Dialog Imajiner Tiga Nahkoda
SYAHDAN di sebuah kamar berlantai semen abu-abu teraso di ndalem sepuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Waktu menunjukkan sepertiga malam. Ruangan hanya diterangi sebutir lampu pijar kekuningan yang berkedip pelan, menggantung dari langit-langit kayu yang mulai lapuk.
Di sudut ruangan pesantren yang didirikan pada 1899 itu, sebuah jam dinding kuno berdetak dengan suara berat: tok... tok... tok... Aroma khas kayu gaharu bakar bercampur dengan bau kertas-kertas kitab tua yang lembap. Di luar jendela, angin malam dari balik kebun tebu menderu. Sesekali menghempaskan ranting pohon mangga ke dinding kaca.
Tiga tokoh sentral yang menahkodai Nahdlatul Ulama (NU) yang mewakili setiap zaman, bertemu di pesantren yang didirikan oleh Hadratussyaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari, atau Mbah Hasyim--yang menjadi episentrum pertemuan. Sang Rais Akbar pendiri NU ini mengenakan jubah putih polos dan sorban hijau. Wajahnya sepuh, matanya teduh namun memancarkan kilat otoritas teologis yang kharismatis.
Di hadapannya ada Kiai Haji Abdurrahman “Gus Dur” Wahid. Cucu Mbah Hasyim dan mantan Ketua Umum PBNU. Presiden RI ke-4 ini duduk bersila rasa santai, menyandarkan punggungnya pada tiang penyangga kamar. Ia, seperti biasa, berkacamata tebal, berkemeja batik cokelat Sogan dengan nuansa kecoklatan dan berpeci hitam yang agak miring.
Di samping Gus Dur, ada KH. Miftachul Akhyar, atawa Kiai Miftach, Rais ‘Aam PBNU, atau sebut saja Rais Am, masa kini yang menjabat sejak 2018. Pengasuh pesantren Midtachus Sunnah, di Surabaya yang mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini duduk bersimpuh dengan posisi paling rendah. Kepalanya terus menunduk penuh takzim. Jemarinya yang rada gemetar memilin butiran tasbih kokka hitam.
Adegan dimulai dengan keheningan yang mencekam. Mbah Hasyim duduk menghadap sebuah meja kayu rendah. Di atas meja itu terhampar tumpukan koran, dokumen legalitas korporasi, cetakan berita digital yang mengupas perkara pengelolaan tambang bagi organisasi keagamaan. Beliau membalik halaman demi halaman. Setiap ketukan jarinya pada kertas terasa seperti hantaman godam.
Mbah Hasyim:
(Suaranya yang berat, bergaung pelan, memecah kesunyian)
Gus Dur, Kiai Miftach, kemarilah. Dekatkan telinga kalian ke lantai semen ini. Apakah kalian masih bisa mendengar detak jantung para santri yang kelaparan di bilik-bilik bambu? Ataukah telinga kalian sudah terlalu tuli karena terlalu sering mendengarkan musik simfoni di ruang perjamuan istana?
Coba lihat ini. Lembaran-lembaran beraroma bisnis berbalut kemitraan tambang batu bara. Hak konsesi, saham, investasi, bursa karbon dan entah apalagi. Saat aku, Mbah Wahab Chasbullah, dan Mbah Bisri Syansuri menumpahkan air mata di atas sajadah ini tahun 1926, kami tidak sedang mendirikan sebuah perusahaan dagang. Kami mendirikan benteng penyelamat iman. Mengapa sekarang kalian semua bertingkah seperti ini?
Gus Dur:
(Menghela nafas panjang, suaranya parau namun tegas)
Mbah Hasyim, dunia panjenengan dan dunia kami sudah dibelah oleh jurang sejarah yang teramat dalam. NU yang njenengan tinggalkan adalah bayi yang suci. NU yang kami urus hari ini adalah raksasa dengan ratusan juta kepala. Jika kami hanya diam di atas sajadah, berzikir sampai subuh tanpa memikirkan bagaimana cara memberi makan lembaga pendidikan, membiayai rumah sakit, maka jam’iyah kita akan digilas habis oleh sistem kapitalisme global. Kekuasaan dan modal itu ibarat kuda liar, Mbah. Jika NU tidak memegang kendalinya, orang lain yang akan menungganginya untuk menginjak-injak santri kita.
Mbah Hasyim:
(Berdiri dengan anggun. Beliau berjalan mendekati Gus Dur)
Kamu cerdas, Gus. Kamu selalu punya seribu dalil untuk melegitimasi manuvermu. Tapi dengarkan orang tua ini. Kuda liar yang kau sebut itu tidak pernah bisa dijinakkan oleh syahwat yang sama. Ketika kalian merasa sedang mengendalikan kuda kekuasaan, sebenarnya kekuasaan itulah yang sedang mendikte arah gerak kalian. Lihatlah ke luar. Lihat bagaimana jajaran Syuriyah, tempat yang kubangun sebagai menara pengawas moral yang suci, kini tampak lelah. Pundak Rais Am kian membungkuk bukan karena beratnya memikirkan umat, tapi karena ditarik oleh para pemburu rente yang berbaju takzim!
Kiai Miftach:
(Air matanya perlahan menitik jatuh ke atas sajadah. Suaranya gemetar, nyaris pecah)
Hadratussyaikh, maafkan kami. Demi Dzat yang menggenggam jiwa saya. Beban di pundak ini teramat kejam. Dinamika modernitas menuntut Tanfidziyah bergerak secepat kilat. Mereka harus taktis. Harus bernegosiasi dengan regulasi negara agar pesantren-pesantren kita bisa berkelanjutan. Kami di jajaran Syuriyah sering kali harus menelan ludah yang pahit, melakukan manuver spiritual hanya agar kapal besar ini tidak pecah berkeping-keping oleh hantaman faksi-faksi politik yang haus akan legitimasi ulama.
Mbah Hasyim:
(Berbalik tajam menatap Kiai Miftah. Matanya berkaca-kaca namun tajam)
Manuver spiritual, kiai? Atau kompromi pragmatis yang dibungkus bahasa fikih? Jangan menipu dirimu sendiri di depan sajadah ini. Lalu, apakah menyelamatkan pesantren harus menggali lubang kehancuran bagi bumi yang diciptakan Allah? Lihat surat ini. Konsesi tambang batu bara atas nama organisasi keagamaan. Coba jawab menggunakan nuranimu. Di mana dalam kitab Fathul Mu'in atau Ihya Ulumuddin diajarkan bahwa ulama boleh ikut serta mengeruk perut bumi, menggusur ruang hidup para petani kecil, dan merusak ekologi, demi apa yang kalian sebut sebagai kemandirian ekonomi?
Aku tahu bebanmu berat, kiai. Menjadi Rais Aam di zaman kebisingan digital adalah sebuah tarian di atas mata pisau. Namun ingatlah, marwah kita ada pada kepercayaan mutlak dari orang-orang kecil di pelosok desa. Marwahmu ada pada jeritan para petani di pelosok daerah yang tanahnya digusur oleh industri, tapi kalian biarkan menangis sendiri karena organisasi ini sibuk mengamankan posisi di pemerintahan. Di mana taring amar ma'ruf nahi munkar yang dahulu kita banggakan? Mengapa lisan Syuriyah mendadak kelu saat berhadapan dengan ketidakadilan?
Kiai Miftah:
(Suara tercekat, semakin membungkuk)
Nyuwun ngapunten, Hadratussyaikh. Kami rencanakan modal ini akan dialokasikan untuk kemaslahatan jam’iyah. Keuntungannya akan dimanfaatkan untuk membangun universitas, membiayai operasional organisasi agar tidak terus-menerus menengadahkan tangan ke sana kemari...
Mbah Hasyim:
(Suaranya meninggi, menggelegar penuh wibawa)
Kemaslahatan macam apa yang dibangun dari debu-debu pengrusakan lingkungan? Kemandirian macam apa yang lahir dari belas kasihan pembagian jatah sisa industri? Itu bukan kemandirian, kiai. Itu adalah tali kekang. Ketika ormas keagamaan menyetujui izin tambang, di saat itulah lisan kalian dikunci rapat-rapat. Kalian tidak akan bisa lagi bersuara lantang membela rakyat yang tanahnya dirampas korporasi, karena tangan kalian sendiri sudah ikut berlumuran jelaga batu bara. Kalian menukar marwah keulamaan yang abadi dengan secangkir keuntungan duniawi yang fana!
Gus Dur:
(Menyela, suaranya mengandung nada getir)
Mbah, politik hari ini tidak lagi memakai senapan, tapi memakai modal. Siapa yang menguasai kapital, dia yang mendikte hukum. Jika NU tetap miskin secara struktural, kita hanya akan menjadi penonton di pinggir jalan. Sementara kebijakan negara yang merugikan rakyat disahkan begitu saja oleh elite sekuler tanpa bisa kita intervensi. Kami mencoba mengambil modal itu untuk membalikkan keadaan, Mbah!
Mbah Hasyim:
(Menatap Gus Dur tajam, dengan kelembutan yang menyakitkan)
Gus Dur, cucuku yang cerdas. Kau berpikir bisa menjinakkan naga modal dengan cara ikut menjadi bagian dari ekosistemnya? Tidak. Justru modal itulah yang akan melumat karakter pesantren kita. Ketika kiai-kiai kita mulai terbiasa berbicara tentang dividen, rapat umum pemegang saham, dan keuntungan kuartalan, saat itulah ruh zuhud dan wara’ runtuh berkeping-keping. Jemaah di akar rumput tidak butuh ormas yang kaya raya seperti perusahaan multinasional. Mereka butuh ulama yang jujur. Ulama yang berani berdiri di depan moncong buldozer untuk membela sawah-sawah mereka. Bukan ulama yang ikut menaruh saham di dalam buldozer itu!
Gus Dur:
(Ia membetulkan posisi duduknya)
Mbah Hasyim, zaman sudah melompat jauh. NU sekarang sudah menjadi raksasa yang jemaahnya ratusan juta. Kalau kita hanya diam di atas sajadah surau tanpa memikirkan ekonomi dan relasi kekuasaan, jemaah kita akan digilas oleh modernitas. Kekuasaan itu seperti pisau, Mbah. Kalau NU tidak ikut memegangnya, pisau itu akan dipakai orang lain untuk menyembelih santri-santri kita.
Mbah Hasyim:
(Menggelengkan kepala perlahan, gurat kekecewaan melintas di wajahnya)
Pisau tetaplah pisau. Ia berdarah dan dingin. Aku tidak pernah melarang NU menyentuh dunia, karena Islam adalah agama bumi yang harus mengurusi manusia. Tapi yang membuat batin ini menangis adalah ketika kalian mulai kehilangan jarak etis dengan penguasa. Kalian menganggap kedekatan dengan kekuasaan adalah sebuah kemaslahatan, tanpa menyadari bahwa syahwat kekuasaan itu pelan-pelan mengeringkan mata air wara’ (kehati-hatian spiritual) di tubuh Syuriyah.
Gus Dur:
(Nada suaranya berubah menjadi serius dan kontemplatif)
Mbah, apa yang panjenengan dawuhkan itu benar. Persoalannya, struktur kita sekarang sering kali terjebak dalam sangkar emas birokrasi. NU yang sekarang terlalu fasih berbicara dengan bahasa elit di Jakarta, tetapi kadang-kadang gagap mendengar tangisan petani yang kehilangan sawahnya di daerah. Dulu saya mencoba membawa NU kembali ke Khittah 1926 agar menjadi kekuatan sipil yang kritis, bukan bagian dari pelat merah yang manut begitu saja pada kemauan penguasa.
Mbah Hasyim:
(Tegas, memotong ucapan Gus Dur. Perlahan menutup berkas di depannya, lalu menatap kedua tokoh itu)
Tapi kalian membiarkan ruh khittah itu direduksi menjadi sekadar jargon musiman di setiap menjelang muktamar. Ketika energi kepemimpinan spiritual tertinggi habis terkuras hanya untuk mengurusi suksesi, konsensus politik, dan bagi-bagi konsesi, kalian sebenarnya sedang membiarkan NU berjalan tanpa jiwa. Hubungan dengan kekuasaan itu ibarat api. Jika terlalu jauh kalian akan kedinginan. Namun jika terlalu dekat, jubah putih keulamaan kalian akan hangus terbakar oleh fitnah pragmatisme.
Bawalah pesan penting ini ke telinga para pengurus. Katakan pada mereka, kembalilah ke atas sajadah khittah. Carilah keberkahan di dalam kesunyian pengabdian kepada umat, bukan di dalam riuh rendah pujian istana. Sebab, kejayaan NU tidak pernah diukur dari seberapa dekat ia dengan segala kuasa yang fana, melainkan dari seberapa erat ia memeluk nasib rakyatnya yang papa.
Gus Dur:
(Suaranya meninggi, sepertinya ada nada frustrasi yang dramatis)
Mbah, panjenengan tidak tahu betapa sepinya berdiri di garis depan. Ketika saya menjadi presiden, ketika saya mencoba merajut keadilan untuk semua minoritas, NU justru digembosi dari dalam oleh orang-orangnya sendiri yang haus jabatan. Politik itu kotor, Mbah. Dan NU tidak bisa selamanya berpura-pura suci dengan bersembunyi di balik dinding pesantren, sedangkan dunia di luar sana sedang membagikan kue peradaban. Jika kita tidak mengambil bagian, kita akan menjadi penonton yang miskin di tanah air kita sendiri.
Mbah Hasyim:
(Memukul meja kayu dengan telapak tangannya. Suaranya berdentum pelan namun menghentikan semua perdebatan)
Lebih baik menjadi penonton yang miskin namun menjaga kemurnian iman, daripada menjadi pemain yang kaya tetapi mengotori jubah nubuwah dengan pelicin kekuasaan yang fana, Gus.
(Suasana mendadak hening total. Hanya terdengar deru nafas yang memburu. Jam dinding terus berdetak. Mbah Hasyim menarik nafas dalam-dalam, meredakan emosinya. Beliau kembali duduk di atas tikar pandan, menatap kedua tamunya dengan kelembutan seorang ayah yang terluka).
Mbah Hasyim:
Kalian berdua adalah anak-anak cerdas yang kulahirkan dari rahim doa. Tapi kalian lupa satu hal. Kekuatan Nahdlatul Ulama itu tidak pernah terletak pada angka-angka di rekening bank organisasi. Kekuatan kita tidak terletak pada seberapa banyak menteri yang berasal dari kader kita. Kekuatan NU ada pada barokah, atau berkah yang mengalir dari keheningan malam. Dari air mata ketulusan para kiai kampung, dan dari independensi kepemimpinan spiritual yang tidak bisa dibeli oleh dinar maupun dirham.
Kiai Miftah:
(Bersimpuh lebih dekat, memegang ujung jubah Mbah Hasyim dengan air mata yang mengalir deras)
Lalu apa yang harus saya lakukan, Hadratussyaikh? Zaman ini begitu bising. Media sosial memotong-motong dawuh kami menjadi alat pemukul antar-saudara. Kami dikepung oleh algoritma yang narsistik. Jika saya menarik diri sepenuhnya ke dalam menara gading, umat akan kehilangan pegangan dan terbuai ustad-ustad instan di internet. Bagaimana saya harus bersikap sebagai Rais Am?
Mbah Hasyim:
(Meletakkan tangannya yang sepuh di atas kepala Kiai Miftach, membelainya dengan penuh kasih sayang)
Kembalilah ke atas sajadah khittah, kiai. Jangan takut dicap tidak moderen. Jangan cemas dianggap tertinggal. Tugas seorang Rais Am bukan untuk menyenangkan semua faksi. Bukan pula untuk menjadi pemadam kebakaran bagi krisis-krisis buatan para elite politik. Tugasmu adalah menjadi kompas moral yang kaku. Kompas itu hanya menunjuk ke satu arah: kebenaran ilahi dan kemaslahatan umat. Jika penguasa berbuat adil, dukung dengan santun. Tapi jika mereka menindas orang-orang kecil, berdiri tegaklah di depan pintu istana. Ketuk pintunya dengan tongkat keulamaanmu, dan katakan "tidak" tanpa rasa takut.
Gus Dur:
(Menundukkan kepala, senyum jenakanya hilang, digantikan oleh ketakziman yang dalam)
Mbah, sepertinya saya yang terlalu lancang menganggap zaman bisa ditaklukkan dengan logika politik. Pada akhirnya, politik tetaplah urusan hilir. Hulu dari segalanya adalah kebersihan hati.
Mbah Hasyim:
(Menatap Gus Dur dan Kiai Miftach bergantian)
Betul, gus. Maka itu, esok hari, saat matahari terbit di atas langit Jombang dan kalian kembali ke ruang-ruang sidang muktamar yang riuh itu, sampaikan pesan penting dari orang tua ini kepada seluruh muktamirin. Katakan pada mereka, tanggalkan baju-baju kekuasaan yang penuh dengan tipu daya itu sebelum ia menjelma menjadi kain kafan yang mematikan ruh spiritualitas Nahdlatul Ulama. Dekap kembali para petani, para buruh, para santri yang telapak kakinya pecah-pecah karena mencari nafkah yang halal. Sebab di sanalah, di dalam gubuk-gubuk mereka yang reyot, Gusti Allah menitipkan kejayaan sejati bagi organisasi ini.
Mbah Hasyim bangkit berdiri. Ia tidak lagi menatap tumpukan berkas di meja. Ia melangkah menuju sajadah tuanya yang menghadap kiblat, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memulai salat sunah sepertiga malam yang panjang. Bibirnya mulai merapalkan ayat-ayat suci dengan suara lirih yang menggetarkan dinding-dinding kamar.
Gus Dur perlahan bangkit, berjalan mundur dengan penuh hormat tanpa membelakangi sang kakek. Kiai Miftach mencium lantai semen ndalem sepuh dengan tangisan yang mengambang di tenggorokan. Ia sepertinya memeluk sebuah kesadaran baru: bahwa jabatan Rais Am yang dipikulnya esok hari harus ia tebus dengan kesunyian batin dan keberanian moral yang tak boleh goyah oleh kilau duniawi.***
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar