Debu Krakatau 1883 Membuat Langit Eropa dan Amerika Memerah
LANGIT Eropa dan Amerika memerah, kala senja ada yang berubah jadi merah darah. Dunia dipayungi debu letusan dahsyat Krakatau 1883. Dentumannya terdengar jelas dan berkali-kali sejauh 4.800 kilometer dari titik letusan. Berikut kisahnya.
London, 9 November 1883. Tujuh puluh empat hari setelah Krakatau meletus dahsyat, 27 Agustus 1883. Langit memerah, bagai ada yang luka, entah di mana. Orang menengadah, banyak yang takut serta tak mengerti. Pelukis William Ascroft, dari rumahnya di Chelsea, membuat sketsa demi sketsa tentang langit kota mereka. Sketsa itu kini disimpan di Science Museum Group, London. Informasi kemudian tersebar. Debu halus itu dibawa angin ke Eropa, nun jauh dari Timur. Mereka diberi tahu, ini akibat debu halus dari Hindia Belanda. Sebuah gunung di sana bukan hanya meletus, tapi hancur lebur, dua pertiga pulaunya lenyap ke laut. Namanya Krakatau!
Debu dari Selat Sunda itu bukan hanya sampai di Eropa. Juga Amerika. Koran The New York Times, 28 November 1883, halaman 2, melaporkan langit merah di New York pada senja 27 November 1883 dengan kalimat yang mendebarkan, “Soon after 5 o’clock the western horizon suddenly flamed into a brilliant scarlet, which crimsoned sky and clouds. People in the streets were startled at the unwonted sight… The clouds gradually deepened to a bloody red hue, and a sanguinary flush was on the sea…”
(Tak lama setelah pukul 5 ufuk barat mendadak menyala merah tua cemerlang, yang memerahkan langit dan awan. Orang-orang di jalan terkejut oleh pemandangan yang tak lazim itu. Awan lambat laun makin merah seperti darah, dan semburat merah darah membayang di laut.)
Sudah Erupsi Sejak Mei 1883
Letusan hebat Agustus 1883 itu tidak serta-merta. Tiga bulan sebelumnya sudah terjadi, seperti pembukaan sebuah pidato. Sejak Minggu 20 Mei 1883 gunung itu sudah batuk. Bataviaasch Handelsblad 22 Mei memuat telegram dari Serang, nakhoda sebuah kapal Amerika dan beberapa nelayan melihat hujan abu dan gumpalan asap dari puncak Krakatau. Kapten Jerman T. P. Wupper, enam mil dari pulau itu pagi hari 20 Mei, melihat uap putih naik “seperti pohon raksasa bertabur mawar putih”, yang siangnya berubah hitam, sore itu abu jatuh ke kapalnya, malamnya geladak tertutup abu tiga inci, dan hujan abu berlangsung tiga hari. Sepekan kemudian, 27 Mei, sebuah kapal membawa rombongan pelesir dari Batavia melihat kawah yang mendengus itu dari dekat. Tiga bulan lagi, pulaunya lenyap.
Mendahului debu yang melayang ke Eropa, sebuah telegram Gubernur Jenderal dari Batavia sampai di Den Haag, di Departemen Jajahan, 31 Agustus 1883. Isinya tentang letusan Krakatau. Koran daerah Tubantia, Enschede, edisi Sabtu 1 September 1883, memuatnya di bawah judul “Ramp op Java”, Bencana di Jawa. Bunyinya seperti ini.
“Op 26 dezer hevige uitbarsting op Krakatau met een aschregen, die een groot deel van Noord-Bantam verwoestte en voedingsmiddelen vernield heeft. De bevolking verlaat in wanhoop het land. Den 27n des morgens, hevige vloedgolf, op enkele plaatsen 30 meter, in den omtrek van Anjer en Tjiringin twaalf meter hoog. Kuststreek van Merak tot Tjiringin verwoest. Anjer, Merak en Tjiringin zijn met alle gouvernementsgebouwen verzwolgen. De vuurtorens op het ‘vierde punt’ (Java) en den ‘Vlakkehoek’ (Sumatra) zijn vernield. Vijf Europeesche en verscheidene inlandsche ambtenaren van Anjer en Tjiringin zijn vermist. Vaarwater straat Soenda geheel gewijzigd. Krakatau ingestort. Waar vroeger de top was, staat thans water, terwijl zestien vulkanische opheffingen tusschen Krakatau en Sibesie zichtbaar zijn. Waarschuwingen voor zeevarenden zijn naar Suez, Aden, Melbourne en Hongkong geseind. Geheele omvang der ramp niet bekend.”
(Pada tanggal 26 bulan ini letusan hebat di Krakatau dengan hujan abu, yang menghancurkan sebagian besar Banten Utara dan memusnahkan bahan makanan. Penduduk meninggalkan negeri itu dalam keputusasaan. Tanggal 27 pagi, gelombang pasang hebat, di beberapa tempat 30 meter, di sekitar Anyer dan Caringin dua belas meter tingginya. Pesisir dari Merak sampai Caringin hancur. Anyer, Merak, dan Caringin beserta seluruh gedung pemerintah tertelan. Mercusuar di Tanjung Keempat (Jawa) dan Vlakke Hoek (Sumatra) hancur. Lima pegawai Eropa dan beberapa pegawai pribumi dari Anyer dan Caringin hilang. Alur pelayaran Selat Sunda berubah seluruhnya. Krakatau runtuh. Di tempat puncaknya dahulu kini ada air, sementara enam belas tonjolan vulkanis tampak antara Krakatau dan Sebesi. Peringatan bagi pelaut telah dikawatkan ke Suez, Aden, Melbourne, dan Hongkong. Seluruh luas bencana belum diketahui.)
Belakangan, ketika mayat-mayat selesai dihitung, angkanya 36.417 jiwa, menurut penghitungan resmi pemerintah Hindia Belanda yang dimuat R. D. M. Verbeek dalam Krakatau, Batavia, Landsdrukkerij, 1885, dan dikutip laporan Royal Society, London, 1888. Angka 36 ribu lebih penduduk yang tewas, bukan oleh kepundan, tapi diterjang tsunami, istilah yang baru dikenal luas orang Indonesia sejak bencana Aceh 2004.
Telegram 1883 menyebutnya vloedgolf, gelombang pasang. Tsunami bukan barang baru di Nusantara. Yang tercatat jauh lebih dulu antara lain Ambon 1674, Padang 1797 dan 1833, dua-duanya dari gempa besar Mentawai, dan yang 1797 masuk sampai kota Padang, serta Tambora 1815. Yang boleh dikatakan, tsunami 1883 adalah yang paling mematikan dalam sejarah Indonesia sampai Aceh 2004.
Dentumannya terdengar di seperti tiga belas permukaan bumi. Di Batavia, 151 kilometer dari Krakatau, agen Lloyd’s mencatat dentuman sejak Minggu sore 26 Agustus, makin keras menjelang malam, dan dini hari benar-benar memekakkan. Di Palembang, 367 kilometer, getaran udaranya membuat dinding rumah bergetar. Di Padang, 824 kilometer, bunyi pertama terdengar Minggu pukul lima sore, dan Senin pukul 8.30 pagi satu ledakan berat, diulang lima menit kemudian, disusul bunyi menakutkan dari jauh yang menguat sesudah pukul sebelas. Di Aceh, 1.727 kilometer, orang mengira benteng diserang dan pasukan disiagakan. Di Singapura dua kapal uap dikirim mencari kapal yang dikira menembakkan meriam minta tolong, dan percakapan telepon mustahil karena yang terdengar hanya raungan seperti air terjun. Di Penang bunyinya dikira salvo korvet Amerika. Ke utara terdengar sampai Saigon dan Bangkok, 2.274 kilometer, ke timur laut sampai Manila, 2.903 kilometer, ke tenggara sampai Perth dan Alice Springs di Australia, ke barat laut sampai Sri Lanka, ke barat sampai Diego Garcia, 3.621 kilometer. Tiongkok tidak. Yang terjauh Rodrigues.
Dalam catatan Symons (ed.), The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena, 1888, Part II, Strachey, hlm. 79–80, direkam kesaksian seorang polisi di Rodrigues, pulau kecil di Samudra Hindia yang berjarak hampir 3.000 mil Inggris atau sekitar 4.800 kilometer di barat daya Krakatau, seperti ini, “On Sunday the 26th the weather was stormy, with heavy rain and squalls; the wind was from S.E., blowing with a force of from 7 to 10, Beaufort scale. Several times during the night (26th–27th) reports were heard coming from the eastward, like the distant roars of heavy guns. These reports continued at intervals of between three and four hours, until 3 p.m. on the 27th, and the last two were heard in the directions of Oyster Bay and Port Mathurin.”
(Pada hari Minggu tanggal 26 cuaca berbadai, hujan lebat dan angin kencang; angin dari tenggara bertiup dengan kekuatan 7 sampai 10 skala Beaufort. Beberapa kali sepanjang malam 26 ke 27 terdengar dentuman dari arah timur, seperti raungan meriam berat dari kejauhan. Dentuman itu berlanjut dengan selang tiga sampai empat jam, sampai pukul 3 sore tanggal 27, dan dua yang terakhir terdengar dari arah Oyster Bay dan Port Mathurin.)
Polisi itu James Wallis, Chief Officer of Police di Rodrigues.
Satu-satunya catatan pribumi ada dalam Syair Lampung Karam, karya Muhammad Saleh, 374 bait dalam aksara Jawi, dicetak batu di Singapura pada 1301 Hijriah, tiga bulan setelah letusan. Selama 125 tahun syair itu tercecer di perpustakaan enam negara dan tak pernah disebut dalam ribuan tulisan tentang Krakatau, sampai dialihaksarakan oleh Dr. Suryadi, ahli filologi dari Universitas Leiden, alumnus Universitas Andalas, dan diterbitkan di Padang pada 2009.
Muhammad Saleh memperkenalkan diri di dalam syairnya.
Hamba mengarang fakir yang hina, Muhammad Saleh nama sempurna, kerana hati gundah gulana, melainkan Allah yang mengetahuinya.
Ia berada di Tanjung Karang ketika Krakatau meletus, selamat, lalu mengungsi ke Singapura dan menulis di Kampung Bangkahulu, yang kini bernama Bencoolen Street. Yang ditulisnya bukan geologi, melainkan apa yang dilihat mata.
Orang banyak nyatalah tentu, bilangan lebih daripada seribu, mati sekalian orangnya itu, ditimpa lumpur, api, dan abu.
Pulau Sebuku dikata orang, ada seribu lebih dan kurang, orangnya habis nyatalah terang, tiadalah hidup barang seorang.
Rupanya mayat tidak dikatakan, hamba melihat rasanya pingsan, apalah lagi yang punya badan, harapkan rahmat Allah balaskan.
Ia menyebut satu per satu kampung yang lenyap: Kitambang, Talang, Kupang, Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa, Gunung Sari, Minanga, Kuala, Rajabasa, Tanjung Karang, Sebesi, Sebuku, sampai Merak di seberang selat. Ia mencatat orang yang saling menolong, dan orang yang mencuri harta korban. Ia mencatat kontrolir Belanda yang datang membagi uang dan menyuruh saudagar yang masih hidup membawa beras. Laporan Royal Society di London menghitung kaki dan mil. Muhammad Saleh menghitung tetangga.
Baca Juga : Kuali Raksasa Mendidih di Selat Sunda
Saat tulisan ini dibuat, Minggu 6 September 2026, Jakarta diguyur abu vulkanik sejak Sabtu malam. Bandara Soekarno-Hatta ditutup sejak pukul 01.30 dini hari, semula sampai 05.30, lalu diperpanjang, karena uji kertas di landasan menunjukkan abu sudah sampai ke sana. Bandara Halim Perdanakusuma ikut ditutup. Di Sumatra, Bandara Radin Inten II Lampung ditutup sejak pagi dan diperpanjang sampai siang. Sampai pukul 10.25 WIB, menurut pemerintah, lima bandara ditutup. Abu tercatat sampai Depok dan Tangerang Selatan, sementara di Lampung hujan abu melanda Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, sampai Pesisir Barat, dan warga mengeluh mata perih.
Abunya menempel di daun, atap, mobil, dan bunga-bunga di halaman. Debu itu terhirup dan bisa menimbulkan ISPA, infeksi saluran pernapasan akut. Warga diimbau memakai masker jika keluar rumah.
Krakatau meletus dan beranak. Anaknya lasak dan meletus pula. Kini, 143 tahun sejak letusan dahsyat itu, Anak Krakatau masih meletus. Gunung adalah pasak bumi. Al-Qur’an mencatatnya demikian. Gunung sebagai pasak dan penahan goncangan bumi disebut dalam Surah An-Naba’ ayat 6 dan 7, An-Nahl ayat 15, Al-Anbiya’ ayat 31, Luqman ayat 10, Al-Hijr ayat 19, Qaf ayat 7, An-Naml ayat 61, dan Al-Mursalat ayat 27. Yang paling lugas dalam Surah An-Naba’, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar