukan dua hal ini selama 7 hari. Segera laksanakan pekerjaan yang paling tidak disukai. Dan bantu satu orang tanpa mengharap imbalan.
Dan saya percaya, -- hasilnya akan terasa. Tanggung jawab lebih cepat selesai, pikiran lebih tenang, dan hubungan dengan orang lain jadi lebih baik.
Akhirnya saya mencoba menyimpulkan postingan sahabat saya di beranda Facebook-nya itu : Jangan menunda. Jangan mempersulit. Percaya deh, hidup akan jadi lebih ringan. Begitulah karmanya. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar