Esai

Diam

SW60Plus.com, 31 Juli 2026, 09:51 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 53x dilihat

PAGI ini, bahkan sebelum secangkir kopi pertama habis diminum, kemungkinan besar kita sudah mengetahui lebih banyak kabar buruk daripada yang diketahui kakek-nenek kita selama seminggu. 
Perang, korupsi, kecelakaan, PHK, bencana, konflik politik, dan berbagai krisis lain datang berbaris memenuhi layar telepon genggam sebelum hari benar-benar dimulai.
Semua itu terjadi begitu cepat sehingga terasa biasa. Padahal, jika dipikirkan kembali, belum pernah dalam sejarah manusia kita menerima begitu banyak informasi tentang penderitaan orang lain hanya dalam beberapa menit setelah bangun tidur.
Dulu, tantangan terbesar manusia adalah mendapatkan berita. Hari ini, tantangan terbesar justru adalah bertahan di tengah banjir berita yang tak pernah berhenti.
Ironisnya, semakin mudah berita diperoleh, semakin banyak orang memilih menjauhinya. Mereka mematikan notifikasi, menghapus aplikasi berita, berhenti berlangganan media, atau sengaja melewati unggahan politik ketika sedang menggulir media sosial.
Sekilas, keputusan itu tampak seperti bentuk ketidakpedulian. Namun, benarkah demikian?
Laporan Reuters Institute Digital News Report menunjukkan bahwa kecenderungan menghindari berita atau news avoidance terus meningkat di banyak negara. Fenomena ini tidak lagi dipandang sebagai kebiasaan segelintir orang, melainkan menjadi persoalan yang serius karena berkaitan langsung dengan masa depan jurnalisme dan kualitas demokrasi.
Yang menarik, penyebabnya ternyata bukan karena masyarakat tiba-tiba membenci informasi. Sebaliknya, banyak orang justru merasa terlalu banyak menerima informasi yang hampir semuanya bernada negatif.
Bayangkan rutinitas yang kita jalani setiap pagi. Berita pertama tentang perang, berita kedua tentang korupsi, berita ketiga tentang pembunuhan, berita keempat tentang PHK, lalu disusul ramalan krisis ekonomi dan perubahan iklim. Sebelum pukul delapan pagi, otak kita telah dipenuhi begitu banyak ancaman, padahal tubuh kita bahkan belum benar-benar memulai aktivitas.
Tidak mengherankan jika banyak orang merasa lelah. Yang membuat mereka lelah bukan sekadar banyaknya berita, melainkan sedikitnya hal yang dapat mereka lakukan setelah membaca berita itu.
Di sinilah paradoks besar abad informasi muncul. Kita mengetahui semakin banyak persoalan dunia, tetapi pada saat yang sama merasa semakin kecil di hadapan persoalan-persoalan tersebut.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak orang menghindari berita bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena mereka sudah dapat menebak bagaimana perasaan mereka setelah membaca berita. Mereka memperkirakan akan merasa marah, sedih, cemas, atau tidak berdaya. Yang dihindari bukan hanya informasi, tetapi pengalaman emosional yang terus berulang.
Penjelasan itu mengingatkan saya pada gagasan Judson Brewer, profesor psikiatri yang selama bertahun-tahun meneliti tentang kecemasan. Menurut Brewer, otak manusia belajar melalui pola kebiasaan. Ketika suatu pengalaman berulang terus-menerus, otak akan menghubungkan pemicu dengan respons tertentu hingga akhirnya respons itu terasa otomatis.
Bayangkan seseorang yang merasa cemas terhadap kondisi dunia. Ia membuka aplikasi berita untuk mencari kepastian, tetapi yang ditemukannya justru perang baru, konflik baru, atau ramalan krisis berikutnya. Bukannya memperoleh ketenangan, ia justru pulang membawa kecemasan tambahan.
Esok paginya ia kembali membuka berita. Lusa ia mengulanginya lagi. Setelah berbulan-bulan, otaknya belajar satu pelajaran sederhana: membaca berita hampir selalu diikuti oleh perasaan tidak nyaman.
Lalu otak mengambil jalan pintas. Jika sesuatu terus membuatmu merasa buruk, menjauhlah darinya.
Maka lahirlah keputusan yang sering kita salah pahami. Orang berhenti membaca berita bukan karena mereka tidak peduli. Mereka berhenti karena terlalu lama peduli sendirian.
Ironisnya, menjauh dari berita juga tidak menyelesaikan masalah. Ketika seseorang semakin jarang mengikuti perkembangan informasi, ia justru semakin bingung membedakan mana informasi yang dapat dipercaya dan mana yang tidak. Rasa bingung itu kemudian berkembang menjadi kelelahan baru yang mendorongnya untuk semakin jauh dari berita.
Kita akhirnya terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus. Terlalu banyak berita melahirkan kecemasan, kecemasan melahirkan penghindaran, penghindaran melahirkan ketidakpastian, dan ketidakpastian kembali memicu kecemasan.
Masalah terbesar kita ternyata bukan kekurangan informasi. Masalah terbesar kita adalah setiap hari kita diminta memikul beban dunia yang sesungguhnya terlalu berat untuk ditanggung oleh satu kepala manusia.
Lalu, apakah solusinya berhenti membaca berita? Saya kira tidak.
Menutup mata terhadap kenyataan bukanlah jawaban. Demokrasi tetap membutuhkan warga yang memahami persoalan publik, sama seperti keluarga membutuhkan seseorang yang mau mengetahui apa yang sedang terjadi di rumahnya.
Yang perlu diubah bukan jumlah berita yang kita baca, melainkan cara kita berhubungan dengan berita. Kita tidak harus membuka setiap notifikasi, mengikuti setiap konflik dari menit ke menit, atau merasa wajib mengetahui semua hal pada saat yang sama.
Sebaliknya, kita dapat memilih waktu khusus untuk membaca berita dari sumber yang tepercaya, memahami konteksnya, lalu berhenti ketika informasi yang dibutuhkan sudah diperoleh. Tujuannya bukan menjadi orang yang mengetahui segalanya, melainkan menjadi warga yang memahami hal-hal yang memang penting.
Mungkin sesekali kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri sebelum membuka aplikasi berita. Apakah saya sedang mencari pemahaman, atau saya hanya sedang mencari kecemasan berikutnya?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya mungkin menentukan apakah kita akan menutup telepon genggam dengan pikiran yang lebih jernih atau justru dengan hati yang lebih berat.
Besok pagi alarm akan berbunyi lagi.
Ponsel akan kembali berada di tangan kita.
Mungkin yang berubah bukan dunia.
Mungkin yang berubah hanyalah pertanyaan yang kita ajukan sebelum menggulir layar:
"Apakah saya ingin memahami dunia, atau hanya menambah satu kecemasan lagi?"
Namun, kita masih memiliki satu pilihan yang tidak boleh diserahkan kepada algoritma: bagaimana kita mengizinkan berita memasuki hidup kita. Sebab tujuan jurnalisme bukan membuat manusia hidup dalam ketakutan, melainkan membantu manusia memahami kenyataan agar tetap memiliki keberanian untuk bertindak.
Yang mengkhawatirkan bukan ketika orang menganggap berita itu bohong. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika mereka percaya berita itu benar, tetapi merasa lebih baik jika tidak membacanya.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000