Hantu Digital dan Krisis Kesadaran Publik
PERISTIWA demonstrasi di sekitar DPR/MPR RI pada Kamis (27/8/2026) memberi kita pelajaran menarik. Kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadi kerusuhan di Jakarta beredar luas di ruang digital. Potongan video, komentar, tuduhan, dan berbagai informasi yang belum tentu utuh berhamburan. Sebagian mungkin benar, sebagian keliru, sebagian lagi sengaja dibuat untuk membangkitkan emosi.
Masyarakat terpengaruh. Banyak kantor meliburkan karyawannya untuk bekerja di rumah saja guna menghindari kemungkinan terburuk. Berbagai unggahan di media sosial telah merasuk dan mempengaruhi kesadaran public; sepertinya semua orang berpikir Jakarta akan kacau,setidaknya mirip dengan kerusuhan akhir Agustus tahun lalu.
Puji Syukur akhirnya Jakarta aman-aman saja. Tidak terjadi kerusuhan, pembakaran, bahkan aksi demonstrasi berlangsung dalam skala yang terbatas. Situasi secara umum dapat dikendalikan. Perwakilan massa diterima pimpinan DPR. Sebagian peserta bahkan sudah kembali ke daerah.
Mengapa masyarakat mudah terpengaruh informasi yang dijejalkan melalui media sosial? Beberapa tahun terakhir kita memang melihat fenomena baru yang mencengangkan, betapa media digital telah menjadi sarana pembuangan sampah informasi dalam berbagai bentuknya. Kita sebut saja sebagai ‘Hantu Digital’ yang dijejalkan setiap detik, kapanpun dan dimanapun.
Hantu itu berteriak bahwa keadaan genting. Ia membisikkan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Ia menunjukkan potongan-potongan gambar yang membuat kita cemas. Dan kita, dengan patuh, meneruskannya kepada keluarga, teman, grup WhatsApp, dan entah berapa ratus orang yang tidak kita kenal.
Lucunya, kita sering tidak tahu apakah informasi itu benar. Tetapi kita merasa perlu membagikannya.
Barangkali inilah kebiasaan paling aneh manusia modern: kita bisa sangat berhati-hati memilih makanan karena takut mengandung racun, tetapi begitu menerima informasi di media sosial, kita menelannya mentah-mentah tanpa memeriksa kandungannya. Padahal informasi juga bisa beracun.
Bedanya, racun makanan merusak tubuh. Racun informasi dapat merusak pikiran, hubungan sosial, dan kepercayaan masyarakat. Masalahnya menjadi lebih serius karena informasi digital mempunyai satu senjata ampuh: pengulangan.
Satu kebohongan yang muncul sekali mungkin mudah dilupakan. Tetapi kebohongan yang muncul seribu kali mulai terasa seperti kenyataan. Algoritma membantu pekerjaan itu. Konten yang membuat kita marah, takut, atau penasaran akan terus dipertontonkan karena lebih banyak mengundang perhatian.
Akhirnya kita hidup dalam dunia yang aneh. Yang paling sering muncul dianggap paling benar. Yang paling keras dianggap paling penting. Yang paling emosional dianggap paling meyakinkan. Padahal kenyataan tidak bekerja seperti itu.
Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah like. Fakta tidak menjadi lebih benar karena sudah dibagikan sejuta kali. Dan sebuah video tidak otomatis menjadi gambaran lengkap sebuah peristiwa hanya karena ditonton jutaan orang.
Namun Hantu Digital tidak peduli pada kenyataan. Ia hanya membutuhkan perhatian. Dan kita memberikannya dengan cuma-cuma. Ketika persepsi mengalahkan fakta
Bahaya terbesar Hantu Digital sebenarnya bukan sekadar membuat masyarakat percaya pada berita palsu. Bahayanya adalah mengubah cara masyarakat memandang kenyataan.
Jika setiap hari kita dicekoki berita tentang kekacauan, lama-lama kita merasa negara selalu kacau. Jika setiap hari kita melihat tuduhan bahwa pemerintah selalu berbohong, lama-lama kita menganggap semua penjelasan pemerintah pasti bohong.
Jika setiap demonstrasi digambarkan sebagai ancaman, kita akan takut terhadap demonstrasi. Sebaliknya, jika setiap kritik dicap sebagai ancaman, masyarakat juga dapat kehilangan kemampuan membedakan kritik dengan provokasi.
Di sinilah demokrasi bisa terseret ke wilayah yang berbahaya. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang kritis. Tetapi demokrasi juga membutuhkan masyarakat yang mampu membedakan kritik dengan manipulasi, fakta dengan propaganda, dan kebebasan berbicara dengan hasutan.
Kalau semuanya dicampur menjadi satu, masyarakat akhirnya tidak lagi mencari kebenaran. Mereka hanya mencari informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Itulah saat Hantu Digital mendapatkan rumah permanen.
Pemerintah juga tidak boleh bermain sebagai pemburu hantu. Tentu pemerintah mempunyai kewajiban menghadapi disinformasi. Tetapi ada jebakan yang harus dihindari.
Jangan sampai setiap informasi yang tidak menyenangkan dianggap hoaks. Jangan sampai kritik dibungkam atas nama melawan disinformasi. Jangan sampai pemerintah membuat “Hantu Digital” tandingan untuk melawan Hantu Digital yang lain. Itu hanya akan membuat masyarakat semakin bingung.
Yang dibutuhkan adalah informasi yang cepat, terbuka, akurat, dan dapat diverifikasi. Kalau terjadi sesuatu, jelaskan. Kalau pemerintah salah, akui. Kalau informasi palsu beredar, bantah dengan data dan bukti. Kalau ada aparat melakukan pelanggaran, proses secara transparan.
Kepercayaan tidak dapat dibangun dengan perintah. Kepercayaan dibangun dengan keteladanan. Jangan biarkan algoritma berpikir untuk kita
Pada akhirnya, persoalan Hantu Digital bukan hanya persoalan pemerintah, polisi, platform digital, atau para pembuat konten. Ini persoalan kita semua.
Kita adalah pengguna. Kita pula yang membuat hantu itu besar. Setiap kali kita meneruskan informasi yang belum diperiksa, kita ikut memberinya makan. Setiap kali kita menyebarkan video hanya karena membuat marah, kita ikut memperpanjang umurnya.
Maka mungkin sudah waktunya kita mempunyai kebiasaan sederhana: Berhenti sebentar sebelum membagikan sesuatu. Tanyakan: siapa yang membuatnya? Apa sumbernya? Kapan peristiwa itu terjadi? Apakah videonya utuh? Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi?
Tidak semua informasi harus segera diteruskan. Tidak semua kemarahan harus segera dibagikan. Dan tidak semua hantu harus kita takuti.
Sebab Hantu Digital sesungguhnya mempunyai kelemahan yang sangat sederhana: ia hidup dari perhatian kita. Kalau kita berhenti memberinya perhatian, ia akan melemah. Mungkin kita tidak akan pernah bisa membasmi Hantu Digital sepenuhnya. Teknologi akan terus berkembang, algoritma akan semakin pintar, dan mereka yang ingin memanipulasi masyarakat akan selalu menemukan cara baru.
Tetapi kita masih memiliki senjata yang jauh lebih penting: akal sehat.
Jangan sampai suatu hari nanti kita hidup dalam masyarakat yang mengetahui segala sesuatu dari telepon genggam, tetapi tidak lagi tahu mana yang benar dan mana yang dibuat-buat. Sebab ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dari ilusi, yang mengalami krisis bukan hanya informasi.
Yang mengalami krisis adalah kesadaran publik. Dan ketika kesadaran publik sudah dikuasai Hantu Digital, demokrasi tidak perlu dihancurkan dari luar. Ia cukup dibuat takut, curiga, marah, dan saling bermusuhan—lalu dibiarkan menghancurkan dirinya sendiri.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar