Fatimah AzZahra Pembawa Cempor
SALAH satu nasihat orang tua yang selalu saya ingat sebagai dalam menjalani kehidupan adalah, "Ketika sedang berjalan di lorong remang dan bahkan gelap, senantiasalah yakin, akan ada cahaya, meski kecil."
Entah cahaya itu bersumber dari cempor, lilin, atau pelita, bahkam boleh jadi dari bimbit (handphone). Maknanya adalah : di tengah ketidakpastian, kegamangan, keribetan, dan kemenduaan (ambivalensia), senantiasa harus diyakini masih akan ada asa. Keyakinan yang harus selalu ditabung untuk menghidupkan optimisme, bahwa di ujung lorong yang gelap, ada cahaya terang yang akan menanti.
Saya termasuk satu dari banyak rakyat lansia (lanjut usia) Indonesia -- yang meski terus bersemangat muda -- yang mengalami dan merasakan idiom 'Indonesia Gelap.' Baik karena faktor internal : tata kelola negara dan pemerintahan yang belum menunjukkan daya mewujudkan good government. Praktik politik pragmatis yang cenderung mengabaikan meritokrasi dalam proses rekruitmen, serta kurang seimbangnya pendekatan politik dan teknokratik.
Setarikan nafas faktor eksternal, geo politik dan geo ekonomi belum sungguh stabil di tengah arus perubahan orientasinya (dari Amerika - Eropa ke Asia Pasifik atau orientasi Indo Pasifik).
Sejak awal pemerintahan berlangsung, menguat kesan, 'beban yang dipikul melebihi kekuatan dan ketahanan bahu.' Terkesan kuat, siapa sesungguhnya rakyat belum dikenali, meski kerap diujar-ujarkan, "Saya mandataris rakyat; Saya dipilih rakyat; Saya sudah lama menjadi orang Indonesia."
Akibatnya, 'keperluan - hasrat - kepentingan rakyat' belum pula dimengerti dengan baik. Rakyat masih diposisikan sebagai obyek, sehingga orientasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan masih menggunakan cara lama : berfikir - bersikap - bertindak, "rakyat kudu mengikuti program," kendati proses perencanaan pembangunan secara formal 'melibatkan rakyat' dalam musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan).
Memicu Perlawanan Rakyat
Pengalaman menghadapi tantangan krisis yang dipicu dan dipacu oleh nanomonster Covid 19 yang memberi banyak pelajaran berharga untuk mengevaluasi sistem manajemen pemerintahan nampak terabaikan.
Padahal, menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2024, sejumlah akademisi -- khasnya guru besar yang sungguh cendekia -- intens membahas ihwal rapuhnya kapitalisme global dan sosialisme mondial di tengah proses perubahan dramatik (transformasi).
Seayunan langkah, proses perubahan kebudayaan (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan, dan religi) bergerak mendekati format Society 5.0 dengan dua penggeraknya : artificial intelligence dan internet of things).
Manusia berhadapan dengan perubahan kemampuan dalam mengelola bumi yang akan berdampak langsung dengan daya dukung alam. Petaka Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat) adalah isyarat pembelajaran dengan untuk tidak semena-mena dengan semesta - termasuk hidup dengan dana perwalian alam.
Di tengah perubahan itu, kita dihadapkan oleh Singularitas, reaksi berantai kecerdasan mesin - komputasi, ketika kecerdasan imitasi melampaui kecerdasan manusia. Singularitas akan memungkinkan banyak teknologi yang berkembang sendiri menjadi "tak terbatas ke segala penjuru." Perubahan bergerak di luar kontrol dan berbahaya.
Pada situasi demikian, komunikasi penyelenggara negara dan pemerintah yang tidak tertata baik, akan memacu dan memicu perlawanan rakyat secara luas. Apalagi ketika rakyat -- khususnya kalangan muda -- melihat dan merasakan praktik demokrasi dan tata kelola negara mengacu kepada sistem tunggal yang hanya menonjolkan eksekutif. Sedangkan legislatif, yudikatif dan pers mengalami 'serangan otak (stroke).' Hanya menjadi pembenar kebijakan eksekutif.
Dahulukan yang Wajib
Kita bersyukur, sebelum sampai ke titik semacam itu, kaum muda (khasnya mahasiswa) bergerak mengisi ruang kontrol atas penyenggaraan negara. Menyentak, membangunkan kesadaran penyelenggara negara - pemerintah, untuk segera siuman dari keterlenaan.
Dalam konteks itulah, kita melihat Fatimah Az Zahra - Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) dan kawan-kawannya tampil membawa cahaya cempor. Menerangi lorong gelap secara ala kadar, namun berkualitas.
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dengan pesona persona kecerdasan budaya : Menguasai masalah; Jeli dan fokus; Terampil mengelola retorika yang pas dalam berkomunikasi; Mampu menawarkan "cara pandang" kritis menghadapi para 'juru bicara' pemerintah dan partai politik yang sibuk berkutat dengan 'intuitive reason;' Mencerminkan kemampuan mengelola struktur logika; Berani, berintegritas dan beradab.
Menyaksikan penampilan dan pandangan kritisnya di berbagai forum dialog media, termasuk ketika dia berorasi di depan massanya, saya menangkap kesan Fatimah Az Zahra diasuh orang tuanya dengan pola parenting yang permissif dan demokratis. Cantik rupa, elok budi, tangkas bernalar.
Saya menghibur diri untuk menghidupkan optimisme, dengan berpikir, boleh jadi ada beberapa orang lagi sosok perempuan pemimpin mahasiswa yang mempunyai kecerdasan budaya seperti Fatimah Az Zahra. Sebenarnya, negara bisa melakukan kaderisasi melalui kesadaran untuk berpikir seperti Fatimah Az Zahra berpikir tepat prioritas," dahulukan yang wajib, yang sunnah kemudian."
Dengan kesadaran demikian, tak mustahil akan banyak anak-anak muda yang mampu mengingatkan pemerintah dan negara menjawab tantangan Alaf XXI, seperti yang diisyaratkan James Martin - Universitas Oxford London (2007) : Menyelamatkan ekologi; membalikkan kemiskinan; stabilisasi demografi; mencapai gaya hidup berkelanjutan; mencegah perang total; menghadapi globalisme secara efektif; mengembangkan budaya kreatif berasas sains dan teknologi; melindungi biosfer; menolak terorisme; menaklukan penyakit (apidemik dan pandemik); memperluas potensi manusia; singularitas; menghadapi risiko eksistensial; menjelajahi transhumanisme; merencanakan peradaban lanjutn; memodelkan sistem planet; serta, menjembatani kesenjangan ketrampilan dan kearifan. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar