Esai

Dari Ken Arok dan Kebo Ijo ke Polemik Gibran

SW60Plus.com, 13 Oktober 2026, 18:46 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 182x dilihat

PERKEMBANGAN ijazah Gibran Rakabuming Raka  mengingatkan saya pada kisah jaman Tumapel dan teori Machiaveli. Mengapa? Dalam kisah Ken Arok yang dikenal melalui Pararaton, perebutan kekuasaan di Tumapel, menyimpan pelajaran tentang ambisi, tipu daya, dan manipulasi persepsi.


Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, tewas dengan keris Mpu Gandring menancap di dadanya, di tempat tidurnya. Ken Arok, memanfaatkan kejadian itu untuk mengarahkan kecurigaan kepada Kebo Ijo. Sebelumnya, Kebo Ijo dikenal gemar memamerkan keris tersebut kepada orang di lingkungan Tumapel. Menurut kisah,  Kebo Ijo memamerkan keris  itu, karena Ken Arok dengan sengaja meminjamkannya, tanpa diketahui oleh orang lain. 


Ketika keris Mpu Gandring itu menancap di dada Tunggul Ametung, kecurigaan pun tertuju kepadanya. Dalam alur kisah tersebut, Ken Arok memanfaatkan keadaan untuk menghabisi nyawa Kebo Ijo. Ken Arok mencabut keris dari dada Tunggul Ametung, dan dengan mangatakan bahwa Keris itu milik Kebo Ijo, Ken Arok langsung menancapkannya di dada Kebo ijo, yang panik dan kebingungan. Ken Arok pun mencapai tujuannya, dan dianggap sebegai pahlawan kebenaran, sehingga dengan mudah ia menggantikan Tunggul Ametung,


Kisah yang memadukan unsur sejarah dan legenda Jawa ini menghadirkan pertanyaan yang tetap relevan yaitu  benarkah apa yang terlihat selalu mencerminkan kebenaran? Ataukah persepsi dapat dibentuk sedemikian rupa sehingga seseorang tampak bersalah, sementara peran pihak lain luput dari perhatian?


Machiavelli dan Seni Memperoleh  Kekuasaan
Dari buku The Prince karya Niccolò Machiavelli,   dapat diketahui   bagaimana teori mengenai penguasa yang memperoleh dan mempertahankan kekuasaan melalui strategi, kemampuan membaca keadaan, menggunakan kekuatan, serta mengelola citra dan persepsi.


Dalam pemahaman populer istilah Machiavellian merujuk pada perilaku manipulatif yang mengutamakan keberhasilan politik dengan mengabaikan pertimbangan moral. Ungkapan the ends justify the means, atau tujuan menghalalkan cara, sering dikaitkan dengannya, meskipun bukan merupakan kutipan langsung yang merangkum seluruh pemikiran Machiavelli.


Jika kisah Ken Arok dibaca melalui perspektif tersebut, kita melihat bagaimana ambisi kekuasaan dapat mendorong seseorang memanfaatkan keadaan, mengarahkan kecurigaan, dan mengorbankan pihak lain demi mencapai tujuan. Setidaknya teori Machiavelli dapat  membantu kita mengajukan pertanyaan, sedangkan untuk fakta diperlukan pengujian atau penelitian atau dalam teori jurnalisme berdasar disiplin verifikasi. 


Dalam perspektif inilah  kita dapat  mencoba membaca dinamika politik Indonesia, khususnya kontroversi yang melibatkan Gibran Rakabuming Raka dalam teori Machiavelli dan berefleksi pada Ken Arok.


Gibran: Pemain, Pion, atau Pusat Pertarungan Persepsi?
Dalam politik posisi seseorang tidak selalu sesederhana yang terlihat di permukaan. Seseorang bisa menjadi pengambil keputusan, bagian dari strategi yang dirancang pihak lain, atau justru sosok yang menjadi pusat pertarungan persepsi di tengah masyarakat. Karena itu, ketika membaca kontroversi yang melibatkan Gibran, dengan pendekatan otak atik gatuk strategi Ken Arok dan Machiavellianism, ada tiga pertanyaan yang dapat dan patut diajukan.


Pertama, apakah Gibran adalah pemain yang secara sadar menjalankan strategi kekuasaan?
Pertanyaan ini menyangkut kapasitas dan peran politiknya sendiri. Apakah keputusan dan langkah politik yang diambilnya menunjukkan suatu strategi yang dapat diidentifikasi? Sejauh mana ia bertindak sebagai pengambil keputusan, dan sejauh mana tindakannya dipengaruhi oleh kepentingan politik yang lebih luas? Untuk menjawabnya, kita perlu memeriksa tindakan dan keputusan yang konkret, dan asal muasal Gibran mencalonkan diri, dan bukan sekadar menyimpulkan berdasarkan kedudukan atau keuntungan politik yang diperolehnya.


Kedua, apakah Gibran merupakan bagian dari permainan kekuasaan yang lebih besar?
Dalam politik, seorang tokoh dapat memperoleh keuntungan dari suatu proses tanpa harus menjadi satu-satunya perancang proses tersebut. Keputusan politik, lazimnya  sering melibatkan banyak aktor, kepentingan, dan institusi. Pertanyaan pentingnya adalah siapa yang mengambil keputusan, siapa yang paling diuntungkan, bagaimana proses itu berlangsung, dan siapa yang harus mempertanggungjawabkannya. Namun, kemungkinan bahwa seseorang berada dalam pusaran kepentingan yang lebih besar tidak otomatis berarti ia merupakan korban. Hal itu harus ditelaah berdasarkan bukti mengenai peran dan tindakannya.


Ketiga, apakah Gibran telah menjadi pusat pertarungan persepsi yang membuat persoalan lebih mendasar justru terabaikan?
Di sinilah metafora Kebo Ijo menjadi menarik.
Dalam suatu kontroversi politik, perhatian masyarakat dapat terpusat pada satu tokoh, sementara proses, aktor lain, dan kepentingan yang melatarbelakanginya kurang mendapat perhatian. Akan tetapi, dalam hampir setiap kejadian,  keadaan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya rekayasa atau upaya sengaja menjadikan seseorang sebagai tumbal.


Pertanyaan yang perlu diajukan ialah apakah perhatian publik terhadap Gibran membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh, atau justru membuat perdebatan berhenti pada sosoknya?   Apakah masyarakat sedang menilai tindakan dan keputusan yang konkret, atau lebih banyak memperdebatkan citra yang dibangun oleh para pendukung maupun pengkritiknya?


Dan jika terdapat kepentingan politik yang lebih luas, bagaimana kita dapat mengidentifikasi peran masing-masing pihak tanpa terjebak dalam dugaan yang belum terbukti?


Ketiga pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar yaitu dalam permainan kekuasaan, apakah seseorang sepenuhnya menjadi pemain, sekadar pion, atau dapat berada dalam kedua posisi itu pada saat yang berbeda?


Tentu, saya  tidak boleh tergesa-gesa menempatkan Gibran sebagai Ken Arok ataupun Kebo Ijo. Analogi sejarah bukanlah bukti mengenai karakter atau tindakan seseorang pada masa kini. Nilai analogi tersebut terletak pada kemampuannya mendorong kita memeriksa cara kekuasaan bekerja, bagaimana persepsi dibentuk, dan siapa yang memperoleh keuntungan dari suatu proses politik.


Kekuasaan, Kepercayaan Publik, dan Ketenteraman.
Kisah Ken Arok  mengingatkan kita bahwa keberhasilan merebut kekuasaan tidak selalu menghasilkan ketenteraman. Dalam tradisi kisah Singasari, keris Mpu Gandring dan sumpah Sang Empu menjadi simbol konsekuensi moral dari ambisi yang ditempuh melalui tipu daya dan kekerasan. Pergantian kekuasaan di Singasari selalu ditandai dengan perseteruan dan pertumpahan darah. Konon, semua itu sebagai karma atas kesewenangan Ken Arok yang membunuhnya tanpa alasan.. 


Kisah Ken Arok dan Kebo Ijo mengingatkan kita bahwa dalam politik, orang yang paling terlihat menjadi sasaran kritik, caci maki  dan kecurigaan, belum tentu merupakan   pihak yang melakukan kesalahan dan memainkan strategi.   


Pelajaran terpenting dari kisah Ken Arok dan Kebo Ijo,  adalah  bahwa manusia, di setiap jaman, dapat terjebak dalam pola yang sama ketika kekuasaan lebih diutamakan daripada kebenaran, persepsi menggantikan pembuktian, dan kepentingan mengalahkan keadilan.  Dan sejarah juga menunjukkan bahwa orang yang ambisius dan melakukan kejahatan demi kekuasaan, suatu kali akan menerima buah dari apa yang ia sudah lakukan. Ini yang menimpa Ken Arok dan tujuh  turunannya yang terukir dalam sejarah yang berdarah-darah.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000