Sendirian
Agustus 2026 lalu, Angela Duckworth menulis artikel di The New York Times. Ia profesor psikologi University of Pennsylvania. Dunia mengenalnya sebagai peneliti psikologi prestasi.
Ia penulis dua buku laris, Grit dan Situated. Grit membahas kekuatan dari dalam: gairah dan ketekunan untuk mencapai tujuan. Situated menyoroti kekuatan dari luar: orang, hubungan, dan lingkungan.
Keduanya menawarkan pesan yang saling melengkapi. Keberhasilan membutuhkan kegigihan untuk terus maju. Namun, kita juga membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan kita.
Menariknya, kali itu Duckworth justru menulis tentang meminta bantuan. Lima tahun sebelumnya, ia hampir kehilangan ibunya. Mereka sedang snorkeling di lepas pantai Miami.
Arus tiba-tiba menyeret keduanya menjauh dari kapal. Ibunya yang berusia 86 tahun menghirup air. Tidak lama kemudian, ia kehilangan kesadaran.
Duckworth berusaha menarik ibunya ke tempat yang aman. Ia menendang dan mengayuh sekuat tenaga. Namun, lautan tidak peduli pada grit seseorang.
Paru-parunya mulai terbakar. Kakinya semakin berat. Ia sadar bahwa tidak mungkin memenangkan pertarungan itu sendirian.
Duckworth kemudian mengubah strategi. Satu tangan menyangga kepala ibunya. Tangan lainnya terangkat meminta pertolongan.
Orang-orang datang membantu. Mereka mengangkat ibunya kembali ke kapal. Hari itu, kegigihan memang penting, tetapi tidak cukup.
Pengalaman tersebut mengguncang mitos lama tentang kesuksesan. Kita mengagumi manusia yang mampu berdiri sendiri. Padahal, hampir tidak ada keberhasilan yang benar-benar terjadi tanpa bantuan.
Duckworth menyebut adanya illusion of independence. Kita mudah melupakan bantuan yang membentuk kemampuan kita. Bahkan, kecenderungan itu muncul sejak kecil.
Dalam sebuah eksperimen, anak-anak mempelajari mesin asing. Sebagian mendapat contoh dan petunjuk. Bantuan itu membuat mayoritas mereka berhasil.
Namun, sekitar 70 persen kemudian merasa bahwa mereka belajar sendiri. Bantuannya nyata, tetapi ingatannya menghilang. Rupanya, pengambilan kredit dimulai cukup dini.
Semakin mampu seseorang, semakin tahu kapan harus meminta bantuan orang lain.
Apa yang ditemukan Duckworth di lautan, dialami Brian Alink di organisasi. Sebagai pemimpin senior di Capital One, Brian menghadapi arus yang berbeda. Ia harus mengubah layanan pelanggan menjadi layanan berbasis digital.
Masalah terbesarnya ternyata bukan teknologi. Transformasi itu membutuhkan banyak divisi. Ada Fraud, Collection, Credit Policy, dan Credit Lines.
Setiap divisi memiliki tanggung jawab yang berbeda. Mereka juga mengejar KPI berbeda. Akibatnya, dua kepentingan yang benar bisa menghasilkan pengalaman pelanggan yang salah.
Kekuatan sejati tumbuh ketika kita tahu kapan kita membutuhkan tangan orang lain.
Fraud menginginkan verifikasi semakin ketat. Digital menginginkan proses yang semakin sederhana. Sementara itu, pelanggan hanya ingin masalahnya segera diselesaikan.
Pelanggan tidak membaca bagan organisasi kita. Mereka tidak peduli siapa pemilik proses. Mereka hanya merasakan hasil akhirnya.
Masalah Brian semakin rumit. Banyak pihak tidak berada di bawah kewenangannya. Ia membutuhkan mereka, tetapi tidak bisa memerintah mereka.
Maka, Brian memilih mendengarkan. Ia melakukan listening tour kepada para pemimpin lintas fungsi. Ia mencoba memahami tekanan yang mereka hadapi.
Pendekatan serupa ia terapkan pada timnya. Brian ingin mengenal manusia di balik jabatan. Baginya, hubungan harus mendahului kolaborasi.
Dalam pertemuan selama 4 jam, Brian membuka kisah masa kecilnya. Keluarganya pernah mengalami kesulitan finansial. Mereka tinggal di trailer di KOA Campground.
Di sana, Brian kecil membuat sebuah janji. Ia akan belajar dan bekerja keras. Suatu hari, ia ingin melindungi keluarganya.
Keterbukaan itu mengubah suasana.
Anggota tim mulai membagikan perjuangan mereka. Kepercayaan tumbuh ketika jabatan memberi ruang bagi manusia.
Brian kemudian membuat Snack and Chats. Kelompok kecil berkumpul dan berbicara santai. Mereka membicarakan kehidupan di luar pekerjaan.
Tidak ada algoritma canggih. Tidak ada transformasi tujuh tahap. Hanya camilan dan percakapan.
Ternyata manusia masih kompatibel dengan teknologi kuno bernama ngobrol.
Namun, kedekatan bukan tujuan akhirnya. Brian mengubah kepercayaan menjadi tindakan. Ketika divisi lain kekurangan tenaga teknis, ia membantu.
Brian meminjamkan developer dari timnya sendiri. Ia juga memberikan panggung kepada divisi lain. Mereka mendapat kredit atas keberhasilan bersama.
Sekilas, Brian seolah kehilangan sumber daya dan sorotan. Justru di situlah pengaruhnya tumbuh. Kepercayaan yang ditanam kembali sebagai kolaborasi.
Hasilnya kemudian dirasakan pelanggan. Pada 2016, mereka menghemat ratusan ribu jam panggilan telepon. Rasio panggilan terhadap akun aktif mencapai titik terendah.
Indeks rekomendasi pelanggan juga mencapai rekor tertinggi. Kepercayaan bukan dekorasi budaya perusahaan. Kepercayaan adalah infrastruktur kinerja.
Di sinilah kisah Duckworth dan Brian benar-benar bertemu. Duckworth mengangkat tangan ketika arus menyeretnya. Brian mengulurkan tangan ketika silo menahan organisasinya.
Keduanya menunjukkan sesuatu yang sama. Kekuatan bukan kemampuan untuk mengerjakan semuanya sendiri. Kekuatan adalah mengetahui kapan kita membutuhkan orang lain.
Bagi manajer, aplikasinya sederhana. Jangan memulai kolaborasi dengan meminta. Mulailah dengan memahami apa yang sedang diperjuangkan orang lain.
Lalu, berikan sesuatu yang mereka butuhkan. Bisa berupa informasi, tenaga, akses, atau keahlian. Ketika keberhasilan datang, bagikan pula panggungnya.
Dengarkan. Bantu. Bagikan panggung.
Lima tahun setelah kejadian Atlantik, ibu Duckworth berusia 91 tahun. Kehadirannya menjadi pengingat sederhana. Hari itu, satu tangan terangkat untuk menyelamatkan dua nyawa.
Organisasi kita mungkin tidak sedang tenggelam di Atlantik. Namun, banyak pemimpin masih berenang sendirian. Mereka bekerja lebih keras ketika seharusnya meminta bantuan.
Kita tentu membutuhkan grit. Kita membutuhkan kegigihan ketika keadaan menjadi sulit. Namun, kegigihan juga membutuhkan kebijaksanaan.
Sebab tidak semua masalah membutuhkan tangan yang semakin kuat.
Beberapa masalah membutuhkan tangan yang berani untuk mengatasinya.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
DAFTAR PUSTAKA
Duckworth, A. (2026, August 28). I study high achievers. They have one habit in common. The New York Times.
Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2017). The leadership challenge: How to make extraordinary things happen in organizations (6th ed.). Jossey-Bass.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar