Feri Amsari yang Mengaku Penakut
DI depan kamera, Feri Amsari hampir selalu terlihat berani. Kalimatnya cepat. Kritiknya tajam. Ia seperti tidak terlalu repot memilih kata ketika berbicara tentang kekuasaan. Sebagai pakar hukum tata negara, namanya semakin dikenal publik setelah tampil bersama Bivitri Susanti dan Zainal Arifin Mochtar dalam film dokumenter Dirty Vote. Kini ia punya panggung lain: Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan.
Tetapi dalam obrolan Ruang Tamu BacktoBDM, ada satu pengakuannya yang justru membuat saya berhenti. “Saya tidak berani. Saya penakut betul.”
Saya sempat berpikir: Feri Amsari penakut? Orang yang berkali-kali berdiri berseberangan dengan kekuasaan justru mengaku takut. Orang yang kritiknya tersebar ke mana-mana mengatakan dirinya bukan pemberani. Mungkin justru di situlah sisi lain Feri yang tidak selalu terlihat di depan kamera.
Kabinet Tak Punya Istana
Kami tentu berbicara tentang Kabinet Bayangan. Kabinet ini dideklarasikan 17 Juli 2026 oleh Koalisi Masyarakat Sipil. Hanya ada 15 menteri. Tidak ada wakil menteri. Tidak ada kantor kementerian. Tidak ada mobil dinas. Tidak ada gaji. Feri menjadi Menteri Sekretaris Negara.
Saya tertarik dengan angka 15 itu. Pemerintahan sebenarnya memiliki kabinet yang jauh lebih besar. Mengapa mereka justru memilih 15? Feri menjelaskan bahwa mereka mencoba mengidentifikasi persoalan utama yang benar-benar membutuhkan kementerian. Menurut mereka, ada sekitar 15 isu besar.
Prinsipnya sederhana: kabinet tidak harus besar agar negara bisa bekerja. Feri bahkan mengajak membayangkan rapat kabinet yang diikuti begitu banyak menteri dan wakil menteri. Berapa orang yang benar-benar mempunyai kesempatan bicara? Berapa banyak informasi yang akhirnya sampai kepada presiden?
Ia kemudian tertawa getir ketika membandingkannya dengan Amerika Serikat. Amerika luas, katanya. Mengurus 50 negara bagian. Bahkan sering ikut mengurus negara lain. “Tapi menterinya sekitar itu juga. Kenapa Indonesia harus sebanyak itu?”
Pertanyaan itu terdengar seperti gurauan. Tetapi Feri sedang menyampaikan kritik terhadap satu penyakit lama politik Indonesia: jabatan sebagai instrumen distribusi kekuasaan.
Kabinet Bayangan Malah “Didemo”
Yang menarik justru kegiatan mereka. Kabinet Bayangan tidak hanya sibuk membuat pernyataan politik. Mereka datang ke kampus-kampus dengan acara yang diberi nama agak nakal: “Kabinet Bayangan Didemo.”
Mahasiswa dipersilakan mempertanyakan, mengkritik, bahkan menyerang gagasan para “menteri”. Mereka juga merancang stand-up comedy yang diselingi diskusi politik.
“Nge-pop,” kata Feri.
Politik rupanya tidak selalu harus dibicarakan dengan wajah tegang dan seminar berjam-jam.
Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur, mereka juga mendata kebutuhan masyarakat melalui jaringan lokal yang dipercaya. Di sini saya melihat Kabinet Bayangan sedang bereksperimen dengan sesuatu yang menarik: bagaimana politik dikembalikan menjadi percakapan warga, bukan semata perebutan jabatan.
Tetapi justru soal jabatan itulah yang kemudian saya tanyakan.
Ada yang Menawari Jabatan?
Feri mengatakan Kabinet Bayangan tidak akan berubah menjadi partai politik. Ia memberikan jaminan dengan angka yang khas Feri. “Saya jamin 100 persen tidak akan berubah jadi partai politik.” Lalu ia berhenti sebentar.
Untuk urusan apakah para menterinya akan menerima jabatan pemerintah, persentasenya turun sedikit. “Saya jamin 99 persen—milik Pak Prabowo ini—bahwa 15 orang kami tidak akan menyimpang untuk menerima jabatan apa pun yang dirasa publik tidak patut kami terima.”
Saya tertarik dengan kalimat berikutnya. Ternyata godaan itu sudah datang. Ada tawaran. “Tawaran apa?” Feri tidak mau bercerita. Nah, justru di situlah percakapan menjadi menarik.
Karena tantangan gerakan masyarakat sipil sering kali bukan ketika berhadapan dengan kekuasaan. Tantangan sesungguhnya datang ketika kekuasaan membuka pintu dan mengajak masuk.
Feri sadar betul terhadap risiko itu. Kabinet Bayangan, katanya, tidak boleh berubah menjadi ruang tunggu orang-orang yang berharap suatu hari mendapat posisi dalam kabinet sungguhan.
Mereka tidak digaji. Tidak punya fasilitas. Dan seharusnya tidak menjadikan aktivitas tersebut sebagai jalan menuju jabatan. Ia menyebutnya political movement.
Gerakan politik alternatif.
Ia datang dengan taksi. Mengenakan jins. Memanggul ransel. Santai.
Saya Bisa Menjamin Profil, Bukan Hati
Ada satu kalimat Feri yang menurut saya lebih menarik daripada deklarasi politiknya. “Saya yakin profiling teman-teman saya, tapi saya tidak tahu hati nuraninya.”
Kalimat itu terasa jujur. Kita bisa memeriksa CV seseorang. Kita bisa membaca rekam jejaknya. Kita bisa melihat apa yang pernah dikatakannya. Tetapi siapa bisa menjamin hati manusia ketika kekuasaan datang mengetuk pintu? Feri hanya berharap teman-temannya tidak merusak kepercayaan publik ketika gerakan ini sedang tumbuh.
“Puluhan tahun lagi oke,” katanya kurang lebih.
Tetapi jangan ketika sedang membawa pakem politik alternatif, tiba-tiba menerima sesuatu yang justru mengganggu perasaan orang-orang yang percaya kepada mereka. Saya teringat pepatah lama tentang jenang dan jeneng.
Orang masuk ruang publik mencari jeneng—nama baik—atau akhirnya tergoda jenang? Barangkali ujian Kabinet Bayangan justru bukan kemampuan mereka mengkritik Kabinet Merah Putih. Ujiannya adalah apakah mereka sanggup mengatakan tidak ketika suatu hari pintu kekuasaan dibuka.
“Saya Penakut Betul”
Percakapan kemudian bergeser. Saya ingin mengetahui Feri bukan sebagai menteri bayangan. Bukan sebagai ahli hukum tata negara. Bukan pula sebagai figur Dirty Vote.
Apa yang sebenarnya membuatnya terus bicara? Jawabannya tidak heroik. Ia takut. Sampai hari ini. “Saya penakut betul,” katanya.
Sebagai dosen hukum tata negara, ia mengajarkan kepada mahasiswa bagaimana negara seharusnya bekerja. Bagaimana konstitusi membatasi kekuasaan. Bagaimana hukum seharusnya ditegakkan. Masalah muncul ketika ia keluar dari ruang kuliah.
Realitas tidak selalu sama dengan buku teks. Bagaimana seorang dosen menjelaskan hukum yang baik kepada mahasiswa jika ketika melihat penyimpangan di depan mata ia memilih diam?
Itulah kegelisahan Feri. “Sulit sekali menghentikan apa yang saya yakini benar untuk tidak disampaikan.” Jadi mungkin bukan karena Feri tidak takut. Ia hanya tidak bisa diam.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Orang Menyayangi Memintanya Berhenti
Ada harga dari pilihan seperti itu. Teman-temannya mengingatkan. Istrinya mengingatkan. Keluarganya juga mengingatkan. Kurangi bicara. Sesekali mengerem. Jangan terlalu keras. Bukan karena mereka tidak memahami keadaan negeri. Justru karena mereka memahami risikonya.
“Rata-rata orang yang sayang sama saya minta berhenti.”
Saya kira kalimat itu sangat manusiawi. Di televisi dan media sosial, kita sering melihat aktivis hanya sebagai suara. Kita jarang melihat lingkaran kecil di belakangnya: istri, anak, ibu, teman, orang-orang yang setiap kali sebuah kritik dilontarkan mungkin ikut memikirkan akibatnya.
Ironisnya, ketika Feri mencoba diam, kadang orang-orang terdekatnya pula yang bercerita tentang keadaan politik. Cerita-cerita itu kembali memantik kegelisahannya.
Akhirnya ia bicara lagi.
Cinta yang Tidak Diam
Menjelang akhir percakapan, Feri menggunakan analogi sederhana. Kalau seseorang mengatakan mencintai orang lain, tetapi tidak pernah berani mengatakan apa yang dirasakannya, cinta itu menjadi ganjil. Begitu pula mencintai negara.
Bagi Feri, cinta kepada Indonesia tidak berarti harus selalu memuji Indonesia.
Kadang justru sebaliknya. “Aneh kan kalau kita bilang saya mencintai negeri ini, tapi saya enggak berani bicara.”
Saya menyukai bagian ini. Sebab setelah pembicaraan panjang mengenai kabinet, konstitusi, kekuasaan, dan jabatan, ujungnya kembali kepada sesuatu yang sangat personal:rasa takut dan rasa cinta.
Barangkali keberanian memang bukan keadaan ketika seseorang tidak mempunyai rasa takut.
Keberanian justru muncul ketika seseorang tahu ada risiko, tahu keluarganya khawatir, tahu kekuasaan mungkin tidak menyukai apa yang dikatakannya—tetapi masih merasa ada sesuatu yang lebih buruk daripada rasa takut itu:
kehilangan kemampuan untuk mengatakan apa yang diyakininya benar.
Kamera kemudian dimatikan. Feri Amsari tetaplah Feri Amsari.
Seorang dosen. Seorang suami. Seorang anak. Seorang warga negara yang mengaku penakut.
Dan mungkin justru pengakuan itulah yang membuat percakapan dengannya terasa lebih menarik daripada segala gelar “Menteri Sekretaris Negara Kabinet Bayangan” yang sedang disandangnya.
Karena di balik kamera, politik akhirnya kembali kepada manusia (bdm)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar